Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Sunset dan Omlet


__ADS_3

Happy reading


Tak terasa hari sudah mulai sore, suasana yang tadinya terang benderang kini sudah sedikit meredup digantikan oleh senja yang sangat indah dari sisi Barat.


Gibran dan Arum yang ada di warung itu juga bergabung pada teman-temannya yang sedang duduk di bebatuan pantai itu.


"Kalian darimana aja baru sampai sini?" tanya Yanti pada Arum dan Gibran yang sudah duduk di samping mereka.


Arum dan Gibran saling bertatapan kemudian mereka berdua tertawa mendengar pertanyaan dari Yanti itu.


Keempatnya bingung kenapa Arum dan Gibran malah tertawa seperti itu.


"Sarap deh mereka ini, ditanya bukannya jawab malah tawa," ucap Vito menyembunyikan tangannya di balik baju yang di pakai Yanti karena tangannya sangat dingin.


"Kenapa ketawa sih?" tanya Reno pada mereka.


"Kalian emang gak tahu ya, kita ada di warung es kelapa sejak tadi. Bahkan gue sama Arum juga udah lihat Keysha yang nangis karena Reno gak mau diajak main air. Dan juga Vito sama Yanti yang ah sudahlah, pokoknya kita lihat semua yang kalian lakukan," jawab Gibran dengan tawa bahkan tadi Arum juga mengabadikan momen momen lucu teman temannya dan juga teman pacarnya di ponselnya.


"Iyaps betul, bahkan aku ada ambil berberapa potret kalian yang lucu. Hahhaha buat kenang kenangan, ya gak yank,'' ucap Arum masih dengan tawa.


Entah apa yang membuat keduanya begitu bahagia, padahal tadi masih ngambek ngambekkan perkara my husband.


Sontak saja Vito dan Yanti yang mendengar itu langsung memucat, bukan apa apa mereka takut jika apa yang mereka lakukan tadi ikut terpotret di kamera Arum.


Vito dan Yanti saling pandang kemudian mengingat kejadian tadi.


Flashback on


Vito dan Yanti yang sedang bermain air itu menepi dan berjalan menuju sebuah kursi kayu seraya mengambil handuk tipis yang tadi mereka bawa.


"Gak rela aku lihat kamu pakai baju gini," ucap Vito melingkarkan tangannya di pinggang Yanti yang sudah memakai handuk.


"Hah kamu juga gak pakai baju."


"Ini beda sayang, aku masih pake celana. Gak dilirik bule bule juga," ucap Vito yang membuat Yanti cemberut.


Memang sedari tadi ia belum menemukan bule yang menyita perhatiannya. Adanya cuma laki laki tua dan juga ada yang sudah bawa gandengan yang ia lihat tadi, atau memang ia tak terlalu memperhatikan para bule di pantai itu karena fokusnya hanya pada Vito.


"Ishhh sini sama aku," ujar Yanti membuka handuk itu.


"Eh mau ngapain?"


"Keringkan badan, emang kamungak risih basah gitu," ucap Yanti dan dianggukkan oleh Vito. Akhirnya mereka berada dalam satu handuk tipis itu. Sesekali Vito mengeringkan kepalanya yang basah dengan handuk itu.


Cups


Vito tiba tiba mengecup bibir Yanti dengan lembut, Yanti yang menerima serangan mendadak itu membantu dibuatnya. Ia ingin menolak karena malu dengan keadaan mereka sedangkan reaksi tubuhnya menerima apa yang dilakukan oleh Vito.


Berberapa saat melihat terlibat perg***tan lidah dan bertukar sal**a.


"Huhh ahh."


Deg


Bagaikan tersadar dari apa yang mereka lakukan, Vito langsung menghentikan apa yang ia lakukan kemudian memeluk tubuh Yanti yang masih terdiam karena Vito yang melepaskannya secara tiba tiba. Ada rasa kecewa di hati Yanti tapi ia tak bisa apa apa.


"Maaf aku khilaf," bisiknya dan dianggukkan oleh Yanti.


