
Happy reading
Pukul 6 lewat 15 menit mobil Papa Sandi baru saja sampai di rumah besarnya. Mama Tiya, Arum dan Gibran yang masih menunggu papa Sandi pulang itu langsung menoleh ke arah luar.
"Papa pulang."
"Loh ada Gibran juga, tumben sampai jam segini belum pulang ada apa?" tanya Papa Sandi dengan santainya meletakkan kresek berisi martabak pesanan sang istri itu di meja.
Bukan apa-apa Papa sandi bertanya seperti itu jika Gibran sampai menunggunya pulang itu berarti ada yang ingin laki-laki itu katakan.
"Anu pah."
Sebelum papa dan Gibran memulai pembicaraan Mama Tiya terlebih dahulu menyelanya.
"Papa mandi dulu, mama udah siapin air hangat buat papa setelah itu turun dan makan malam pasien anak-anak sudah nungguin kamu lama," ujar Mama Tiya pada sang suami.
Tak enak rasanya, dalam keadaan kotor seperti ini. Apalagi Papa sandi baru pulang kerja.
Kata sandi yang mendapat teguran dari sang istri itu mengalahkan kepalanya kemudian mengecup kening Mama Tiya dengan lembut.
"Papa ke atas dulu ya nak, Ma."
"Iya."
Sepeninggalan papa Sandi ke kamarnya, kini Mama Tiya mengajak kedua anaknya untuk menuju meja makan terlebih dahulu. Apalagi Gibran sudah menunggu Papa sandi sejak pulang sekolah tadi. Bahkan Arum yang tadinya mengajak untuk jalan-jalan ke taman komplek juga sudah pulang dan bergabung dengan dirinya yang duduk di depan televisi.
"Ayo ke meja makan aja, kalian pasti sudah lapar menunggu papa kan."
Mereka bertiga berjalan menuju meja makan yang sudah tersedia banyak makanan request Mama Tiya yang sedang ngidam.
"Gak di kafe gak di rumah, banyak banget makanan. Padahal orang yang makan cuma sedikit," gumam Arum hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tapi ya ingat kembali jika mamanya kini sedang hamil muda yang pasti akan semakin sering makan dan ngemil. Arum masih sedikit tak percaya jika sekarang ia akan menjadi seorang kakak.
Gibran yang kebetulan berada di samping sang kekasih itu mendengar gumaman dari harum yang membuat dia hanya tersenyum kemudian mencuri ciuman di pipi sang pacar.
Untung Mama ada di depan mereka jadi tidak melihat apa yang dilakukan oleh Gibran ke Arum.
"Ishh kamu mah," lirih Arum menatap Gibran yang santai tanpa beban berjalan menuju kursi itu.
"Ayo sayang, sini."
Gibran menyiapkan kursi untuk sang kekasih, hal sederhana itu mampu membuat Mama Tiya yang sudah duduk tersenyum.
Tak lama menunggu akhirnya Papa sandi turun dari kamar sudah segar kembali. Apalagi rambutnya yang masih setengah basah membuat tampilan laki-laki itu terlihat tampan di mata Mama Tiya yang notabene adalah istri Papa sandi.
"Maaf nunggu lama," ucap Papa pada mereka.
Laki-laki itu duduk di kursi yang biasanya dia digunakan. Papa sandi yang melihat Mama Tiya terbengong melihat dirinya itu hanya tersenyum. Kemudian ia meraih tangan sang istri dan menciumnya.
"Jangan bengong, Ma. Kayak gak pernah lihat papa aja," ucap Papa Sandi membuyarkan lamunan sang istri.
Arum dan Gibran yang mendengar ucapan papa tertawa dengan pelan. Mama Tiya yang malu itu kemudian menepuk pelan lengan suaminya.
"Ish malu lah."
__ADS_1
"Mereka juga paham ma."
Tak ingin memperpanjang hal ini Mama Tiya menyuruh mereka untuk makan dulu. Papa sandi yang melihat porsi makan Mama Tiya yang tak biasanya itu bingung tapi ia membiarkannya. Mungkin istrinya itu sedang lapar menunggunya, tapi kan tadi sudah Papa bilang ada meeting hingga tak bisa makan di rumah.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, kini masih di ruang makan mereka masih menikmati makanan penutup yang dibuat oleh Mama Tiya tadi.
