
" Paman Sadewa, siapa anda sebenarnya?" Tanya Adji sambil menatap tajam ke arah Sadewa yang kini sedang duduk disampingnya.
Mendengar pertanyaan Adji kepada Sadewa, membuat semua orang yang ada di sana langsung mengalihkan perhatian pada Sadewa. Semua mata tertuju pada Sadewa yang sedang duduk diam.
Sadewa memperlihatkan wajah yang mulai berkerut itu dengan tersenyum simpul. Kemudian dia mengalihkan pandangannya kepada semua orang yang ada disana satu persatu.
" Adji, menurutmu aku siapa?" Sadewa malah balik bertanya kepada Adji.
" Oh, Paman mau aku tebak! Siapa Paman sebenarnya?" Adji berjalan ke arah televisi yang berukuran sangat besar yang ada di ruangan itu. Kemudian dia menghubungkannya dengan telepon genggam miliknya. Muncullah rekaman video, Max yang sedang berada di ruangan laboratorium, bersama dua buah kerangka tengkorak yang ada di hadapannya.
" Hai, Adji. Aku sudah memeriksa identitas dari dua kerangka ini. Hasil yang aku dapat, pasti akan membuatmu terkejut." Di video itu Max berbicara sambil menunjukan sebuah layar yang sudah tersambung dengan komputer canggih yang ada di sana.
" Kita akan periksa tengkorak yang diketahui sebagai Guntur Bumi. Ini data asli milik Guntur Bumi," Max menekan suatu tombol alat yang ada di tangannya. Kemudian muncullah sederet data memenuhi layar itu.
" Semua data yang dimiliki oleh Guntur Bumi tidak sama dengan yang dimiliki oleh kerangka tengkorak ini." Sebelah layar memperlihatkan gambar tiga dimensi dari kerangka tengkorak itu.
" Susunan giginya saja sudah berbeda. Lingkar tengkorak milik Guntur Bumi lebih besar dari tengkorak ini. Tinggi badannya juga berbeda. Tulang rusuk tengkorak ini masih utuh, sedangkan tulang rusuk milik Guntur Bumi sudah diangkat dua ruas saat dilakukan operasi besar karena mengalami kecelakaan. Ruas jari kaki tengkorak ini dengan milik dia berbeda, karena ruas jari jempol milik Guntur Bumi lebih pendek dari ruas jari di sebelahnya." Setiap Max berbicara, layar disana menampilkan gambar tiga dimensinya perbedaan antara kedua data itu.
" Identitas asli dari kerangka ini adalah Darma, seorang tunawisma yang selalu berada di jalanan yang berada di pinggir kota Diamond." Gambar di layar langsung menampilkan gambar seorang laki-laki paruh baya.
" Aku lupa bilang kalau usia mereka juga terpaut cukup jauh. Waktu Guntur Bumi dinyatakan meninggal dia berumur sekitar tiga puluh delapan tahun, sedangkan tuan Darma berusia lima puluh tahun. Walau wujudnya hancur karena terbakar. Tapi aku bisa memperkirakan usia orang itu dari tulang tengkoraknya." Beber Max sambil menunjuk tanggal lahir milik Darma di layar dengan laser lampu warna merah.
" Kemudian, pemilik kerangka kedua ini. Sungguh membuat aku tak percaya, sampai-sampai aku berulang kali memeriksanya." Max menampilkan data asli dari Dewa, dan disampingnya data dari kerangka tengkorak itu.
__ADS_1
" Walau hampir mirip tadi pemilik kerangka ini punya ciri khas yang jarang dimiliki oleh lain." Kata Max sambil menunjuk sebuah susunan gigi pemilik tengkorak itu.
" Pemilik tengkorak ini mempunyai jumlah gigi lebih banyak dari orang dewasa pada umumnya. Juga ukuran giginya lebih kecil dari ukuran orang dewasa." Max memberitahu dengan gigi alat peraga.
" Selama ini, aku baru tahu satu orang yang memiliki ciri unik ini. Yaitu putra kedua dari pasangan Bisma dan Anabella." Lanjut Max.
Semua orang yang ada disana terkejut dengan laporan Max barusan. Selanjutnya mereka mengalihkan perhatiannya kepada Sadewa yang ada di samping Adji.
" Aku akan tampilkan data pribadi milik putra kedua dari Tuan Bisma." Max menambahkan data tentang Sadewa disana.