"Emm aku ke kamar mandi dulu, mau ganti baju," ucap Yanti langsung mengambil pakaiannya dan berladi menuju kamar mandi meninggalkan Vito disana sendiri.


Sepeninggalan Yanti, Vito tersenyum manis menatap kepergian kekasihnya. Rasa manis yang ia rasakan masih tersisa di bibirnya.

__ADS_1


"Ashhh aku ingin lagi," gumamnya.


Memang Vito sedang mencari jati dirinya saat ini, diusianya yang sudah menginjak 18 tahun ia sudah paham akan rasa itu' pada dirinya. Vito adalah laki laki normal diusianya yang sudah remaja itu.


Flashback off


"Woy kalian pasti mikirin kiss kiss tadi kan?" bisik Arum pada Vito.


Lamunan Vito kemudian buyar karena bisikan dari makhluk gaib itu. Eits makhluk manis Arum ini tuh, buktinya Gibran sampai tergila gila dibuatnya.


"Ngagetin aja lu, dasar makhluk astral," gumam Vito pada Arum yang membuat Arum kesal kemudian mengadu pada Gibran.


"Vito ngatain aku makhluk astral yank," adu Arum pada Gibran.


"Emang kamu mirip sih yank, tapi versi cantiknya. Soalnya kamu kalau lagi lari gak terdengar langkahnya, kadang aja aku takut," jawab Gibran. Bukannya membela Arum malah semakin mengejeknya.


"Ihh kamu kok gitu, aku kesel sama kamu," cemberut Arum memukul lengan Gibran yang keras itu.


Mereka tertawa melihat ekspresi Arum yang makin menjadi jadi karena ledeka dari Gibran itu.


"Udah udah, kita disini mau lihat sunset loh bulan mau berantem."


"Oh ya, kita bakar bakarnya besok malam aja ya. Malam ini Keysha harus tidur cepet karena udah cukup lelah karena main air tadi," ucap Reno pada mereka tentu saja ini hanya akal akalan laki laki itu saja.


"Oke aja sih, ikut tuan rumah. Lagian nanti kita juga mau bergadang," jawab Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


"Ngapain bergadang?" tanya Yanti dan dan Vito berbarengan.


"Ngapain aja nanti ya yank. Kita mah orangnya random," jawab Arum dan dianggukkan oleh Gibran.


Mereka hanya bisa mengangguk dan kembali menikmati sunset dari atas baru saja. Sangat indah dan juga ini kali pertama mereka melihat sunset yang tenggelam di laut sama secara langsung. Biasanya mereka hanya bisa melihat di hp dan di tv.


Setelah matahari hilang tenggelam sepenuhnya, Arum dan kawan kawan pun beranjak dari batu itu dan kembali ke vila.


Karena hari juga sudah hampir malam, mereka tak mau sampai di vila sudah gelap.


Dan setelah 10 menit mereka berjalan kaki pulang, ke enamnya sudah sampai di vila. Disana sudah ada Bi Surti dan Pak Yaman yang menunggu mereka pulang dari pantai.


"Ayo langsung masuk dan bersih bersih, terutama kamu neng cantik," ucap Bi Surti pada Keysha.


"Kok saya."


"Kamu lagi hamil jangan pulang malam malam ndak baik."


"Iya Bu. Makasih sudah perhatian sama saya dan anak saya. Kita mandi dulu ya pak, Bu."


Keysha dan teman temannya pamit pada mereka untuk langsung masuk ke dalam kamar masing masing dan mandi.


Setelah selesai mandi mereka semua berkumpul di ruang tamu. Dan bercengkrama disana, daripada di kamar gak ada yang bisa diajak ngobrol selain teman sekamar.


"Yank, bikin makan yuk," ajak Arum yang kebetulan ada di samping Gibran dengan suara lirih. Bahkan hanya Gibran yang bisa mendengar suara itu.


Mereka tak enak ngomong langsung jika dia lapar pada pemilik vila itu. Lagipula ini juga salah mereka yang tadi tak ikut makan sore dan ke pantai duluan.


"Kamu lapar?" tanya Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


"Ayo aku temani."


