
Happy reading
Sudah 2 Minggu ini Claudia tak ada tanda tanda akan muncul ke hadapan Gibran maupun Arum. Tapi saat keluarga Gibran sedang memakan sarapannya, Mama Anin menyinggung soal gadis itu.
"Oh ya Gib, kemarin Mama ketemu sama teman kamu sata SMP itu. Siapa namanya?"
Mama Anin mencoba untuk mengingat siapa nama gadis yang menemuinya kemarin di butik.
"Siapa sih, Gibran gak punya temen cewek," jawab Gibran yang tiba tiba moodnya anjlok kala sang ibu menyinggung soal teman SMP.
"Ada ih, Mama gak lupa kamu pernah punya temen saat SMP, cewek sama cowok itu loh," ujar Mama Anin masih mencoba untuk mengingat nama gadis itu.
"Ahh ya Claudia namanya."
"Jangan sebut namanya, Gibran muak banget dengernya," ujar Gibran dengan ketus.
"Kenapa sih sayang?" tanya Mama yang mendapat raut tak suka dari Gibran.
"Pokoknya Gibran gak mau Mama sebut namanya," ucap Gibran menyendokkan nasi goreng itu dengan kasar. Memang sih tak biasa biasanya Gibran sarapan di rumah, karena biasanya kalau gak di jalan ya di rumah Arum.
"Emang kenapa sih nak?" tanya Papa Abi yang sedari tadi diam mengamati apa yang dilakukan oleh anak dan istrinya.
"Minggu lalu, perempuan itu datang dan ngaku ngaku kalau Gibran itu cinta sama dia bahkan pernah nembak dia. Padahal disana ada Arum juga, emang dasarnya perempuan gak tahu malu," jawab Gibran dengan muka yang sangat kesal membayangkan bagaimana pertemuannya dengan Claudia kala itu.
Bukan apa apa, saat melihat wajahnya yang sok polos itu membuat Gibran ingat kembali pada temannya yaitu Kiano. Gibran masih tak habis pikir jika Claudia ada hubungannya dengan hal itu.
Dengan perginya Claudia setelah kematian Kiano, hal itu membuat Gibran mencurigai Claudia sebagai dalang dari semua ini.
"Mama juga kurang suka sama dia, asal kamu tahu. Dan asal papa tahu, perempuan itu udah jelek jelekin calon mantu kita. Katanya Arum anak isng miskinlah, yang cuma nguras harta kita lah. Pokoknya bilangnya itu yang jelek jelek, astaga apa dia pernah ketemu sama Arum dan kenal sama calon mantu kita sampai dia ngomongnya kayak gitu," ucap Mama dengan menggebu gebu.
"Mungkin karena awal ketemu Arum cuma pakai kaos oblong aja dan juga cuma pakai sandal jepit. Mungkin itu yang membuat perempuan itu berpikir kalau Arum anak orang miskin," jawab Gibran yang membuat kedua orang tuanya mengangguk.
"Emang ada ada aja calon mantu kita tuh, beda dari yang lain. Orang orang mah yang ada pada pamer kekayaan kalau keluar rumah kalau Arum apa adanya bener," ucap Papa yang sedikit kagum dengan calon mantunya itu.
"Itu namanya orang kaya beneran pa, bukan orang kaya baru. Lagian tampilan tak menjamin kita kaya kan. Ada tuh yang perhiasan seabrek eh tahu tahunya banyak utang dimana mana."
"Kalian malah pada ngomongin apa sih?" tanya Gibran yang kini sedikit bingung dengan apa yang diucapkan oleh Mama dan Papanya.
__ADS_1
"Hehehe sorry. Habis kesel sama cewek itu, gak ada sopan santunnya banget sama orang tua. Mas Mama di butik langsung di peluk aja, kayak udah kenal banget padahal kan enggak," ucap Mama lagi.
Sebenarnya Mama ingin membicarakan hal ini kemarin malam. Tapi melihat suaminya yang capek habis kerja dan Gibran yang sedang berada di rumah temannya membuat Mama Anin mengurungkan niatnya hingga ia tak bisa menahannya pagi ini.
"Oh jadi ini yang membuat Mama tadi malam kesal banget. Sampai sampai suaminya dicuekin setelah main, gara gara cewek yang namanya Claudia ini hmm?"
Masih teringat di benak Papa Abi kala mereka bermain istrinya itu sangat berbeda. Tidak seperti biasanya yang akan sangat lembut memperlakukan dirinyaz tapi tadi malam malah terkesan ganas tapi Papa Abi menyukainya.
"Papa jangan bahas ini di depan Giban, ih malu lah."
"Dia juga udah mau nikah, gak apa apa lah sayang."
Halah sayang sayang, udah tua juga bukannya banyak doa biar masuk surga malah kek gini.
"Pokoknya Mama sama Papa kalau ketemu Claudia jangan biarin dia berbuat banyak kalau perlu usir aja dari hadapan kalian. Muak aku lihat wajahnya itu, ihhh."
"Iya nak iya."
Mereka menyelesaikan sarapan pagi mereka kemudian pergi ke tujuan masing masing. Papa menuju kantor sedangkan Gibran menjemput sang kekasih yang pasti sudah ngomel ngomel karena ia menjemput telat.
