
Adji menjadi panik saat Alice merasakan linu pada perutnya saat pergerakan si kembar terlalu aktif.
"Istriku … mereka sedang tidak mencoba untuk keluarkan?" tanya Adji panik takut Alice melahirkan di Mall.
"Tidak, suamiku. Mereka hanya bergerak terlalu senang karena Papa-nya memberikan mereka baju-baju yang lucu," jawab Alice asal yang penting Adji jangan terkena serangan paniknya.
"Benarkah?" tanya Adji dengan wajahnya yang berseri sekarang.
"Iya, coba pegang sekarang!" Alice meletakan tangannya di perutnya yang sangat besar, dan Adji bisa merasakan pergerakan halus di perutnya.
"Iya, mereka bergerak dengan tenang sekarang," kata Adji sambil tersenyum senang.
"Baby … kapan kalian akan keluar dari perut Mama?" tanya Adji pada bayinya yang ada di dalam perutnya.
"Nanti Papa, dua bulan lagi," jawab Alice menirukan suara anak kecil.
Mendengar suara Alice seperti anak kecil membuat Adji gemas. Dia pun mencium bibir Alice, tanpa melihat mereka sedang di tempat umum.
"Suamiku ini di tempat umum!" bisik Alice kepada Adji.
"Bukannya kita sering berciuman dimanapun kita mau?!" kata Adji dengan nada suara usilnya.
Setelah makan rencananya mereka akan langsung pulang ke mansion. Saat di depan Mall sedang ada orang yang membagikan kertas selebaran.
"Tuan, apakah anda mau mengikuti kelas bagaimana caranya untuk mengurus bayi dengan baik dan benar, di tempat kami?!" kata seorang wanita paruh baya.
"Di kelas ini kalian diberi ilmu tentang hal-hal yang berhubungan dengan ibu hamil, ibu baru melahirkan, mengurus bayi sendiri dan membuat sendiri makanan bergizi untuk bayi kita." Wanita paruh baya itu memberikan selebaran promo kelasnya.
"Ternyata tidak jauh dari sini," kata Alice saat melihat alamat yang tertera di pamflet itu.
__ADS_1
"Anda bisa datang kapan saja, disaat punya waktu luang," kata wanita paruh baya itu.
"Kenalkan nama saya Mulan, saya adalah salah satu dari pembimbing bagi orang tua yang baru pertama kali punya anak. Kebanyakan dari mereka tidak tahu caranya mengurus anak sendiri, jadi bagi anda yang ingin bisa mengurus anak sendiri bisa mengikuti kelas saya. Kita belajar secara bertahap, jadi jangan takut atau tegang saat merawat bayi kalian nantinya," Mulan menjelaskan secara rinci tempat kerjanya dalam belajar mengurus bayi.
"Aku ingin ikut kelas ini Istriku?!" Kata Adji dengan penuh antusias terlihat dari wajahnya yang berseri-seri bahagia.
"Suamiku kamu yakin ingin ikutan kelas mengurus bayi?!" tanya Alice tak percaya dengan keinginan Adji itu.
"Iya, aku akan mengikuti kelas ini agar aku bisa mengurus segala keperluan bayi kita nantinya. Apalagi kita akan punya dua bayi, jadi kita harus kerja sama dalam mengasuhnya," jawab Adji dengan menggebu-gebu meminta dukungan dari Alice.
"Ya, terserah kamu saja, aku akan selalu mendukungmu!" kata Alice memberi semangat kepada Adji, walau dalam hati dia ingin tertawa karena nggak kebayang bila Adji menggantikan popok anaknya kelak.
"Baiklah aku akan ikut kelas ini. Jadi kapan aku bisa memulainya?" tanya Adji pada Mulan dengan sorot matanya yang berbinar.
"Besok juga tidak apa-apa, karena kelas kami buka setiap hari. Tapi sebaiknya jadwalnya mengambil di hari yang sama, biar kalian menjadi satu grub mempelajari pelajarannya itu hal yang sama," jawab Mulan dengan senyum di wajahnya.
