
Setelah menemukan sekop, di tengah hutan tadi, Rama dan Shinta pun berjalan dengan cepat kembali ke tempat pohon yang ada tanda bintangnya itu.
"Shinta, tolong pegang dulu tas milikku!" titahnya kepada saudara kembarnya.
"Tas kamu itu apa sich isinya? Berat banget!" kata Shinta begitu menerima tas ransel milik Rama.
"Tentu saja perlengkapan camping," jawab Rama sekenanya dan itu membuat Shinta tercengan tak menduga kalau Rama membawa peralatan camping.
"Tunggu, memangnya kita ini mau camping?!" tanya Shinta dengan nadanya yang sangat terkejut.
"Iya tentu saja, karena bisa saja kita kemalaman di tengah hutan begini," jawab Rama masih sambil menggali tanah, tidak mempedulikan Shinta yang memelototinya karena kesal padanya.
"Kenapa kamu nggak bilang-bilang sama aku, kalau harus membawa bekal camping!" Shinta sangat gusar jadinya. Rasanya dia ingin menjitak kepala kembarannya itu, agar bisa berbagi pikiran.
"Kalau aku bilang mau bekal peralatan camping, memangnya kamu punya perlengkapan yang sama?" balas Rama sambil melirik ke arah Shinta, kemudian melanjutkan lagi menggali tanahnya.
"Lalu kamu dapat perlengkapan camping ini dari mana?" tanya Shinta penasaran, kenapa tiba-tiba saja kembarannya punya pelengkapan itu.
"Aku menemukannya di kolong tempat tidur, tanpa sengaja kakiku menginjak tali gendongannya, ternyata di kolong kasur ada tas itu," jawab Rama sambil menyeka keringatnya yang mulai mengucur di keningnya. Selain cape menggali, udara disana juga sudah mulai terasa hangat cenderung panas, karena sinar mataharinya sudah mulai meninggi dan menyinari pohon tinggi tempat Rama dan Shinta berada.
"Jadi perlengkapan camping ini punya siapa?" tanya Shinta lagi sambil ikutan jongkok saat Rama menyimpan sekopnya dan menggali tanah menggunakan tangannya.
"Kayaknya milik orang yang bernama Batara," jawab Rama sambil menarik batu yang menghalanginya tadi, batu yang berukuran lumayan besar.
Rama melihat batu yang baru saja ditariknya dari tanah barusan.
"Ini bentuknya seperti apa, ya?" tanya Rama sambil menunjukan batu itu kepada Shinta.
Shinta pun mengambil batu itu dari tangan Rama, dan membolak-balikan batu itu. Bentuknya lonjong agak panjang sedikit.
"Nggak tahu, ah. Ini batu bentuknya apaan?!" jawab Shinta sambil membuang batu itu.
__ADS_1
Rama dan Shinta tidak tahu kalau batu tadi adalah salah satu peninggalan prasejarah zaman manusia purba.
"Apa sudah ketemu, harta karunnya?" tanya Shinta sambil melihat ke arah lubang yang dibuat oleh Rama.
"Belum ada! Mungkin saja tidak ada harta karunnya di sini," jawab Rama kepada Shinta, sambil menghentikan penggaliannya.
Rama beristirahat sejenak sambil melihat pada kertas peta itu. Dilihatnya baik-baik peta itu, dicermatinya, dan ditelaah olehnya. Kening Rama mengkerut seolah sedang berpikir keras.
Rama memperkirakan kalau ini peta dibuat hampir satu abad yang lalu. Kira-kira berapa banyak perubahan alam yang ada di sana. Seandainya sudah ada orang yang lebih dahulu menemukannya, berarti harta karunnya sudah tidak ada.
Rama memandang langit yang biru cerah dan awan putih yang berarak di atas sana. Betapa senang hatinya melihat pemandangan di atas sana. Sampai matanya kembali menangkap burung elang yang terbang memutari pohon-pohon yang tinggi dan berdaun rindang.
"Burung elang! Apa harta karunnya adalah burung elang itu?!" seru Rama dengan suaranya yang nyaring dan membuat Shinta terkejut.
