Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Aur Terjun Impian


__ADS_3

Happy reading


Setalah menghabiskan sarapan, Reno dan Keysha ikut bergabung dengan teman temannya yang ada di ruang tamu.


Kedatangan mereka membuat empatnya langsung terdiam canggung. Sontak saja itu membuat Reno dan Keisha bingung dibuatnya. Tadi sebelum mereka datang suara mereka sepertinya sangat kencang tapi kenapa mendadak diam seperti ini.


"Kenapa kalian mendadak diam seperti itu?" tanya Keysha duduk di sofa yang ada disana diikuti oleh Reno.


Tak sengaja tatapan mereka beralih pada dua buah selimut yang ada di pinggir sofa yang mereka duduki.


Jangan lupakan Yanti yang sudah duduk dengan menelonjorkan kakinya di sofa itu.


"Kalian tadi malam tidur disini?" tanya Reno pada mereka.


Mereka saling pandang kemudian menganggukkan kepalanya.


"Tenang aja kita gak kumpul kebo kok," jawab Gibran seraya memainkan jari jari lentik Arum. Dan Arum membiarkan Gibran melakukan apapun di harinya itu sedangkan ia bermain ponsel dengan tangan satunya.


Mendengar jawaban bohong dari Gibran membuat Yanti dan Vito menganggukkan kepalanya.


"Gak aneh aneh juga kok, kita cumamgak bisa tidur di tempat baru. Apalagi vila Kakak ini jauh dari keramaian," ucap Yanti pada mereka.


Akhirnya Reno dan Keysha mempercayai ucapan mereka. Tiba tiba suasana menjadi canggung, Yanti dan Arum yang ingat kembali akan apa yang mereka dengar tadi pagi langsung tertawa dengan pelan.


Mereka bingung dengan apa yang terjadi kepada Arum dan Yanti. Mungkinkah mereka diganggu setan penunggu pantai kemarin.


"Oh ya kak, kita mau ke air terjun X kalian mau ikut apa enggak. Arum lihat di maps katanya deket sama vila ini," ucap Arum memperlihatkan sebuah wisata alam yang ada di maps.


"Itu kan.."


"Air terjun X, lokasinya di daerah D. Kayaknya view-nya juga bagus, kalau dilihat dari tempatnya sih oke kalau buat dingin in otak," jawab Yanti yang emang sudah melihat lokasi air terjun itu lewat hp.


"Bukannya gak mau tapi Reno takut ketinggian. Pernah sekali kita pergi berdua ke air terjun sampai disana Reno langsung menggigil ketakutan dan sampai rumah demam. Kakak sih mau mau aja tapi kakak gak bisa lihat suami kakak kenapa napa," ujar Keysha dengan senyum.


Ingatannya dipaksa berputar ke bulan bulan sebelumnya. Dimana hari itu adalah hari ulang tahun Keysha. Keysha mengajak Reno ke suatu tempat dan itu adalah air terjun yang baru saja dibuka oleh pemerintah.


Reno yang tak tahu itu iya iya saja dan akhirnya, traumanya kembali kambuh dan itu sangat merepotkan Keysha.


"Eh lu ada pengalaman jatuh dari air terjun kan, Ren?" tanya Gibran dan dianggukkan oleh Reno.


"Kok lu tahu?" tanya Keysha pada Gibran.


Ia saja baru tahu sejak saat itu, tapi kelihatannya Gibran tahu lebih lama daripada dirinya.


"Ya tahu wong, gue yang nyelamatin suami lu ini. Lu kan tahu dulu kita gak ada disatu SMA yang sama, Reno tenggelam karena saat itu ada yang iseng sama dia di sungai yang sialnya itu ada air terjunnya. Mungkin hanya berberapa orang aja yang tahu hal ini, dan suami lu juga suruh menyembunyikan hal ini dari siapapun termasuk lu yang saat itu gue belum kenal."


