
Para penjahat itu masih berkeliaran di luar area air terjun. Setelah menguburkan mayat tadi, mereka melanjutkan pencarian terhadap Rama dan Shinta. Mereka harus menghilangkan jejak kejahatannya, agar tidak diketahui oleh orang lain.
Rama dan Shinta keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan dengan cara mengendap-endap. Saat mereka berjalan di tepi sungai. Tiba-tiba ada suara tembakan yang dilancarkan ke arah mereka berdua.
Dooor …
Dooor …
Rama dan Shinta pun sangat terkejut. Untungnya peluru itu meleset mengenai mereka. Rama dan Shinta pun cepat-cepat berlindung di balik pohon yang dekat dengan posisi mereka.
"Cepat cari mereka! Jangan biarkan mereka kabur!" teriak si Bos kepada kedua anak buahnya.
"Baik!" jawab kedua anak buahnya itu.
Ketiga orang itu berpencar mencari Rama dan Shinta. Sementara Rama dan Hanoman bersembunyi di balik pohon, dan Shinta bersembunyi dibalik pohon yang berada di seberangnya. Rama dan Shinta berkomunikasi lewat tatapan matanya.
"Rama, bagaimana in" tanya Shinta lewat tatapan matanya.
"Kita bersembunyi dahulu," jawab Rama lewat tatapan matanya juga.
"Kita harus menghubungi Papa dan paman Sam," kata Shinta.
"Kita tidak bisa menghubungi mereka," balas Rama.
******
Sementara itu di villa tempat Adji dan Alice sedang menikmati sarapan paginya. Tiba-tiba terdengar suara tembakan, di tengah hutan. Sehingga membuatnya terkejut, dan dia cepat-cepat naik ke atas menara untuk melihat situasi di dalam hutan.
"Suamiku, apa yang sedang terjadi?" tanya Alice dengan napasnya yang terputus-putus karena berlari menyusul Adji.
" Aku tidak tahu, bunyi pistol itu dari mana?" jawab Adji sambil terus mencari keberadaan anak-anaknya lewat teropong.
"Ah, sial. Kenapa aku tidak bisa menemukan anak-anak!" Adji cepat-cepat turun kembali ke lantai bawah.
Adji adik pun menghubungi Sam dan Bima. Untuk mencari keberadaan Rama dan Shinta yang sedang berada di tengah hutan.
"Istriku kamu tunggu dulu disini, jangan kemana-mana," pinta aji kepada Alice.
"Anak-anak bagaimana nasibnya?" tanya Alice dengan wajahnya yang sangat pucat karena takut terjadi sesuatu kepada kedua anaknya.
"Tenang, mereka baik-baik saja," jawab Adji sambil memeluk Alice.
"Ingat kamu harus tetap tinggal di sini, dan kunci semua pintu dan jendelanya," perintah Adji kepada Alice.
*****
Adji, Sam, dan Bima pergi menuju ke tempat Rama dan Sinta menggunakan motor trail. Jarak yang akan mereka tempuh agak jauh dari villa.
"Sam, apa kamu sudah siap?" tanya Adji sambil bersiap-siap dengan membawa segala perlengkapannya dan berjalan menuju motor yang telah terparkir di depan rumah.
"Sudah Tuan Muda," jawab Sam sambil mengikuti langkah Adji dari belakangnya.
"Tuan Muda kita sudah mengetahui lokasi di mana anak-anak berada alat pelacak yang berada di jam tangan mereka," kata Bima sambil memegang sebuah laptop kecil di tangannya.
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang jangan sampai terjadi sesuatu kepada mereka," ajak Adji sambil menaiki motornya.
__ADS_1
"Siap Tuan Muda!" Jawab Sam dan Bima secara bersamaan.
Kini mereka bertiga berjalan menelusuri tengah hutan buatan yang ditumbuhi oleh beberapa pohon jati dan arba yang sengaja ditanam. Meskipun medan yang ditempuh tidak rata, tidak menyulitkan bagi mereka karena menggunakan motor trail.
