Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Vila


__ADS_3

Happy reading


Akhirnya setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di vila milik keluarga Reno. Vilanya cukup besar dengan tiga lantai yang membuatnya tampak tinggi diantara rumah rumah yang lainnya.


Mereka semua keluar dari taksi yang mereka tumpangi dan mengeluarkan barang-barang yang mereka bawa.


"Wah besar juga villanya," ucap Arum menatap bangunan yang ada di depannya itu.


"Ini belum seberapa dibanding villa pribadi milik keluarga Gibran, Rum," jawab Reno menarik kopernya.


Arung yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Gibran. Dengan senyum manisnya laki-laki itu hanya mengelus rambut Arum.


"Kamu punya Villa juga?"


"Bukan aku tapi keluarga, lagi pula vila itu ada di luar Jawa sayang."


"Besar?"


Gibran tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Dibilang besar sih ya lumayan tapi itu mirip rumah sayang yang banyak pelayannya. Kalau kita udah nikah aku ajak kamu kesana hmm," ujar Gibran dan dianggukan dengan semangat oleh Arum.


"Jadi gak sabar."


"Nikah sama aku?" Arum yang mendengar itu langsung menggeleng.


"Ke vila," jawabnya dengan ngotot.


Mereka yang mendengar jawaban dari Arum itu tertawa. Memang unik Arum dan Gibran ini.


"Udah jangan pada ngobrol disini mending kita masuk dan istirahat," ajak Reno pada mereka semua.


Keenam remaja itu langsung berjalan masuk ke vila itu. Sampainya mereka di ruang tamu, sepasang suami istri datang menghampiri mereka dari arah belakang.


"Nah gaes ini Bi Surti dan Pak Yaman, beliau yang sudah menjaga villa ini dan membersihkannya setiap hari," ucap Reno memperkenalkan mereka pada kedua paruh baya ini.


Mereka mulai memperkenalkan diri mereka satu persatu, tak lupa dengan tata krama mereka kepada orang tua.


"Bi Surti dan Pak Yaman ini punya anak 1, tapi sudah menikah dan ikut keluarga suaminya. Daripada tinggal sendiri di rumahnya mending disini jaga vila ini."


"Bi, mereka teman teman saya. Ini istri saya, itu adik ipar saya," ucap Reno memperkenalkan istri dan adik ipar serta teman temannya itu.


Kedua paruh baya itu menerima mereka dengan senang hati, apa lagi Reno yang jarang ke villa itu.


Setelah itu kedua paruh baya itu pamit pada mereka untuk kembali ke tempatnya. Sedangkan Reno menjelaskan tentang villa ini kepada teman-temannya.


"Di villa ini ada 6 kamar, dua kamar di lantai bawah, 2 kamar di lantai 2, dan 2 kamar lagi di lantai 3."


"Khusus di lantai 3 itu kamar ku dan kamar mama papa, kamar bawah ditempati oleh bibi dan Pak Yaman, nah kalian tempati yang di lantai dua ya. Tapi ingat kalian tidak boleh satu kamar berbeda jenis atau berpasangan, walau kalian sudah pacaran. Takut terjadi hal yang tidak di inginkan apalagi kalian belum menikah."


"Nah untuk kamar Arum dan Yanti satu kamar, dan Gibran sama Vito juga satu kamar," ujar Keysha dengan tegas.


Tentu saja mereka tak ingin ada hal yang tidak diinginkan.


"Oke siap."


Setelah mendapat pembagian kamar, mereka mulai berjalan menuju kamar mereka masing masing. Reno ke kamar atas sedangkan keempat lainnya naik ke lantai 2 dan memilih kamar masing masing.


Sampainya di kamar Arum langsung meletakkan koper kecilnya di sana dan berlari menuju ranjang.


Brug


Yanti yang melihat sahabatnya langsung berbaring itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apa sengantuk itu hingga membuat Arum langsung tepar saat melihat kasur.


Mengabaikan sahabatnya yang sedang terlelap, Yanti memutuskan untuk menatap baju bajunya. Walaupun hanya 3 hari tapi pakaian yang ia bawa cukup banyak dan cukup menggoda memang. Salah satu tujuannya adalah menggoda Vito dan para bule disini.


Setelah itu, Yanti berjalan menuju kamar mandi sebelum ia akhirnya ikut berbaring di kasur empuk itu.


***

__ADS_1


Di kamar Vito dan Gibran kini malah keduanya terlibat obrolan sejak keduanya masuk ke dalam kamar yang bercat putih itu bahkan kasur selimut serta lemari disana juga putih. Sangat monoton sekali kalau dilihat.


