
Happy reading
Arum duduk di gazebo dekat kelas 12 MIPA 2, calon kelasnya nanti.Karena tempatnya yang dekat dengan kelasnya dan sepi ya disitu kebetulan sekali kelas 12 sudah lulus dan tinggal nunggu ijazah, kalau ke kantin pasti sudah ramai.
Untuk ujian kali ini ia harus bisa mendapatkan peringkat 1, karena ada bisnis dengan papanya nanti jika ia bisa mendapat peringkat 1.
Pas fokus fokusnya mengingat apa yang tadi ia pelajari, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Arum tentu tahu suara apa itu, tapi yang tidak habis pikir kenapa ada suara suara itu di sekolah ini. Apalagi ini masih sangat pagi.
"Ahh ampun pak, jangan lagi aku takut hiksss."
"Ampun."
"Diam."
Karena ke kepoan Arum yang membuat ia harus beranjak dari tempatnya itu menuju sumber suara. Sampailah mereka di gudang yang biasa digunakan untuk meletakkan bangku bangku yang rusak dan tak terpakai itu.
Arum melihat pintu gudang itu sedikit terbuka, Arum menutup mulutnya dengan tangannya sendiri melihat siapa yang ada di dalam sana. Seorang tukang kebun dan juga Sania? Siswi yang pintar di kelasnya itu sedang digitukan oleh tukang kebun yang bernama Asep itu.
"Astaga, Sania di perkaos?" tanya Arum dalam hati. Tentu saja Arum tahu mana yang melakukan dengan suka rela dan juga yang dengan terpaksa.
Arum mau menolong tapi ia takut, akhirnya ia hanya bisa mengambil ponsel dan memotret kegiatan mereka.
"Ya Allah tahan ya San, gue bakal cari cara," batin Arum menatap Sania yang sepertinya menyadari dirinya. Dan meminta tolong pada Arum, Arum menganggukkan kepalanya.
Arum memutar otak kemudian menutup sedikit pintu itu. Kemudian ia mencari batu dan di lemparkannya ke pintu itu hingga membuat Sania dan tukang kebun itu langsung menghentikan aktivitasnya.
Arum dengan cepat bersembunyi kemudian tak lama setelah itu pak tukang kebun itu keluar dari gudang dengan terburu-buru.
"Emang sia lan tu tukang kebun, udah tua juga masih aja mau," geram Arum menatap kepergian tukang kebun itu.
Setelah melihat tukang kebun itu sudah pergi menjauh, Arum langsung berjalan menuju gudang itu.
"Sania.."
"Rum hiks."
Arum sangat prihatin melihat keadaan Sania yang sangat mengenaskan. Bajunya sangat lusuh dan juga air mata yang sudah mengering membuat mata gadis itu sembab, rambutnya yang bergelombang kini sudah awut awutan tak jelas.
Arum langsung memeluk tubuh Sania yang masih memakai seragam yang belum dikancingkan itu. Untung saja pintu gerbang sudah ia tutup tadi.
__ADS_1
"Rumm aku takut hiks.."
"Ssstttt tenang San, tenang jangan kayak gini. Aku ikut bingung kalau kamu nangis kayak gini, ingat hari ini kita ujian kamu gak mau kan kalau nanti nilai kamu anjlok hmm?" tanya Arum dengan sangat lembut. Mungkin ini pertama kalinya ia memenangkan orang yang baru saja diperkaos.
"Kita pikirkan jalan keluarnya sama sama hmm. Aku janji gak akan bilang sama pihak sekolah tentang hal ini. Kamu jangan nangis lagi."
"Kalau aku hamil gimana?" tanya Sania dengan nada terbata bata karena habis menangis.
"Maaf kalau ini sedikit menyinggung, tapi kamu sudah berapa kali di gitukan sama Pak Tua itu?" tanya Arum yang enggan mengucapkan nama si bang sat.
"Ini kali kedua, aku di jebak dan di ancam Arum. Aku takut dia apa apain aku kalau aku gak nurutin maunya dia. Aku masih mau sekolah Rum."
Tangis Sania kembali meluncur membuat Arum hanya bisa menenangkan gadis yang dulunya tak terlalu akrab dengannya itu tapi Arum cukup kenal dengan Sania.
"Udah jangan nangis lagi. Aku janji bakal buat perhitungan sama Pak Tua itu, kamu tenang aja ya."
Sania menganggukkan kepalanya, perlahan Sania sudah kembali tenang dan membenahi pakaiannya.
"Ayo aku bantu."
Arum membantu Sania untuk merapikan rambut Sania dengan lembut kemudian mengambil parfum dari dalam tasnya.
"Biar wangi," ucap Arum mulai menyemprotkan parfum itu di baju seragam Sania.
Tetapi walaupun begitu Sania takut jika harum akan melaporkan hal ini ke sekolah dan berakhir ia dikeluarkan dari sekolah ini. Sania hanya salah satu dari berberapa orang yang mendapat beasiswa ke sekolah elit ini. Jadi ia takut akan hal ini, dalam hati Sania berharap agar tidak membeberkan hal ini pada siapapun.
