Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Niat Baik Lidia


__ADS_3

Happy reading!


"Gimana?" tanya Lidia yang sedang duduk di kursi kayu yang ada di balkon rumah itu seraya memegang gelas berisi wine di tangannya.


"Kamu minum ini lagi?" tanya Luke mengambil gelas itu dari tangan Lidia.


"Aku kedinginan tahu, lagipula ini kadar alkoholnya sedikit," jawab Lidia yang kembali merebut minuman itu.


Luke yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, memang susah jika sudah kecanduan minuman ini. Salahnya juga ia yang dulu memperkenalkan minuman haram ini pada Lidia.


"Anak buahku gagal menemui Gibran bahkan Arum sekalipun sangat susah untuk menghubungi mereka. Dan terakhir aku dengar adalah Gibran dan Arum akan dinikahkan oleh kedua orang tua mereka, tapi entah itu kapan," jawab Luke yang kini memeluk tubuh Lidia dari belakang.


"Baguslah kalau mereka akan menikah."


"Kamu gak cemburu?" tanya Luke seraya mengecup tengkuk leher Lidia.


"Buat apa. Berberapa hari disini aku sadar jika selama ini aku tak benar benar cinta sama dia. Aku juga udah lupain semuanya dan akan memulai hidup baru dengan kamu," jawab Lidia membalikkan badannya kemudian berjinjit dan menc1um b1bir Luke kemudian mentransfer wine yang ada di mulutnya.


Gluk


"Manis kan?" tanya Lidia dengan nada menggoda.


Luke yang baru tersadar dengan apa yang dilakukan oleh Lidia itu kemudian tersenyum dan menahan tengkuk leher Lidia dan kembali menc1umnya.


Setalah berberapa saat mereka melakukan pergulatan bib1r itu. Luke dan Lidia sama-sama tersenyum kemudian saling memeluk satu sama lain.


"Tetaplah menjadi Lidia yang manis."


"Hmm, makasih ya."


"Iya baby."


"Terus bagaimana kita meminta maaf pada mereka, apalagi besok kita sudah harus berangkat ke London. Tak mungkin kita menunda lagi, kamu juga banyak kerjaan di London kan."


Benar apa kata Lidja memang iya menunda kepulangannya ke London karena ingin meminta maaf kepada Gibran dan Arum. Tapi karena belum mendapatkan waktu yang tepat hal itu belum terlaksana.


"Emm bagaimana kalau kita kirim barang dan surat aja sebagai tanda permintaan maaf kamu. Itung-itung memberikan kado untuk pernikahan mereka sekaligus permintaan maaf kamu karena selama ini kamu sudah berniat jahat ingin menghancurkan hubungan mereka."


Lidia menimbang ucapan dari Luke. Bener juga pengen dikatakan oleh laki-laki ini. Daripada iya susah-susah ketemu mending memberikan hadiah untuk pernikahan Gibran dan Arum sekaligus memberikan surat permintaan maaf pada mereka berdua.


"Benar juga. Oke nanti aku bakal pesan barang online aja terus langsung kirim ke rumah Gibran atau Arum."


"Terserah kamu gimana baiknya. Ayo masuk ini sudah malam, gak baik buat kesehatan kamu. Apalagi aku mau cepat cepat punya anak dari kamu," ucap Luke berjalan masuk ke dalam kamar dengan menggandeng kekasih. Kekasih? Ya Lidya menerima Luke sebagai kekasihnya sejak ia sadar dengan hal yang salah dari dirinya.

__ADS_1


"Sayang, aku tanya sekali lagi kamu beneran mau punya anak dari aku?" tanya Lidia dan dianggukkan oleh Luka.


"Kalau gak beneran aku gak akan ke sini, Baby. Aku gak akan melepaskan hanya tander yang ada di London hanya untuk menemui kamu."


Luke menutup pintu balkon itu agar angin malam tak masuk ke dalam rumah. Dengan senyum manisnya laki laki itu merengkuh tubuh Lidia ke kasur.


"Tapi ..."


"Sstt berapa kali aku bilang agar tidak mengingat ingat hal itu."


"Iya iya maaf."


Luke melepas sandal yang dipakai Lidia kemudian membaringkan wanitanya itu dengan pelan.


"Mau main dulu, Baby? Biar target aku buat punya baby bisa cepat cepat terwujud?"


"Hmm boleh aja."


Dan malam ini kembali terjadi kembali adegan maju mundur oleh pasangan itu dengan sangat ahh entahlah Tya gak tahu.


Setelah melakukan adegan itu, kini pasangan itu saat ini bersandar di dashboard ranjang mereka. Lidia yang berada di dada bidang sang kekasih dengan tangan yang memegang ponsel pintar milik calon suaminya ini. Kenapa Lidia dengan berani mengatakan bahwa luke adalah calon suaminya, karena setalah kembali ke London mereka akan menikah. Laki-laki itu sudah menyiapkan itu, mereka tinggal menikah saja.


"Sayang kamu pilih yang ini atau ini?" tanya Lidia menunjukkan beberapa gaun malam yang ada di toko online itu.


