
Happy reading!
Gibran yang melihat bibi lewat di belakang mereka itu meminta air es pada bibi untuk mengompres mata Arum yang sedikit sipit.
"Kayak orang cina ya, yank. Kalau gini?" tanya Arum mengambil cermin kecil yang ada di saku baju piyama itu.
Memang tak ada malu malunya Arum ini, padahal diapeli pacarnya. Kalau cewek cewek pada umumnya, pacarnya Dateng itu langsung dandan cantik lah ini boro boro dandan mandi aja belum.
"Sedikit sih, tapi tetap cantik," ucap Gibran mengusap mata Arum.
Memang Gibran ini mencintai Arum apa adanya bukan ada apanya. Karena laki laki ini tak ilfil atau jijay walaupun pacarnya ini belum mandi.
Tak lama bibi kembali ke rumah tamu membawa baskom berisi es batu dan juga handuk kecil ditangannya.
"Makasih ya Bi."
"Sama sama den."
Sepeninggalan Bibi, Gibran langsung mengambil handuk itu dan mulai mengompres pelan mata Arum agar sedikit menyusut, tidak seperti tadi yang bagaikan hilang bola matanya.
"Orang Cina itu yang di drama-drama cantik-cantik pas matanya sipit-sipit gitu. Kalau aku matanya sipit pasti jelek banget ya," ucap Arum menerima apa yang dilakukan oleh Gibran.
"Nggak jelek sayangnya, ya kamu tetap cantik dengan apa adanya dirimu. Mau mata sipit kayak tinggi pendek tetep aja di mataku kamu yang tercantik," jawab Gibran dengan senyum manisnya.
Laki-laki itu memang sangat pandai merayu, untung yang Gibran rayu hanya Arum jika wanita lain sudah pasti harum akan marah besar dengan laki-laki itu.
"Dasar gombal banget."
"Serius sayang."
Setelah beberapa saat Gibran mengompres mata Arum, Gadis itu memutuskan untuk naik ke atas dan mandi. Tidak bagus banget anak perawan jam 8 pagi belum mandi apalagi ada pacarnya yang ngapel kenrumah. Biasanyakan mandinya pagi pas mau sekolah berhubung ini libur nanti minta jalan jalan.
Gibran menunggu Arum di ruang keluarga dengan memainkan ponsel mahalnya. Memangnya iya ingin ngapain lagi di sana nggak ada temannya, Naufal dan Cika juga ada di halaman belakang bersama mama dan papa.
Drrttt
__ADS_1
"Tumben mama telepon ada apa?" tanya Gibran saat melihat nama siapa yang tertera di ponselnya itu.
Tanpa menunggu lama Gibran mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo ma, tumben telepon."
"Gib, kamu pesen paket ya?" tanya Mama dari seberang.
"Enggak ma. Kenapa?"
"Di rumah ada paket Nak. Mama gak tahu dari siapa kata kurirnya tadi atas nama Gibran gitu. Mama pikir kamu pesen paket ya Mama terima," jawab Mama dari seberang.
Gibran yang bingung itu mengingat-ingat kembali apa dirinya tanpa sadar mencekout sesuatu di online shop. Tapi seingatnya terakhir kali Gibran mencekout barang itu berberapa bulan yang lalu itupun Arum yang cekout bukan dirinya.
"Emm jangan dibuka ya ma. Biar Gibran pulang dulu dan pastiin itu paket apaan," ucap Gibran dan dianggukkan oleh Mama dari seberang walaupun tak terlihat oleh Gibran.
"Ya, kamu masih di rumah Arum?" tanya Mama sebelum panggilan itu dimatikan.
"Masih ma, kenapa?"
Gibran yang mendengar itu hanya berdecak malas, jika Gibran mengajak Arum pulang ke rumahnya sudah bisa dipastikan jika Mama Anin akan memonopoli sang kekasih.
"Gak janji, wong hari ini aku mau jalan sama Arum," ucap Gibran dengan lirih tapi masih bisa di dengar oleh Mama Anin.
