Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 31


__ADS_3

Adji duduk termenung di dalam ruang kerja miliknya. Dia berpikir siapa kira - kira yang akan senang, bila dirinya mati. Adji menulis nama - nama di selembar kertas. Nama orang yang sering berhubungan dengannya.


" Paman Sadewa?"


" Ah, mana mungkin. Memangnya apa keuntungannya buat dia. Harta kekayaannya juga sudah melimpah. Apalagi dia nggak punya anak. Justru kalau Paman mati, seluruh harta kekayaannya malah menjadi milikku."


" Kakek Bisma?"


" Ah, umur Kakek juga sudah tua. Apa yang bisa Kakek dapatkan dengan kematianlah. Yang ada, aku akan mendapat banyak keuntungan kalau Kakek mati."


" Kakek Pandu?"


" Selain Kakek Bisma, Kakek Pandu orang yang paling menyayangiku. Bahkan bisa dikatakan aku lebih disayangi oleh Kakek Pandu, dibanding Arjuna yang cucu kandungnya sendiri."


" Mana mungkin Arjuna?"


" Kalau dia menginginkan aku mati. Dia nggak akan susah - susah menolong dan menyembuhkan aku, kalau lagi sakit!"


" Hehehe…. Mana mungkin Sam."


" Apa dia punya dendam sama aku, ya?"


" Bima juga, apa dia punya dendam dengan diriku?"


" Aaaaaakh…. Kenapa sekarang semua orang sangat mencurigakan bagi diriku!" Adji mengacak - ngacak rambutnya.


" Siapapun dia orangnya dan apa tujuannya!"


" Aku tidak akan membiarkannya mencelakai keluarga ku!" Adji merasa sangat geram kali ini kepada orang yang sering berusaha membunuh dirinya.


*****


     Alice yang kini sedang berada di dalam kamarnya. Hanya duduk di sofa sambil membuka - buka album foto yang kemarin Adji perlihatkan kepadanya. Alice berdiam diri di dalam kamar, karena Adji tadi yang menyuruhnya.


     Sambil melihat dan mengamati orang - orang tergambar dalam foto itu. Alice berpikir, kalau dia yakin orang yang ingin membunuh Adji adalah kaum kerabatnya sendiri.


" Aku curiga dengan orang ini!" Alice mengetuk - ngetukkan jarinya pada sebuah foto.


" Tapi orang ini juga mencurigakan!" Pandangan Alice teralihkan pada foto di dekatnya.


" Ah… kenapa semua orang terasa mencurigakan!" Alice menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


" Tunggu…. Kalau Adji sudah jadi sasaran pembunuhan sejak bayi?"


" Berarti penjahat yang sebenarnya selalu berada di dekat Adji."

__ADS_1


" Tapi siapa orang yang selalu berada di dekat Adji, semenjak Adji masih bayi?"


" Kakek Bisma?"


" Mana mungkin? Adji kan cucu kesayangannya."


" Paman Sadewa?"


" Bahkan Paman Sadewa itu sudah menganggap Adji sebagai anak kandungnya."


" Kalau Kakek Pandu aku belum terlalu mengenalnya. Karena kita baru beberapa kali bertemu. Dan itupun hanya sebentar - sebentar saja waktunya."


" Akh…. Suamiku, siapa sich orang yang selalu ingin mencelakaimu itu!" Alice mengguling - gulingkan tubuhnya di sofa.


" Mama…. Sedang apa berguling kesana berguling kesini!" Rama dan Shinta sedang berdiri di samping sofa.


" Kalian itu…. Kalau mau masuk kamar, harusnya ketuk pintu dahulu." Kata Alice menutupi rasa malunya terhadap anak - anaknya.


" Kita sejak tadi sudah ketuk pintu. Tapi Mama malah diam saja. Jadinya kami takut terjadi apa - apa pada Mama.


" Terus, kalian mau apa menemui Mama kemari?" Tanya Alice kepada kedua anaknya.


" Ada yang mau kita beritahu kepada Mama sama Papa!" Jawab Rama.


" Sebaiknya Mama, panggil Papa terlebih dahulu. Agar kita tidak mengulang lagi cerita kita." Rama menjawab sambil mengambil posisi duduk di samping Alice.


" Baiklah, Mama akan telepon Papa kalian terlebih dahulu." Alice pun menghubungi Adji dan menceritakan kalau anak - anaknya mau membicarakan hal yang sangat penting.


     Tak berapa lama Adji pun datang ke kamarnya. Bersama Sam yang membawa laptop dan beberapa lembar kertas.


