Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Arum Kesal


__ADS_3

Happy reading


Setalah makanan yang dipesan tadi sampai, Arum langsung mengambil sendok yang ada di depannya.


"Udangnya buat aku ya," ucap Arum pada Gibran.


Yah mereka memesan nasi goreng udang dan juga kentang goreng. Mereka berdua adalah anak anak pecinta udang jadi jangan salah kalau di setiap makanan pasti ada udangnya. Tapi yang membuat malas adalah mereka tak mau jika harus disuruh ngupas kulit udangnya.


"Kan punyamu masih ada," ucap Gibran yang tak mau jika udangnya hilang dari piringnya.


"Mau lagi."


Akhirnya Gibran kembali memesan udang goreng crispy dengan porsi jumbo karena pasti Arum akan menghabiskan udang yang ia pesan itu. Daripada ia berkorban udang yang ada di nasi gorengnya.


"Kan aku maunya sekarang, kalau nunggu udang gorengnya datang udah dingin nasi gorengnya," jawab Arum dengan cemberut.


Hobi sekali Arum cemberut hingga membuat Gibran menghela nafasnya pelan. Emang bener sih nasi goreng jika tidak hangat rasanya kurang nikmat, tapi masa iya iya harus merelakan udang miliknya.


"Ya udah nih, kalau bukan pacar gue tak heh kamu yank," ucap Gibran yang akhirnya mengalah dan memberikan beberapa udang yang ada di atas nasi gorengnya itu.


Dengan senyum mengembang Arum menerima udang yang diberikan oleh Gibran. Kemudian Gadis itu memakan dengan lahap nasi goreng plus udang yang diminta dari Gibran itu.


Sedangkan Gibran menatap nasi gorengnya yang kini polos tak memiliki toping apa-apa selain irisan mentimun di sisi piring.


"Untung pacar," batin Gibran ikut memakan nasi goreng di depannya.


Sekitar 10 menitan akhirnya pesanan udang goreng crispy mereka sudah sampai. Arum dan Gibran yang melihat itu langsung berebut udang yang ada di piring itu.


"Yank, jangan maruk. Tadi kamu udah ambil punya aku loh," ucap Gibran ingin mengambil udang yang ada di piring itu. Tapi Gibran kalah cepat dengan Arum yang sudah membawa piringnya ke hadapannya.


"Aisshh kamu makan tuh kentang," jawabnya seraya memakan udang goreng itu.


"Ohh jadi kamu gak mau bagi bagi?" tanya Gibran yang kini sudah menarik kursinya agar mendekat ke arah Arum.


"Enggak."


"Mau aku cium lagi hmm? Biar semua orang lihat," bisiknya yang membuat mata Arum membulat kemudian menggeser udang itu ke hadapan Gibran.


"Tuh, jangan macam macam ya yank."


"Heem."


Akhirnya Arum mengambil kentang goreng yang belum tersentuh sedikitpun itu. Sayang juga jika harus menyisakan kentang goreng sebanyak itu.


"Nanti pulangnya jam berapa?" tanya Arum pada Gibran.

__ADS_1


"Mungkin sekitar jam 5 sore, tapi kamu jangan khawatir aku bakal minta izin pulang dulu kok," jawab Gibran seraya menyuapi Arum dengan udang itu.


"Udah bilang Mama sama Papa kan?"


"Udah sayang."


Mereka menghabiskan makanan yang tersisa di atas meja itu sebelum akhirnya meninggalkan kafe menuju kampus Gibran.


Sampainya di kampus Arum dan Gibran berjalan menuju ruang ganti. Di sana sudah sepi karena anak-anak sudah berada di lapangan semua, bahkan mahasiswi yang sengaja tidak pulang cepat karena ingin melihat Gibran CS latihan basket itu sudah berkumpul di tribun.


Gibran mengambil jarsey basket miliknya yang ada di dalam tas. Sedangkan Arum memakai celana panjang yang dibelikan oleh Gibran baru melepas rok seragam itu.


"Harus banget ya jarsey kamu gak punya lengan gini?" tanya Arum menggeplak lengan Gibran yang sangat putih dan otot otot disana sudah mulai terbentuk.


"Yank, gerah kalau pake yang panjang. Lagian aku gak pamer dada kok. Nih dada aku cuma buat kamu, gak apa apa ya?" ucap Gibran pada Arum.


Akhirnya Arum menangguk kemudian membiarkan sang kekasih memakai jarsey tanpa lengan itu. Terlihat seksoy say.


Kemudian Gibran memakaikan jaketnya ke tubuh Arum, yang sedikit kebesaran tapi its oke Arum suka wanginya.