"Tumben Mama bikin banyak makanan hari ini? Kenapa?" tanya Papa pada sang istri.
"Pengen aja."
Arum menatap Gibran seolah menyuruh Gibran untuk mengatakan hal yang mereka rencanakan tadi pada Papa sandi. Arum berharap sang Papa bisa mengizinkan dia untuk Healing, karena ia juga butuh refreshing setelah ujian.
Gibran yang paham akan kode yang diberikan oleh sang kekasih itu. Mulai menarik nafasnya.
"Pa, ada yang mau Gibran bicarakan," ucap Gibran yang membuat tatapan Papa Abi mengarah pada kedua anaknya.
"Iya, kenapa? Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Gibran mau minta izin untuk membawa Arum ke Bali minggu depan. Kita nggak berdua kok gak ada teman-teman Gibran dan Arum yang ikut," ucap Gibran dengan jujur terus terang meminta izin pada Papa Sandi adalah ketakutan tersendiri untuk Gibran. Walaupun mereka sudah kenal dan cukup akrab selama ini.
Papa Sandi tak bereaksi apa apa, tampaknya laki laki itu masih berpikir. Diamnya Papa sandi membuat mereka ang ada disana hanya bisa harap harap cemas. Apalagi Arum yang selama ini jarang mendapat izin keluar jika jauh. Apalagi ini ke Bali.
"Pa."
Suara lembut Mama Tiya membuat mereka langsung menatap Mama Tiya. Wanita cantik di usianya itu tampak memegang tangan suaminya yang berada di atas meja.
"Biarkan mereka jalan jalan mendinginkan otak mereka, Arum baru selesai ujian. Tak mungkin kita mengurung anak kita di sini. Lagi pula di Bali juga dia tidak sendiri melainkan ada banyak teman-temannya dan juga Gibran yang dapat melindungi Arum. Sudah cukup selama ini kita mengekang anak gadis kita untuk tetap di rumah biarkan dia menikmati suasana alam yang berbeda," ucap Mama Tiya dengan lembut membujuk sang suami agar mengizinkan sang putri healing.
Papa Sandi tersenyum mendengar ucapan sang istri itu. Ia menganggukkan kepalanya dan menatap mereka.
Tentu saja ancaman Papa Sandi tak akan pernah main main, apabila mereka melanggar pasti akan mendapat sangsi yang berat.
Perkara kasus kemarin mereka berada di kamar Arum saja membuat Papa Sandi mendiamkan putrinya itu berhari hari dan juga yang sakunya di stop berberapa Minggu. Untungnya masih ada uang dari Gibran yang tentu saja mencukupi kebutuhannya.
"Terima kasih, Pa. Arum sayang papa," ucap Arum memeluk tubuh Papanya dari samping.
"Sama sama sayang, jaga diri baik baik. Jangan berbuat yang tidak tidak selama disana. Kamu tahu kan di sana kota orang dan kita juga gak ada kerabat yang tinggal disana," ucap Papa pada sang putri.
"Iya Pah."
Gibran yang melihat hal itu tersenyum, dia lega karena memperoleh izin dari calon mertuanya. Itung itung jalan jalan di kota orang, apalagi fiew di Bali itu sangat indah menurut google maps.
"Makasih Pah, Gibran janji akan jaga Arum sebaik mungkin," ucap Gibran pada Papa sandi.
"Iya nak. Kamu nginep sini atau pulang?" tanya Papa Sandi pada calon menantunya.
"Emm Gibran pulang aja Pa. Lagipula belum malam banget juga," jawab Gibran pada Papa Sandi.
Untung Gibran sudah mandi dan berganti pakaian tadi, yah karena Gibran juga sering menginap di rumah Arum jadi baju bajunya ada di rumah ini. Kalaupun tidak ada masih ada baju baju Naufal di kamarnya.
"Gak nginep aja nak?" tanya Mama Tiya pada Gibran.
"Enggak ma, kapan kapan aja Gibran nginap."
Walaupun begitu, Gibran akan pulang ke rumah nanti sekitar jam setengah 8 malam. Karena ia masih ingin apel di rumah sang pacar.