" Ada apa Sayang?" Tanya Adji pada Rama dan Shinta yang duduk manis di sofa.


     Rama yang melihat Sam ikut datang bersama Papanya, agak ragu mau bercerita. Adji yang melihat Rama hanya diam saja dan sesekali melihat Sam. Akhirnya mengerti, karena tadi Alice berbicara kalau Rama mau menceritakan hal yang sangat penting.


" Tenang saja Sayang. Sam orang yang bisa dipercaya." Kata Adji.


     Dan Sam yang disebut namanya, mengerutkan keningnya tidak mengerti. Kenapa dia disebut - sebut.


" Apa Papa tahu kalau di mansion ini terdapat ruang rahasia yang bisa terhubung satu ruangan ke ruangan lainnya?" Tanya Rama sambil melihat reaksi Adji dan Sam.


     Adji maupun Sam sangat terkejut saat mendengar perkataan Rama. Bahkan Adji mengalihkan pandangannya kepada Sam. Dan Sam pun hanya menggelengkan kepalanya.


" Maksud kamu, kalau kita bisa masuk keruangan manapun yang kita mau tanpa diketahui oleh orang lain, karena masuknya lewat jalan rahasia?" Tanya Alice pada Rama yang duduk disampingnya.


" Iya seperti ini!" 

__ADS_1


     Rama yang berjalan ke arah dinding yang tadi dia masuki lewat lorong rahasia. Dan tombol pembuka pintu rahasia di kamar Adji adalah stopkontak yang berbentuk bulat. Rama memutarnya searah jarum jam.


    Dan dinding di sampingnya pun berputar dan terbuka, hingga menampilkan jalan yang gelap. Adji, Sam, dan Alice menganga terkejut dengan penglihatan mereka.


" Sayang bagaimana mungkin, kamu bisa tahu soal ruang rahasia ini!"


" Padahal kamu baru beberapa bulan tinggal di mansion ini." Adji berjalan kearah lorong rahasia itu.


" Aku aku awalnya merasa curiga. Saat aku sedang di ruang perpustakaan, aku selalu duduk di jendela paling samping kiri dekat dinding saat membaca buku."


" Dan ketika aku memasuki ruangan sebelahnya aku duduk di dekat jendela paling samping kanan." 


" Saat aku membuka kaca jendela di ruangan itu. Aku tidak sengaja melihat kearah jendela ruang perpustakaan yang paling samping kiri."


" Harusnya jarak jendela di ruangan itu dan jendela di ruang perpustakaan sangat dekat. Karena sama - sama paling sisi - sisi ujung. Tapi yang aku lihat jaraknya begitu jauh."


" Ku pun berlari keruang perpustakaan, dan jendela yang aku buka, jaraknya beneran jauh. Aku curiga kalau ada ruangan lain di antara perpustakaan dengan ruangan itu." Rama bercerita awal mulanya dia mencari ruang rahasia di perpustakaan itu.


" Wah, hebatnya anakku ini!" Adji tersenyum lebar setelah mendengar cerita Rama.


" Kemudian apa yang kamu temukan di ruang rahasia yang ada di ruang perpustakaan itu?" Tanya Alice sangat penasaran.


" Banyak pintu lorong yang terhubung dengan ruang - ruang di dalam mansion ini." Jawab Rama.


" Tuan Rama, penemuan anda sungguh sangat hebat!" Sam mengacungi jempol untuk Rama.


" Om Sam bukan hanya Rama yang berjasa dalam menemukan ruang rahasia itu. Aku juga ikut ambil alih." Shinta cemberut karena sejak tadi namanya nggak disebut - sebut.


" Oh, iya. Tentu saja Nona Shinta juga hebat. Karena kalian berdua telah membuka misteri yang ada di mansion ini!" kata Sam sambil mengacungkan jempolnya kepada Shinta.


" Aku juga sudah membuat peta lorong rahasia yang sudah kita masuki!" Rama mengeluarkan kertas yang telah di beri gambar dan keterangan di dalamnya.


Adji, Sam, dan Alice pun melihat gambar kotak dan garis yang di beri keterangan oleh Rama kearah mana lorong itu akan masuk ke dalam ruangannya.


" Rama apa maksudnya tulisan tengkorak ini?" Adji menunjuk nama tengkorak di kertas itu.


******


TEMAN - TEMAN, MOHON DUKUNGANNYA YA.


KARYA KU INI IKUT LOMBA KARYA ANAK GENIUS.


KASIH JEMPOL YANG BANYAK, DI KASIH HADIAH JUGA NGGAK APA - APA.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2