"Gaes kalian mau makan gak? Gue mau bikin makan," ucap Arum pada mereka yang sedang bersantai itu.


"Emm mau buat apa, dek?" tanya Keysha

__ADS_1


"Emm gak tahu juga sih, belum lihat apa yang ada di kulkas tadi," jawab Arum.


"Mau Kakak bantuin aja," tawar Keysha pada Arum.


"Enggak usah kak, ada Gibran yang bantuin aku. Jadi gimana kalian mau makan malam gak?" tanya Arum dan mereka mau.


Akhirnya Gibran dan Arum berlalu meninggalkan mereka menuju dapur, Arum melihat banyak sosis yang mereka beli tadi siang.


"Omlet sosis aja ya," ucap Arum dan dianggukkan oleh Gibran.


"Apapun yang dimasak sama istriku ini pasti suamimu makan kok," jawab Gibran yang ikut membuka bungkus sosis itu.


"Dasar gombal."


"Bener."


Arum diam ia tak mau semakin memperpanjang masalah ini. Perkara makanan aja nanti malah merembet kemana mana.


Setalah selesai memotong sosis dan mencampurnya dengan telur itu kini mulai Arum yang beraksi. Gibran sendiri bingung kenapa ia sudah bisa memotong sosis dengan bagus tadi, biasanya Arum harus mengomel dulu dan mengajarinya dulu baru ia bisa. Tapi ini tadi ia sudah sangat pandai, Gibrajnperlu berbangga diri.


Dengan cekatan Arum mengambil berberapa daun bawang dan memotongnya kemudian memberikan bumbu pada telur itu.


Cetek


Kompor itu sudah menyala, sambil menunggu minyak sedikit panas Gibran memeluk perut Arum dari belakang.


Hal ini sudah sering terjadi saat Arum masak dan ia juga sudah terbiasa dengan sikap calon suaminya ini.


"Manja banget sih, pake peluk peluk segala," ucap Arum seraya menuangkan telur itu ke atas teflon.


"Biarin, manja sama calon istri sendiri gak ada yang larang. Kalau manja sama calon istri orang itu baru yang gak bener," jawab Gibran tak ambil pusing karena baginya Arum adalah obatnya selama ini.


"Halah bilang aja ada maunya," jawab Arum dan ditanggapi tawa pelan oleh Gibran.


"Tahu aja. Nanti kita tidur di sofa ruang tamu ya," pintanya yang membuat Arum bingung.


"Kan ada kamar ngapain di ruang tamu? Pake sofa pula," yah Arum tahu sofa itu bisa dibuat kasur untuk mereka pasti muat.


"Kamu ingat kan kata papa, gak boleh tidur bareng satu kamar. Kalau tidur di luar kamar kan gak apa apa. Lagian ini cuma mau tidur bukan mau bikin anak," jawab Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


"Tergantung nanti ya."


"Oke."


Omlet buatan pasangan muda itupun akhirnya jadi, Arum dan Gibran membawanya ke ruang tamu. Hanya 3 piring saja, 1 piring untuk satu pasangan yang berisi 2 omlet.


"Silahkan dimakan," ucap Arum dan dianggukkan oleh mereka.


"Makasih ya, maaf ngerepotin," ucap Reno dan dianggukkan oleh keduanya.


Mereka makan omlet buatan Arum dan Gibran dengan tenang, walau sesekali guyonan dari mereka membuat suasan lebih hidup.


"Gib, sejak kapan lu bisa masak?" tanya Keysha pada Gibran.


"Gue gak bisa masak, tapi kalau potong potong bisa lah dikit. Lagian gue gak mau terkena minyak ya gara gara masak," jawab Gibran menyuapkan omlet itu ke mulut Arum.


"Halahh kamu itu gak mau belajar, lihat aku. Gak kenapa napa kan? Masih cantik dan imut pula," timpal Arum pada Gibran yang membuat laki-laki itu tertawa mendengarnya.


Memang benar sih, ia yang malas untuk belajar masak. Padahal chef-nya adalah pacarnya sendiri tapi ia sangat malas dan takut dengan cipratan minyak panas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2