Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 26


__ADS_3

Rama dan Shinta yang keluar dari lorong rahasia itu, ternyata mereka sedang berada di ruang kerja Kakek Bisma.


" Ternyata di ruang kerja Kakek Bisma, ada ruang ruang rahasianya?" Shinta tak percaya saat dirinya bisa masuk ke dalam ruang kerja Kakek Bisma yang jarang dimasuki mereka, ternyata terhubung dengan ruang rahasia yang ada di perpustakaan.


" Ya, berarti pintu - pintu tadi yang lainnya juga pasti nantinya akan terhubung dengan ruangan lainnya di dalam mansion ini, melalui lorong - lorong !" Ucap Rama penuh keyakinan.


" Tuan Besar, ada laporan yang saya ingin beritahu kepada anda!"


" Baiklah, kita bicara di dalam saja!" Suara Bisma terdengar jelas mendekati ruang kerjanya.


    Mendengar suara Bisma dan Kepala Pelayan itu semakin mendekat. Rama dan Shinta  cepat - cepat masuk kembali ke dalam lorong rahasia itu. Dan Rama kembali menekan tombolnya. Dan dinding itu pun kembali tertutup.


     Rama dan Shinta diam dulu di lorong itu. Apa percakapan Bisma dan Kepala Pelayan bisa di dengarnya.


" Katakan apa yang ingin kamu laporkan!" Suara Bisma bisa terdengar oleh Rama dan Shinta.


" Orang - orang yang telah menyerang Tuan Muda Adji saat di rumah sakit, telah ditemukan dalam keadaan meninggal!" Suara Kepala Pelayan terdengar dengan jelas.


    Rama dan Shinta saling pandang, dan mereka ingin mengetahui kelanjutan pembicaraan mereka. Jadi kedua anak itu masih dalam keadaan terdiam di tempatnya.


" Bagus, mereka pantas untuk mendapatkan itu." Kata Bisma.


" Terus ada apalagi yang ingin kamu sampaikan lagi kepadaku?" Lanjutnya lagi.


" Tuan Muda juga meminta pada Sam, dokumen - dokumen kasus yang terjadi waktu dulu, yang menimpa dirinya."


" Jadi maksudmu kalau Adji sedang memulai penyelidikannya. Terhadap apa yang menimpa dirinya dahulu?" Tanya Bisma.


" Benar Tuan Besar!" Jawab Kepala Pelayan lagi.


" Nggak apa - apa, biarkan saja. Kamu tetap pantau kegiatan Adji."


" Apa masih ada lagi yang mau kamu laporkan kepadaku?"


" Untuk saat ini sudah tidak ada lagi yang akan saya laporkan." Jawab Kepala Pelayan.


" Kalau sudah tidak ada lagi. Saya mau pergi nemuin anak - anak." Kata Bisma.


    Saat mendengar Bisma mau menemui cucunya. Rama dan Shinta langsung cepat - cepat kembali lagi menelusuri lorong rahasia itu menuju ke ruang perpustakaan.


" Ayo cepat, nanti Kakek akan curiga. Bila tidak melihat kita di ruang Perpustakaan." Rama meminta Shinta mempercepat jalannya.


" Iya, ini juga jalannya cepat. Kamu aja yang nggak sabaran." Shinta menggerutu karena Rama memintanya jalannya dipercepat.


    Rama dan Shinta cepat - cepat memutar lampu hias, agar dindingnya menutup kembali. Pas dinding pintu rahasia itu tertutup rapat.

__ADS_1


Ceklek….


    Suara pintu perpustakaan terbuka. Dan Bisma berjalan masuk ke dalam perpustakaan itu.


" Halo, cucu Kebanggaannya Kakek, sedang apa kalian?" Tanya Bisma pada Rama dan Sinta yang kebetulan masih berdiri di dekat lemari nakas, dekat pintu rahasia itu.


" Kita mau membaca buku baru, Kek!" Jawab Rama.


" Terus tas ransel yang ada di punggung kalian itu untuk apa?" Tanya Bisma penuh curiga.


" Hahaha…. Nggak Kek. Tadinya kita mau bermain di taman. Tapi kita berdua mengurungkan niat kami. Karena diluar sangat panas." Jawab Shinta dengan tertawa garingnya.


*****


Adji dan Alice duduk di atas kasur empuk yang nyaman bagi mereka. Adji dan Alice duduk dengan bersandar pada dipannya.


" Suamiku katanya mau menceritakan lebih lengkap lagi mengenai cerita masa lalu kamu." Kata Alice yang duduk sambil bersandar pada bahu Adji.