"Harusnya kita tuh sekamar sama pacar kita," ucap Gibran mendesah pelan kala ia berada di satu kamar yang sama dengan Vito.


"Harusnya iya, Kak. Apalagi gue gak bisa kalau gak peluk peluk Yanti," jawab Vito mendudukkan bibit tubuhnya di sofa.


"Tapi mau gimana lagi, udah peraturannya kita gak boleh sekamar sama cewek kita," tambahnya Vito meletakkan koper itu di samping nakas. Malas rasanya untuk merapikan ke dalam lemari.


"Hmm."


"Lu gak mau keluar apa gimana?" tanya Gibran pada Vito.


"Malas, lagian Yanti juga gak mau di ajak keluar. Mau tidur katanya," jawab Vito pada Gibran.


"Arum gimana?"


"Sejak masuk kamar dia langsung tidur, kayaknya tu cewek ngantuk banget ya kak sampai tidur Mulu gitu," ujar Vito dengan senyum tipis. Para sahabat Arum tentu tahu dengan kebiasaan Arum yang akan tidur jika ia ngantuk tak kenal waktu memang.


Gibran menganggukkan kepalanya. Keduanya sama sama terdiam dengan ponsel yang berada di tangan mereka masing masing.


Tak berberapa saat akhirnya Gibran keluar dari kamar itu dan berjalan menuju teras kemudian duduk di kursi rotan.


"Eh den Gibran ya? Kok disini den? Gak istirahat?" tanya Pak Yaman yang kebetulan baru selesai menata rumput di depan vila itu.


"Enggak pak, saya gak capek. Mau lihat pemandangan aja dari luar," jawab Gibran dengan sopan.


"Mau bapak temani den, si bibi juga lagi ke pasar beli sayur," tawar pak Yaman dan dianggukkan oleh Gibran. Tak ada salahnya untuk menambah circle pertemanan dengan pak Yaman.


"Bentar ya den, bapak mau buat kopi. Aden mau dibuatin juga?" tawar Pak Yaman pada Gibran.


"Boleh pak kalau gak ngerepotin," jawab Gibran dan dianggukkan oleh Pak Yaman.


Kemudian pak Yaman masuk ke dalam rumah dan membuat kopi untuk mereka berdua berserta pisang goreng yang tadi pagi di buat oleh Bi Surti.


"Terima kasih pak."


"Sama sama den, cuma kopi aja."


Gibran mulai bertanya tanya sejak kapan pak Yaman bekerja di vila ini? Dan yang lainnya. Pak Yaman pun menjelaskan dengan jujur pada Gibran hingga membuat laki laki itu menganggukkan kepalanya.


***


Sedangkan di kamar atas, Reno dan Keysha kini sedang berada di atas kasur itu dengan posisi saling berhadapan.


Sejak masuk kamar tadi, Reno di buat bingung dengan tingkah istrinya yang tiba tiba diam dan tiba tiba tersenyum malu itu. Memangnya apa yang dipikirkan oleh Keysha.


"Sayang, kamu mikir apa hmm? Aku bingung loh dari tadi gak nemu jawaban tentang sikap kamu," ujar Reno mendekatkan dirinya pada Keysha yang duduk bersila di depannya.


"Emm..."


Tampak sekali Keysha ragu mengatakan hal itu. Terlihat dari raut wajahnya.


"Aduh gimana sih ngomongnya, aduh nak kamu buat mama malu aja sih sama papa kamu. Jangan aneh aneh kalau minta tuh, Mama juga yang susah," batin Keysha dengan senyum menatap Reno yang terlihat semakin tampan itu apalagi aura hot Daddy akan bergelar pada dirinya.


"Sayang."


Reno memegang tangan Keysha yang berada di atas paha itu. Reno bukan cenayang yang tahu pikiran orang yang ada di depannya. Reno hanya manusia biasa juga bisa bingung.


"Gimana ya yank. Aku malu mau bilang, ini ngidamnya anak kamu tapi aku yang malu," cicit Keysha dengan wajah bersemu merah.


"Bisikin aja kalau kamu malu, jangan cuma diam aja sayangku. Suamimu ini gak tahu apa yang ada dipikiran kamu ya, langsung aja kalau kamu pingin apa itu langsung bilang jangan di tahan," ucap Reno yang tak mau Keysha malu malu karena ngidamnya.


Keysha mengangguk kemudian mendekatkan dirinya pada Reno dan membisikkan apa yang ia inginkan.


"Sayang bener anak kita minta itu?" tanya Reno dengan mata berbinar.


Di usia kandungan sang istri yang sudah jalan 3 bulan mereka memang belum di perbolehkan untuk berhubungan karena bayi yang ada di dalam perut masih rentang keguguran.


