Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Ajakan Menikah


__ADS_3

Happy reading


Arum tersenyum, walaupun secara diam diam ia tahu laki laki ini sangat menyayanginya. Gibran tak mungkin mengatakan hal ini secara terang terangan padanya.


"Udah jangan kayak gini, aku gak suka. Lagipula semua udah terlanjur terjadi, walau kamu tidak memberitahu sama aku," jawab Arum mengelus rambut lembut itu


Gibran yang dipeluk itu tersenyum dengan manis, rasanya ia yang tadi sangat berat memikul beban kini mulai terasa ringan.


"Berapa bodyguard yang kamu siapkan?" tanya Arum dengan pelan.


"Emm sekitar 4 orang, tapi kamu tenang aja semua udah nyamar kok. Gak akan ada yang tahu kalau mereka adalah bodyguard bayangan," jawab Gibran yang tak mau Arum marah padanya.


"Makasih ya. Aku tahu kamu sayang sama aku, tapi gak perlulah kamu sewa bodyguard sampai 4. Cukup 1 atau 2 aja," ucap Arum yang tak mau sampai orang orang curiga siapa dia sebenarnya dan juga Gibran. Karena hanya orang orang tertentu yang tahu siapa mereka berdua.


"Gak bisa sayang, bodyguard 4 itu sudah gak bisa diganggu gugat. Lagipula mereka gak akan dikenali banyak orang, mereka hanya mengawasi kamu."


Jika sudah seperti ini maka Arum juga tak bisa menggangu keputusan Gibran. Satu informasi yang akan Tya beri pada kalian. Gibran ada cucu dari seorang pembisnis yang sangat sukses pada masanya. Gibran adalah cuci tunggal yang otomatis semua bisnis kakeknya akan jatuh ke tangan Gibran. Sedangkan Papa Abi memiliki perusahaan yang di bagus bersama istrinya dulu.


Banyak musuh yang mengintai keluarga Gibran, bahkan dulu Gibran hampir mati karena mereka tahu jika kakek miliki cucu yang masih kecil.


Bisnis kakek bukan hanya bisnis legal tapi juga ilegal. Kakek memiliki bisnis pembuatan senjata yang di larang diperjual belikan di negara ini. Alhasil senjata itu di jual secara ilegal di negara lain.


Maka tak heran jika banyak musuh di sekeliling mereka, jika para musuh keluarga Gibran tahu jika Gibran memiliki pacar tentu hal itu membuat mereka menyerang Arum.


"Iya iya aku terima."


Gibran mengangguk kemudian kembali memeluk tubuh Arum yang sedang berbaring.


"Kamu tahu gak yank?"


"Gak tahu."


"Ck aku belum bilang," ucap Gibran berdecak kesal.


Arum hanya tersenyum kemudian meminta kiblat untuk melanjutkan ucapannya.


"Keysha hamil, Yanti bakal punya ponakan yank," ucap Gibran yang kini mulai membahas sahabatnya.

__ADS_1


"Ya bagus dong kalau gitu, emang kenapa kalau Yanti bakal punya keponakan kamu iri? Kan kakak aku juga bakal punya anak, dan kita juga punya keponakan ," jawab Arum dengan polosnya.


"Ishh kamu kok jadi gak peka sih yank. Aku mau kita nikah dan punya anak juga, masa aku kalah sama Reno?"


Arum yang mendengar itu langsung tertawa dengan kencangnya. Bagaimana bisa Gibran memikirkan hal yang sama sekali belum terpikirkan olehnya. Nikah? Punya anak? Masih terlalu muda untuk menikah dan mempunyai anak usianya masih 17 tahun OTW 18 tahun. Rasanya belum siap untuk mengemban status baru seperti istri.


Gibran yang melihat sang kekasih tertawa itu bingung, memangnya ada yang lucu?


"Kenapa? Kamu gak mau nikah sama aku?" tanya Gibran dengan penasaran.


Arum mulai menghentikan tawanya kemudian menatap Gibran. Sepertinya Gibran mengatakan hal itu dengan serius, Arum tak mendapati raut bercanda dari Gibran yang mengajaknya menikah.


"Dengerin aku ya sayang, aku masih SMA sedangkan kamu masih kuliah semester 2, apa tidak terlalu cepat jika memutuskan untuk menikah saat ini hmm? Apalagi kamu bilang ingin memiliki anak? Aku pernah baca artikel seorang siswi SMA meninggal setelah melahirkan anaknya yang hadir di luar pernikahan."


