Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 79


__ADS_3

     Adji berjalan telusuri jalan yang kira-kira akan ditelusuri oleh kedua anaknya. Adji mencoba berjalan pelan-pelan sambil  melihat keadaan di sekitarnya. Adji tidak bisa menghubungi anak-anaknya karena mereka tidak bawa alat komunikasi.


"Rama … Sinta …! Kalian di mana?!" tanya Adji dengan ada yang khawatir.


"Jawab Papa!" teriak Adji kembali.


    Setelah berjalan cukup lama Adji pun berbalik arah dan kembali menuju air terjun tadi. Adji berpikir kalau anak-anaknya masih berada di sekitaran air terjun. Maka dengan cepat dia pun kembali menuju ke sana.


    Aji telah kembali ke tempat air terjun itu. 


Mencoba berteriak makin keras memanggil nama kedua anaknya.


"Rama! Shinta!" teriak Adji sekuat tenaga.


Srek … srek …


   Adji mendengar ada pergerakan dari semak belukar. Maka dia pun mendekatinya.


Uu-uu-uu …


"Anak monyet?" kata Adji saat melihat anak monyet berwarna abu itu melompat-lompat kemudian berlari kembali ke arah semak dan pepohonan di sana.


Uu-uu-uu …


     Adji terus memperhatikan anak monyet itu, karena terus saja bersuara dan melompat-lompat di dekat sana, seolah sedang mengajaknya kesana. Rasa penasarannya yang tinggi membuat Adji kembali mendekat ke arah semak itu.


   Saat Adji melihat di balik pohon dan semak itu, betapa terkejutnya saat dia menemukan Rama dan Shinta yang sedang bersandar di pohon dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Rama! Shinta!" Bangun jawab Papa!" Adji merengkuh tubuh kedua anaknya itu. Dia sangat takut terjadi sesuatu kepada anak-anaknya itu.


"Ayo, bangun Sayang!" Adji masih mencoba membangunkan keduanya.


"Hm … Rama masih ngantuk, Pa," jawab Rama dengan lirih dan tak bertenaga.


"Iya, Shinta juga," jawab Shinta ikut-ikutan dan matanya masih terpejam.


   Adji yang melihat kedua anaknya seperti itu hanya bisa tersenyum. Dia menertawakan kelakuan keduanya.


"Kalian itu mirip siapa sich?" tanya Adji kepada keduanya, tapi tidak ada yang menjawab seorang pun.


Uu-uu-uu …


Hanoman yang melompat-lompat dan berputar di dekat Adji, mencari perhatian kepadanya. Adji pun melihat ke arah anak monyet itu.


"Kamu itu monyet yang mengganggu Rama dan Shinta,ya?" tanya Adji sambil menatap tajam ke arah Hanoman.


Uu-uu-uu …


     Hanoman menarik celana Adji, saat dia akan beranjak dari sana dengan menggotong Shinta terlebih dahulu untuk keluar dari tempat persembunyiannya.


"Apaan sich, anak monyet ini!" Adji menatap tajam ke arah Hanoman.


Uu-uu-uu …


    Kemudian Hanoman menarik baju Rama. Adji kemudian memperhatikan tingkah anak monyet itu yang menarik-narik Rama, sambil berteriak-teriak. Adji baru mengerti kalau anak monyet itu meminta dirinya untuk membawa Rama juga. Maka dia pun tertawa.


"Kamu meminta, aku juga membawa Rama, sekalian?" tanya Adji pada anak monyet itu. Hanoman pun membalasnya dengan lompatan sambil menarik tangan Rama.

__ADS_1


"Iya, nanti aku bawa Rama. Sekarang bawa Shinta keluar dulu. Aku tidak kuat kalau harus mengotong keduanya secara bersamaan," kata Adji sambil tertawa geli.


"Kamu tungguin Rama dulu di sini! Jangan ke mana-mana?!" kata Adji pada Hanoman.


   Maka Adji pun berjalan keluar dari semak-semak di balik pohon, dengan membopong tubuh Shinta. Adji pun berjalan mencari tempat yang cocok untuk membaringkan anak-anaknya.


