
Rama dan Shinta tidur dengan berbagi selimut, sebenarnya ada satu kantong tidur. Tadi mereka berebutan, jadinya kantong tidur dijadikan bantal oleh mereka. Selimut dipakai untuk berdua, dan badan mereka beralaskan tanah.
" Langit malam disini begitu indah, ya? Kita bisa melihat bintang yang sangat banyak! Tidak seperti di kota, bintangnya sedikit," kata Shinta sambil menggerakan kedua tangannya.
"Tentu saja sangat banyak, karena malam ini cuacanya cerah. Juga nggak ketutup awan sama polusi udara," balas Rama.
"Memangnya apa pengaruhnya polusi udara sama bintang di langit?" tanya Shinta sambil mengerutkan alisnya tak mengerti.
"Tentu saja, kalau banyak polusi udara langitnya jadi terhalang sama udara yang kotor," jawab Rama sambil nyolot, pusing sama saudara kembarnya itu.
Krek ... krek ...
Disaat perdebatan itu terdengar suara ranting kering yang patah terinjak-injak beberapa kali. Suara itu dapat didengar jelas oleh keduanya. Rama dan Shinta saling pandang satu sama lain, dan wajah mereka berdua langsung pucat.
"Apa itu?" tanya Shinta tanpa suara.
"Nggak tahu," jawab Rama, kemudian dia melihat ke arah sumber suara.
Keduanya akhirnya bangun dari tidur mereka. Rama bersiap siaga dengan sekopnya, sedangkan Shinta di kedua tangannya memegang dua ranting yang akan dipakai menjadi kayu bakar buat api unggun.
Krek … krek ...
Suara sesuatu yang melangkah mendekati mereka, membuat keduanya saling pandang. Rama dan Shinta saling bicara lewat pandangan mata mereka, memilih lari atau melawannya.
"Jadi bagaimana? Lawan atau kabur?" tanya Shinta.
"Kalau berbahaya kita kabur, kalau nggak kita lawan!" jawab Rama.
"Bukannya akan lebih baik, kalau kita kabur?!" kata Shinta.
"Jangan dibiasakan menghindari masalah yang ada di depan mata. Kita harus bisa menghadapinya," balas Rama.
Krek … krek …
Shinta sudah siap akan mengayunkan ranting yang ada di tangan kanannya. Ketika ada seekor kelelawar yang terbang dekat mereka.
"Huh, bikin kaget saja!" kata Shinta sambil memegang dadanya, karena dia benar-benar terkejut.
Saat keduanya, merasa lega dan menghilangkan rasa waspadanya. Ternyata ada makhluk yang menerjang ke tubuh Shinta.
Wuuuush …
"A … aaakh!" teriak Shinta dan tubuhnya terjungkal ke belakang akhirnya jatuh terlentang diatas tanah.
Uu-uu-uu …
Seekor anak monyet kini berada diatas tubuh Shinta.
"A … aaakh!" teriak Rama dan Shinta bersamaan, karena terkejut dengan kedatangan anak monyet yang tiba-tiba itu.
"Akh … Rama! Singkirkan anak monyet ini! Dari atas tubuhku … " teriak Shinta sambil menangis karena takut digigit sama monyet.
Sementara anak monyet yang sedang berada di atas perut Shinta hanya terdiam melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Rama, apa yang kamu lakukan?! Cepat singkirkan anak monyet ini dari atas tubuhku!" Shinta kembali berteriak.
"Iya, tunggu dulu!" kata Rama yang mulai panik, takut monyet itu ngamuk dan membahayakan Shinta.
Uu-uu-uu …
Anak monyet itu malah menepuk-nepuk wajah dan dada Shinta.
"Rama!" teriak Shinta sambil menangis.
"Iya … iya … " kata Rama sambil mencoba mendorong anak monyet itu pakai dahan pohon.
"Hai monyet! ayo kesini kalau berani!" Rama masih mencoba mendorong anak monyet itu agar menjauh dari tubuh Shinta.
Uu-uu-uu …
"Rama!" Shinta kembali berteriak dan tangisannya mulai kencang.
"Iya! Hai monyet! Ayo sini kalau berani!" Rama menepuk-nepuk dadanya mencoba memancing reaksi dari si anak monyet.
Namun anak monyet itu tidak mau melepaskan diri dari Shinta. Malahan ikut rebahan di atas perutnya Shinta.
"Kayaknya itu anak monyet sudah jinak. Kayaknya dia suka sama kamu, deh ?!" kata Rama kepada kembarannya itu.
Mendengar ucapan Rama barusan, Shinta diam memperhatikan anak monyet itu. Mereka (anak monyet & Shinta) saling pandang satu sama lain.
"Hei, kamu turun dari perutku!" bentak Shinta kepada anak monyet itu. Anak monyet itu malah menundukkan kepalanya, dan menyembunyikan wajahnya di dada Shinta.
"Coba kamu kasih mana dia, lalu beri perintah," pinta Rama pada Shinta.
"Hanoman kek, siapa kek, yang penting dia menyukainya," kata Rama sambil mendekat kearah Shinta.