"Gak ada jalan jalan, kamu harus bawa Arum ke rumah. Lagian kamu juga harus buka paket yang ada di rumah ini kan."
"Hmmm nanti aku pikirin lagi," ucap Gibran pada sang ibu.
Setelah berberapa saat panggilan itu berlangsung, Gibran mematikan ponselnya dan kembali menyandarkan badannya di sofa itu seraya menunggu Arum.
Tak lama Arum keluar dari kamar dengan pakaian santainya. Hanya memakai kaos oblong berwarna putih dengan gambar hello kitty di samping kiri dan juga hotspant bewarna putih tulang yang hampir tertutupi oleh kaos yang dipakai.
"Maaf lama, biasalah cewek kan kalau mandi suka lama," ucap Arum duduk disamping Gibran dengan santainya kemudian mengambil buah apel yang ada disana dan memakannya.
Gibran yang melihat pacarnya sudah cantik dan tidak sembab seperti tadi itu langsung mengelus lembut rambut Arum. Walau keinginan untuk mengacak acak rambut Arum sangat besar tapi ia tahan, tak mungkin ia membuat mood Arum berantakan hari ini.
__ADS_1
"Yank," panggil Gibran yang kini mengalihkan kepalanya ke pundak Arum.
"Hmm. Mama nyuruh aku buat ajak kamu ke rumah, mumpung libur sekolah kan," ujar Gibran dan dianggukkan oleh Arum.
"Yaudah ayo, mumpung aku udah gak sedih lagi," jawabnya yang langsung bangun dari duduknya tak menghiraukan Gibran yang oleng karena Arum tiba tiba berdiri.
"Sayang," rengek Gibran dengan kesal.
Arum yang masih memegang apel itu langsung tertawa melihat posisi sang kekasih yang miring ke kanan itu. Kemudian Arum membantu Gibran untuk duduk seperti semula kemudian mengelus kening Gibran walaupun ia tahu itu tak sakit.
"Maaf ya sayang. Aku antusias banget mau ketemu mama, lagian kemarin mereka ke sini tapi kita ada masalah itu."
"Hmm. Tapi dibolehin gak ya sama Mama dan Papa kamu yank?" tanya Gibran pada Arum.
Sedikit banyak mereka takut jika kejadian kemarin akan menjadi kecanggungan di keluarga mereka. Gibran juga setelah merenung di rumah kemarin juga sedikit canggung dan malu apalagi dipergoki dengan calon mertua.
"Dibolehin kok, kan kita juga mau ke rumah kamu bukan ke hotel atau penginapan," jawab Arum berjalan menuju kamarnya dan mengambil cardigan.
"Ayo."
"Pamit dulu sama Mama dan Papa. Apalagi ada kakak kakak kamu," ucap Gibran dan dianggukkan oleh Arum.
Mereka berjalan menuju halaman belakang dan pamit kepada keluarga Arum, jika mereka akan ke rumah mama Anin. Ternyata Mama Ani sudah menelpon kedua orang tua Arum jika Mama Anin ingin bertemu Arum. Alhasil keduanya pun mendapat izin dari kedua orang tuanya dan juga kakak-kakaknya.
"Padahal kakak mau ajak kamu ke mall dek," ucap Cika dengan wajah dibuat sedih.
"Kan kakak mau sebulan lagi di Indonesia."
"Mama ada, kakak kamu cuma mau 1 Minggu doang. Kan dia masih kuliah," ujar Cika dengan lembutnya menatap sang suami.
"Nanti kalau kalian menikah kakak bakal pulang lagi. Walaupun gini Kakak juga mau cepet lulus dan bantuin papa di kantor. Apalagi sekarang kakak punya tanggung jawab sekarang untuk menghidupi istri dan calon anak kakak yang saat ini masih ada di dalam perut kakak kamu ini," ucap Naufal mengelus perut sang istri.
Mereka yang melihat keromantisan dan tanggung jawab Naufal itu tersenyum. Tak terkecuali Gibran yang notabene baru di keluarga itu.
Bersambung
__ADS_1