"Tolong bawain tasku ya sayang, emang sih di dalamnya gak ada barang berharganya tapi di tasku ada banyak foto kita yang baru aku cetak. Nanti kalau aku tinggal diambil orang lagi," ucap Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


Tas Gibran memang tak pernah diisi buku, paling paling cuma pulpen, hp, sama dompet doang. Makanya ringan.


"Masukin aja tas kamu, sekalian."


Setalah selesai berganti pakaian, keduanya keluar dari ruang ganti itu. Arum meminta izin Gibran untuk ke kantin dulu dan menyuruh Gibran untuk membawa tasnya ke lapangan nanti Arum akan nyusul.


"Nanti kalau gak hapal, jangan takut tanya orang yang ada disini atau mbak mbak kantin," ucapnya dan dianggukkan oleh Arum.


Merekapun berpisah didepan ruang ganti, Gibran menuju lapangan sedangkan Arum menuju kantin.


Sampainya di kantin Arum langsung membeli minuman yang ada manis manisnya. Dengan tisu, karena Arum yakin Gibran kamu udah main basket keringatnya gak bisa ditahan.


"Berapa mbak?" tanya Arum pada mbak mbak kantin.


"10 ribu, kak."


Arum mengeluarkan uang dari saku jaket Gibran dan memberikan pada mbak mbak itu. Memang kantong ajaib jaket itu, hahhaa.


"Eh mbak mau tanya. Kalau mau ke lapangan basket lewat mana ya? Saya lupa tadi," tanya Arum dengan sopan.


Akhirnya mbak kantin itu memberitahu letak lapangan basket kampus itu. Arum yang paham langsung berterima kasih pada Mbak mbak yang tak diketahui namanya itu.


Dengan langkah cepat Arum berjalan menuju tempat yang dikatakan oleh mbak mbak tadi.

__ADS_1


"Ehh tunggu tunggu, mau kemana dek?" tanya seorang wanita dangan make up tebal itu menghadangnya.


"Mau ke lapangan basket kak," jawab Arum dengan senyum. Ia tak boleh asal njeplak aja, karena ini kampus orang bukan sekolahnya.


"Eh ini bukanya jaket Gibran ya? Kok kamu pakai?" tanya wanita satunya memegang ujung jaket itu.


"Ohh ini punya pacar saya kak, maaf ya duluan."


Arum dengan mudah melewati mereka yang belum selesai bertanya itu. Arum tak ingin membuang buang waktu hanya untuk menjawab pertanyaan dari wanita wanita tadi.


"Jaket kayak gitu gak cuma satu doang, udah gak usah dipikirin. Mending kita nonton Gibran CS latihan. Gue mau lihat body mereka yang aduhai."


"Kayaknya yang tadi itu bukan anak sini deh, gue gak pernah lihat soalnya."


"Mungkin cuma mau lihat basket aja."


"Mungkin."


Para wanita ber-make up tebal itu berjalan menuju tempat duduk para pemain dan mendudukinya.


"Halo kak, ketemu lagi," sapa Arum sok ramah pada mereka bertiga.


"Hai dek. Kamu disini juga, kakak kira di atas."


"Enggak kak, aku dititipin tas sama pacar aku. Takut nanti dia butuh," jawab Arum tanpa mengatakan jika pacarnya adalah Gibran.


Tanpa banyak tanya mereka melihat latihan basket para pemain dari kampus mereka yang akan ikut turnamen.


Sorak para mahasiswi terdengar sangat jelas hingga membuat Arum sedikit kesal. Entahlah mungkin ia akan PMS, apalagi saat mendengar ada yang mengatakan cinta gibran, cinta Gibran.


"Sok banget."


Gibran yang merasa di soraki itu langsung mencari keberadaan Arum dan akhirnya ia menemukan Arum ada di kursi pemain seraya membawa tas miliknya.


"Aaa Gibran lihat kesini dong. Astaga pasti dia lagi lihat gue yang cantik ini," pekik wanita yang ada di samping Arum.


"Enggak dia lihat ke gue, say. Secara gue yang paling cantik."


"Enak aja, gue juga disini ya. Pasti Gibran lihat ke gue."


"Halah cuma dilihat doang kayak cacing kepanasan, gue yang tiap hari pegangan B aja," batin Arum mengambil tisu basah itu dan mengusapkan ke wajahnya.


Entah kenapa ia jadi gerah saat ini, entah karena panas ataupun karena kesal dengan wanita wanita yang mengidolakan sang pacar.


Akhirnya Arum melepaskan jaket yang dipakainya. Kemudian meletakkannya di atas tas Gibran.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2