Kini Gibran sudah berada di kampus, lebih tepatnya berada di rooftop kampusnya yang memiliki 8 lantai.
"Ck ternyata disini, dicariin juga," ucap Reno duduk di samping sang sahabat dengan Keysha yang duduk dipangkuan Reno.
"Kalian kalau cuma mau pamer kemesraan mending pergi aja, gue mau sendiri. Bad mood gara gara Arum tadi ngambek gara gara gue telat jemput."
"Lagian lu juga pasti soloan dulu kan?" tanya Keysha yang membuat Gibran kesal tapi Reno malah tertawa.
"Dia mana berani apa apain anak orang sih Beib. Yang ada kepalanya nantinialng duluan sama bapaknya Arum," tawa Reno yang membuat Keysha senang melihat wajah sang sahabat yang nampaknya kini sudah mau marah eh bukan mau lagi tapi marah.
"Ck kalau lu gak hamil, udah gue tonjok lu Key. Apalagi laki lu ini, dah lah gue mau pergi aja. Silahkan kalau mau mesra mesraan, kayak gak mampu sewa hotel aja!!"
"Hahahaha."
"Sorry sorry Gibran. Kita gak gitu lagi, tapi memang anaknya Reno mau duduk dipangkuan papanya, empuk paha laki gue soalnya," ucap Keysha yang tak mau Gibran turun dulu. Pasalnya mereka mencari temannya ini sudah sangat lama, bahkan Reno sampai menggendong tubuh Keysha karena tak kuat untuk jalan.
Kenapa tak lewat lift? Mereka takut nanti malah Gibran ada di lorong atau dimana kan nanti malah bingung.
__ADS_1
"Napa?"
"Gue sama Keysha mau ajak lu sama Arum healing, tenang aja untuk semuanya biar laki gue yang tanggung. Itung itung sebagai traktiran karena baby udah bisa diajak kemana mana," ucap Keysha yang membuat Gibran yang tadinya kesal kini merubah raut wajahnya.
"Healing? Kemana?" tanya Gibran.
"Bali, kebetulan keluarga Reno ada yang punya villa di Bali deket lagi sama pantai. Gue mau lihat sunset sama sunrise disana, anak gue bisa ileran kalau gak keturutan," ucap Keysha sedangkan Reno sedari tadi hanya menganggukkan kepalanya seraya mengelus lembut perut sang istri yang ada dedek bayinya walaupun belum sempurna.
"Yakin kandungan lu aman buat naik pesawat?" tanya Gibran yang sebenarnya takut jika kenapa napa dengan kandungan Keysha.
Walau bagaimanapun Keysha adalah temannya yang selama ini baum padanya ak seperti teman teman perempuannya yang lain yang memiliki maksud tertentu.
"Aman kok, gue sama Reno udah konsultasi sama dokter dan katanya kandungan gue sehat dan kuat."
" Ya sudah gue mau, kapan nih berangkatnya?" tanya Gibran. Bukan apa apa ia belum izin sama orang tuanya dan orang tua Arum jika mereka ingin pergi.
"Nanti kita kumpul di kafe, gue juga udah bilang sama adik gue buat ajak Eman temannya. Yang pasti ya Vito sama Arum doang," jawabnya dan dianggukkan oleh Gibran.
Akhirnya Gibran yang tadinya ingin turun kini mengurungkan niatnya. Tak apalah menjadi nyamuk untuk dua pasangan ini yang penting moodnya kembali baik mendengar ajakan dari Keysha dan Reno.
Oke jadi mereka haru ini memutuskan untuk bolos saja, Keysha juga malas bertemu dengan pak botak yang memakai parfum satu botol itu membuat ia mual dan berakhir muntah di kamar mandi. Sangat menyiksa, entahlah anak mereka tak ingin bertemu dengan pak botak.
"Kira kira anak kita cewek apa cowok ya, Beib?" tanya Reno mengelus perut sang istri itu.
"Gak tahu juga sih kan masih kecil belum nampak lah kelaminnya," jawab Keysha menatap wajah tampan sang suami.
Walaupun masih banyak pria tampan di luar sana tapi yang mampu membuat Keysha klepek klepek ya cuma Reno. Begitupun sebaliknya, sudah berulang kali mereka bertengkar ujung ujungnya baikan dan makin romantis.
Kini Gibran hanya bisa terdiam dan memakai earphone miliknya tanpa mau mendengarkan apa yang kedua bucin ini bicarakan. Kenapa sih Arum masih sekolah kenapa gak sepantaran dengannya saja agar bisa sama sama terus.
Tanpa Gibran sadar waktu Arum juga tiap hari bersama laki laki itu. Bukan yang lain.
"Gaes gue mau tidur dulu, kalau kalian mau turun bangunin gue," ucap Gibran dan dianggukkan oleh mereka berdua.
Gibran berjalan menuju kursi panjang yang ada di sana kemudian merebahkan tubuhnya di atas kursi. Laki laki itu ingin tidur dengan nyenyak seraya menikmati alunan lagu dan angin sepoi-sepoi.
Bersambung
__ADS_1