   Maka pilihan Adji adalah dia akan meletakan Shinta di dekat dua batu yang sangat besar di dekat bibir sungai. Selain tempatnya teduh juga tanahnya datar dan mulus tidak berbatu.


"Tuan Muda?!" Sam sudah sampai dan berdiri di belakang Adji bersama orang yang diikat tangannya di belakang tubuhnya.


"Siapa dia?!" tanya Adji sambil menatap tajam ke arah laki-laki yang datang bersama Sam.


"Dia mengaku Bos Penjahat," jawab Sam menahan tawanya.


   Adji hanya mengerutkan keningnya saat Sam bilang laki-laki yang sedang berdiri bersamanya itu adalah Bos Penjahat.


"Bos Penjahat? Memangnya kejahatan apa yang pernah dilakukannya?" tanya Adji penasaran, karena tadi juga dia telah bertemu dengan seorang laki-laki bodoh, yang kabur darinya.


"Tidak tahu kejahatan apa yang sudah dia lakukan, yang pasti dia tadi membawa pistol dan menembaki aku," jawab Sam sambil menahan tawanya.


   Adji merasa aneh dengan Sam, karena dia semenjak tadi terus menahan tawa.


"Kamu itu kenapa, ingin ketawa terus?" tanya Adji sambil melihat ke arah Sam.


"Kamu tidak sedang menertawakan aku, kan?" tanya Adji yang matanya menatap tajam ke arah Sam.


"Tidak Tuan. Saya hanya teringat beberapa kejadian lucu beberapa waktu yang lalu," jawab Sam yang kini tidak bisa lagi menahan tawanya.


"Apa yang kamu tertawakan? Atau kamu akan mendapat hukuman dariku?!" tanya Adji dengan tatapan lebih tajam lagi kepada Sam.


"Tuan, dia mengaku Bos Penjahat, tapi menggunakan pistol saja tidak bisa. Kalah sama Nona Shinta. Baru di pukul dua kali langsung tumbang," jawab Sam sambil tertawa karena mengingat kejadian tadi.


"Baik Tuan!" jawab Sam sambil melihat ke arah Shinta yang sedang duduk bersandar di batu besar yang ada di dekat sisi sungai.


   Adji pun kembali ke tempat Rama berada. Di sana Hanoman masih setia menunggui Rama yang sedang tertidur.


Uu-uu-uu …


   Hanoman sangat senang saat melihat Adji datang kembali. Dia melompat dan mengitari Rama seolah memintanya untuk cepat-cepat membawa Rama dari sana.


"Iya, aku akan menggendong dan membawanya pergi dari sini," kata Adji sambil menggendong tubuh Rama, di punggungnya. Berbeda dengan Shinta, yang memiliki berat tubuh yang sangat ringan. Rama harus dibawanya digendong di belakang karena tubuhnya yang lebih berisi dari Shinta.


    Hanoman pun mengikuti Adji berjalan di sampingnya. Awalnya merasa aneh dengan anak monyet itu. Kemudian membiarkannya selama tidak mencelakai kedua anaknya.


   Adji pun kembali ke tempat tadi, dan kini ada Bima di sana bersama satu orang laki-laki asing yang lainnya lagi. Adji memperhatikan kedua pria asing itu dengan seksama.


"Siapa lagi, dia?" tanyanya kepada Bima dengan bibirnya yang menunjuk laki-laki yang pakaiannya basah.


"Dia mengaku Anak Buah Penjahat, Tuan," jawab Bima sambil menundukkan kepalanya di hadapan Adji.


"Lalu kenapa pakaiannya basah?" tanya Adji sambil berjalan ke arah batu besar tempat Shinta di sandarkan di sana.


"Karena dia tadi ngompol di celana!" jawab Bima dengan nada suara yang memberitakan betapa jijiknya dia.


"Apa! Dia ngompol di celana?" tanya Adji terkejut, tak percaya ada laki-laki yang sudah dewasa masih ngompol di celana.


" Benar, Tuan. Makanya aku suruh dia nyemplung dulu ke sungai untuk menghilangkan bau pesingnya," jawab Bima.