"Baiklah aku akan masuk kelas besok hari saja," kata Adji dengan hati yang mantap.
*****
*****
Pertemuan pertama …
Adji kini berada di dalam kelasnya Nyonya Mulan. Mulai hari ini dia akan belajar bagaimana mengurus bayinya nanti. Bukan hanya Adji yang berada di dalam kelas itu, sudah ada enam pasangan hari ini yang akan belajar bersama. Atau lebih tepatnya enam pasang lebih satu orang, karena Sam juga dipaksa ikut oleh Adji untuk mengikuti kelas ini.
"Tuan … lihatlah mereka semua sudah punya pasangan, hanya aku yang tidak punya pasangan," kata Sam menahan malu akibat keinginan Tuan Mudanya itu.
"Ingat Sam, kamu ini akan menjadi Kepala Pelayan keluarga Pandawa selanjutnya. Jadi kamu itu dituntut harus bisa segalanya. Apalagi aku akan punya dua orang bayi. Bagaimana kalau keduanya ngamuk secara bersamaan?!" kata Adji sambil menatap penuh harap kepada Sam.
__ADS_1
Mendengar ucapan Adji, Sam jadi terdiam. Benar apa yang dikatakan oleh tuan Muda-nya itu. Bagaimanapun nantinya dia juga akan ikut mengurus calon para pewaris Pandawa.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Mulan begitu masuk ke ruangan itu.
"Pagi, Nyonya Mulan!" balas semua yang ada di sana dengan kompak.
"Baiklah hari ini kita akan perkenalan dulu dengan istilah-istilah yang berhubungan dengan ibu hamil … " Mulan pun banyak memberitahu segala hal tentang kehamilan yang dialami wanita. Apa yang membuat mereka mudah emosi dan solusi dukungan sebagai seorang suami kepada istrinya yang sedang hamil.
"Ada banyak laki-laki menganggap enteng tentang kehamilan istrinya. Mereka tidak tahu kesulitan yang dialami seorang istri ketika mengandung dengan membawa perutnya yang membesar, tetapi masih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah."
"Untuk menguatkan rasa simpati seorang suami kepada istri yang sedang hamil. Maka selama kalian mengikuti kelas ini, kalian akan dipakaikan beban perut buatan yang memiliki berat antara delapan sampai sepuluh kilo," kata Mulan sambil mengeluarkan rompi perut hamil buatan yang dibuat dari karet yang memiliki berat bervariasi mulai dari empat kilo sampai dua belas kilo, tapi kali ini Mulan memberikan beban yang memiliki delapan sampai sepuluh kilo.
Adji dan Sam pun memakai rompi yang memiliki berat sepuluh kilo untuk beban perutnya. Alice tertawa saat melihat Adji dan Sam yang memiliki perut buncit seperti ibu hamil delapan sampai sembilan bulan itu.
"Hahaha … suamiku kamu lucu sekali," Alice tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Adji dan Sam.
"Tertawalah istriku, justru aku ingin menangis membayangkan dirimu membawa beban di perutmu seperti ini setiap hari, tanpa mengeluh merasa berat," kata Adji dengan matanya yang berkaca-kaca menahan rasa terharunya.
"Benar Tuan Muda, ternyata menjadi seorang wanita itu berat juga perjuangannya saat dia mengandung. Harus membawa perut yang besar kesana kemari tanpa ada keluhan karena berat," kata Sam sambil meneteskan air matanya.
Mendengar ucapan Adji dan Sam, membuat Alice terdiam dari tawanya barusan. Dia jadinya merasa senang karena kedua lelaki itu memahami kesulitan yang kadang-kadang terjadi saat wanita sudah hamil besar.
"Maaf … aku tidak menyangka kalau kalian akan seemosional begini," kata Alice ikutan sedih.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH..