Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 69


__ADS_3

    Rama dan Shinta sudah berjalan selama lebih dari satu jam. Kaki kedua anak itu mulai pegal karena jalannya yang berbatu, kadang datar, kadang menurun. Setiap kali ada tempat yang enak buat beristirahat mereka akan berhenti sejenak untuk minum. Kemudian melanjutkan perjalanannya lagi.


"Rama benar kan ini jalannya? kita sedang nggak tersesat? yakin ini arahnya?" tanya Shinta karena mereka sudah jalan begitu jauh.


"Kalau menurut peta yang ada di kertas, ini jalannya sudah benar," Rama menunjukan gambar tiga batu besar yang ada di peta kepada Shinta.


"Tuh, itu ada batunya!" Rama menunjuk kepada tumpukan batu besar yang berjumlah tiga buah.


     Shinta pun mengarahkan pandangannya ke tiga buah batu yang sangat besar itu. Kemudian dilihatnya lagi gambar yang ada di peta.


"Tunggu, kita sudah lebih dari satu jam berjalan sejauh ini. Namun jarak di dalam peta itu begitu dekat dengan villa. Lalu bagaimana dengan letak harta Karunnya yang tergambar begitu jauh dari villa!?" tanya Shinta dengan wajahnya shock.


"Jadi kamu mau menyerah? Dan ingin pulang kembali?" tanya Rama kepada Shinta yang terlihat shock saat melihat peta itu.


"Nggak, aku akan ikut sama kamu! Kamu jangan senang-senang sendirian," jawab Shinta dengan bibirnya yang manyun.


"Ya, sudah ayo kamu yang semangat dong!" Rama menyemangati Shinta.


   Mereka berdua pun melanjutkan kembali perjalanannya. Ditengah perjalanan mereka banyak sekali tumbuh-tumbuhan yang baru mereka temui seumur hidup mereka. Bentuk dan warnanya aneh-aneh, dan mereka sangat menyukainya.


"Rama, lihat bunga ini sangat indah dan bagus warnanya?!" pekik Shinta saat melihat ada hamparan bunga yang sangat banyak disana. Baunya juga wangi, Rama dan Shinta pun memutuskan sarapan roti disana, karena sinar matahari juga sudah mulai masuk menyinari hutan disana.


"Shinta apa kamu merasa kita sedang di dunia lain?" tanya Rama kepada Shinta tanpa mengalihkan pandangannya dari hamparan bunga yang bermekaran disana.


"Maksudnya?" tanya Shinta kepada Rama, karena dia berbicara yang aneh.


"Lihatlah pemandangan ini! Bukankah ini pertama kalinya, dalam hidup kita melihat pemandangan seperti ini?!" kata Rama sesaat melihat ke arah Shinta, kemudian dia kembali mengarahkan penglihatannya ke depan.


   Semilir angin yang berhembus dari ladan bunga itu menerpa wajah dan tubuh mereka berdua. Langsung tercium wangi dari bunga-bunga itu.


"Coba kita tadi membawa kamera?! Pasti akan sangat bagus hasilnya. Aku bisa selfie di sana. Dengan latar belakang pemandangan hamparan bunga warna-warni," kata Shinta dengan penuh penyesalan.


   Tadinya dia kira, Rama akan mencari tempat-tempat angker dan aneh. Namun yang mereka temui dalam perjalanan ini banyak hal yang diluar perkiraan mereka. Seperti hamparan bunga ini.

__ADS_1


"Kalau menurutku lebih baik jangan dikasih tahu sama orang lain. Kalau nantinya mereka datang berbondong-bondong datang kemari, maka tempat ini akan rusak. Tidak semua orang berpikiran seperti kita. Harus menjaga dan merawat yang ada di sekitar kita," balas Rama atas keinginan saudara kembarannya itu.


"Siapa ya, yang sudah menanam hamparan bunga indah itu disini?" Shinta bertanya pada dirinya sendiri.


"Nggak tahu, kayaknya tumbuh dengan sendirinya." 


   Rama pun melihat ada beberapa hewan kecil di sana, yang paling menarik perhatiannya adalah sepasang burung elang yang bersarang di pohon yang tinggi dan lebar daunnya. Selain itu ratusan atau ribuan kupu-kupu yang berterbangan di hamparan bunga itu.


    Rama melihat ada tanda bintang di dekat tiga batu yang tergambar di kertas peta itu. Rama berpikir, apakah mereka sudah sampai di tanda bintang itu, atau sudah terlewati, bahkan mereka masih belum sampai.


"Shinta menurutmu, tanda bintang ini apa, ya?" tanya Rama kepada Shinta sambil menunjukan tanda bintang di dikertas peta itu.


