
Happy reading
Arum yang sedang berada di kelas itu mendapatkan pesan dari Gibran.
GibranLV
Aku tunggu di depan gerbang!
Arum yang bingung itu ingin membalas tapi saat melihat tanda seru di akhir pesan itu membuat ia berpikir ada yang tidak beres dengan Gibran.
Arum langsung mengangkat tangannya dan izij pada guru yang mengajar disana.
"Bu Lily yang cantik, Arum izin keluar ya," ucap Arum dengan begitu lembut.
"Mau kemana Arum? Pelajaran saya belum selesai ini," ucap Bu Lily dengan tegasnya.
"Sakit perut bu, datang bulan pertama."
"Ih ya sudah langsung ke UKS ya, minta obat pereda nyeri sama yang jaga," ucap Bu Lily dengan lembut.
Pada dasarnya Bu Lily itu tegas tapi lembut. Tak tegaan jadi guru makanya banyak di manfaatkan oleh para siswa yang ada disana.
"Siap Bu."
Arum yang ingin bangkit dari duduknya itu langsung ditahan oleh Aldo, Arum menatap Aldo dengan bingung.
"Kenapa?" tanya Arum.
"Gue temenin ya," pintanya dengan senyum.
"Gak usah, lagian gue berani kok."
Tanpa menunggu jawaban dari Aldo, Arum langsung pamit pada Bu Lily keluar dari kelas menuju gerbang yang jarangnya lumayan jauh.
Ia juga harus mengendap endap karena tak mau ketahuan oleh guru guru yang mengajar. Tanpa disadari jika Aldo melihat apa yang dilakukan Arum.
"Ternyata lu gak sakit," gumamnya melihat Arum yang mulai membuka gerbang. Kemudian ia kembali ke dalam kelas, karena ia sudah tahu kemana Arum pergi apalagi bersama Gibran.
"Bapak satpam yang baik, ini Arum ada yang buat beli bapak kopi."
"Tapi neng, nanti kalau guru BK lihat gimana?"
"Ngomong aja Arum ada urusan sama kakaknya," jawab Arum dengan tergesa gesa.
Akhirnya mau tak mau pak satpam itu langsung membukakan pagar itu. Gibran yang menunggu Arum itu hanya bisa terdiam dengan helm yang masih terpasang di kepalanya.
"Naik."
Tanpa disuruh dua kali, akhirnya Arum naik ke atas motor tanpa memakai helm karena ia tahu saat ini Gibran sedang tidak baik baik saja. Dan ia sangat diperlukan oleh sang kekasih.
__ADS_1
Motor itu langsung melaju dengan kecepatan kencang setelah Arum naik ke atas motor. Pak satpam yang melihat itu hanya menggeleng.
"Dasar anak muda jaman sekarang," ucapnya kembali duduk di tempatnya seraya meminum kopi buatan Bu kantin.
***
Arum memeluk tubuh Gibran dari belakan, sedangkan Gibran kini sudah fokus pada jalan raya tak memperdulikan tangan Arum di perutnya.
Hingga sampailah mereka di sebuah apartemen yang sudah tak asing bagi Arum. Apartemen milik Gibran yang selalu digunakan untuk tempat mereka bersantai jika pening.
"Ayo."
Gibran melepaskan helmnya dan menggandeng tangan Arum ke unit apartemen mereka. Arum patuh dan heeh saja di ajak itu.
"Sayang," panggil Arum saat mereka berada di lift.
"Hmm."
"Are you oke?" tanya Arum seraya memeluk tubuh Gibran dengan hangat. Gibran hanya bisa membalas pelukan itu tanpa malu membalas pertanyaan Arum.
Lift itu terbuka, hingga membuat keduanya berjalan menuju kamar mereka. Laki laki itu menarik tangan Arum dengan tidak sabaran.
Setalah masuk, Gibran menuntun Arum untuk duduk di sofa kemudian ia memeluk tubuh mungil itu dengan lembut.
Tak ada yang bisa diucapkan oleh Gibran, Laki laki itu hanya perlu pelukan hangat dari sang kekasih. Karena Arum adalah obat sekaligus penyakit untuk Gibran.