__ADS_1
Entahlah setiap hari bertemu bukannya bosan mereka bersama tapi jika satu hari saja mereka tak bertemu itu rindunya tak tertahankan. Alay? Yah itulah mereka. Tolong maklumin aja.
"Ya sudah kalau begitu," ujar Mama Tiya tak bisa memaksa. Kalau calon mantunya itu mau ingin menginap juga tak apa apa.
Setelah menghabiskan makanan penutup itu, Gibran dan Arum pamit pada Mama dan Papanya.
Melihat anak dan calon menantunya menjauh membuat Papa dan Mama menggelengkan kepalanya.
"Memang anak muda, jiwa mesranya lagi besar besarnya," ucap Papa menyuapkan satu buah anggur ke mulutnya sebagai penutup hidangan hari ini.
"Kayak gak pernah muda aja," jawab Mama Tiya. memanggil bibi dan menyuruh membawa piring piring kotor yang ada di meja makan. Begitupun Mama Tiya yang ikut membantu, walaupun ada berberapa pelayan disana.
"Mama udah istirahat aja, kan ada bibi."
"Gak apa apa, cuma ini kok. Lagian Mama hari ini juga gak ngapa ngapain," jawab Mama tersenyum seraya mengelap meja makan itu.
Papa Sandi menggelengkan kepalanya kemudian menyuruh bibi menggantikan pekerjaan sang istri. Sedangkan Papa Sandi membawa sang istri untuk duduk di sofa empuk itu kemudian menyetel televisi.
****
Gibran dan Arum kini berada di balkon kamar Arum, seraya menatap bulan dan bintang di atas sana.
"Aku gak sabar deh yank, kita tiap malam berdua gini. Peluk pelukan dalam satu selimut," ucap Gibran menggeratkan selimut yang menutupi tubuh mereka. Dinginnya malam masih tetap ada walaupun di daerah perkotaan.
Tapi dingin itu sudah teratasi dengan pelukan Arum dpada tubuhnya dan juga selimut tebal yang dibawa itu. Harum parfum di selimut itu membuat mereka betah.
Sebenarnya mau dibilang masih magrib tidak juga, ini sudah memasuki waktu isya'. Dan Gibran ingin menghabiskan waktunya bersama sang kekasih dulu sebelum pulang ke rumah orang tuanya. Tenang saja Gibran sudah dapat izin dari Mama dan papanya.
"Tunggu dulu nikah, baru kamu bebas apa apain aku. Bahkan kalau kita udah nikah aku gak akan nolak buat bergadang sama kamu," jawab Arum menggoda sang pacar. Arum tahu pemikiran Gibran tak jauh jauh dari 1821 jadi ia hanya memanfaatkan hal itu agar tak bosan.
"Aku pegang omongan kamu. Setalah menikah kita akan bergadang terus sampai kamu gak bisa berjalan," ucap Gibran mencubit pipi sang pacar karena terlihat menggemaskan berada di atas dadanya itu.
"Auhh sakit tahu, kamu mah gak bilang bilang kalau mau cubit," ujar Arum menggeplak perut Gibran.
"Kamu juga sama."
Mereka kembali ke suasa awal, hening seraya Arum yang menikmati degup jantung Gibran yang sangat terasa di telinga Arum.
Arum mendongakkan wajahnya dan menatap mata sang pacar dengan lembut. Gibran pun menatap Arum dangan senyum kemudian mengecup bibir Arum dengan lembut. Kecup? Emm sepertinya sudah sampai ke tahap ciu man yang menuntut.
Cups
"Emmhh."
Suasana dingin membuat mereka seakan lupa daratan, Arum tak menolak apanyang dilakukan Gibran hingga membuat laki laki itu tersenyum mendengar suara seksoy sang pacar.
"Ahh."
Plup
Tatapan mereka saling beradu, dengan wajah yang memerah membuat Gibran gemas dengan sang pacar. Laki laki mengusap bibir basah Arum dengan lembut hingga membuat sang empu menegang merasakan usapan itu.
"Ihh malu."
Gibran tertawa mendengar reaksi Arum, gadis polos yang sekarang tak lagi terlalu polos. Gibranlah gurunya.
__ADS_1
Bersambung