Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Pulang


__ADS_3

Happy reading


Setelah berberapa saat akhirnya mereka sudah kembali ke vila milik Reno. Banyak barang yang mereka beli hingga membuat mereka juga harus membeli koper baru.


"Bi, Pak... Kita pulang dulu ya, kapan kapan kita mampir kesini lagi," ucap Keysha pada bibi dan Pak Yaman yang ikut mengantar mereka ke depan vila.


"Iya nak. Kalian hati hati ya pulang ke Jakarta, jangan lupa nanti balik lagi kesini. Nanti bibi masakin makanan yang enak enak buat kalian," ucap Bibi pada mereka.


Tak lupa memeluk para perempuan yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.


"Iya Bi. Bibi sama bapak yang sehat disini," jawab Arum dan dianggukkan oleh kedua pasangan itu.


Setelah berpamitan Keysha mengajak mereka untuk ke taksi masing masing. Kebetulan juga Reno sudah memesan taksi sejak tadi, dan untungnya sudah sampai saat ini.


"Yuk berangkat, taksinya sudah nunggu di depan," ajak Keysha yang hanya menenteng tas kecilnya saja. Sedangkan Reno membawa 4 koper sekaligus di kedua tangannya.


Arum dan Yanti yang melihat Reno sepertinya kesusahan itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pasalnya pacar mereka juga sama sama bawa koper tapi tidak sampai 3 koper.


Memangnya apa yang dibeli oleh Keysha dan Reno pikir mereka.


Setalah mereka sampai ke taksi masing masing. Mereka semua langsung berangkat menuju bandara.

__ADS_1


Meninggalkan pasangan yang sudah tak lagi muda itu di depan pintu vila itu.


"Sepi lagi pak."


"Ya sudahlah, Bu. Memang mereka juga punya kehidupan sendiri. Ayo masuk, anggap saja vila sendiri," ucap Bapak Yaman mengajak sang istri untuk masuk ke dalam vila.


***


Di dalam perjalan mereka bersama masing masing pasangan masing masing, entahlah kenapa begitu tapi yang pasti tadinya Gibran tak ingin setaksi dengan Vito. Nanti dikira terong makan terong dan alhasil sekarang Gibran dan Arum satu yakin begitupun dengan Vito yang bersama Yanti.


"Yank, aku sedikit khawatir deh sama Mama ," ucap Arum tiba tiba seraya kepalanya yang di letakkan di pundak Gibran.


"Kenapa khawatir?" tanya Gibran pada Arum. Tak biasa biasa Arum mengatakan hal begini saat bersamanya.


Segala pikiran negatif itu mulai berdatangan di pikiran Arum, walaupun ia terlihat seperti tak memiliki beban tapi pikirannya itu bercabang memikirkan hal ini. Hanya karena satu video saja.


"Berdoa aja semoga apa yang kamu pikirkan itu gak akan jadi kenyataan. Lagian dilihat dari segi kesehatan, Mama Tiya sehat banget kok. Kita doa sama sama supaya kehamilan Mama kamu sehat sampai nanti lahiran," ucap Gibran dengan senyum manisnya tak lupa tangannya yang sudah berada di atas kepala gadis itu.


Mereka yang saat ini sama-sama menunggu adik-adik mereka. Hanya doa yang bisa mereka lakukan dan juga harus memastikan makanan yang dimakan oleh mama Tiya higienis dan bergizi untuk adik mereka.


Arum yang mendengar itu hanya mengangguk walaupun ia masih sedikit rasa khawatir ada di dalam hatinya.

__ADS_1


***


Sedangkan di jakarta sendiri, Mama Tiya, Papa Sandi, Mama Anin, dan Papa Abi kini sedang berunding seraya menatap foto yang dikirimkan oleh anak buah mereka yang ditugaskan untuk mengawasi Arum dan Gibran selama di Bali.


"Mereka kayaknya memang harus cepat di nikahkan," ucap Papa Sandi menghela nafasnya kala melihat foto laki laki dan perempuan yang tidur di sebuah sofa itu.


Sedangkan mereka yang masih menatap berberapa foto ang berbeda. Memang Arum dan Gibran tak tahu jika mereka selama di Bali akan di ikuti.


"Benar, aku setuju. Kasihan Arum jika terus terus digunakan oleh Gibran. Emang anak itu minta di hukum saat pulang nanti," jawab Papa Abi yang sudah sangat sayang dengan Arum.


Laki laki paruh baya itu akan sangat marah jika Gibran yang notabenenya adalah anaknya sendiri. Rasa sayang pada Arum sudah sangat besar, walaupun nanti Arum tak menjadi bagian dari keluarga besarnya tapi Papa Abi dan Mama Anin sudah sepakat untuk tetap memberikan 20% saham kekayaan mereka pada gadis itu tanpa sepengetahuan anak mereka dan juga keluarga Arum sendiri. Bayangkan saja 1% saham saja nilainya sudah berapa apalagi ini sampai 20%


"Jangan terlalu keras sama Gibran, mereka masih muda. Dan kita juga pernah mengalami hal hal ini," ujar Mama Tiya yang kini bijak menanggapi hal ini.


Bukan ia membela anak anak mereka tapi mama Tiya introspeksi diri sendiri, dulu mereka juga begitu.


"Heemm."


Hari ini memang sengaja mereka meluangkan waktu mereka untuk membahas hal ini. Dan pula hari ini anak anak mereka.


Mereka pastinya tak ingin membiarkan kelakuan anak anak mereka seperti itu tanpa adanya ikatan pernikahan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2