
Happy reading
"Puding siap."
Teriakan Arum membuat Nike dan Gibran langsung menjatuhkan stik PS nya di lantai kemudian menatap puding buah dan cokelat yang sudah ada di atas meja.
Mereka mengambil puding yang ada di mangkuk itu, Nike langsung memakannya tapi tidak dengan Gibran yang malah memberikan puding itu pada Arum.
"Sayang suapin ya," pinta Gibran dengan manja.
"Kebiasaan deh, punya tangan juga masih aja minta disuapin," ucap Arum mulai menyendokkan puding itu dan menyuapkan pada Gibran.
Dengan senang hati Gibran menerimanya bahkan kini posisi mereka sangat dekat. Tangan Gibran juga sudah mengapit pinggang ramping Arum dengan dagu yang diletakkan di pundak Arum.
"Tangannya ilang tuh," ucap Niko yang sedari tadi mengamati kedua orang ini.
"Sirik aja sih Nik."
Nike hanya melengos seraya memakan puding itu, Nike kadang tersiksa dengan kebucinan dua sahabatnya ini. Karena ya, ia jomblo.
"Manja banget sih," gemas Arum mencubit pipi Gibran yang sedang memakan puding buatan Arum.
__ADS_1
"Sama pacar sendiri, gak apa apa sayang. Kalau kamu mau manja sama aku juga aku ma mau aja. Soalnya aku manja gini juga cuma ke kamu. Sama Mama aja aku gak kayak gini," jawab Gibran dengan santai.
Arum hanya bisa mengangguk seraya menyuapkan kembali puding yang ada di sendok itu ke mulut Gibran.
Nikah pun yang sudah menyelesaikan makannya itu langsung pamit pada dua manusia yang ada di sana. Iya tak bisa berlama-lama dengan pasangan yang selalu mengumbar keromantisan di hadapannya.
Kini hanya tinggal Arum dan Gibran di ruang keluarga itu, puding yang ada di mangkok tadi juga sudah habis dimakan Gibran. Apakah Arum tidak makan? Makan tapi nanti sebelum tidur.
"Sayang aku udah kenyang," ucap Gibran mengelus perutnya sendiri yang sangat rata.
Arum hanya tersenyum mendengar itu, bagaimana tidak kenyang Gibran saja menghabiskan dua mangkok puding. Sedangkan itu tadi hanya memakan satu mangkok tapi satu mangkok lagi dibawa pulang oleh laki-laki itu.
Gibran menatap wajah sang kekasih yang sedang menatap wajahnya dengan lembut itu. Tatapannya gini beralih ke bibir se**i milik Arum.
"Buat apa?"
"Di kiss."
"Kamu kok ngelunjak sih."
"Cuma bibir kok yank."
__ADS_1
Cups
Arum yang akan protes itu terhenti saat merasakan bibirnya terdapat benda kenyal itu menempel di bibirnya.
Gibran menekan tengkuk leher Arum hingga membuat gadis itu hanya bisa pasrah. Tangan Arum mencengkram kaos yang dipakai Gibran. Gadis itu menyalurkan apa yang dia rasa pada cengkraman di kaos itu.
Gibran yang merasa sang kekasih mulai pasrah itu kemudian menggigit bibir bagian bawah Arum hingga membuat arum membuka bibirnya.
Tentu saja Gibran tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk lebih memperdalam ciumannya pada Arum.
Sekitar 5 menit mereka berciuman akhirnya melepaskan ciuman itu saat merasa dadanya ditepuk kuat oleh Arum.
"Hah hah hah."
Gibran dan Arum saling mengambil oksigen dengan pelan kemudian Gibran mengusap bubur Arum yang sudah basah karena ulahnya.
"Manis sayang, aku mau lagi boleh?" tanya Gibran yang dijawab gelengan oleh Arum.
Aum menarik tubuh Gibran hingga membuat marak tubuh keduanya tercentang ke belakang. Tanpa kiper duga-duga harum memeluk tubuhnya dengan meletakkan kepalanya di atas dada Gibran.
"Biarin aja kayak gini, aku mau nikmati detak jantung kamu," bisiknya meletakkan tangannya di atas perut Gibran. Memang ada hubungannya?
__ADS_1
Mereka menikmati waktu sorenya dengan saling berpelukan di sofa empuk itu. Untungnya mama dan papa Arum sedang berada di kamar melakukan ritual ono-ono. Jadi mereka bisa sedikit bebas.
Bersambung