
Happy reading
Setelah diperbolehkan pulang oleh dokter, Lidia langsung mengajak Luke untuk pulang karena ia sudah tidak tahan berada di rumah sakit.
Luke pun hanya mampu mengiyakan saja, karena memang calon istrinya ini sangat keras kepala. Dan ia lihat keadaan Lidia sudah baik baik saja.
"Daddy pasti lelah karena tak sempat istirahat," ucap Lidia yang kini sudah berada di kamar apartemennya.
Luke yang sedari tadi membaringkan tubuhnya di kasur itu langsung membuka matanya kemudian menatap Lidia dengan senyum.
"Capek Daddy hilang saat bertemu kamu, Baby."
"Gombal banget."
Luke hanya tersenyum kemudian mengajak Lidia untuk berbaring di sampingnya. Laki laki itu ingin memeluk tubuh Lidia untuk saat ini.
"Aku kangen banget sama kamu, baby. Tapi aku juga lelah, nanti malam Daddy minta main ya sama kamu," pinta Luke dengan senyum menarik tubuh sang calon istri agar berada di atasnya.
"Terserah daddy aja. Lagipula aku siap kapan aja," jawab Lidia yang sudah melepaskan kaos yang dipakai Luke karena itu sangat menggangu pemandangannya.
"Kamu sudah sembuh kan?" tanya Luke yang tak ingin membuat Lidia sakit.
"Sudah."
Walau tak bisa dipungkiri jika perutnya masih sedikit sakit tapi ia tak mau membuat Luke khawatir lagi dengannya.
Laki laki itu mulai memeluk tubuh ramping itu hingga membuat Lidia hanya tersenyum saja. Jujur ia sangat merindukan sugar Daddynya ini. Baginya tidak ada tempat pulang selain Luke yang selama ini selalu sayang dan sabar terhadapnya.
"Daddy tampan ini apakah akan menjadi suami aku?" tanya Lidia yang membuat Luke kembali membuka matanya.
Cups
"Tentu saja, aku rela tidak menikah hanya untuk menunggu kamu siap. Setalah kamu siap masa iya harus Daddy lepaskan lagi?" tanya Luke setelah mendaratkan sebuah kecupan di bibir pucat Lidia.
"Masa iya."
"Iya."
Mereka berdua saling berbincang hingga melupakan keinginan untuk tidur tadi. Lidia kini sudah berada di samping Luke karena takut jika terus berada di atas tubuh laki-laki itu Luke akan cepat bereaksi.
"Apa kamu gak ingin meminta maaf pada Gibran dan pacarnya?" tanya Luke yang pada dasarnya memang baik hati walau kadang ia tak banyak omong dan sangat dingin.
"Buat apa? Gibran yang udah mempermalukan aku hingga aku seperti ini. Apakah aku harus meminta maaf? Memangnya apa salahku?" tanya Lidia yang memiliki sedikit rasa marah dan kesal pada laki laki itu.
"Baby, aku tahu apa yang kamu rasakan. Jangan sampai kamu membuat Gibran seperti mantan kamu yang dulu dulu. Gibran bukan laki yang mudah untuk kamu taklukkan. Aku tahu siapa anak itu, walau usianya masih muda tapi aura kepemimpinannya tak bisa diragukan lagi."
"Emangnya apa yang kamu cari dari laki-laki itu, apakah kekayaan? Memangnya Daddy kurang kayak apa selama ini. Daddy bisa memenuhi segala kebutuhan kamu dari ujung rambut hingga ujung kaki."
"Sekarang katakan apa yang membuat kamu se cinta itu dengan laki-laki yang bernama Gibran itu?" tanya Luke dengan raut serius.
Lidia mulai menceritakan awal mula pertemuan ia dan Gibran hingga membuat Ia suka dan terobsesi ini memiliki laki-laki itu. Awalnya Lidia juga tidak tahu jika Gibran sudah memiliki pacar bahkan sudah 2 tahun. Rasa yang awalnya hanya suka lama-lama menjadi obsesi yang tak bisa dihilangkan oleh Lidia begitu saja.
Luke yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya, andai saja dulu ia tak meninggalkan Lidia di negara ini. Pasti wanitanya ini tak akan memiliki rencana dan pemikiran jahat seperti itu.
"Aku tak perlu minta maaf ya dad. Lagipula dia juga salah sudah mempermalukan aku dihadapan banyak mahasiswa di kampus."
__ADS_1
Luke tak bisa terus-terusan memaksa Lidia untuk meminta maaf pada Gibran. Tapi Luke juga sendiri yang akan meminta maaf atas nama Lidia pada Gibran.
"Ya sudah terserah kamu, biar Daddy yang mewakilkan kamu meminta maaf pada dia."
"Gak boleh, dia juga harus minta maaf."
Luke hampir melupakan sifat keras kepala dari Lidia. Laki laki itu terdiam kemudian memejamkan matanya.
Sedangkan Lidia yang sedikit kesal itu langsung menc**ut b*lu yang ada di area da*a sang sugar Daddy.
"Sshhh nakal kamu ya."
"Kenapa? Gak suka?" tanya Lidia dengan garang.
"Terserah kamu kalau kamu mau Daddy makan saat ini."
Deg
Lidya jadi teringat akan besarnya benda besar itu. Sangat besar, hingga sedikit membuat ia ahh entahlah.
"Nanti malam jangan sekarang, Lidia masih sakit."
Lidia membalikkan badannya agar tak menghadap ke arah Luke. Wanita itu tak mau membuat luka memakan dirinya untuk saat ini. Sayang apa saja ini masih jam 11.00 siang. Masih terlalu siang untuk melakukan aktivitas ran***g.
