
Happy reading
Setelah keputusan tadi siang Arum belum juga keluar dari kamar hingga malam hari tiba. Mereka tahu jika Arum tidak menyetujui keputusan mereka untuk menikahkan Arum dengan Gibran di usianya yang masih sangat muda.
"Mah, Pah... Arum belum juga mau keluar dari kamar?" tanya Cika yang sedari tadi diam menatap mereka semua di meja makan itu.
"Belum sayang, Mama udah coba bujuk tapi dia diam gak mau buka pintu. Mana dari siang belum makan lagi," jawab Mama Tiya yang sebenarnya juga khawatir dengan sang putri yang belum juga keluar dari kamar sejak pukul 3 tadi.
Setelah Gibran dan keluarganya pulang, Arum langsung masuk ke dalam kamar tanpa mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Katakanlah Arum sangat kekanak kanakan saat ini. Tapi Arum juga tak ingin sampai menikah muda, bagaimana nanti sekolah Arum jika mereka nikah muda. Arum akan keluar dari sekolah dan akhirnya ia tak mendapat ijazahnya nanti di SMA.
"Kalau gitu biar Cika aja yang bujuk Arum nanti, sekarang Mama sama Papa makan dulu. Siapa tahu Arum bisa lebih terbuka dan bisa aku nasehati pelan pelan," ucap Cika mengambilkan nasi ke piring suaminya.
"Apa kita salah ya menyetujui keinginan Mas Abi dan Mbak Anin. Sebenarnya aku juga tidak terlalu setuju jika Arum menikah muda," ucap Mama yang sejak tadi siang tak mengeluarkan pendapat.
Ia takut jika ia berbicara saat bersama Mama Anin dan Papa Abi tadi sore malah akan menyinggung mereka.
"Tapi tidak ada salahnya, Mah. Aku juga nikah muda dan alhamdulillah semua baik baik aja, walaupun ada sedikit perselisihan diantara aku dan Cika," timpal Naufal pada sang Mama.
"Masalahnya Mama sendiri juga korban nikah muda sayang. Mama ngerasain gimana susahnya sekolah tapi Mama sudah punya suami, susah sayang. Mama gak mau adik kamu merasakan apa yang Mama rasakan," ucap Mama Tiya membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga anaknya nanti jika sampai menikah muda.
Tapi semoga saja apa yang ia khawatirkan tak akan terjadi, karena ia yakin Gibran bisa memperlakukan Arum sebaik mungkin. Apalagi sekarang sudah tak seperti dulu yang harus kerja dan banti beres beres rumah sepulang sekolah. Karena sekarang sudah ada pembantu.
"Papa tahu apa yang mama khawatirkan tapi bagaimana lagi itu sudah diputuskan. Jika berberapa bulan ke depan Arum dan Gibran akan menikah disaat Arum sudah naik kelas 3," ucap Papa menatap sang istri.
Memang benar mereka dulu juga korban nikah muda, karena perjodohan. Dulu memang masih jamannya perjodohan, apalagi orang tua Mama Tiya memperbolehkan Mama Tiya untuk lanjut sekolah ke SMA asalkan ia mau menikah dengan lelaki pilihannya.
Tapi setelah menikah mereka berdua memutuskan untuk saling menerima dan cinta itu hadir di dalam hati mereka berdua hingga saat ini.
"Huhh, iya mama juga akan menerimanya," jawab Mama Tiya pada sang suami.
Mereka yang ada disana tersenyum, mereka tahu bagaimana sayangkan Mama Tiya pada Arum selalu si bungsu di rumah ini.
Mereka kembali memakan makan malam mereka dengan tenang. Suara sendok dan garpu saling beradu di sana, hingga bumil kembali berulah dimana Cika dengan jahilnya mengambil ayam yang ada di piring suaminya dan diganti dengan sayur asparagus yang ada di sana.
"Sayang," tegur Naufal menatap sang istri.
Asparagus adalah sayur kesukaan Cika sejak dulu, tapi kini wanita hamil itu malah menginginkan sang suami yang makan sayur itu. Dimana sayur asparagus adalah sayur yang paling dibenci oleh Naufal karena rasa dan aromanya yang sangat tak enak bahkan bisa saja membuat ia langsung mual saat menciuminya.
