
Happy reading
Setelah berunding berberapa saat akhirnya mereka semua memutuskan untuk menikahkan anak anak mereka besok. Karena jika hari ini akan sangat mendadak.
Untungnya keluarga kedua belah pihak juga sudah dihubungi jadi bisa sampai besok di jakarta.
"Anak anak pulangnya jam berapa ya mbak?" tanya Mama Anin pada Mama Tiya yang sedang menikmati buah anggur itu.
"Katanya jam 1 dari sana, Mungkin sampai jakarta jam 4 atau 5 sore nanti kalau mereka gak mampir mampir dulu," jawab Mama Tiya yang memang tadi sempat berbalas pesan dengan Arum.
"Kalau begitu nanti kita ketemu di restoran biasa jam 7 malam. Karena sore ini saya masih ada meeting dengan klien," ujar Papa Abi dan dianggukkan oleh mereka.
Setalah hal itu Mama Anin dan Papa Abi pamit pada pemilik rumah hingga kini tinggal Papa Sandi dan Mama Tiya yang ada disana.
"Kalau Arum nanti berontak gimana, Pah?" tanya Mama Tiya pada sang suami.
"Huhh sebenarnya papa juga gak yakin Arum mau, Mah. Tapi mau gimana lagi? Ini adalah konsekuensi mereka karena udah berbuat yang tidak tidak."
"Yah semoga mereka ngerti," ujar Mama Tiya bangkit dari duduknya dan ingin mengambil buah lagi karena buah yang ia bawa tadi sudah habis.
"Biar papa aja yang ambil, kamu tunggu disini ya."
"Heem."
Mama Tiya kembali duduk dan menunggu suaminya datang dari dapur mengambil buah.
Tak lama papa sandi datang membawa sepiring buah anggur yang sudah dicuci. Tak lupa juga segelas susu hamil untuk sang istri.
"Kok susu lagi, tadi udah loh," protes Mama Tiya menatap segelas susu itu.
"Biar baby juga sehat sayang, ini udah jam 12 siang. Harusnya kamu udah waktunya makan siang tapi kan kamu belum mau," jawab Papa Sandi.
Yah laki laki itu sudah 3 hari tidak berangkat ke kantor karena tak ingin meninggalkan sang istri sendiri di rumah. Apalagi keluarga besar mereka akan sampai di Jakarta minggu depan.
__ADS_1
Dan karena ada insiden ini besok mereka hanya akan mengadakan akad pernikahan saja untuk anak-anak mereka sedangkan untuk resepsinya mereka tetap melangsungkan seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya.
Tapi jangan sangka akad dari pernikahan dari Arum dan Gibran akan sederhana saja. Karena pada kenyataannya tanpa api dan papa Sandi sudah menyewa hotel bintang 5 untuk pernikahan anak-anak mereka walau hanya akad nikah.
"Hmm."
"Pah, Mama mau makan dimsum deh. Kita jalan jalan ke luar yuk," ajak Mama Tiya yang tiba-tiba menginginkan makanan itu.
"Boleh, sekarang?" tanya Papa Sandi dan dianggukkan oleh Mama Tiya.
Setelah beberapa hari mereka mengetahui jika Mama Tiya mengandung, Mama juga belum mengatakan ngidam. Dan ini adalah pertamanya setelah kehamilan itu mereka ketahui Mama Tiya menginginkan sesuatu.
Papa Sandi mengelus lembut perut Mama Tiya yang masih sangat rata itu. Kemudian ia tersenyum pada sang istri yang sedang menatapnya dengan lembut itu.
"Tunggu sebentar ya, papa ambil kunci mobil sama dompet," ucap Papa Sandi yang dianggukkan oleh Mama Tiya.
"Pakai motor pa," jawab Mama Tiya yang membuat Papa Sandi menggelengkan kepalanya.
"Bahaya, udah pakai mobil aja. Jangan bantah kata suami, ini juga demi kamundan bayi kita," jawab Papa sandi langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mereka. Untuk mengambil kunci mobil dan dompet.
****
Berbeda dengan Arum yang kini sudah memejamkan matanya di pundak sang pacar. Jangan lupakan tangan Arum yang ada di atas perut Gibran dengan nyamannya.
Gibran yang senantiasa mengelus lengan sang pacar yang nganggur itu. Mungkin ini masih awal Arum naik pesawat jadi lebih sering tidur.
"Cantik banget sih, gak akan bosan gue kalau tiap hari lihat yang manis manis gini."
Tanpa Gibran sadari ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan ak bisa diartikan.
"Apa dia orangnya?" tanya orang itu dalam hati.
Perjalanan Bali-Jakarta 2 jam mereka lalui, hingga kini sampailah mereka di bandara Soekarno-Hatta. Arum yang sudah bangun itu mulia melepaskan sabuk pengaman dan turun dari pesawat itu.
__ADS_1
"Uwahh dah sampai aja, kayaknya baru 10 menit lalu kita di Bali," ucap Arum dengan santainya.
"Kamu tidur sayang mana ingat," jawab Gibran mencubit hidung Arum dengan lembut.
Arum yang mendengar itu hanya tertawa pelan, kini mereka sudah berada di lobby seraya membawa koper koper mereka sedangkan yang lain sudah berada di restoran karena ingin makan siang terlebih dahulu. Dan Arum serta Gibran yang tadi di ajak itu memilih untuk langsung pulang, karena tadi mereka juga sudah makan di Bali walau hanya pancake saja.
Sesampainya mereka di dalam taksi, taksi itu langsung melaju menuju ke rumah Arum terlebih dahulu kemudian baru ke rumah Gibran.
"Mau mampir kemana dulu gak yank?" tanya Gibran pada Arum yang sedang memainkan ponselnya itu.
"Gak usah, udah capek mau rebahan di kasur," jawab Arum kembali menyandarkan kepalanya di pundak Gibran. Entahlah apa kepala Arum tidak pegal sejak tadi miring terus seperti itu.
"Heem."
Tangan laki laki itu terulur untuk mengelus lembut rambut sang kekasih itu. Aroma wangi dari rambut Arum membuat laki laki itu tenang, bahkan ia berulang kali mengecup dan menghirup aroma rambut Arum.
"Padahal aku udah coba pakai shampoo yang sama tapi kenapa rambut kamu selalu wangi ya?" tanya Gibran yang membuat Arum meletakkan ponselnya di kursi samping kemudian melingkarkan tangannya di perut Gibran.
"Gak tahu," jawabnya dengan santai. Mereka tak malu mengumbar kemesraan di taksi itu padahal ada sopir taksi yang terus menatap mereka dari kaca depan.
"Dasar anak muda," batin sopir itu menggelengkan kepalanya.
Tak berberapa lama akhirnya taksi itu sampai di depan gerbang rumah megah itu. Apalagi pagarnya yang terlihat juga sangat tinggi.
"Yakin gak mau mampir?"
"Enggak yank. Nanti deh aku ke sini, udah capek banget mau istirahat," jawab Gibran melabuhkan kecupan di kening Arum.
"Oke."
Arum dan Gibran turun dari taksi itu dan mengambil koper yang hampir sepenuhnya milik Arum. Bahkan Gibran hanya memiliki 1 koper kecil saja.
Setalah itu Arum menarik koper itu dan masuk ke dalam rumah sedangkan Gibran kembali ke taksi dan pulang ke rumahnya sendiri.
__ADS_1
Bersambung