"Hanoman sini turun dari atas tubuh Shinta," kata Rama sambil mengulurkan tangan mereka.
Tanpa disangka, monyet itu turun dari tubuh Shinta. Kemudian datang menghampiri Rama. Begitu di depan tubuh Rama, monyet itu langsung naik ke punggungnya dengan cepat, sehingga sekarang Rama yang menggendong anak monyet itu.
"Jadi nama monyet itu Hanoman?" tanya Shinta.
Begitu Shinta menyebutkan mana Hanoman, monyet itu memberi respons.
"Kita kasih mana Hanoman saja dia," kata Rama sambil mengelus kepala anak monyet itu. Hanoman pun menikmati perlakuan dari Rama.
"Ini sudah tengah malam ayo tidur!" ajak Rama sambil kembali ke tempat tadi mereka berdua berbaring.
"Hanoman tidur!" kata Rama, dan anak monyet itu pun turun dari punggung Rama. Kemudian melingkarkan tubuhnya di dekat ransel milik Rama. Melihat itu, baik Rama maupun Shinta tidak mempermasalahkannya.
Rama dan Shinta kini bisa tidur dengan pulas, dengan adanya Hanoman di dekat mereka. Sebelum tidur Rama meminta kepada Hanoman, untuk tidur di dekatnya dan jangan kemana-mana. Rama juga sudah menambahkan beberapa ranting lagi agar apinya tetap terjaga.
Rama terbangun dari tidurnya karena merasakan hawa yang dingin. Dilihatnya api unggun hampir padam apinya. Rama pun kembali menyusun kayu bakar yang ada di sana.
Di waktu pagi hari, dan keadaan masih berkabut. Rama dan Shinta terbangun dari tidur mereka. Hanoman tidak ada di sisi mereka.
Maka keduanya berteriak memanggil nama Hanoman. Tak berapa lama, Hanoman datang dengan membawa dua buah pisang yang sudah masak dan memberikannya kepada Rama dan Shinta.
"Hai, Hanoman ini kamu dapat dari mana?" tanya Shinta sambil memegang pisangnya.
__ADS_1
Uu-uu-uu …
Hanoman malah lompat-lompat di depan Rama dan Shinta.
"Kamu ngerti nggak dia ngomong apa?" tanya Rama kepada Shinta.
"Sepertinya dia memetik buah pisang ini sendiri," kata Shinta asal, sambil memakan buah pisangnya. Ternyata rasanya enak.
"Enak rasanya! Bagus Hanoman," kata Shinta sambil memberikan jempolnya kepada anak monyet itu.
Hanoman lompat-lompat kembali, kemudian dia berputar-putar seperti sedang mengungkapkan rasa senangnya.
"Terima kasih, Hanoman," kata Rama juga. Hanoman berlari ke arah Rama dan menaiki punggungnya.
Uu-uu-uu …
"Ini monyet senang banget naik ke punggungku," kata Rama sambil ingin melepaskan anak monyet itu, tapi sulit karena Hanoman mencengkram baju Rama dengan kuat.
"Ah, sudah lah! Ayo kita lanjutkan kembali mencari harta karunnya," ajak Rama sambil menenteng tas ranselnya. Sedangkan sekopnya dibawa oleh Shinta.
"Kita cari di dekat danau dulu, karena ada tanda bintang disini," tunjuk Rama kepada Shinta, dan mereka pun mencari pohon yang bertanda bintang.
Hampir setengah jam keduanya berkeliling di dekat danau itu. Sampai akhirnya ketemu juga pohon yang memiliki tanda bintang.
"Shinta, sini! Lihat di pohon ini ada tanda Bintangnya!" teriak Rama saat melihat pohon yang dekat dengan hamparan batu-batu kecil itu, memiliki tanda bintang.
Kemudian Rama pun menggali di bawah pohon bertanda bintang itu. Sudah sepuluh menit, tapi belum juga kelihatan adanya harta karun, di dalam sana.
"Bagaimana, apa kotak harta karunnya sudah ketemu?" tanya Shinta dengan penuh harap.
"Belum, ini sungguh aneh. Kenapa tidak ada harta karunnya," kata Rama sambil menghentikan galiannya, karena merasa capek.
Uu-uu-uu …
Hanoman melompat-lompat di depan sebuah pohon yang sedang berbuah lebat. Rama dan Shinta pun mengalihkan pandangannya ke arah Hanoman.
"Ah, lebih baik aku memanjat pohon, dan memetik buahnya," kata Rama sambil berjalan ke arah anak monyet itu yang terus saja lompat-lompat.
Rama pun bersiap akan memanjat pohon, tapi matanya melihat ada tanda bintang di pohon itu juga.
"Shinta … tolong bawa sekopnya sekalian!" teriak Rama kepada Shinta yang sedang berjalan ke arahnya.
"Buat apa?" tanya Shinta sambil kembali lagi dan membawa sekopnya.
"Buat gali harta karunnya!" teriak Rama kembali.
Mendengar kata harta karun Shinta, semangat kembali. Maka dengan semangat empat lima, dia membawakan Rama sekopnya.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1