
Happy reading
"Ingat ya, sayang. Kamu gak boh bolos sekolah lagi, cukup kemarin Mama mendapat telepon dari sekolah kalau kamu bolos sekolah," ucap Mama Tiya pada putrinya.
Setengah hari setelah Arum pulang kemarin, Mama Tiya langsung menceramahi Arum karena wanita paruh baya itu mendapat telepon dari sekolah jika Arum bolos dari jam pelajaran pertama.
Bapak sandi yang mendengar itu juga Mulai menanyakan kenapa Arum membolos sekolah. Dan Arum tidak berbohong, gadis itu menjelaskan secara rinci bagaimana ia bisa bolos sekolah. Kedua orang tua Arum sedikit kecewa dengan Gibran karena membawa sang putri untuk bolos sekolah.
Untungnya di malam hari Gibran datang ke rumah Arum dan meminta maaf kepada kedua orang tua Arum. Tentu saja ia merasa tak enak karena sudah mengajak harum bolos sekolah begitupun dirinya.
Gibran juga mendapat amarah dari sang papa karena membawa Arum, gadis yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri untuk bolos. Gibran boleh membolos tapi jangan membawa Arum ikut bolos dari sekolah.
Gibran sendiri tahu bagaimana sayang kedua orang tuanya pada kekasihnya itu. Gibran yang dasarnya anak tunggal tidak memiliki adik dan kakak membuat mama dan papa sering merasa kesepian saat ditinggal dirinya.
Bagi mereka Arum adalah putri mereka sekaligus calon mantu mereka. Mama Anin juga merasa memiliki seorang putri saat Gibran membawa Arum pulang ke rumah saat itu.
Back to story
"Iya Mama sayang, maafin Arum ya karena udah bolos sekolah. Makasih juga buat papa karena gak potong uang jajan Arum," ucap Arum dengan senyum manis menatap kedua orang tuanya.
"Walaupun papa memotong uang jajan kamu, kamu masih memiliki Gibran yang siap untuk kamu mintai jajan sayang," ucap Papa yang tak habis pikir dengan pemikiran sang putri.
Memang selama ini Gibran juga kata bulanan untuk Arum. Walaupun tak banyak tapi cukup untuk membeli jajan gadis itu. Gibran melakukan itu bukan semata-mata ingin memanjakan Arum, tapi laki laki itu hanya ingin apa yang diinginkan sang kekasih tercukupi.
Dan selama yang Gibran tahu Arum tidak pernah boros jika memakai uang. Jika biasanya para Gadis remaja lebih suka berbelanja ke mall dengan membeli barang-barang yang mahal dan jarang digunakan. Berbeda dengan Arum yang memilih membeli jajan dan diletakkan di kamarnya.
"Hehehe."
Tin! Tin!
"Itu Gibran udah datang aku pamit berangkat ya pah, Mah."
"Tunggu ajak Gibran masuk, papa ingin ngomong dulu sama dia."
Arum yang mendengar itu menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju luar dan mengatakan jika ayahnya ingin bertemu dengan Gibran.
Laki-laki itu mengangguk kemudian melepas helm full face yang ia pakai. Seraya menggandeng tangan Arum, keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah dan menemui orang tua Arum.
"Pagi Ma, Pa."
"Pagi."
"Duduk dulu."
Gibson mendudukkan bokongnya di samping kursi tempat Arum duduk. Kemudian papa sandi kembali memberikan nasehat kepada Gibran agar tidak membawa putrinya untuk bolos. Karena bagaimanapun mereka sebagai orang tua tak ingin anaknya terjerumus ke hal-hal yang buruk.
Apalagi mereka sudah tahu tentang kondisi keluarga Gibran yang memiliki banyak musuh.
"Ingat ya Gibran."
__ADS_1
"Iya Pah, siap. Maafin Gibran karera udah buat kalian marah dan kecewa sama Gibran. Gibran janji tak akan mengajak Arum bolos lagi," ucap Gibran dengan sungguh-sungguh.
Setelah selesai memberi nasehat dan juga larangan pada Gibran, Papa Sandi pamit kepada sang istri dan dua anaknya itu. Diikuti oleh Gibran dan Arum yang juga ingin berangkat ke sekolah.
*****
Dalam perjalanan Gibran sengaja memperlambat laju motornya agar ia bisa sedikit lama bersama sang kekasih. Dan sepertinya Arum juga tak keberatan akan hal itu.
"Yank."
"Hmm."
"Gak jadi."
"Aishh."
Sebenarnya Gibran ingin mengatakan sesuatu tapi melihat kondisinya mereka sedang berada di jalan. Pasti membuat Arum ha he ha he saja.
Beberapa saat kemudian akhirnya motor sport itu sampai di depan gerbang sekolah Arum. Gadis itu turun dari motor dan melepas helm yang ia pakai. Tumben-tumbenan juga Gadis itu mau memakai helm biasanya mah ogah.
"Sayang nanti kamu pulang kayak biasa kan?" tanya Gibran dan dianggukkan oleh Arum.
"Nanti aku jemput tapi kita nggak langsung pulang. Aku mau latihan basket sebentar di kampus, kamu tahu kan sebentar lagi ada turnamen."