"Ini anak kamu yang mau, lagipula asparagus baik buat kesehatan. Apalagi sayur ini jarang ada disini," ucap Cika dengan senyum manisnya.
"Aku mual tiap mencium aromanya," rengek Naufal yang ogah ogahan memakan sayur panjang mirip rebung kecil itu.
"Aku suapin kamu tutup hidung, setelah itu kamu baru komen," jawab Cika yang membuat Naufal mau tidak mau harus menuruti apa kata sang istri.
__ADS_1
Laki-laki itu menjepit hidungnya dengan jari kemudian menerima suapan dari Cika. Laki-laki itu mulai mengunyah sedikit demi sedikit hingga sayur itu habis di mulutnya.
"Tak buruk, tapi baunya aku gak suka," ucap Naufal setalah sayur itu ia telan.
Jika yang mendengar itu tersenyum kemudian kembali menyuapkan nasi yang di atasnya terdapat suwiran ayam dan juga sayur asparagus ke mulut Naufal.
Akhirnya keduanya makan dengan jika yang menyuapi Naufal dan makan untuk dirinya sendiri sedangkan laki-laki itu sibuk mengelus perut sang istri yang sudah terlihat menyembul itu. Tak memperdulikan tatapan kedua orang tuanya yang masih ada di meja makan itu.
Kedua orang tuanya yang melihat keromantisan anak dan menantunya itu tersenyum. Ternyata tak salah mereka menjodohkan Naufal dan Cika dulu. Semoga saja kehidupan rumah tangga Gibran dan Arum juga sama seperti anak dan menantunya ini.
Setelah beberapa saat akhirnya makanan mereka semua habis, dengan cekatan Cika mengambilkan nasi dan lauk serta sayur ke dalam piring kemudian Ia meletakkan buah anggur serta susu di nampan.
"Mau dibantu sayang?" tanya Mama Tiya pada menantunya.
"Enggak usah ma, Cika masih bisa kok. Nih lihat Cika kuat cuma bawa segini mah," jawab Cika dengan senyum manisnya kemudian ia pamit pada mereka dan berjalan menuju kamar Arum.
Dengan langkah pelan Cika akhirnya sampai di depan kamar Arum. Gadis itu mengetuk pintu kamar itu sebanyak tiga kali.
"Arum sayang, ini Kakak dek," ucap Cika memanggil Arum dari luar.
"Masuk kak, udah Arum buka pintunya," jawab Arum dengan suara seraknya yang membuat Cika langsung membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalam kamar.
Setelah masuk jika sedikit terkejut melihat suasana kamar yang sangat horor baginya apalagi tidak ada pencahayaan selain dari sinar bulan.
Cetek
Terang sudah kamar Arum yang tadinya gelap bagaikan rumah hantu hanya karena satu lampu saja. Jika menatap Arum yang sedang membungkus tubuhnya di atas kasur itu seraya menggelengkan kepalanya.
Wanita hamil itu berjalan menuju arah Arum dan meletakkan makanan yang ia bawa di atas tempat tidur.
"Dek."
"Hmm."
Arum tanpa ogah-ogahan membuka selimutnya hingga membuat jika mau tak mau harus menarik selimut itu hingga wajah Arum terlihat.
"Astaga kamu nangis dari sore tadi? Mata kamu loh sampai hilang gini," ucap Cika mengusap mata Arum yang lembab dan sembab karena tangisan gadis itu.
"Huhu kakak aku gak mau nikah," tangis Arum kembali pecah saat matanya disentuh oleh Kakak iparnya.
Jika yang mendengar Arum menangis itu lantas langsung memeluk tubuh sang adik ipar dengan erat seraya menepuk punggung Arum dengan lembut.
Ia juga pernah ada diposisi Arum saat ini, dimana ia yang masih kuliah semester awal harus menikah dengan orang yang tidak ia kenal. Untungnya saat itu ia tak memutuskan untuk bun*Ir karena keputusan orang tuanya.
__ADS_1
"Cup cup jangan nangis lagi, sayang dengerin kakak dulu ya," ucap Cika dengan lembut hingga membuat Arum langsung melepaskan pelukan itu dan menatap sang kakak ipar seraya menatap sang kakak.
"Kenapa?"