Saat mereka sudah dekat air terjun, terdengar kembali suara tembakan. Itu membuat ketiganya semakin cepat dalam memacu kendaraan mereka. Begitu mereka sampai di sana tidak ditemukan seorang pun.
Adji menjadi panik saat tidak menemukan kedua anaknya. Padahal GPS menunjukkan mereka masih berada di sekitar sana.
"Rama! Shinta!" teriak Adji memanggil kedua nama anaknya. Begitu juga dengan Sam dan Bima yang ikut memangnya nama kedua bocah itu.
"Ayo kita berpencar mencari mereka!" Perintah Adji kepada Sam dan Bima.
Maka ketiga orang itu juga berpencar mencari keberadaan Rama dan Shinta.
"Rama! Shinta!" panggil Adji kepada kedua anaknya itu.
Ternyata suara panggilan dari Adji, membuat para penjahat tadi tersadar akan kehadiran orang lain selain mereka di hutan. Sam pun melakukan hal sama, dia berteriak memanggil nama kedua anak kembar Bos-nya itu.
Saat Adji berjalan mencari tentang keberadaan anaknya, dia bertemu dengan salah seorang penjahat dari mereka bertiga.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Adji kepada Si Penjahat.
"Itu bukan urusan kamu! Pergilah dari sini sebelum aku benar-benar akan membunuhmu," balas Si Penjahat itu dengan tatap yang nyalang.
"Area ini adalah milik keluarga Pandawa!" kata Adji kepada Si Penjahat itu.
Si Penjahat itu merasa takut saat Adji balas menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Sebaiknya kamu lah yang pergi dari sini!" bentak Adji lagi dengan nada suara yang tinggi.
Maka Si Penjahat itu pun memilih kabur dari Adji. Dengan begitu dia masih punya kehidupan. Kalau soal Si Bos-nya, dia tinggal bilang pura-pura tidak pernah bertemu dengan keluarga Pandawa.
"Sial … " Si Penjahat itu pun lari menjauh dari tempat Adji berdiri.
Maka Adji pun melanjutkan pencariannya ke dalam hutan di dekat area air terjun. Sebagaimana ditunjukan oleh GPS tentang sinyal dari jam tangan anak-anaknya.
"Rama … Shinta …!" teriak Adji sambil terus berjalan dan pandangannya melihat ke sekelilingnya.
"Dimana Rama dan Shinta tersembunyi?" gumam Adji karena keduanya tidak ditemukan.
"Ini Papa, Sayang … " teriak Adji kembali sambil sesekali memeriksa jalanan yang di lalui.
******
Ditempat Sam mencari keberadaan Tuan dan Nona kecilnya. Dia bertemu dengan Si Bos Penjahat. Keduanya saling menatap tajam dan saling bersiaga. Sam dapat melihat kalau Si Bos Penjahat itu memegang pistol di tangannya. Maka dia harus hati-hati.
"Siapa kamu?!" tanya Sam dengan suaranya yang tinggi dan membuat terkejut Si Bos Penjahat.
"Aku adalah Si Bos Penjahat. Kamu siapa?" tanyanya balik dengan nada bicara yang sombong.
"Aku yakin kamu adalah Si Bos Penjahat kelas remehan nasi yang jatuh nggak sengaja di lantai," kata Sam merendahkan Si Bos Penjahat.
"Apa maksudmu?!" kata Si Bos Penjahat itu mulai tersulut emosinya.
"Artinya kamu tidak pantas di sebut sebagai seorang Bos!" kata Sam sambil tersenyum merendahkan.
__ADS_1
Si Bos Penjahat itu marah dan menembakan pistolnya ke arah Sam, tetapi lagi-lagi meleset tak mengenai sasaran. Melihat itu Sam langsung tertawa, karena dia mengaku Bos Penjahat tapi menembak jarak yang dekat saja tidak bisa.