"Aku rasa ini di sekitar sini, karena jaraknya dekat dengan ketiga batu besar tadi? Bukannya jarak villa dan ketiga batu besar itu juga begitu sangat dekat, tapi kenyataannya kita sudah berjalan satu jam baru bisa menemukannya," jawab Shinta sambil mengetuk-ngetukan jarinya di kepala dia.


"Iya juga, bagaimana kalau kita periksa disekitar sini, siapa tahu ada tanda bintang disini?" Rama mulai beranjak dari batu besar  tempat yang didudukinya.


   Rama dan Shinta berkeliling di sekitar ladang bunga itu. Dilihatnya barang-barang pohon yang tumbuh disana. Walau sudah berjalan sekitaran sana selama tiga puluh menit, mereka berdua belum juga menemukan petunjuk tanda bintang di sana.


" Rama, coba kemari! Dan lihat ini!" teriak Shinta kepada Rama yang agak jauh jaraknya dari tempatnya sekarang.


"Ada apa?" tanya Rama begitu sampai di tempat Shinta berdiri sambil menghadap pohon yang sangat tinggi.


"Lihat ini! Walau sudah samar karena tertutup tanah, tapi masih bisa dilihat jelas," jawab Shinta sambil mengusap-ngusap batang pohon yang ada tandanya itu.


   Rama pun memperhatikan dengan seksama tanda yang ada di batang pohon itu. Memang terlihat jelas kalau diperhatikan, ada tanda bintang di batang pohon.


"Iya ada tanda bintang di sini, apa pohon ini harta Karunnya?" tanya Rama sambil memandang ke sekeliling di dekat pohon itu.


"Bukannya kalau harta Karun itu di disembunyikan di bawah tanah? tanya Shinta sambil menunjuk ke bawah.


   Rama pun menganggukan kepalanya, membenarkan perkataan Shinta.


"Jadi bagaimana cara kita menggali tanah untuk menemukan harta karun itu?!" tanya Shinta sambil menepuk tangan Rama, yang sedang menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan.

__ADS_1


"Tunggu kita lihat dan cari, apa yang ada benda yang bisa dijadikan alat untuk menggali tanah?," kata Rama sambil menunjuk ke arah dalam hutan.


"Jangan! Kita tidak boleh masuk ke tempat itu!" cegah Shinta saat Rama akan melangkah berjalan ke arah yang ada di depan mereka.


"Aku hanya mau mencari batu yang bentuknya agak runcing agar bisa buat menggali," kata Rama menjelaskan maksudnya.


"Bagaimana kalau kamu tersesat?" tolak Shinta, dia tidak mau sampai terjadi apa-apa kepada Rama.


"Terus kita mau menggali tanah menggunakan apa?" tanya Rama dengan nada kesal.


"Ya, maaf. Kita carinya sama-sama, agar tidak tersesat. Bagaimana?" tanya Shinta memberikan idenya.


"Entah kenapa aku membaca pikiranmu. Kalau kamu takut ditinggal sendirian disini, nanti akan ada beruang yang akan datang! Kamu itu mikirnya keterlaluan, mana ada beruang tinggal di atas bukit dan hutan yang sering terjamah oleh manusia!" kata Rama gemas kepada Shinta, saat dia memaksa membaca pikiran kembarannya itu.


"Hehe … memang benar aku takut kalau ada beruang disini, tapi aku juga mengkhawatirkan keadaan kamu!" balas Shinta menahan malunya.


"Kalau begitu, ayo kita cari benda yang bisa untuk menggali tanah!" ajak Rama sambil menarik tangannya menuju hutan lebih dalam lagi.


    Sambil berjalan, mata mereka sangat awas melihat keadaan di sekitar mereka. Mungkin ada alat yang tertinggal milik orang lain di sana seperti cangkul atau parang, bahkan alat perkakas lainnya.


"Eh, Rama lihat ini. Bukannya ini bisa dipakai untuk menggali tanah?" tanya Shinta sambil memegang sebuah sekop yang patah gagang pegangannya.


"Iya itu bisa dipakai!" Rama senang dengan penemuan alat itu oleh Shinta.


"Kalau begitu, ayo kita kembali! Dan gali tanah di bawah pohon tadi," ajak Shinta dengan penuh semangat dan menarik tangan Rama agar cepat-cepat bisa menggali harta karunnya.


   Rama dan Shinta pun berjalan dengan cepat kembali ke tempat pohon yang ada tanda bintangnya itu.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN, VOTE NYA JUGA MUMPUNG HARI SENIN.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2