Arum menganggukkan kepalanya, memang dari SMA Gibran adalah seorang kapten basket sampai di kuliah juga begitu. Laki laki itu dipilih sebagai kapten basket tentu karena kepiawaiannya dalam bermain basket. Prestasinya di SMA dalam bermain basket sudah banyak, bahkan tim basket SMA mereka sudah menyumbang 5 piala yang diketuai oleh Gibran.
Tentu saja Gibran menginginkan kekasihnya ada untuk memberi semangat dirinya. Walau ini masih latihan tapi tetap saja ia ingin mendapat support dari sang kekasih.
"Aku gak bawa baju ganti loh."
"Pakai seragam aja gak apa apa, aku juga lupa tadi mau bilang ke kamu," jawab Gibran merapikan rambut sang kekasih.
"Oke."
Cups
"Belajar yang bener, nanti pulang aku jemput," ucap Gibran setalah mengecup kening Arum.
"Siap bos."
Setelah itu Arum meninggalkan Gibran yang masih menunggu dirinya untuk masuk ke dalam sekolah itu. Setelah dipastikan Arum masuk, Gibran kembali melajukan motornya meninggalkan area sekolah menuju kampusnya.
Arum berjalan dengan senyum manisnya menuju kelas tanpa sadar jika Yanti dan Vito yang sedari tadi mengikuti Arum dari belakang.
Arum yang merasa ada yang mengikuti dirinya itu langsung kembalikan badannya dan betapa terkejutnya ia kalah melihat dua sahabatnya berada di belakangnya. Kenapa iya sampai tak sadar jika Yanti dan Vito mengikutinya dari belakang tadi.
"Kalian dari kapan?" tanya Arum dengan wajah selidik.
"Kita berdua udah nunggu lo 5 menit sebelum lu sampai di sekolah. Tapi renyah Kenapa lu sampai gak sadar dengan adanya kita yang menunggu lo di samping pos satpam," jawab Yanti.
__ADS_1
"Kenapa nggak manggil gue?"
"Tadi mau manggil tapi kelihatannya lu lagi seneng banget, ya udah nggak jadi kita ikutin lu aja dari belakang," jawab Vito dengan santai.
Akhirnya ketiganya berjalan beriringan menuju kelas mereka, banyak yang iri dengan Vito yang dapat berjalan di samping 2 primadona SMA gemilang, dan juga Yanti serta Arum yang bisa bersahabat dengan Vito yang notabene adalah idola baru mereka. Sedikit banyak mereka ada yang tahu jika Yanti dan Vito memiliki hubungan, ada yang menyetujuinya dan ada juga yang mencibir mereka.
Tapi pada dasarnya mereka adalah muka-muka tebal, jadi tak mempermasalahkan omongan-omongan para siswa selagi itu tak merugikan mereka.
Sampainya di kelas Arum dan Yanti langsung duduk di bangkunya sedangkan Vito menghampiri teman-teman barunya yang ada di kelas itu.
"Eh gue mau curhat," ucap Arum menatap Yanti yang sedang menyalin tugas itu.
Emang kebiasaan sahabatnya itu lupa jika mereka ada tugas hingga berakhir Yanti yang menyontek Arum.
"Apaan."
"Kemarin kan gue bolos, terus........."
Arum menceritakan apa yang dia dengar dari Gibran, tentang Lidia yang dipermalukan oleh Gibran hingga membuat Lidia memutuskan untuk keluar dari kampus.
Yanti yang sedang menyalin tugas itu menganggukan kepalanya ada rasa bangga dan senang kalah mendengar orang yang membuat Arum sakit hati diberi pelajaran seperti itu oleh Gibran.
"Makanya jangan bolos lagi."
"Iya iya."
"Tapi ya, pacar lu emang best banget deh. Gak salah lu pacaran sama dia, yah walau dia agak rese dan juga pernah nyakitin lu."
"Itu udah berlalu, tapi kalau aja Gibran melakukan itu lagi jangan harap gue bisa maafin dia," jawab Arum.
Yanti menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan Arum. Yanti pun jika ada diposisi Arum pasti akan melakukan hal yang sama
"Eh udah beberapa hari ini Aldo gak masuk emang dia ke mana sih?" tanya Arum yang baru sadar jika laki-laki yang selalu menggodanya tidak ada akhir-akhir ini.
"Gue lupa mau ngasih tahu, si Aldo ikut olimpiade matematika di SMA Semara pas lu gak masuk itu. Dan denger denger dia lagi sakit sekarang," jawab Yanti.
"Lu khawatir ya sama Aldo? Ngaku lu?" tanya Yanti mengapa Arum yang sedang bermain pulpen itu.
"Gue nggak khawatir atau gimana sih tapi aneh aja. Gue selama ini digodain sama dia tapi tiba-tiba dia nggak ada. Dia kan teman sekelas kita juga kenapa gak dijengukin aja?" tanya Arum pada Yanti.
"Belum ada usul sih dari wali kelas. Nanti coba bilang sama Nina. Dia kan ketua kelas kita bisa bilang sama Bu Neneng."
Arum mengangguk dan mulai menghampiri Nina yang sedang bercanda dengan sahabat-sahabatnya itu. Arum menyampaikan apa yang ada di pikirannya karena Aldo juga sudah 4 hari ini tidak masuk sekolah.
"Nanti gue bilang sama Bu Neneng, thanks ya."
"Oke."
Bersambung
__ADS_1