"Ada apa Rama?" tanya Shinta kepada Rama yang sedang menengadah melihat langit.
"Shinta mungkin saja harta karunnya adalah burung elang, yang hampir punah itu," jawab Rama sambil menunjuk burung yang terbang mengitari langit.
"Hah! yang benar saja?!" tanya Shinta tak percaya dengan apa yang Rama katakan barusan.
"Aku merasa pekerjaanku sia-sia, dan tidak ada artinya," kata Shinta dengan lirih dan langsung hilang semangatnya.
"Kanapa begitu, perasaan dari tadi kamu hanya diam saja, tidak bekerja?!" kata Rama meremehkan Shinta.
"Tuh lihat! Aku juga bantu menggali, tapi yang ditemukan hanya batu-batu dengan bentuk-bentuk yang aneh," balas Shinta karena tidak terima usaha dia tidak dianggap.
"Melihat batu-batu itu aku merasa tidak asing. Dimana ya, aku pernah melihat yang seperti itu?!" lanjut Rama sambil melihat batu-batu yang baru digali oleh Shinta, dan menelitinya.
"Benar, aku yakin pernah melihat bentuk yang ini, yang ini, juga ini. Kayaknya aku sudah tahu tentang bentuk dari batu ini," kata Rama lagi.
"Hah, masa ini bentuk senjata manusia purba?!" Kata Shinta hanya bercanda.
__ADS_1
"Ah! Benar mereka memakai batu untuk dijadikan senjata dalam kehidupannya," pekik Rama sambil berdiri.
"Jadi beneran ini batu-batu peninggalan zaman prasejarah?" tanya Shinta dengan tatapan tak percaya.
Rama dan Ratu memperhatikan ada beberapa bentuk batu yang lonjong, dan panjangnya yang bervariasi. Sinta dan Rama memutuskan menyimpan dulu batu-batu itu di dekat pohon tinggi yang lainnya.
"Jadi harta karunnya, apa dong?" tanya Shinta kepada Rama dengan wajah kecewa.
"Ya tentu saja ini batu-batu peninggalan prasejarah dan sepasang burung elang itu" tunjuk Rama pada dua burung yang terbang sambil mengitari langit siang yang cerah.
"Aku malah curiga sama batu-batu itu. Siapa yang telah menguburnya di sini?" tanya Rama, walau sudah pasti Shinta tidak akan tahu jawabannya.
"Aku tidak tahu, karena nggak kenalan sama temannya manusia purba," jawab Shinta kesal,karena saat tadi Rama mengejeknya terus. Apalagi tangan sakit karena ikut menggali tanah tadi.
"Bukan begitu Shinta? Kalau ini peninggalan manusia purba, berarti ini hasil curian. Mana mungkin kalau peninggalan manusia purba asli, langsung menggali. Pasti berada di lapisan paling dalam karena sudah tertimbun berlapis- lapis tanah," jelas Rama kepada Shinta.
"Oh iya, benar juga. Berarti dulu ada pencuri benda-benda peninggalan pra sejarah. Kemudian entah kenapa mereka menguburnya disini?! begitu maksudmu?!" kata Shinta sambil manggut-manggut.
"Ya aku rasa seperti itu, atau anggap saja begitu," balas Rama sambil melihat ke atas langit melihat burung elang yang masih berputar disana.
Rama kemudian melihat kembali kepada selembar kertas bergambar peta petualangan itu. Ada banyak tanda bintang disana. Bahkan yang paling dekat juga katanya tujuh kilometer.
"Di peta ini masih ada tempat yang ditandai dengan bintang. Apa kamu mau melanjutkan perjalanan kita lagi?" tanya Rama kepada Shinta yang terlihat kelelahan.
"Aku ikut kamu saja, karena mau pulang sendiri aja juga percuma. Nanti bisa-bisa tersesat sendirian. Kalau sama kamu, bila tersesat juga ada temannya," jawab Shinta dengan pasrah, akan mengikuti kemauan Rama itu adalah pilihan yang tepat.
Maka Rama dan Shinta memilih melanjutkan perjalanan mereka. Untuk mencari harta karunnya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA, MUMPUNG HARI SENIN.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.