" Oh, iya. Tunggu aku bawa dulu album fotonya." Adji pun beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya.


    Tak berapa lama Adji pun datang dengan membawa setumpuk album foto. Adji pun datang menghampiri Alice.


" Aku akan mengenalkan terlebih dahulu keluarga inti dari Pandawa." Kata Adji sambil membuka album foto yang berukuran besar.


" Ini adalah Kakek Bisma dan mendiang istrinya. Punya anak kembar yaitu Nakula dan Sadewa." Adji menunjuk sebuah foto yang bergambar suami istri dan dua anak laki - laki yang memiliki wajah yang serupa.


" Apa Kakek Pandu hanya punya anak satu?" Tanya Alice.


" Iya, Paman Yudhistira. Dia adalah ayahnya Arjuna." Jawab Adji.


" Oh. Keluarga kalian punya anak sedikit, ya?" Alice tertawa terkekeh.


" Kenapa? Memangnya kalau punya anak sedikit?" Tanya Adji penasaran.


" Ah, enggak. Sayang saja harta kalian begitu banyak, tapi yang akan mewarisinya hanya beberapa orang saja." Kata Alice.


     Mendengar perkataan Alice, Adji mengerutkan keningnya. " Maksudnya?" Tanya Adji.


" Ya, wajar saja kalau nyawa kamu sudah ada yang mengincar sejak bayi. Karena bila kamu mati, harta kakekmu pasti jatuhnya pada kerabatnya sendiri kan?!" Pikiran Alice tentang kemungkinan benar adanya orang terdekat Adji yang menginginkan kematiannya.


" Tapikan waktu aku masih bayi, masih ada Papaku sang Pewaris Utama." Kilah Adji.


" Ah, benar juga ya." Alice manggut-manggut sambil mengusap - usap dagunya.


" Oh iya ada yang menjadi pikiran bagiku?" Alice merubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Adji.

__ADS_1


" Kenapa orang tuamu meninggal?" Tanya Alice.


" Mereka kecelakaan pesawat saat melakukan perjalanan ke luar negeri." Jawab Adji.


" Mereka berangkat pake pesawat pribadi atau pesawat komersil?" Tanya Alice dengan penuh semangat.


" Tentu saja mereka berangkat pakai pesawat pribadi, karena…." Adji langsung terdiam.


" Oh tidak!! Bodoh....Bodoh....! Kenapa baru sekarang aku berpikiran kalau mungkin saja mereka telah dibunuh dengan cara seperti itu!" Adji menjambak rambutnya sendiri.


" Sudah kamu jangan merasa terlalu menyalahkan dirimu!" Alice menarik tangan Adji yang sedang menjambak rambutnya dengan kuat.


" Sejak dulu aku hanya berpikir kalau mereka hanya meninggal karena mengalami kecelakaan!" Adji mulai meneteskan air matanya.


" Ya masih ada kemungkinan seperti itu juga. Kita tidak tahu karena tidak ada bukti" Alice menghapus air mata Adji di pipinya.


" Tapi entah kenapa sekarang aku merasa yakin kalau pesawat mereka ada yang menyabotase." Kata Adji.


" Ok, kita skip dulu kecelakaan yang terjadi pada kedua orang tuamu." Kata Alice.


" Sekarang lanjutkan lagi yang tadi." Kata Alice lagi.


" Kakek Bisma punya cucu tiga dari Papa hanya aku seorang. Dan dari Paman Sadewa ada anak kembar yaitu Balaram dan Baladewa." Lanjut Adji.


" Tapi keduanya meninggal karena kecelakaan juga."


" Oh, tidak jangan sampai kalau kecelakaan mereka berdua juga karena disengaja!" Pekik Adji.


" Kenapa baru sekarang pikiran ku terbuka dengan adanya kejanggalan - kejanggalan dengan kematian orang - orang disekitarku!" Adji merutuki kebodohannya dan ketidak pekaan dirinya atas kematian keluarganya.


" Apa dikeluargamu tidak ada yang meninggal secara wajar?" Tanya Alice asal.


" Ada. Nenek meninggal karena sakit. Istri Paman Sadewa juga meninggal karena sakit." Jawab Adji.


" Itu juga bisa dimanupulasi kematiannya." Kata Alice sambil melihat foto - foto di album yang dipegang oleh Adji.


Adji jadi terdiam saat mendengar ucapan Alice barusan. Kini kenapa menjadi pikiran untuk dirinya.


" Menurut kamu siapa yang bisa menjadi kandidat pelaku di keluarga ku sendiri?" Adji menatap mata Alice.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS YA.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2