
Happy reading
"Gibran kamu disini juga, gak nyangja kita bakal ketemu disini," ucap Claudia langsung duduk di samping Gibran dengan senyum manisnya.
Arum yang tak suka melihat kedatangan Claudia itu langsung menyuruh Gibran untuk bertukar tempat. Ia tak mau memberikan celah untuk Claudia mendekati
Gibran yang pastinya akan membuat Claudia makin gencar.
"Iya mbak, Gibran sama saya disini mau LIBURAN. Mbaknya kok bisa disini ya?" tanya Arum menekan kata liburan hingga membuat Claudia tak suka.
"Lu cewek miskin kemarin kan? Hahaha benar kan kata gue, kalau lu cuma mau manfaatin Gibran aja. Pake ajak dia ke Bali segala," ujar Claudia dengan tawa yang membuat Yanti ikut kesal dengan Claudia. Bukan apa apa tapi suara gadis itu sangatlah jelek apalagi tawanya. Pake ngatain Arum miskin pula, emang ni cewek belum tahu ya siapa Arum.
"Hahaha gue miskin? Gak apa apa lah mbak. Mau saya matre juga bukan urusan mbak, wong pacar saya fine fine aja kalau saya porotin," jawab Arum dengan santai yang memancing amarah Claudia.
"Iya kan sayang," ucap Arum lagi meminta persetujuan Gibran. Gibran yang paham itu langsung mengikuti alur yang diciptakan oleh Arum.
"Iya sayang, uang aku juga uang kamu. Bahkan kalau mau uang yang ada di ATM aku buat kamu," jawab Gibran seraya mengelus punggung lembut Arum.
Apa yang dilakukan Gibran membuat Claudia semakin terbakar karena rasa cemburu. Yah, Claudia memang sudah mulai menyukai Gibran, terlepas itu dari harta laki laki itu atau harta keluarga Gibran.
Sejak awal Claudia memang sengaja mengincar harta Gibran tapi lama kelamaan gadis itu cinta pada teman SMP nya itu. Bahkan sejak dulu, tapi memang tujuan utamanya adalah uang.
"Ih Gibran kamu kok gitu, emang kamu udah di kasih apa sampai kamu mau memberikan harta kamu sama dia? Kamu udah dikasih tubuhnya ya? Aku juga bisa Gibran, bukannya dulu kamu suka sama aku ya? Apa sekarang sudah berubah tak menyukai aku lagi?" tanya Claudia dengan sedih. Gadis itu mulai lagi membuat drama untuk menarik simpati orang orang disana.
Arum dan Yanti yang mendengar itu jengah sendiri ingin muntah. Pasalnya ini bukan kali pertama mereka melihat wanita mengaku jika Gibran menyukainya atau bahkan yang lebih parahnya ada wanita yang bilang sudah tidur dengan Gibran.
Sedangkan Vito yang tak ingin terlibat itu menarik tangan Yanti agar mereka keluar dulu. Lagipula mereka sudah selesai makan.
"Apaan sih yank, aku masih mau dengar kebohongan apa lagi yang akan dikatakan cewek aneh ini," ujar Yanti yang tak mau diajak pergi.
__ADS_1
Ingin rasanya ia menjambak rambut Claudia ini, enak saja mengatakan Arum sudah menyerahkan diri pada Gibran. Walau ia adalah sahabat yang agak sesat tapi jika ada orang yang menjelek jelekkan sahabatnya tentu saja ia tak akan terima.
"Udah yank, mereka bisa hadapin cewek ini kok. Kita gak perlu ikut campur. Katanya tadi mau jalan jalan lagi," bisik Vito dengan gemas.
Pacarnya ini kenapa sangat ingin mengurusi hidup orang, bukannya Vito tak boleh tapi ia yakin Arum dan Gibran bisa menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan mereka.
Mendengar kata Vito yang mengajak jalan-jalan, langsung membuat Yanti mengangguk. Tapi sedetik kemudian ia teringat dengan sang sahabatnya yang sedang berhadapan dengan cewek jadi jadian seperti Claudia.
"Tapi Arum lagi ada dalam bahaya," balas Yanti dengan bisik juga.
"Mereka gak lagi dalam bahaya kok, Gibran ada disana, dia pasti bisa mengatasi pertengkaran itu. Sekarang mending kita keluar dan jalan jalan," ajak Vito yang membuat Yanti menangguk.
