
Rama dan Shinta akhirnya menggali tanah yang diduga ada harta karunnya. Hampir sepuluh menit Rama menggali tanah, dan terlihat ada sebuah kotak yang tertanam di dalamnya. Rama pun makin semangat menggali tanah itu. Begitu juga dengan Shinta makin semangat menyuruh Rama menggali tanahnya. Sementara Hanoman melompat-lompat dalam menyemangatinya.
"Ayo, Rama! Sudah terlihat kotaknya … lebih semangat lagi?" teriak Shinta dengan girang.
"Kamu itu, bisanya cuma teriak menyuruh, coba lakukan sendiri," balas Rama sambil bertolak pinggang karena bungkuk terus jadi pinggangnya terasa sakit.
"Kamu kan laki-laki, jadi sudah sewajarnya kamu yang bekerja keras, sedangkan aku hanya perempuan lemah yang hanya bisa memberikan orang semangat," kata Shinta dengan roman wajah sedihnya.
"Kalau ada bagian kerja begini, kamu bilang perempuan lemah yang seolah-olah tidak bisa apa-apa. Saat aku bilang laki-laki lebih hebat dari wanita, kamu langsung menyanggahnya, dan langsung membuktikan kalau wanita juga nggak kalah hebatnya dengan laki-laki," Rama kembali lagi menggali harta karunnya sambil ngomel-ngomel kepada Shinta.
Kalau Rama sudah ngomel-ngomel begini, Shinta hanya diam saja, karena percuma hanya akan buang-buang tenaga. Hanoman juga jadi diam karena Shinta juga tidak memberinya semangat.
Akhirnya kotak itu berhasil diambil, dari dalam tanah. Rama kemudian membersihkan kotak itu agar tanahnya tidak terlalu tebal.
"Kotak ini pakai kunci! Bagaimana cara untuk membukanya?" tanya Shinta yang ikut melihat kotak itu.
"Kita pukul saja kunci gembok ini pakai batu!" jawab Rama sambil melihat ke sekeliling disana mungkin ada batu yang bisa dipakai untuk membuka kunci gemboknya.
Rama pun mencari ke dekat pohon tadi, dan ada sebuah batu yang sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dia pun membawanya, dan menggunakannya untuk memukul gembok itu.
Setelah tiga kali pukulan keras Rama, akhirnya kunci gembok itu dapat terbuka. Melihat itu Rama dan Shinta sangat senang.
"Yes! Akhirnya kotak harta karunnya bisa kebuka!" teriak dua anak kembar itu, kemudian tangan mereka melakukan tos. Keduanya sudah melupakan pertengkaran tadi, dan kejadian seperti ini tidak aneh. Mereka marahan, tak berapa lama baikan lagi.
"Cepat buka, lihat apa isinya!" kata Shinta kepada Rama yang sedang mengeluarkan pengait gembok itu.
"Kita lihat sama-sama!" kata Rama setelah berhasil mengeluarkan gemboknya.
Dengan jantung yang berdebar keduanya harap-harap cemas dengan isi dari kotak harta karun itu. Muka kedua anak itu langsung memerah saat melihat isi dari kotak itu.
"Apa-apaan ini!" pekik Rama dan Shinta secara bersamaan saat melihat isi kotak itu cuma dua buah mobil-mobilan dan dua buah pistol mainan.
"Lihat ada kertas di dalamnya?!" kata Shinta saat melihat ada kertas berwarna kusam yang sudah warnanya kekuning-kuningan di dasar kotak itu.
__ADS_1
Lalu Rama pun mengambil kertas itu dan ada tulisan anak kecil yang seperti baru belajar menulis.
"Apa tulisannya? Coba bacakan!" tanya Shinta dengan penuh antusias.
"Di kertas ini tertulis, harta karun milik Nakula dan Sadewa," jawab Rama kemudian melipatnya kembali kertas itu.
"Hah! jadi harta karun ini milik kakek Nakula dan Kakek Sadewa!" teriak Shinta tak percaya dengan kenyataan itu.
Rama dan Shinta yang kecewa terhadap hasil temuannya, kembali mengubur kotak harta karun itu. Dengan gontai keduanya berjalan melanjutkan perjalanan mereka. Sambil berjalan Rama kembali membaca buku catatan punya Batara.
"Hei, nama Batara itu kalau tidak salah dia pamannya kakek Bisma kan?" tanya Rama karena baru ingat itu.
"Iya sepertinya begitu, kalau tidak salah. Dia orang yang meninggal bersama kekasihnya itu di lantai tiga mansion," jawab Shinta.
"Kalau ini peta buatan Kakek Mbah Buyut Canggah Batara. Sedangkan tadi harta dalam kotak milik Kakek Nakula dan Sadewa. Berarti, sudah ada orang yang berhasil menemukan harta karun yang sebenarnya!" kata Rama menjelaskan.
"Jadi maksudnya, sia-sia saja kita mencari harta karunnya, karena sudah tidak ada lagi!" pekik Shinta dengan menatap tajam ke arah Rama.
