
Happy reading!
Diperjalanan pulang, Arum menghentikan motor Mika di pinggir jalan penjual sate. Gadis itu ingin membelikan sate untuk kakak kakaknya, dan juga dirinya sendiri.
"Bang satenya 4 porsi ya," pesan Arum yang kini sudah duduk di kursi plastik itu.
"Siap neng, ditunggu dulu ya," jawab bang sate pada Arum.
"Bumbu kacangnya dibanyakin ya bang."
"Iya non, siap."
"Beh banyak amat 4 porsi, mau hajatan lu?" tanya Mika memberikan minuman dingin pada Arum.
"Thanks. Satu porsi buat elu, lu gak pake susuk kan? Bisa gawat nanti kalau lu makan sate, susuk lu keluar."
"Sembarangan, gue gak pake susuk udah cantik maksimal gini. Lagian ya gue kagak percaya yang namanya susuk susuk begitu. Nanti matinya susah," ucap Mika membuka tutup botol itu dan meminum airnya.
Sambil menunggu satenya matang Arum membuka ponselnya dan mendapatkan banyak sekali notifikasi dari Gibran.
GibranLv
Sayang kamu udah pintar bohong ya.
Katanya kamu naik mobil ke rumah teman kamu tapi kok kamu malah bawa motor. Motor gede lagi.
📷
Ini siapa sayang? Arwah kamu?
Aku gak apa apa kamu naik motor tapi bukan yang nyetir sayang.
Kamu gak ingat hah terakhir kali kamu bawa motor gini gimana? Gak kapok kamu.
Mau aku bilangin kak Naufal sama Ayah ha??
Cepat pulang jangan lama lama bawa motor teman kamu itu. Pasti kamu yang minta buat bawa motor kan. Awas aja kalau kamu pulang dengan luka luka di badan kamu.
Arum yang melihat serangkaian chat dari Gibran itu langsung menatap sekitar dan mencari dimana kendaraan laki laki itu. Padahal tadi ia tak melihat mobil Gibran sejak pulang sekolah tapi kenapa laki laki itu bisa tahu kalau Arum sedang mengendarai motor berboncengan dengan Mika sang pemilik motor.
Anda
Kamu tahu dari mana?
Aku gak bawa motor kok. Aku yang dibonceng sayang, itu bukan aku🥺
GibranLv
Bohongmu kelihatan banget. Jangan banyak bicara di chat, cepat pulang aku ada di rumah kamu.
Anda
Ngapain?
GibranLv
Ngehukum kamu biar jadi anak baik.
__ADS_1
Anda
Aku anak baik kok. Aku gak kenapa napa juga, aku cuma kangen naik motor gede. Kan kamu gak bolehin aku bawa motor sejak kejadian itu.
GibranLv
Kamu tahu kan sayang aku trauma lihat kamu bawa motor ugal ugalan, hampir aja nyawa kamu melayang saat itu kalau aku gak datang tepat waktu.
Anda
Iya maaf ya sayang. Cuma sekali ini, ini juga udah mau pulang.
GibranLv
Cepat.
Anda
Iya
Setelah itu Arum langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. Karena ia tak mau lagi jika harus membalas pesan dari Gibran.
"Rum lu kenapa aneh gini?" tanya Mika yang menyadari ekspresi wajah harum yang sudah berbeda.
"Gak kenapa napa," jawabnya dengan senyum tipisnya.
Arum gini memikirkan apa hukuman yang akan diterimanya dari Gibran. Tapi jika nanti ya dihukum kenapa tidak sekalian aja jalan-jalan dulu pakai motor Mika dengan iya yang membonceng gadis di sampingnya ini.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya sate pesanan harum selesai dibuat. Bang sate memberikan 3 porsi sate yang sudah dibungkus pada Arum kemudian Arum memberikan uang kepada bang sate.
Arul memasukkan satu porsi sate itu ke dalam kresek kemudian memberikannya pada Mika. Rasanya tak enak jika iya numpang di motor orang tapi tidak membelikan apa-apa pada gadis itu.
"Thanks ya. Harusnya gak usah juga gak apa apa, gue ikhlas kok ngasih tumpang," ucap Mika yang memang tak meminta imbalan apapun dari Arum.
"Gak apa apa. Lagian ini gak seberapa," jawab Arum berjalan menuju motor sport itu dan menaikinya.
"Rumah kita searah kan Mik?" tanya Arum dan dianggukkan oleh Mika. Memang rumah Mika dan Arum hanya beda beberapa gang saja, jadi kalau pulang tidak sampai harus balik arah.
Arum kemudian menjalankan motor itu meninggalkan area tukang sate dengan kecepatan sedang. Setelah beberapa menit berkendara akhirnya harum sampai di depan rumah dengan selamat tidak ada lecet sedikit pun di badannya.
"Makasih ya Mik, udah bolehin gue bawa motor. Kapan kapan lagi ya," ucap Arum dan dianggukkan oleh Mika.
"Santai aja, gue juga gak keberatan kalau lu mau naik motor gue lagi. Kan enak gue jadi penumpang," jawab Mika yang sudah naik kembali ke atas motornya.
Setelah itu Mika pamit pada Arum dan menjalankan motornya menuju rumahnya sendiri. Arum yang melihat Mika sudah menjauh itu membalikkan badannya dan berjalan menuju rumah. Arum juga melihat ada mobil Gibran yang terbaru parkir di halaman rumahnya.
Tiba-tiba pikirannya beralih lagi ke hukuman yang akan ia terima dari Gibran. Gadis itu memutuskan untuk masuk lewat belakang agar tidak ketahuan Gibran. Arum tahu pasti Gibran sudah menunggunya di ruang tamu karena kebiasaan memang begitu.
