Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Parfum


__ADS_3

Happy reading


Hari ini ada yang beda dari Gibran, laki laki itu sudai wangi sejak pagi. Entah berapa botol parfum yang di semprotkan ke bajunya hingga membuat ruang makan itu tampak penuh dengan aroma parfum milik Gibran.


"Papa gak kuat, Ma. Tolong bawakan bekal saja," ucap Papa Abi seraya menutup hidungnya.


Mama Anin langsung mengambilkan bekal untuk sang suami, karena jujur saja ia sedari tadi menahan muntah karena bau Gibran. Mama Anin bukannya hamil tapi memang tak sanggup mencium aroma wangi dari tubuh Gibran.


Sedangkan yang menjadi pikiran kedua orang tuanya malah senang santainya terus memakan nasi goreng yang masih panas itu ke mulutnya. Btw Gibran belum mengatakan pada orang tuanya jika hubungannya dengan Arum sudah kembali membaik.


"Nih Pah, jangan lupa dimakan ya," ucap Mama Anin dan dianggukkan oleh Papa Abi.


"Papa berangkat ya ma. Kalau ada apa apa langsung telepon papa, jangan dipendam sendiri," ucap Papa tak mau lama lama di ruangan itu. Tapi pandangan Papa Abi menatap Gibran yan tampak santai santai saja.


"Udah pah, dia kayaknya lagi seneng. Biarin aja," ucap Mama Anin pada Papa Abi yang langsung dianggukkan oleh Papa Abi.


Mama Anin menyalami Papa Abi dengan takzim kemudian di balas kecupan di kening oleh Papa Abi.


"Papa berangkat, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam hati hati ya Pah."


Kini hanya tinggal Gibran dan Mama Anin yang ada disana, Gibran yang sudah menyelesaikan makanannya itu langsung bangkit dan pamit pada sang Mama.


"Gibran berangkat dulu ya ma."


"Kamu gak lagi kesambet kan?" tanya Mama.

__ADS_1


"Enggak, sehat kok. Mau jemput calon mantu Mama ini," jawab Gibran dengan senyum manisnya.


"Kalian udah balikan?" tanya Mama Anin dengan binar bahagia.


"Udah Mama sayang, Gibran berangkat dulunya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Gibran berlalu meninggalkan Mama Anin disana. Mama Anin yang masih belum percaya itu langsung mengambil ponselnya dan menelepon Mama Tiya.


Setelah memastikan bahwa yang baru tadi ia dengar itu benar dari Mama Tiya. Mama Anin juga langsung mengirim pesan pada suaminya jika anaknya dan juga calon mantu idaman mereka sudah kembali bersatu.


"Semoga yang terbaik buat kalian, Nak," gumam Mama Anin menggenggam erat ponsel itu dengan senyum.


***


Sampainya di rumah Arum, ternyata Gibran sudah ditunggu di teras rumah oleh Arum. Laki laki itu turun dari motor dan menyamperi sang kekasih.


"Jam 7 kurang, tadi ada kecelakaan di jalan kesini."


Arum menganggukkan kepalanya pertanda ia percaya. Kemudian saat Gibran ingin memasangkan helm itu ia mencium bau parfum yang sangat menyengat itu langsung mundur.


"Kamu mau goda siapa pakai parfum banyak banget."


Gibran yang mendapatkan respon dari sang kekasih itu dengan polosnya ikut mencium bau tubuhnya.


"Aku gak ngerasa banyak kok sayang, cuma berberapa semprotan aja," jawab Gibran sedikit bohong. Pasalnya tadi Gibran memakai parfum itu berulang kali.

__ADS_1


"Bentar."


Arum berlari ke dalam rumah dan kembali keluar membawa hoodie berwarna putih miliknya yang memang over size. Dan pas jika dipakai Gibran.


"Lepas pakaian kamu dan pakai ini, jangan sekali kali kamu pakai parfum berlebihan begitu. Untung kamu jemput aku kalau enggak mungkin kamu udah tebar pesona sama cewek cewek," ucap Arum dengan nada ketus.


Dengan patuh Gibran melepaskan jaket dan kaos yang ia pakai hingga menyisakan kaos dalam saja. Setalah itu Gibran memakai hoodie milik Arum.


"Aku cuci nanti, baju kamu."


"Maaf sayang, bener deh tadi aku gak sadar kalau kebanyakan pakai parfum," ucap Gibran setelah ia memakai hoodie itu.


"Oke, awas kalau nanti kamu pakai parfum kebanyakan lagi."


Arum meminta tolong pada bibi untuk meletakkan jaket dan kaos Gibran di kamarnya.


Setalah itu mereka berdua berangkat ke sekolah Arum. Sudah menjadi rutinitas sehari hari nih, gimana kalau nanti menikah pasti makin nempel.


"Kamu cocok pakai hoodie ini," ucap Arum memeluk tubuh sang kekasih dari belakang.


"Kamu pinter milih yang pas buat aku," jawab Gibran.


Sampailah mereka di lampu merah, Gibran menghentikan laju motornya kemudian menoleh ke arah belakang dimana Arum sedang menatap lampu merah disana.


"Cantik banget pacar gue, gak salah kalau gue tergila gila sama dia," gumam Gibran kembali menatap depan seraya mengelus punggung tangan Arum dengan lembut.


Tanpa mereka sadari ada seorang wanita yang sedang menatap ke arah pasangan itu dengan rute tak suka. Bahkan kuku cantiknya itu hampir saja menancap di kulitnya.

__ADS_1


"Sialan!!"


Bersambung


__ADS_2