Terlihat wajah Gibran yang terkejut mendengar ucapannya itu. Gibran emang tak tahu resiko dari anak di bawah umur yang hamil duluan. Yang ia tahu adalah enaknya menikah dan juga memiliki anak yang lucu-lucu pasti sangat membahagiakan walau mereka masih sekolah.


"Kamu tahu penyebabnya?" tanya Arum dan dijawab gelengan kepala oleh Gibran.


"Karena siswi itu belum siap untuk memiliki anak, mintanya belum sepenuhnya kuat untuk menjalani hari-harinya sebagai ibu dan istri. Rahim diusia usia remaja masih sangat lemah untuk menampung janin dan bayi."


"Kalau kamu mau menikah setidaknya tunggu sampai kita berdua benar-benar siap. Bilang begini bukan berarti aku tidak mau menikah dengan kamu, Aku ingin bahkan sangat ingin, membayangkan saat kita tua ditemani anak dan cucu kita pasti sangat membahagiakan."


Gibran membenarkan ucapan Arum, laki-laki itu tidak berpikir sejauh itu. Ternyata pemikiran Arum sangat dewasa, ia pikir gadis itu masih kecil.


"Maaf aku tak berpikiran sampai kesana."


"Sekarang kita jalani hubungan kita seperti biasa, suatu saat nanti jika kita memang benar-benar berjodoh kita pasti bersama menjadi suami istri."


"Harus berjodoh."


"Yaaa, jika hubungan kita berlanjut sampai berapa tahun ke depan dan aku udah siap untuk menikah, aku yang akan memintanya pada kamu," ucap Arum mengelus lembut rambut sang kekasih. Gibran mengangguk dengan semangat kemudian kembali memeluk tubuh mungil itu.


****


"ARGHHH sialan!!!"


Lidia saat ini berada di apartemen miliknya yang dihadiahkan oleh sugar daddynya. Apa yang dikatakan oleh Gibran tak ada yang meleset semuanya benar, ya memang bukan wanita yang suci dan baik seperti pacar Gibran.

__ADS_1


Hidupnya penuh dengan laki-laki yang kurang berlaian. Tapi itu yang bisa membuat dia hidup, orang tuanya bahkan tidak peduli dengan hidupnya yang berantakan ini.


"Gue harus gimana? Pasti pihak kampus akan mengeluarkanku dari kampus," gumamnya dengan frustasi.


Tak ada yang bisa ia minta tolong untuk saat ini, satu-satunya laki-laki yang bisa menolongnya tidak berada di negara ini untuk saat ini.


"Apa gue harus keluar dari kampus itu?" tanya Lidia dengan suara pelannya.


Sebelum yang mendapat surat dari kampus ia harus mengundurkan diri dari kampus itu. Jadi pastikan jika ia dikeluarkan dari kampus itu banyak universitas yang tidak mau menampung dirinya.


Lidia putuskan besok ia harus datang ke kampus dan mengundurkan diri dari kampus.


Drrtttt


Daddy


"Halo."


"Baby kamu gak apa apa kan?" tanya laki laki dari seberang pada Lidia.


"Aku kenapa napa Daddy, aku gak mau disini. Aku mau ikut Daddy," ucap Lidia yang kini mulai menangis di sana.


Sejujurnya Lidia adalah wanita yang sudah hancur sejak 4 tahun yang lalu. Lidia yang awalnya sangat ceria dengan penuh canda tawa kini harus kehilangan semua itu.


"Daddy akan pulang hari ini hmm. Dan Daddy akan ajak kamu tinggal disini," ucap Daddy yang tak lain adalah sugar daddynya.


Hanya laki laki ini yang mau dengan dirinya yang kotor, laki laki ini pula yang sudah mengambil dirinya dan juga memberi kasih sayang penuh dari orang tua dan juga pasangan. Serta laki laki ini yang sudah mengambil keper***annya.


"Aku tunggu hiks."


Setelah beberapa saat berbincang di telepon itu, akhirnya keduanya memutuskan sambungan telepon itu.


Lidia kesel, marah, sedih, dan kecewa dengan dirinya sendiri. Sudah ada laki laki yang begitu tulus dengannya tapi kenapa ia masih belum puas juga.


"Daddy, maafkan Lidia."


Video menjatuhkan tubuhnya di sofa apartemen itu jangan tangis yang tidak kunjung mereda. Ia berharap saat bangun nanti Daddynya sudah berada di sampingnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2