"Hahaha … apa benar kamu itu Bos Penjahat?! Mana mungkin menembak jarak sedekat ini saja tidak tepat sasaran?!" tanya Sam masih dengan tawanya yang tak bisa berhenti.
"Kamu telah meremehkan aku!" kata Si Bos Penjahat itu marah dan menembakan lagi pelurunya ke arah Sam.
Sam pun sudah berancang-ancang siap untuk menghindar. Saat Si Bos Penjahat menarik pelatuknya, dia merasa ada yang aneh dengan pistol miliknya itu. Walau sudah beberapa kali dicoba pelurunya tidak keluar.
"Sial …! Kenapa pelurunya tidak keluar?!" gumamnya dengan suara yang dapat di dengar oleh Sam.
"Hahaha … kamu itu penjahat yang paling bodoh yang pernah aku temui seumur hidupku!" Kata Sam sambil terus tertawa tak bisa berhenti.
Si Bos Penjahat itu marah, dan melemparkan pistolnya ke arah Sam. Sama seperti peluru tadi, lemparan pistolnya pun tak mengenai sasaran. Lagi-lagi Sam tertawa makin tak tertahankan.
Kemudian Sam menyerang Si Bos Penjahat itu. Dengan dua kali pukulan di wajah dan perutnya dia langsung tumbang terkapar di atas tanah. Bahkan dia sudah tidak sanggup lagi bangun.
"Katanya Bos Penjahat? masa baru dua kali pukulan langsung tumbang begini?" tanya Sam sambil jongkok di depan Si Bos Penjahat itu.
"Ampun ... ampun ... aku kapok! tidak akan mengulanginya lagi," kata Si Bos Penjahat.
Maka Sam pun mengikat tangan dia di belakang punggungnya, menggunakan tali sepatu milik Si Bos Penjahat.
*****
Nggak beda jauh dengan Sam, Bima juga bertemu dengan Si Anak Buah. Saat dirinya sedang berjalan di sisi kiri sungai yang kemarin tempat Rama menangkap ikan buat di jadikan ikan bakar.
"Hei, siapa kamu?!" bentak Si Anak Buah kepada Bima.
Bima yang tidak pernah dibentak oleh siapa pun kecuali Adji, tidak terima. Maka dia langsung menghajar Si Anak Buah itu. Baru saja dua pukulan dia langsung jatuh tersungkur ke tanah. Melihat itu, Bima hanya bisa tersenyum mengejek.
"Berani-beraninya kamu membentak aku!" kata Bima dengan suaranya yang menggelegar. Sehingga membuat Si Anak Buah itu makin ketakutan dan kencing di celananya.
"Tunggu bau apa ini?!" tanya Bima sambil menutup hidung dan mulutnya. Kemudian dia mengendus ke arah Si Anak Buah, dan bau itu bersumber darinya.
"Kau ... kencing di celana?!" tunjuk Bima dengan nada suaranya yang tinggi.
"Menjijikan! Mana ada orang dewasa kencing di celana!" bentak Bima lagi sambil meringis karena merasa jijik.
"Cepat kamu cebok di sungai!" Perintah Bima kepada Si Anak Buah.
Dengan jalan yang terseok-seok Si Anak Buah, berjalan menuju ke sungai yang ada di dekat sana. Saat dia akan membuka celananya. Bima kembali berteriak.
"Apa yang sedang kamu lakukan!" bentaknya lagi dengan nada suara naik dua oktaf.
"Katanya disuruh cebok," kata Si Anak Buah dengan suaranya yang lirih.
"Langsung nyemplung saja ke sungai!" bentak Bima dengan nada frustasi, karena menghadapi model penjahat seperti ini.
Maka Si Anak Buah itu pun langsung melompat ke sungai yang aliran airnya tenang. Setelah itu, Bima mengikat tangannya dibelakang badannya, dan menggiringnya ke tempat mereka memarkirkan motor trail-nya tadi.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.