Setelah rapi, Arum mengajak Sania untuk keluar dari gudang karena jam juga sudah menunjukkan pukul 7 lebih 20 menit. Yang berarti 10 menit lagi ujian akan berlangsung.
"Jangan cerita ini sama anak anak ya, Rum. Aku gak mau di bully," ucap Sania yang berjalan menuju ruang ujiannya yang berbeda dengan Arum.
Arum menganggukkan kepalanya, lagipula dosa menyebar aib seseorang. Allah saja menutupi semua aib kita, tapi mungkin akan ia bicarakan pada Gibran gimana baiknya nanti.
"Jangan ngelamun kalau ngerjain soal. Kita cari solusinya sama sama nanti, dan yah setelah jam pertama selesai lu harus temuin gue sama teman gue. Jangan sendiru, takut kejadian tadi terulang lagi," ujar Arum menepuk pundak Sania yang kini tersenyum padanya.
"Iya makasih sudah bantu aku tadi," ucapnya dengan tulus.
"Iya sama sama."
Arum berhenti menatap Sania yang berajlan menuju kelasnya sedangkan dirinya hanya belok sedikit sudah sampai. Lagian guru yang membawa kunci juga belum ada.
Vito dan Yanti yang melihat Arum terlihat akrab dengan seorang gadis itu saling pandang. Ini bukan Arum yang mereka kenal, karena Arum biasanya cuek dengan gadis gadis yang mendekatinya karena tak suka banyak orang yang mengganggunya. Tapi ini apa? Yanti dan Vito melihat hal yang di luar Nurul.
__ADS_1
"Gak habis Fikri aku," gumam Yanti yang masih bisa di dengar oleh Vito.
"Siapa Fikri siapa yank? Jangan bilang selingkuhan kamu ya? Ayo jawab?" cecar Vito menatap pacarnya yang menyebut nama laki laki lain.
"Haaa?"
"Siapa Fikri?"
"Fikri siapa sih? Emang aku kenal Fikri?" tanya Yanti yang kini malah ikut ikut bego dengan keadaan saat ini.
"Itu tadi Fikri yang kamu bilang," jawab Vito dengan raut wajah yang sudah berbeda.
Pikiran negatif mulai berkeliaran di otak Vito, yang sejatinya hubungan mereka masih sangat muda. Akan banyak sekali kecurigaan-kecurigaan antar keduanya. Apalagi 2 tahun ini Vito dan Arum berada di sekolah yang berbeda.
"Oalah tadi aku bilang pikir tapi kepleset jadi Fikri," jawab Yanti dengan jujur. Akhir-akhir ini Ia memang keracunan dengan di luar nulur dan tidak habis Fikri.
Dengan tatapan tak percaya itu tetap menggelengkan kepalanya hingga membuat Yanti menghembuskan nafasnya pelan.
Perbincangan mereka juga tak luput dari tatapan Arum yang sudah berada di dekat mereka. Akhirnya Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video yang bertuliskan di luar Nurul dan tak habis Fikri.
Dengan begitu akhirnya Vito mempercayai apa yang diucapkan oleh Yanti.
Kedua sahabat Arum belum sempat menanyakan tentang kedekatan Arum dengan hanya tapi bel sudah berbunyi hingga membuat guru yang bertugas menjadi pengawas datang.
Vito dan Yanti yang berada di kelas yang berbeda dengan Arum itu meninggalkan sahabatnya di depan kelas itu.
Setelah pintu kelas dibuka para siswa yang namanya ada di ruangan itu mulai masuk satu persatu.
Arum masuk dan mencari bangkunya yang berada di depan.
Setelah berdoa ujian pun dimulai. Seperti ujian pada umumnya ada lembar soal dan lembar jawaban yang membuat pusing para anak-anak di kelas itu.
"Ujian saya beri waktu 90 menit, selesai tidak selesai harus kalian kumpulkan di menit ke-90," tegas Bu Hayati yang memang terkenal galak dan sangat disiplin.
"Iya Bu."
Ujian kali ini murni harus mengandalkan otak mereka masing-masing. Segala jenis alat hitung entah itu HP ataupun kalkulator sudah dikumpulkan di depan dan juga tas mereka yang juga dikumpulkan di depan kelas.
Hujan berlangsung dengan begitu hening tapi di tengah-tengah fokusnya mereka mengerjakan tugas, ini sudah saat-saatnya sudah panasnya otak mereka akhirnya bisik bisik mulai terdengar bahkan tak ayal banyak panggilan untuk dirinya karena ingin meminta jawaban.
Tapi Arum tetap berpegang teguh pada pendiriannya untuk tetap diam dan mengerjakan soal soalnya sendiri. Biarlah ia dikata sombong karena hal itu sudah biasa ia lakukan.
__ADS_1
Setelah 90 menit berlalu akhirnya semua siswa mengumpulkan soal dan jawaban mereka di meja guru.
Bersambung