Dan hari ini, istrinya eh ralat anaknya minta di jenguk. Bagaikan mendapatkan undian Reno langsung melepas baju yang ia pakai.

__ADS_1


"Ehh."


Keysha menghentikan pergerakan Reno, laki laki itu bingung saat baju yang ia lepaskan itu di pakaikan kembali ke tubuhnya itu.


"Aku mau gini, gak dikancing tapi masih pakai baju," ucap Keysha dengan senyum. Sebagai suami Reno hanya mengangguk dan membiarkan apa yang ingin di lakukan sang istri dan anaknya.


"Mainya di sofa," pinta Keysha menunjuk sofa single yang hanya cukup 1 orang saja.


"Tapi sayang, kita juga harus menjaga baby loh."


"Ini yang mau juga baby," rengek Keysha pada Reno.


"Terserah kamu aja, mau sekarang atau nanti malam?" tanya Reno pada Keiysha.


"Sekarang."


"Baik tuan putri, Ayo."


Reno meraih tangan sang istri dan mengajaknya untuk duduk di kursi itu. Dengan posisi Reno berada di bawah sedangkan Keysha berada di atas paha Reno.


"Yakin kamu mau gini?"


"Heem."


Akhirnya apa yang di inginkan oleh Keysha pun terlaksana. Mereka memadu kasih di sofa itu dengan lembut, keysha yang sedikit agresif itu malah membuat Reno senang. Jarang jarang istrinya seperti ini padanya.


"Pelan pelan ya," ucap Keysha dan dianggukkan oleh Reno. Walaupun Key yang ada di atas tapi tetap saja Reno ikut beraksi.


Suara mereka saling beradu hingga membuat suasana panas dibuatnya. Jangan lupakan jika bajunya yang tadi masih terpasang kini sudah tak ada. Berhamburan di lantai marmer itu.


Karena posisi mereka yang tak nyaman untuk bumil akhirnya Reno menggendong tubuh Keysha ke ranjang denagn posisi yang membua Keysha merem melek.


Akhirnya setelah 30 menit berlalu, Keysha dan Reno sampai di akhirnya. Keysha memeluk tubuh Reno dengan posisi duduk begitupun dengan Reno.


"Makin suka deh sama si kembar, makin gemoy," ucap Reno yang membuat Keysha menatap si kembar dengan lucu.


"Mau?" Kucing kalau di kasih ikan ya langsung di garap begitupun dengan Reno.


"Pelan pelan, nanti lecet," bisiknya saat Reno meny usu dengan tergesa gesa itu.


Reno mengangguk dan semakin lembut memperlakukan Keysha hingga membuat gadis itu terlena dan kembali menggoyangkan tubuhnya.


Ronde ke 2 kembali terjadi. Dah lah nambah dosa aja aku ini.


"Ahhh."


"Makasih sayang."


"Sama sama," jawab Keysha yang sudah berada di dalam selimut itu tapi posisinya masih sama.


"Eh kamu keluarin di dalam?" tanya Keysha yang terkejut, gadis itu baru teringat sesuatu yang membuat ia takut.


"Lepas."


Reno melepaskannya kemudian menatap sang istri dengan lembut.


"Kata dokter gak boleh di keluarin di dalam sebelum kandungan aku masih trimester kedua," ucap Keysha dengan sendu. Gadis itu takut terjadi apa apa pada kandungannya.


"Sayang, gak apa apa kok. Lagian ini kan cuma pertama kali. Anak kita kuat-kuat aja kok di dalam sana percaya sama aku hmm."


Mereka masih sama sama muda dan ininadakah pengalaman pertama mereka dalam menjaga calon buah hatinya. Wajar jika Keysha takut terjadi apa apa pada kandungannya, dan tugas Reno kini membuat Keysha selalu berposistif thinking.


"Heem."


"Sudah ya sekarang kamu tidur dulu, kasihan anak kita baru di jenguk papanya. Pasti dia juga capek," ujar Reno menjadikan lengannya sebagai bantalan sang istri.


Keysha mencari kenyamanan dalam pelukan Reno dan memejamkan matanya. Tak sempat mereka untuk membersihkan tubuh karena malas ya malas. Reno langsung menarik selimut tebal itu hingga batas leher Keysha agar istrinya itu hangat.


Jika ditanya apakah ia menyesal menikah muda? Jawaban tidak. Walaupun ia masih muda, tapi ia bisa mengayomi istrinya. Karena kedua keluarga juga mending hubungan mereka. Berbeda lagi dengan hubungan di luar sana jika nikah muda pasti ada aja hambatannya ya contohnya perekonomian.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2