Luke menatap punggung Lidia dengan senyum tipis. Ia berharap sang sugar baby itu bisa meluluhkan sedikit hatinya agar mau meminta maaf.
Luke ingin memulai hidup baru dengan baik di negara London. Ia tak ingin ada kenangan buruk di negara ini.
"Besok Minggu kita langsung ke London ya. Daddy sudah menyiapkan semuanya untuk pernikahan kita," ucap Luke dengan lembut mulai memeluk tubuh Lidia.
Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 sore, Lidia yang tadinya hanya memejamkan matanya kini masih terlelap di kasur dengan nyamannya. Apalagi dipeluk oleh laki-laki yang sangat kekar itu.
Lidia yang terbangun itu tak mendapati Luke berada di sampingnya. Wanita itu bangun dari tidurnya dan mencari keberadaan Luke.
Karena tak kunjung menemukan di mana keberadaan Luke, Lidia memutuskan untuk mandi dulu.
Setelah selesai mandi wanita itu langsung berjalan menuju lemari bajunya dan menatap baju-baju yang bergantung di lemari itu.
"Emm karena Daddy ada disini aku harus memakai yang mana?" tanya Lidia dengan senyum nakalnya mulai menatap dua baju satin itu.
"Hitam atau merah?" tanya Lidia dalam hati.
Kemudian pilihannya jatuh pada ling***e berwarna merah maroon yang masih sedikit tertutup. Lidia memutuskan untuk tak memakai ******" karena ini hanya apartemen ia tak akan kemana mana.
Setelah memakai pakaian itu, Lidia kembali mencari keberadaan Luke. Hingga sampailah Lidia di meja makan, ternyata laki-laki yang ia cari ada di sana. Laki-laki itu sedang menata makanan yang sepertinya baru dibeli dari luar.
Lidia akui ia tak bisa masak jadi tak ada bahan makanan di dapurnya mungkin hanya mie instan dan telur saja yang mudah dibuat.
Lidia berjalan pelan menuju Luke kemudian memeluk laki laki itu dari belakang.
"Daddy ngapain?" tanya Lidia dengan senyum manisnya tapi hal itu tak bisa di lihat oleh Luke.
"Menata makanan untuk kamu. Kan kamu baru sembuh jadi tak bisa sembarang makan," jawab Luke meletakkan sendok itu di samping piring.
"Perhatian banget sih, jadi makin sayang... ups."
__ADS_1
Tampaknya Lidia keceplosan hingga membuat Luke tersenyum di buatnya. Memang Lidia tadi sudah mengatakan jika ia suka dengan Luke tapi belum cinta. Semoga saja cinta itu cepat hadir dalam hubungan mereka.
Setelah selesai menata makanan dan alat makan itu Luke membalikkan badannya dan menatap Lidia dengan tetapan ahh entahlah hanya mereka yang tahu.
"Sepertinya makan dengan keadaan p**** sedikit menantang hmm."
"No, harus makan dulu. Sebelum kita main," jawab Lidia dengan nakal.
Luka yang gerah itu langsung melepas bajunya hingga tersisa celana pendek yang ia pakai. Luka duduk di kursi itu dan menarik tubuh Lidia agar duduk di pangkuannya.
"Si*l."
Luke baru sadar jika wanita yang ada di depannya ini tidak memakai da***"n. Hanya memakai pakaian jaring-jaring berwarna merah itu. Sedangkan Lidia hanya tersenyum kemudian menatap makanan yang ada di depannya.
"Mau disuapin atau makan sendiri?" tanya Lidia seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Luke.
"Memang nakal, aku mau disuapin tapi kamu juga harus makan."
"Iya."
Akhirnya mereka memakan makanan yang ada di meja itu, dengan Luke yang tak bisa diam bermain di tubuh Lidia. Laki laki mana yang tahan jika digoda seperti ini oleh wanita cantik seperti Lidia.
Tak sampai 20 menit mereka sudah menyelesaikan makan sorenya. Luke mengambil air mineral dan meminumnya begitupun dengan Lidia.
Walau sedari tadi ada yang mengganjal di bawah sana tapi ia tak bisa melupakan minumnya.
"Aku mau coba di tempat baru, Dad."
"Dimana?" tanya Luke dengan pemasaran.
Akhirnya Lidia mengajak Luke ke tempat yang di tunjukkan oleh Lidia. Sampailah mereka di depan pintu kamar yang dulu di pakai Lidia.
"Kenapa kesini?"
Lidia tak menjawab tapi langsung mengajak laki laki itu masuk ke kamar itu. Dan yah, Luke sedikit terkejut dengan apa yang ada di dalam kamar itu.
"Baby..."
"Hehhe maaf, aku sengaja pakai uang kamu buat dekor kamar ini. Sangat cantik bukan," ucapnya duduk di sebuah sofa yang biasa digunakan untuk b***"""".
Di kamar itu banyak sekali potret mereka yang sangat ****. Bahkan ada foto Luke yang hanya memakai kolor saja, dan juga foto Lidia hanya ****s tanpa memakai ******.
"Biar kalau kamu pulang kita bisa langsung main disini. Aku sudah membayangkan banyak hal disini."
"Cuma aku kan?"
"Tentu saja siapa lagi."
Luke tersenyum kemudian berjalan menuju tempat dimana sang kekasih duduk.
"Sangat lembut, ayo kita coba disini."
Dan akhirnya apa yang selalu diinginkan Luke dan Lidia pun terjadi. Luke berharap Lidia mau meminta maaf pada Gibran dan Arum.
Kamar itu menjadi saksi bertemunya dua cinta yang sudah saling merindu. Apalagi Lidia yang dasarnya liar jika sudah begini.
__ADS_1
Bersambung