__ADS_1


   Adji yang sudah meletakan Rama di samping Shinta. Kini berjalan ke arah dua orang Penjahat itu. Dengan tatapan matanya yang mengintimidasi lawannya, membuat kedua Penjahat itu gemeteran.


"Kejahatan apa yang telah kalian lakukan?" tanya Adji dengan suara baritonnya yang dingin.


    Kedua penjahat itu ketakutan setengah mati, saat melihat tatapan mata Adji. Si Bos Penjahat sampai-sampai kakinya bergetar, untungnya mereka berdua itu posisinya duduk di dekat pohon yang agak jauh dari tepi bibir sungai.


"Ayo jawab?" tanya Adji yang kini berjongkok di hadapan mereka.


   Kedua penjahat itu semakin takut kepada Adji. Sampai-sampai mereka tidak bisa berbicara. Hanya keringat besar-besar yang keluar dari pori-porinya lah bisa memberitahu, kalau mereka itu sedang ketakutan.


   Adji gemas dengan kedua penjahat itu. Sehingga dia mengcekram dagu keduanya, dan bertanya sekali lagi.


"Apa yang telah kalian perbuat di wilayah kekuasaan milikku?!" tanya Adji dengan tatapan tajamnya ke arah kedua orang itu.


"Itu Tuan. Kami tidak sengaja melakukannya," akhirnya Si Anak Buah berbicara terlebih dahulu.


"Memang apa yang telah kalian lakukan?" tanya Adji lagi kini tatapannya terpusat kepada Si Anak Buah.


"Teman kami … itu … " dengan terbata-bata Si Anak Buah berbicara.


"Iya, teman kalian kenapa?" tanya Adji lagi.


"Dia … jahat … " lanjutnya lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


   Sam dan Bima yang memperhatikan dari belakang Adji yang sedang berjongkok. Malah menahan tawanya, karena melihat Si Penjahat ketakutan di hadapan Tuan Muda mereka.


"Bukannya kalian juga adalah penjahat?" tanya Adji lagi, jadi pusing mendengarnya.


"Iya … tapi … dia itu … lebih … Tuan," jawabnya dengan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.


   Melihat itu Adji malah mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti, kenapa laki-laki di hadapannya itu kini menangis.


   Sementara Sam sudah cekikikan menahan tawanya. Sedangkan Bima hanya menutup mulut dengan sebelah tangannya, karena takut suara tawanya terdengar oleh Adji.


"Coba kamu ceritakan yang bener, kejahatan apa yang kalian telah perbuat?" tanya Adji kepada laki-laki yang sudah mengaku sebagai Bos Penjahat.


   Si Bos Penjahat langsung terperanjat saat Adji meminta dia untuk bercerita tentang kejahatan apa yang telah mereka lakukan.


"Tidak ada Tuan," jawabnya sambil menundukkan kepalanya, karena takut ketahuan sedang berbohong.


"Ayo jujur katakan yang sebenarnya?!" pinta Adji sambil mengangkat kepala Si Bos Penjahat itu.


"Jujur saya, Tuan," katanya dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, seperti teman yang duduk di sebelahnya.


"Sepertinya, kalian butuh kasih sayang dari orang-orang di belakangku," kata Adji sambil berdiri.


"Asal tahu saja, aku ini orangnya sangat baik dan penyayang, sudah pasti jenius dan tampan. Jadi seharusnya kalian senang saat aku meminta kalian untuk menjawab pertanyaan dari ku dengan baik," kata Adji mulai menyombongkan dirinya sendiri di hadapan para penjahat itu.


     Kedua penjahat itu sangat takut kepada Adji, karena dia memiliki aura yang kuat dan menekan kepada mereka. Sehingga mereka merasa sangat takut tanpa sebab.


   Namun kedua orang yang ada di belakangnya itu, nggak kalah menakutkannya, apalagi mereka sudah membuktikan kekuatan pukulan miliknya.


"Baik, akan saya ceritakan kepada Tuan!" kata Si Bos Penjahat itu saat Adji melangkah menjauh darinya.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2