
Sebelum kejadian Rama dan Shinta di culik….
Rama sedang membaca buku harian milik Balaram dan Nakula di dalam kelasnya. Dia menuliskan beberapa kejadian yang terjadi pada kedua orang itu. Rama menulis rangkaian peristiwa yang mungkin bisa menjadi petunjuk baginya.
Sementara Shinta dia pergi ke kantin sekolah membeli minuman untuknya dan untuk Rama. Karena tadi bekal minumannya tertinggal di rumah. Sejak tadi Shinta merasa ada yang mengawasinya. Tapi setiap dia mengedarkan pandangannya melihat keadaan sekitar, tidak ada hal yang mencurigakan.
Setelah mendapatkan minuman untuknya dan untuk Rama, Shinta meninggalkan kantin yang sedang sesak oleh murid-murid yang kelaparan dan kehausan. Sehingga mereka berebut ingin menjadi yang pertama saat mendapatkan jatah makannya.
Saat Shinta berjalan di koridor sekolah, ada seseorang yang menariknya. Dan memberinya obat bius, yang di teteskan ke sapu tangan yang dipakai untuk membekap hidung Shinta. Sehingga Shinta jatuh pingsan, dan kedua minuman yang tadi dibelinya terjatuh begitu saja disana.
Shinta pun disembunyikan ke dalam boks kontainer yang digunakan untuk pengiriman sayuran ke kantin sekolah, dan dia pun dibawa ke halaman sekolah yang sudah terparkir sebuah mobil boks.
*****
" Shinta kenapa lama, ya?" Gumam Rama sambil melihat jam tangannya.
Karena sudah sepuluh menit tidak kembali juga. Akhirnya Rama memutuskan untuk menjemputnya ke kantin sekolah. Rama terlebih dahulu membereskan buku harian dan catatan miliknya, sebelum pergi ke kantin.
Saat di kantin Rama tidak bisa menemukan Shinta. Maka dia pun bertanya kepada beberapa orang teman satu angkatan dengannya, tentang keberadaan Shinta. Mereka semua bilang kalau Shinta telah kembali ke kelas.
Rama pun kembali berkeliling di sekitar jalan menuju ke kelasnya dari kantin. Dan saat Rama menemukan dua botol minuman yang terjatuh di rerumputan dekat koridor. Curiga kalau botol minuman itu milik Shinta. Rama pun mencoba menelepon bodyguard, untuk mencari keberadaan Shinta.
Ketika Rama akan menghubungi bodyguard Android-nya, ada seseorang yang mendekap mulutnya memakai sapu tangan yang sudah dikasih obat bius. Rama pun akhirnya jatuh tak berdaya. Sama halnya dengan Shinta, Rama juga dimasukan ke dalam boks kontainer buat pengiriman bahan sayuran. Kini kedua bocah kembar itu telah disekap oleh para penculik.
Mereka berdua dibawa ke suatu tempat di pinggiran hutan. Disana ada sebuah rumah yang sudah lama tidak berpenghuni. Kedua anak itu diikat di kursi kayu. Para penculik pun menelpon atasan mereka.
" Selamat siang Bos!"
" Kita telah berhasil menculik kedua anak kembar itu. Kini mereka sudah kita sekap di markas dekat hutan." Lapor lelaki bertubuh gempal kepada Bos-nya.
" Bagus! Jaga mereka baik-baik sampai aku datang." Kata Si Bos.
__ADS_1
" Baik Bos!" Balas di anak buah.
******
Rama merasakan kepalanya pusing, dan dia mencium bau jamur karena suhu udara yang lembab. Rama tidak bisa melihat karena matanya ditutup dan dia juga tidak bisa bicara karena mulutnya di plester pakai lakban. Rama sadar kini dirinya juga telah menjadi korban penculikan.
Rama pura-pura belum sadarkan diri, karena ingin tahu situasinya saat ini. Dia juga tidak tahu keberadaan Shinta sedang berada di mana. Didengarnya suara langkah berat yang menuju ke arahnya.
" Anak-anak yang malang, kalian terlahir menjadi anak orang kaya. Tapi kalian memiliki nasib yang sangat buruk." Terdengar suara serak laki-laki karena sering minum banyak alkohol.