"Rum, jiayou," ucap Yanti pada Arum seraya memberikan semangat kepada gadis itu.
Arum yang mendengar ucapan Yanti itu menangguk dengan semangat kemudian kembali menatap apa lagi kebohongan yang akan diucapkan oleh Claudia.
"Jiayou💪💪."
Setelah itu Yanti dan Vito keluar dari tempat itu, untungnya tadi mereka sudah membayar makanan mereka serta minuman yang mereka minum.
Kini tinggallah Arum, Gibran, dan Claudia yang ada di sana. Claudia masih mengoceh tak jelas hingga membuat tatapan para ibu ibu disana terarah pada mereka.
"Udah stop deh mbak. Mbak sengaja mau buat kamu malu ya? Emang mbak itu siapa sih? Pacarnya Gibran bukan. Saudara juga bukan, jangan hanya karena dulu kalian sahabat jadi berbuat yang enggak enggak sama kita," ujar Arum yang sudah cukup malas.
Claudia yang mendengar itu cukup tersindir dengan apa yang diucapkan oleh Arum. Memang benar ia bukan siapa-siapa Gibran tapi Claudia adalah sahabat laki laki itu walau itu sudah sangat lama.
"Udah deh Clau, gue capek sama apa yang lu lakuin. Gue gak mau sampai amarah gue buat lu gak bisa lihat dunia ini lagi," ucap Gibran jangan kalimat yang sangat dingin.
Gibran setiap bertemu dengan Claudia, laki-laki itu akan menjadi sangat berbeda jika bersama Arum.
__ADS_1
"Tapi Gibran, gue cuma mau sahabat lagi sama lu," ujar Claudia pada Gibran tentu saja dengan suara malas agar menarik simpati Gibran dan orang-orang di sekitar.
"Dan juga gue mau lunjadi ATM berjalan gue nantinya," lanjut Claudia di dalam hati.
"Gue gak peduli, persahabatan kita sudah berakhir sejak kematian Kiano," jawab Gibran.
"Tapi aku tak ada hubungannya dengan kematian Kiano," ucap Claudia mulai mengeluarkan air mata palsunya.
"Gue sebagai sahabatnya juga sedih dengan kematian Kianonyang mendadak. Apalagi di saat itu gue ada di sana dan melihat dengan jelas detik-detik Kiano melompat dari gedung," tambah Claudia mulai menangis.
Tidak ada yang tahu tentang bagaimana Kiano bisa jatuh saat itu. Claudia saat itu juga langsung hilang begitu saja hingga membuat mereka semua mencurigai Claudia.
"Kenapa lu dulu pergi saat polisi butuh kejelasan lu?" tanya Gibran tiba tiba.
Sepertinya laki laki itu tidak terpengaruh dengan air mata Claudia yang sudah turun hingga membuat maskara yang ia gunakan luntur yang membuat matanya hitam seperti mbak Kunti.
Claudia yang ditanya seperti itu mendadak terdiam, sepertinya wanita itu bingung mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Gibran.
Dan Gibran menangkap raut kebingungan dari Claudia. Senyum mengejek itu terbit dari bibir Gibran, sudah bisa dipastikan jika Claudia ada hubungannya dengan kematian Kiano saat itu.
"Gak bisa jawab kan lu hah."
"Gue harap ini kali terakhir gue lihat lu, gue muak lihat muka lu yang sok polos itu," ucap Gibran langsung menarik tangan Arum untuk keluar dari rumah makan itu meninggalkan Claudia disana sendiri.
Gibran sekuat tenaga untuk tidak menggunakan kekerasan pada Claudia karena walau bagaimanapun kalau dia adalah seorang wanita yang tak lain adalah mantan sahabatnya.
Kalau dia yang melihat Gibran menjauh itu hanya bisa menatap punggung sahabat SMPnya dulu itu.
"Cih, kalau bukan karena duit lu gue juga ogah sampai kayak gini. Tapi berhubung lu itu ganteng dan juga kaya, gak ada salahnya gue berjuang buat dapatin pohon emas ini," gumamnya menghapus kotoran yang ada di matanya.
__ADS_1
Tanpa lewat dia sadari banyak orang yang mencibir dirinya, lihat saja perbedaan wanita itu saat Gibran masih ada dan saat tidak ada.
Bersambung