" Lihatlah jumlah giginya sama dengan milik Tuan Sadewa, ada tulang rusuk yang patah sebelah kanan karena pernah mengalami kecelakaan motor waktu masih sekolah. Lingkar tengkorak kepalanya juga sama. Perkiraan tinggi badannya juga sama, garis rahangnya juga sama, dan tulang hidung milik tuan Sadewa itu masih utuh. Karena dia tidak pernah mengalami patah tulang hidungnya." Seiring dengan pembicaraan Max, gambar dilayar juga ikut berubah menjadi gambar yang menampilkan sosok yang utuh berwujud Sadewa.
" Jadi hasil yang didapat dari pemeriksaan ini adalah bahwa tengkorak ini milik Tuan Sadewa." Max menunjuk layar yang memperlihatkan sosok Sadewa.
Kemudian layar itu berubah menjadi data-data dari kedua kerangka itu.
" Lihatlah hasil tes DNA-nya juga menampilkan sesuai apa yang aku dapat dari data tulang tengkorak itu."
" Ternyata banyak gunanya juga pemerintah selalu meminta data yang jelas kepada semua warganya." Max malah tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya. Dan itu membuat Adji kesal.
" Jadi siapa kamu sebenarnya?" Tanya Bisma dengan raut wajah yang mulai memerah.
" Baiklah. Ini sudah saatnya aku memberitahu kalian semua. Aku memang bukan Sadewa, aku adalah Dewa." Akunya sambil berdiri dan berjalan ke arah Adji yang masih berdiri di dekat layar televisi yang kini sudah mati.
__ADS_1
" Halo, Adji. Sekarang apa yang ada di pikiranmu? Mengetahui orang yang dikira sudah mati ternyata masih hidup, dan berubah menjadi orang yang selalu ada di dekatmu?" Tanya Dewa yang kini sudah berdiri berhadapan dengan Adji.
" Tentu saja marah Paman. Kamu sudah menipu kami semua! Rencana apa yang sedang Paman lakukan?" Balas Adji kepada Sadewa dengan menatapnya dengan tajam.
" Rencana ini bukan aku yang membuatnya. Tapi Sadewa sendiri yang sudah merencanakannya disaat-saat akhir nafasnya." Dewa menjawab rasa penasaran Adji. Kini Dewa menghadap kepada Basudewa, dan menatapnya tajam.
" Aku sudah memberitahu kepadamu. Jangan lakukan tindakan yang akan kamu sesali. Cari tahu dulu kebenarannya, setelah itu cari solusinya. Kamu yang menyamar menjadi aku, memberikan pesan palsu kepada Sadewa agar datang ke pabrik bekas. Setelah itu kamu menembaknya di beberapa bagian di tubuhnya. Kamu kira Sadewa langsung mati saat itu juga? Tapi kebenarannya dia masih mampu hidup, dan menghubungi aku dan Bimo kaki tangannya sendiri."
" Dengan kemampuan otaknya yang pintar, Sadewa membuat sebuah rencana yang harus aku lakukan sampai akhir."
" Yaitu merubah wajahku menjadi mirip dirinya, dan menjalani hidup sebagai dirinya pula, hanya untuk melindungi keluarganya dari tindakan yang dilakukan olehmu!" Tunjuk Dewa kepada Basudewa.
" Aku tidak pernah mengalami kesulitan selama ini karena Sadewa sudah merancang semuanya dan dipercayakan kepada Bimo. Aku hanya tinggal menjalaninya. Walau aku sempat depresi karena kematiannya. Saat dia memintaku untuk meletakkannya di dalam mobilku dengan segala identitas milikku, dan menjatuhkannya ke jurang agar mobilnya meledak, sehingga mayatnya tidak perlu diotopsi." Dewa memegang dadanya yang terasa sangat nyeri karena mengingat kematian orang yang telah menganggap dirinya sebagai saudaranya kandungnya itu.
" Karena keinginan Paman sama kamu untuk balas dendam kepada keluarga Pandawa. Aku harus kehilangan lagi orang-orang yang telah menyayangiku dengan tulus. Walau mereka juga sempat mencurigaiku." Jelas Dewa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA MUMPUNG LAGI HARI SENIN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH ITU MEMBUAT AKU MAKIN SEMANGAT LAGI.
__ADS_1
TERIMA KASIH.