"Ya, mungkin saja. Lagian ini peta harta karunnya hampir satu abad wajarlah kalau sudah ada yang menemukannya," balas Rama tak kalah tajamnya dari Shinta.
"Tidak sudah terlanjur, kita lanjut saja. Siapa tahu dari banyak tanda bintang ini, masih ada harta karunnya yang terpendam," jawab Rama sambil menunjukan tanda-tanda bintang di kertas.
Mereka berdua pun melanjutkan lagi perjalanannya. Rama, Shinta, dan Hanoman berjalan sebentar, kemudian mereka beristirahat di bawah pohon yang sedang berbuah.
"Hanoman, ayo kamu petik beberapa buah di atas sana?" perintah Shinta pada anak monyet itu dengan menunjuk ke arah pohonnya.
Uu-uu-uu …
Hanoman pun berlari dan menaiki pohon buah itu dengan cekatan. Kemudian dilemparkannya buah yang baru saja di petik olehnya. Shinta yang tidak tahu akan tindakan Hanoman yang melemparkan buah ke arahnya, hanya bisa memekik kesakitan saat buah itu berhasil mendarat di keningnya.
"Aw … Hanoman! Apa yang kamu lakukan?! Bilang-bilang kalau mau melemparkan buahnya!" teriak Shinta pada Hanoman dari bawah sambil tunjuk-tunjuk. Hanoman hanya diam saja saat melihat Shinta marah-marah sambil menunjuknya.
"Hanoman lempar sini buahnya!" teriak Rama setelah puas menertawakan kesialan yang dialami oleh Shinta.
__ADS_1
Mendengar Rama memanggilnya, Hanoman pun dengan senang hati melemparkan buah-buahan itu padanya. Sedangkan Rama dapat menangkapnya dengan baik semua lemparan dari Hanoman.
"Sudah cukup Hanoman! Sekarang kamu turun!" teriak Rama memberi perintah kepada Hanoman.
Mendengar perintah Rama dan lambaian tangannya, Hanoman pun turun kembali dan menghampiri Rama dan Shinta.
Kini Rama, Shinta, dan Hanoman makan buah yang tadi dipetik langsung dari pohonnya. Rasanya sungguh enak dan segar, sampai-sampai mereka makan lebih dari lima biji. Karena kekenyangan, mereka akhirnya memutuskan untuk istirahat dulu di sana. Sebelum melanjutkan lagi perjalanannya.
Rama yang sedang membaca buku catatan milik Batara. Sangat fokus pada setiap tulisan yang dicatat oleh Batara. Memang banyak tanda bintang di kertas peta itu, tapi ada perbedaan dalam cara penggambarannya. Seperti lebih dari satu orang. Rama jadi ingat tadi saat galian yang pertama di dekat danau itu hanya tanah kosong tanpa ada kotak harta karunnya. Sedang di dekatnya ada lagi pohon yang diberi tanda bintang, dan ada kotak harta karunnya. Meski isinya tidak sesuai apa yang memang diharapkan ya.
Rama membolak-balik kertas peta itu. Dirasa mulai mengantuk, maka Rama melihatnya sambil rebahan. Shinta dan Hanoman sudah tertidur sejak tadi.
"Apa benar ini peta harta karun yang asli?" tanya Rama dalam hatinya.
"Atau jangan-jangan petanya asli sudah tidak ada," gumam Rama sambil melihat lagi pada peta itu.
Disaat rebahan seperti ini tinta di kertas itu jelas terlihat ada beberapa perbedaan. Rama mengarahkan kertasnya pada cahaya matahari. Hasil temuannya itu membuat dia semangat kembali dalam mencari harta karunnya.
"Hahaha … ternyata sudah pernah ada orang dari tiga generasi sebelum aku yang mencoba menemukan harta karunnya itu!" Rama tertawa baru menyadari kalau para leluhurnya juga pernah mencari harta karun itu.
"Pantas saja tadi ada kotak harta karun milik Nakula dan Sadewa. Ternyata kedua Kakek itu juga pernah mencari harta karun ini," gumam Rama sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan senyum di wajahnya masih belum luntur.
"Sayangnya … pada generasi aku, harta karunnya akan ditemukan," kata Rama penuh semangat.
"Walau kalian sudah menambahi bintang-bintangnya yang ada di atas kertas peta itu, tapi tinta pensil kalian berbeda," lanjut Rama sambil tersenyum penuh kemenangan karena berhasil memecahkan peta harta karun yang asli.
"Oh, ternyata Kakek Mbah Buyut Canggah Batara membagi harta karunnya menjadi tiga bagian?!" gumam Rama masih sambil rebahan. Saat dilihatnya ada tiga bintang yang memiliki jenis tinta yang sama.
"Aku harus cepat-cepat pergi ke tempat harta karunnya, selagi masih siang," Rama pun bangun dari tidurannya, dan hendak membangunkan Shinta serta Hanoman.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.