" Hehehe…. Dunia memang adil. Kalian yang tidak pernah kekurangan apa-apa, ternyata hidup kalian tidak tenang. Karena banyak yang mengincar kalian!" Laki-laki itu terus saja mengoceh sambil sesekali tertawa.
" Hei, apa yang sedang kamu lakukan?" Datang lagi seorang laki-laki dengan suaranya yang nge-bass.
" Hanya melihat keadaan dua bocah ini saja!" Jawab Laki-laki bersuara serak.
" Si Bos akan datang sebentar lagi."
Kedua lelaki itu pergi meninggalkan ruangan itu. Kini hanya ada Rama dan Shinta. Dirasa tanda-tanda keberadaan Si Penculik sudah tidak ada. Rama pun berinisiatif mencari tahu apa Shinta sudah sadar atau belum.
" Apa." Jawab Shinta dengan pelan juga.
" Ternyata kamu sudah sadar." Rama senang karena kembarannya juga sudah sadar.
" Kamu bisa bergerak nggak?" Tanya Rama lagi masih dengan suara pelannya.
" Nggak. Kedua tanganku diikat kebelakang kursi." Jawab Shinta.
" Sama aku juga. Tapi kaki kamu bisa bergerak?" Tanya Rama sambil berusaha menggeserkan kursinya ke samping mendekati kursi Shinta.
" Walau agak susah, masih bisa digerakkan." Jawab Shinta sambil menggerakan kakinya.
__ADS_1
Kini kedua anak kembar itu saling mendekat, setelah itu Rama berputar memunggungi kursi Shinta. Jadinya mereka berdua saling memunggungi. Dan tangan mereka berusaha membuka ikatan tali yang mengikat mereka. Pertama-tama ikat tali Shinta dibuka duluan oleh Rama. Baru setelah itu Shinta membuka tali yang mengikat Rama.
Kini mereka berdua telah bebas dari ikatan tali. Saat mereka sedang berusaha kabur dari sekapan itu. Terdengar suara klakson mobil di halaman depan. Rama dan Shinta terkejut dan mereka tahu kalau yang disebut Bos oleh mereka akhirnya datang.
" Bagaimana ini?" Tanya Shinta dengan komunikasi lewat tatapan matanya dengan Rama.
" Tenang, jangan panik. Kita harus diam jangan mengeluarkan suara apapun." Jawab Rama lewat kontak matanya.
Mereka bersembunyi di dekat sofa usang yang ada di dalam ruang tamu. Saat pintu depan rumah dibuka, Rama dan Shinta bisa merasakan detak jantungnya berdetak puluhan kali lipat. Bahkan mereka berdua kini menahan nafasnya, saking takutnya ketahuan.
Suara langkah kaki dari beberapa laki-laki dewasa yang memasuki ruang tamu terasa menusuk di telinga mereka. Aura yang dipancarkan oleh orang yang berjalan di depan terasa menekan dada, dan membuat nafas terasa sulit.
Rama dan Shinta bicara lewat tatapan mata mereka. Bertahan di dalam rumah atau kabur lari keluar rumah. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertahan sembunyi di dalam rumah saja.
Terdengar suara kursi yang di tendang di ruang tempat penyekapan Rama dan Shinta tadi.
" Dimana bocah-bocah itu sekarang?" Bentak Si Bos kepada dua laki-laki tadi. Hingga kedua laki-laki itu wajahnya berubah pucat.
" Barusan kedua anak itu masih ada di sini. Duduk terikat, sampai kita ke depan rumah karena menyambut kedatangan anda Bos." Jawab Laki-laki bersuara nge-bass.
" Jadi kalian menyalahkan aku, atas kaburnya kedua anak itu?" Tanya Si Bos dengan nada membentak.
" Nggak Bos, maksud kami. Tadi sebelum kami keluar ruangan ini. Mereka berdua belum sadarkan diri, dan masih terikat di kursi." Jawab Si Penculik bersuara nge-bass.
" Sekarang juga cari kedua anak itu! dan bawa mereka ke hadpaanku!" Perintahnya dengan suara yang menggelegar memenuhi seluruh lantai satu rumah itu.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
BUNGA ATAU KOPI JUGA ITU MEMBUAT SEMANGAT LAGI.
__ADS_1
TERIMA KASIH.