Setelah berhasil masuk Arum tak sempat melihat ke arah ruang tamu karena ia buru-buru masuk ke dalam rumah dan berlari menaiki tangga. Takutnya nanti Gibran melihat dirinya dan ikut ke kamar.
Sampainya di kamar Arum mengatur nafasnya agar kembali normal karena ia akan lari-lari dari bawah ke lantai 2.
"Huh akhirnya, bebas gue dari hukuman. Nanti kalau dia telepon bilang aja gue lagi belajar kelompok," gumam Arum mengunci kamarnya agar tidak ada yang masuk kemudian membalikkan badannya.
Deg
"Sayangnya rencana kamu sudah bisa aku tebak," ucap laki laki yang sedang duduk di atas kasur itu.
__ADS_1
Laki-laki itu adalah Gibran, karena Mama dan Papa tidak ada di rumah dan juga Kakak serta kakak ipar Arum sedang berada di rumah mertua Kak Cika. Gibran izin pada Bibi yang ada di sana untuk masuk ke kamar Arum.
Bibi yang sudah tahu dengan hubungan Gibran dan Arum itu mengiyakan saja karena biasanya Gibran juga akan masuk ke dalam kamar walau hanya sebentar.
Dan kini Gibran berada di kamarnya dengan kondisi pintu yang ia kunci sendiri dari dalam. Arum sedikit menyesali perbuatannya yang tidak tahu jika Gibran ada disini.
"Udah kebiasaan kamu lari di hukuman aku kan?" tanya Gibran menyuruh Arum untuk mendekat.
Gadis itu hari akhirnya pasrah, Arum melemparkan tasnya ke sofa kemudian meletakkan sate yang ia beli di atas nakas dan berjalan menuju kasurnya yang empuk. Dengan wajah cemberut harum naik ke atas kasur dan menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuan Gibran.
"Jangan marah ya, aku kan cuma mau ngerasain naik motor lagi," ucap Arum mengulurkan tangannya untuk memegang rahang tegas sang kekasih.
"Kenapa gak izin yang benar tadi? Kamu gak harus bohong buat naik mobil kan?" tanya Gibran yang kini menarik tubuh Arum agar duduk di pahanya dengan posisi saling berhadapan.
"Aku tahu kalau aku izinnya sebenarnya sama kamu pasti tak diperbolehkan. Aku tahu aku salah karena sudah berbohong sama kamu. Tapi aku gak apa apa kok sayang. Aku gak luka, mungkin tadi itu terakhir kalinya aku naik motor lagi," ucap Arum dengan melas.
Sungguh harum sangat takut dengan hukuman yang diberikan oleh Gibran nanti. Bisa aja hukuman ini akan merubah hidupnya 180°.
"Lain kali kamu harus jujur ya, aku gak mau kamu kenapa napa sayang. Apalagi tadi aku melihat kamu ugal-ugalan di jalanan mau aku tegur, juga kamunya udah jauh," ucap Gibran mengelus pipi sang kekasih yang sedikit merah karena terkena panas matahari.
"Maaf."
"Aku maafin. Aku juga gak bilang sama Kak Naufal dan ayah jadi kamu tenang aja. Kamu gak bakal dapat ocehan dari mereka. Tapi kamu harus janji sama aku kalau mau naik motor harus izin dulu sama aku atau ayah. Kamu tahu ayah dan ibu kamu dulu hampir menyerah karena kamu tak kunjung bangun. Kamu gak memikirkan aku juga saat itu kalau seumpama kamu gak bangun lagi? Aku takkan pernah memaafkan kesalahanku yang mengajari kamu motor sport sayang. Kejadian itu membuat kita semua takut kehilangan kamu. Jadi udah ya main mainnya, lebih baik kamu naik mobil daripada naik motor gede."
"Aku udah bisa naik mobil kok dikit dikit," jawab Arum yang kini menjatuhkan kepalanya di pundak Gibran.
"Tapi lebih baik kamu jadiin aku sopir kamu aja, aku gak mau kamu kenapa napa ya sayang."
"Iya. Aku minta maaf udah bohong sama kamu."
"Aku udah maafin kamu tapi hukuman tetap berlangsung agar kamu sedikit jera dengan apa yang kamu lakukan hari ini."
"Kok masih dihukum aku kan gak kenapa napa. Udah pulang juga," ucap Arum dengan melas. Sungguh ia tak ingin dihukum oleh Gibran.
"Gak bisa."
"Sekarang kamu terlentang di kasur," perintah Gibran yang membuat Arum sedikit takut. Takut jika Gibran akan mempe***ani dirinya.
"Kamu jangan macam macam ya yank. Aku gak mau."
"Cepat atau aku paksa."
Dengan mata berkaca-kaca Arum berbaring di kasur itu dengan posisi terlentang. Dengan senyum menyeringai menatap sang kekasih yang sudah ada di atas kasur itu.
Gibran memang sedikit modus melakukan hukuman ini, kapan lagi ya bisa menghukum pacarnya yang nakal ini. Gibran tak akan pernah merusak gadisnya sebelum mereka halal sebagai suami istri. Tapi untuk saat ini biarkan Gibran menghukum sedikit sang kekasih. Lagipula ini tak ada sakit kok.
"Jangan nangis aku gak suka air mata kamu jatuh."
"Kamu jahat banget mau apain aku," jawab Arum dengan sedih.
Gibran tersenyum kemudian mendekat ke arah Arum, laki laki itu mengusap air mata yang siap untuk turun dari mata Arum.
Cups
"Aku gak akan membuat kamu rusak kok. Jangan nangis hmm."
Bersambung
__ADS_1