"Saranku jangan ini deh baby. Kamu bisa pilih gaun yang lebih mahal. Ya walaupun tak salah sih kamu mau memberi mereka gaun malam yang ini, tapi kesannya kayak kurang sopan gitu. Kalau kamu mau kamu boleh beli tapi untuk kamu pakai sendiri," jawab Luke mengelus lembut rambut sang kekasih.


Wanita itu kembali menyecrool layar ponsel itu hingga ia menemukan benda yang cocok untuk kado pernikahan Arum dan Gibran.


Setelah meminta pertimbangan kepada luka akhirnya laki-laki itu menyetujuinya. Walaupun harganya juga tak main-main untuk barang itu, tapi itu tak masalah bagi laki-laki kaya ini. Perusahaan yang hampir bangkrut saja ia selamatkan karena gara-gara Lidya masa hanya membeli barang ini saja ia tak mampu.


Setelah memilih barang itu Lidia mengambil kertas dan pulpen dan menulis surat permintaan maaf untuk Gibran dan juga Arum.


"Semoga mereka menerima permintaan maaf aku," ucap Lidia menatap Luke yang sedang menatapnya.


"Pasti mereka memaafkan kamu jika kamu tulus."


"Heemm."


Cups


Luke meraih bib1r itu dan menc1umnya dengan lembut. Hingga membuat wanita itu terbuai karenanya.


****

__ADS_1


Keesokan harinya Gibran memutuskan untuk bertemu dengan Arum karena ia tak bisa urung uringan seperti ini terus.


Sepulang dari rumah Arum kemarin, Gibran mendapat omelan dari kedua orang tuanya. Padahal dari sudut pandangnya, yang salah bukan hanya dirinya tapi juga Arum.


Walau dirinya juga tak nolak jika harus menikah muda dengan Arum. Kebetulan sekali hari ini adalah hari libur jadi ia tak perlu masuk ke kampus.


Dari semalam juga Arum tak mengaktifkan ponselnya yang membuat Gibran tambah pusing. Bagaimana bisa menyelesaikan masalah kalau pacarnya malah diam-diaman sejak kemarin.


"Mah, Pah.. Gibran mau ke rumah Arum mau selesaiin hal yang kemarin. Nanti kalau ada apa-apa telepon Gibran aja."


Gibran pamit kepada kedua orang tuanya yang sedang bersantai di meja makan itu. Kemudian laki-laki berusia 20 tahun itu mengecup punggung tangan kedua orang tuanya dengan takzim.


"Jangan lupa bawa oleh oleh buat mereka. Kemarin ada insiden kan, jadi kamu harus memulai niat baik kamu pada keluarga mereka. Jangan sembrono lagi dan selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin," ucap Mama dan dianggukkan oleh Gibran.


"Di sana jangan melakukan hal aneh-aneh lagi atau Papa yang akan turun tangan sendiri menghukum kamu. Bukan hanya mulut yang akan bertindak jika kamu melakukan hal seperti kemarin."


"Kan ini bukan 100% salah Gibran Pah, Arum juga terlibat."


Sepertinya Gibran tak terima jika ayahnya menyalahkan dirinya atas kejadian kemarin. Tapi ia terima saja jika hal itu memang membuat kedua orang tuanya diam.


"Laki-laki yang bertanggung jawab itu menerima kesalahannya dengan lapang dada. Bukan malah melempar kesalahannya pada orang lain," ucap Papa Abi dengan tegas.


Laki laki paruh baya itu tak ingin putranya tidak memiliki sifat tanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan.


"Iya pa. Maaf, kalau gitu Gibran berangkat sekarang."


"Hmm hati hati bawa mobil," ucap Mama pada sang putra dan dianggukkan oleh Gibran.


Laki laki itu berjalan cepat menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah besar itu. Tak lupa ia mengirimkan pesan pada Arum jika ia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.


Gibran masuk ke dalam mobil itu dan menjalankan mobilnya keluar dari perkarangan rumah besar milik keluarganya.


Untungnya dalam perjalanan ia mengingat dengan ibunya yang meminta ia bawa oleh-oleh untuk keluarga Arum karena ia tak bisa datang begitu saja tanpa membawa apa-apa apalagi setelah kejadian kemarin.


Setelah membeli kue dan cemilan untuk keluarga Arum dan Arum sendiri. Laki-laki itu kembali ke dalam mobil dan meletakkan oleh-olehnya itu di kursi samping kemudi.


Tak berberapa lama akhirnya mobil miliknya sampai di depan rumah Arum yang masih tertutup. Biasanya jika waktu libur begini keluarga Arum memanfaatkan waktu mereka untuk berkumpul bersama di halaman belakang yang terdapat kolam ikan hias serta gazebo.


Ting tong


Ting tong


Pintu rumah itu terbuka dan memperlihatkan seorang gadis dengan mata yang masih sedikit sembab itu. Gadis itu adalah Arum, Arum baru saja bangun tidur dan memakan sarapannya di dapur. Iya malu untuk bergabung dengan keluarganya karena matanya yang hilang karena menangis semalam.

__ADS_1


"Sayang kamu..."


Bersambung


__ADS_2