Mendengar jawaban dari Gibran membuat Keysha menatap bersalah sang suami. Pantas saja Reno saat itu langsung bergetar ketakutan. Bahkan Reno jarang sekali mandi pakai shower, laki laki itu biasanya menggunakan bathtub sebagai tempat airnya.


Reno yang melihat sang istri kembali bersedih itu langsung menggenggam tangan Keysha dengan lembut.


"Hei gak apa apa, aku baik kok. Aku cuma gak mau orang orang takut kelemahanku, kamu tahu kan aku sedari dulu suka sama air sungai begitupun kamu. Aku gak mau gara gara aku yang trauma sama air sungai itu buat kamu gak bisa main air lagi. Aku gak apa apa, gak usah sedih gitu," ucap Reno kemudian mengecup punggung tangan Keysha.

__ADS_1


Arum dan Yanti yang melihat sikap romantis Reno itu langsung tersenyum.


"Ooouuu so sweet,'' ucap mereka bersamaan hingga membuat mereka tertawa.


"Kenapa kamu gak bilang sejak awal sih. Tahu gitu aku gak ajak kamu ke air terjun saat itu dan memunculkan trauma kamu lagi," ucap Keysha dengan tatapan bersalah.


Wanita mana yang menginginkan pacar mereka sakit? Tidak ada, bahkan harusnya seminimal mungkin Keysha tak mengingatkan Reno tentang air terjun.


"Aku gak apa apa, lagipula itu sudah berlalu cukup lama. Gak usah sedih gitu," ucap Reno dengan tawa.


Akhirnya dengan segala rayuan dari Reno, Keysha bisa kembali tersenyum dan bermanja pada suaminya.


"Kalian pergi aja, aku mau habiskan waktu aku sama Reno di Vila aja. Have fun ya kalian," ucap Keysha yang memutuskan untuk tetap di Vila atau mungkin mereka hanya jalan jalan nanti di sekitar pantai.


"Bener kalian gak apa apa kami tinggal sendiri? Nanti kalau kita semua pulang sore gak apa apa kan?" tanya Yanti pada mereka si tuan rumah.


"Gak apa apa, kayak sama siapa aja," jawab Reno pada mereka.


Mereka sungguh tak apa-apa jika ditinggalkan berdua saja di vila ini karena memang ia malas ke air terjun.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke air terjun, walau tak ada Reno dan Keysha.


Setelah itu mereka berempat langsung kembali ke kamar mereka dan bersiap untuk ke air terjun. Mumpung masih pagi, jadi tak terlalu panas nanti.


"Oh ya, kalau mau ke air terjun di belakang vila ada dua motor. Kalian bisa pakai buat ke sana, gak perlu pakai helm. Karena jalan menuju air terjun itu gak lewat kita," peringat Reno pada Gibran dan Vito yang sudah terlebih dahulu sampai di bawah menunggu pacar mereka bersiap.


"Oke."


Setelah mendapatkan kunci motor dari Reno mereka berdua langsung beranjak menuju belakang villa itu dan mengambil motor yang ada di sana.


"Wah gila, siapa yang pakai ini motor kalau yang punya aja di jakarta?" tanya Vito saat melihat dua motor sport yang sangat terawat didalam garasi itu.


"Gak tahu, mungkin dipakai Pak Yaman. Biar awet, karena gak mungkin kalau dibiarin gitu aja. Pasti rusak," jawab Gibran melihat mesin motor yang masih sangat bagus itu.


"Hmm bisa jadi bisa jadi."


"Gue pakai yang merah ya, lu yang hitam," ujar Gibran dan dianggukkan oleh Vito.


Mereka berdua mulai mengambil motor masing masing dan memanasinya di luar vila. Setelah berberapa saat keduanya menjalankan motor itu menuju depan vila.


Disana sudah ada Yanti dan Arum yang sudah siap dengan tas ransel mereka yang memuat berberapa pakaian pacar mereka dan mereka sendiri.