"Kamu bener gak mau nikah sama Gibran hmm?" tanya Cika seraya merapikan rambut Arum yang sangat berantakan.
"Bukan gak mau nikah, tapi gak mau nikah sekarang. Aku masih muda kak, masih kelas 2 SMA belum ujian lagi nanti gimana kalau sampai anak anak sekolah tahu?" tanya Arum yang pikirannya berkecamuk dengan kenyataan yang ada.
"Haiss kenapa kamu sampai mikirin siswa di sekolah sih? Kamu kayaknya lupa kalau keluarga kita juga salah satu donatur di sekolah itu. Apalagi keluarga Gibran, kamu gak akan dikeluarkan walau banyak yang tahu."
"Lagian ya dek, nikah tuh enak tahu."
Arum yang tadinya menunduk langsung mendengarkan kepalanya menatap Cika yang juga sedang menatapnya.
"Kok bisa? Bukannya setelah kita nikah kita bakal di kurung di rumah kayak Mama? Mama gak pernah keluar selain hal penting. Aku masih menikmati masa masa remaja aku kak, aku gak mau nikah."
"Haiss pikiran kamu tuh kok jadi pendek gini sih hmm. Mama itu orangnya mageran, dia bisa aja habisin waktunya di kamar dengan baca buku. Sekarang kamu lihat kakak, Kakak juga nikah muda dengan kakak kamu. Apakah terlihat Kakak tertekan dengan pernikahan ini?" tanya Cika dan digelengkan oleh Arum.
"Hahaha kakak tahu, Kakak diperlakukan sangat baik dengan kakak kamu. Bahkan selamat di luar negeri Kakak masih bisa bertemu dengan teman-teman kakak walaupun sudah menjadi istri dan ingin menjadi seorang ibu. Kakak kamu gak melarang kakak buat keluar rumah, kadang kakak malah merasakan Kakak ini menikmati masa-masa pacaran tapi dalam versi halal gitu," ucapnya yang membuat Arum mengangguk.
"Nah kalau kita udah nikah kita bebas mau ngapain aja mau ciuman mau pelukan mau apapun itu kalau udah sama suami akan menjadi pahala buat kita. Tapi kalau kita masih pacaran dan kita berani cium-cium atau peluk-peluk laki-laki yang belum jadi mahram kita itu akan jadi dosa buat kamu dan juga pacar kamu," ucap Cika dengan lembut.
"Emang kamu mau tuhan marah sama kamu hmm?"
"Enggak."
"Jadi gimana kamu masih mau nikah atau lanjut pacaran?" tanya Cika pada sang adik.
Tanpa Arum masih memikirkan apa yang diucapkan oleh kakak iparnya ini. Benar juga apa yang dikatakan oleh Cika, dia pernah mendengar jika sudah menjadi suami istri itu akan banyak mendapat pahala daripada orang pacaran.
"Tapi apa aku masih bisa bebas?"
"Hmm tanyakan sama diri kamu dan juga Gibran. Tanyakan sama dia apakah Gibran membatasi pergaulan kamu atau tidak. Karena sejatinya istri itu harus mematuhi apa kata suami. Sedangkan suami harus mengayomi istrinya."
"Jadi aku harus tanya Gibran?" tanya Arum dan dianggukkan oleh Cika.
Akhirnya Arum menyetujui apa yang dikatakan oleh Cika. Jika nanti jawabannya Gibran mengekang dirinya setelah menikah Arum akan tetap gagah pada pendiriannya untuk tidak menikah sebelumnya lulus sekolah dan kuliah. Tapi jika Gibran masih membebaskan dirinya untuk berteman dengan siapa saja maka ia akan menerima pernikahan itu dengan lapang dada.
Lagi pula yang dinikahkan kan sudah menjadi pacar bukan orang asing seperti Kak Naufal dan Kak Cika.
"Sekarang sudah tangisan kamu, dan kini ayo makan. Kamu tadi melewatkan makan bersama loh,'" ucap Cika memberikan piring berisi nasi itu.
Arum menerima piring itu dan dengan perlahan mulai memakan makanan yang dibawakan oleh Kakak iparnya. Cika yang melihat itu tersenyum kemudian mengelus rambut adik iparnya dengan lembut, seraya menunggu Arum menghabiskan makannya.
__ADS_1
Bersambung