"Aku gak tahu kamu kenapa, tapi kamu pasti sedang gak baik baik aja kan?" tanya Arum dan dijawab deheman oleh Gibran.
"Aku gak maksa kamu buat cerita, aku akan nunggu kamu siap."
Arum dengan telaten mengelus rambut itu membiarkan Gibran memeluknya hingga puas. Tak ada yang bisa ia lakukan jika sedang seperti ini.
Arum jarang bolos gara gara Gibran, tapi sekali bolos pasti Gibran sedang tidak baik baik saja. Pasti ada masalah di kampus begitulah pikir Arum.
"Aku rela bolos lagi demi kamu, sayang. Udah ya peluknya. Emang kamu gak laper? Gak mau aku buatin makanan kesukaan kamu?" tanya Arum memancing semangat Gibran.
"Aku maunya dipeluk aja."
"Loh tumben, kamu gak mau aku masakin?" tanya Arum.
"Tadi pagi udah sarapan."
Ngek
Benar juga, ini masih jam setengah 9, tak mungkin mereka sarapan lagi. Apalagi Arum tadi sudah makan banyak di rumah.
"Ya sudah kalau begitu."
30 menit
__ADS_1
50 menit
1 jam
Sudah 1 jam berlalu tapi Gibran belum juga mau melepaskan pelukannya. Bahkan Arum kini sudah merasakan pegal di badannya. Jangan lupakan kakinya sudah kesemutan saat ini.
"Sayang, kamu tidur ya?" tanya Arum.
"Enggak."
"Peluknya di kamar ya sayang. Aku capek," ucapnya yang langsung membuat Gibran melepaskan pelukannya.
"Maaf," ucap Gibran dengan sedih.
Entahlah jika seperti ini Gibran ingin sekali menangis, tapi ia tak bisa. Selalu ada yang membuatnya tak menjatuhkan air matanya lagi.
"Hei hei, gak apa apa. Aku cuma capek tadi jalan dari bawah. Lebih enak kan kalau kita di kamar bisa selonjoran," ucap Arum membayangkan betapa empuknya kasur milik mereka.
Gibran yang mendengar itu langsung menarik sofa itu hingga sekarang berbetuk sebuah tempat tidur. Arum lupa dengan hal ini, gadis itu tersenyum kemudian mengelus pipi gibran.
"Udah siap cerita?" tanya Arum yang di balas gelangan oleh Gibran.
"Kapan kamu siapnya?" tanya Arum seraya meletakkan bantal itu di sisi sofa hingga kini ia sudah berbaring.
"Sini tidur," ucap Arum merentangkan tangannya yang membuat Gibran langsung masuk ke dalam pelukan sang pacar.
"Uhhh sayang."
Gibran menikmati elusan tangan itu seraya merancang kata kata yang ingin ia bicarakan pada Arum agar gadisnya itu tak marah.
"Sayang," panggil Gibran yang di balas deheman oleh Arum.
"Tadi....
Gibran mulai menceritakan apa yang sudah ia lakukan pada Lidia dan juga apa yang sudah ia dapat selama ini. Arum menyimak apa yang diceritakan oleh Gibran.
Tak heran kenapa sikap arogan Gibran kembali kambuh. Ia dulu juga sudah tahu tentang hal ini, Arum cukup senang saat Gibran kebajikan dirinya sebagai penenang karena dengan begini hubungan mereka makin dekat dan erat.
"Aku gak salah kan?" tanya Gibran.
Pasalnya ia laki laki yang memiliki pacar dan juga punya ibu, tapi hari ini ia sudah mempermalukan Lidia bahkan membuat wanita itu menangis.
"Gak salah kok, lagian Lidia juga sudah keterlaluan. Aku pikir dia cuma neror aku doang. Tahunya malah banyak yang kami ketahui, apa selama ini kamu juga membawa bodyguard bayangan buat aku?" tanya Arum dan dianggukkan oleh Gibran.
"Astaga."
"Aku cuma mau kamu baik baik aja tanpa Lidianyang neror kamu."
Bersambung
__ADS_1