"Wah motor siapa nih? Kalian nyewa motor?" tanya Arum kepada keduanya.


Melihat motor sport itu membuat Arum ingin cepat cepat naik.


"Punya yang punya villa. Kak Reno ngizinin kita buat makai motornya buat jalan jalan," jawab Vito pada mereka.


"Oalahhh."


"Udah pamit kan, yuk gas kita langsung ke lokasi," ajak Arum dan bergegas naik ke atas motor bersama Gibran sedangkan Yanti bersama Vito.

__ADS_1


Ginilah enaknya punya cowok yang bisa bawa motor gede. Kemana mana ada yang nyetirin.


Setelah naik Arum langsung memeluk perut Gibran seraya mencium aroma lembut dari tubuh sang pacar.


"Yank, wangi banget. Padahal parfumnya gak mahal mahal amat," ucap Arum yang masih bisa didengar oleh Gibran.


"Gak mahal apanya, kamu beliin aku parfum hampir seharga laptop sayang. Aku sih gak nolak, karena itu pemberian kamu," jawab Gibran mencubit hidung sang pacar.


"Ih sakit, lagipula itu aku beli juga pakai uang kamu."


"Hahaha yang penting istriku senang," gombal Gibran yang mendapat tepukan di pundak oleh Arum.


"Emang seneng, wong aku gak keluar duit banyak," jawab Arum kembali memeluk tubuh Gibran dengan lembut.


"Siap berangkat?" tanya Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


"Peluk yang erat sayang, aku gak mau kamu jatuh," ucap Gibran lagi.


"Udah dari tadi, ayo berangkat."


"Siap nyonya."


Mereka menjalankan motor itu meninggalkan area Vila. Dengan Arum yang menjadi penunjuk jalan, walau sesekali langsung memeluk tubuh kekar itu setelah melihat ponsel.


"Belok kiri sayang," ucap Arum dan dianggukkan oleh Gibran.


"Gak belok ke cintaku aja?" tanya Gibran pada Arum. Gadis itu dengan senyum manisnya langsung mencubit perut Gibran yang membuat laki laki itu meringis sakit.


"KDRT."


"Mataku KDRT."


"Heh bibirnya minta dicium hmm. Pake ngomong mata mata."


"Biarin kamu nyebelin orangnya," jawab Arum terus mencubit Gibran.


Tanpa menghiraukan tatapan Yanti dan Vito yang ada di belakang mereka.


"Mereka tuh kenapa sih? Pake acara cubit cubitan segala. Gak takut jatuh apa ya," ucap Yanti dengan tatapan bingung. Vito yang melihat itu hanya tersenyum kemudian meraih tangan kiri pacarnya.


"Eh. Hati hati dong, kalau di jalan raya gak apa apa. Ini kan jalan setapak, kamu mau jatuh hah?" tanya Yanti langsung menarik tangannya dan memeluk perut Vito dengan erat.


Jujur saja melihat jalan setapak yang sedikit sempit, berbeda sekali dengan jalan di Jakarta yang ia tahu walau masuk gang tapi masih bisa dilewati oleh mobil dan motor.


"Hahaha tenang aja sayang, aku udah biasa kok motoran di jalanan kayak gini. Kamu gak usah khawatir," jawab Vito dengan tawanya.


"Ih gak mau, jakarta sama sini beda ya. Aku gak mau ma*i muda gara gara kamu," jawab Yanti dengan suara sedikit kencang.


Vito mengelus lembut tangan Yanti yang berada di atas perutnya itu.


Perjalanan mereka lalui dengan canda tawa tapi juga teriakan Yanti yang takut dengan jalan yang menanjak. Tapi syukurlah mereka sampai di parkiran tempat wisata itu dengan aman.

__ADS_1


Mereka melihat papan yang bertuliskan 'WELCOME TO AIR TERJUN IMPIAN' pas di depan parkiran menuju jalan masuk ke air terjun.


Bersambung


__ADS_2