Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Sampai Bali


__ADS_3

Happy reading


Sampailah mereka di bandara, Arum yang masih tersadar itu langsung mengangkat kepalanya dan bangun dari dada sang pacar kemudian ia menatap sekeliling.


"Ayo turun, kita udah mepet waktunya ini," ajak Gibran pada Arum.


Gadis itu mengangguk kemudian bangun dan turun satu mobil itu.


"Bapak bisa langsung pulang ya. Terima kasih sudah mengantar," ucap Gibranpada pak supir sang ibu.


"Iya den, lagian ini sudah menjadi tugas saya."


Gibran menanggukkan kepalanya kemudian ia turun dari mobil itu dan mengambil kopernya dan koper Gibran.


Setelah itu Gibran menggandeng tangan Arum untuk masuk ke bandara itu dan mencari keberadaan teman temannya berada di mana.


Arum tanpa membantah langsung mengikuti sang kekasih seraya menarik koper kecil berwarna hitam miliknya. Tak banyak memang yang ia bawa, hanya beberapa helai stel pakaian.


Karena masih mengantuk Arum tak terlalu memperhatikan jalan tapi tangannya terus bertaut pada tangan Gibran agar tidak hilang. Setelah beberapa saat akhirnya mereka menemukan keberadaan teman-teman mereka yang sudah menunggu di kursi tunggu bandara itu.


"Maaf lama."


"Maaf ya semua," ucap Arum denagn tersenyum. Matanya tak bisa berbohong kalau ia masih ngantuk, ingin cepat tidur walaupun itu nanti di pesawat.


"Lesu banget lu," ledek Yanti yang diabaikan saja oleh Arum. Malas sekali ya meladeni ocehan temannya ini hingga membuat ia memeluk lengan Gibran erat.


"Kapan kita naik?"


"Harusnya kita udah masuk, Rum. Tapi kita nunggu kalian," mendengar jawaban dari Keysha membuat Arum bersalah.


"Maaf ya. Kalau gitu ayo kita masuk."


Mereka semua langsung memperlihatkan tiket mereka pada petugas dan diperbolehkan masuk. Karena pesawat sudah mau take off yang membuat mereka harus cepat cepat.


Singkat cerita kini sampailah mereka di dalam pesawat. Untungnya bagasi pesawat itu masih muat untuk di tambah berbeda beban.


Keenam remaja itu mencari tempat duduk mereka masing-masing, Arum dan Gibran duduk di depan Keysha dan Reno sedangkan Yanti dan Vito ada di belakang Keysha dan Reno.


"Kalau mau tidur lagi gak apa apa, sini," ucap Gibran dengan sangat pengertian membiarkan sang pacar untuk tidur dengan pundaknya sebagai sandaran.


Arum tersenyum kemudian menjatuhkan kepalanya di pundak sang pacar dan memejamkan matanya. Entahlah pesawat itu sudah lepas landas atau belum. Kantuk yang tak bisa ditahan membuat gadis cantik itu terlelap begitu saja.


"Dasar putri tidur," gumam Gibran mengelus rambut Arum yang berantakan itu.


Cups


"Tidur yang nyenyak."


Kemudian Gibran mengambil ponsel Arum dan ponselnya saat ada peringatan untuk menyalakan mode pesawat pada ponsel mereka.

__ADS_1


Setalah pesawat lepas landas, Gibran iseng memotret wajah cantik Arum yang terlelap itu. Laki laki itu tampak sangat menjaga sang pacar, sesekali ia bermain game di ponsel itu. Tenang saja game offline yang biasa dimainkan oleh Arum.


Setelah 1 jam Arum tidur di pundak Gibran, gadis itu bangun. Arum mendapati Pipi sang pacar kini berada di kepalanya. Gibran juga terlelap karena tak ada yang bisa diajak ngobrol.


Rasanya bosan jika ingin menonton sendiri di pesawat itu. Alhasil Gibran memutuskan untuk ikut tidur.


"Pegel juga tidur gini," gumamnya yang sebenarnya masih ngantuk tapi Arum juga lapar saat ini. Kemudian ia melihat ada makanan di depannya.


"Tahu aja kalau lagi laper."


Arum menarik dirinya hingga membuat Gibran terbangun. Arum yang melihat kekasihnya terbangun itu tersenyum dan membuka makanan yang ada di depannya.


"Maaf ya jadi kebangun kamunya."


"Gak apa apa, lagian aku gak begitu ngantuk," jawab Gibran mengelus pucuk rambut Arum hingga membuat gadis itu tersenyum.


"Aku lapar sayang, kamu mau aku suapin juga apa enggak?" tanya Arum dan dianggukkan oleh Gibran.


Akhirnya Arum dan Gibran memakan makanan yang tadi diberikan oleh pramugari di pesawat itu. Tak banyak memang tapi cukup untuk mengganjal perut mereka sebelum sampai Bali.


***


Setelah 2 jam pesawat itu landing di bandara. Arum yang tak tertidur lagi itu langsung berdiri dan turun dari pesawat itu bersama Gibran. Tentu saja laki laki itu tak akan membiarkan kekasihnya untuk turun sendiri di antara banyak orang ini. Bisa bisa ia kehilangan kekasih cantiknya ini.


Dan mereka semua sampai di bandara Denpasar pukul 9 pagi. Yah masih cukup pagi memang tapi tak mengurangi panas disana.


"Kita cari makan dulu yuk, anak gue laper," ajak Keysha dengan senyum manisnya mengelus perutnya. Diikuti oleh Reno yang membawa 1 koper besar milik keduanya.


"Dua duanya laper, kan baby masih di perut Mama," jawab Keysha dengan jujur.


Mereka semua yang mendengar itu hanya tertawa, melihat pasangan yang sedang menunggu buah hati mereka itu. Sangat romantis walau dengan cara yang berbeda.


Mereka memutuskan untuk mencari makanan di area bandara itu. Memang di samping bandara ada sebuah kafe yang sangat ramai pengunjungnya.


Mereka berenam mencari tempat duduk dan memasan makanan. Arum duduk disamping Gibran dan Yanti kemudian gadis itu menggenggam tangan Gibran yang berada di bawah meja.


Yanti yang melihat itu mulai berbuat usil.


"Ya ealah Rum Rum, lu gak akan hilang di kafe ini. Gak perlu lah lu gandengan tangan segala. Kayak mau nyebrang jalan aja pake gandengan tangan segala."


"Iri lu? Pacar pacar gue juga, yang terserah dong. Kayak lu gak pernah berbuat lebih aja.


Skakmat


Arum membalikkan omongan Yanti dengan santainya, yang membuat Yanti malu tapi memang benar apa yang dibilang sahabatnya ini.


Kedua kakaknya saling pandang kemudian menatap Yanti, sedangkan Yanti yang di tatap itu langsung mendekatkan diri pada Arum.


"Kenapa lu pake bilang gitu sih, bisa mampus kalau Kak Keysha tahu gue udah gak sepolos dulu lagi," ucapnya dengan nada berbisik.

__ADS_1


"Ya lu yang mulai, asal lu tahu ya Yant. Gue ini masih ngantuk walau udah tidur tadi di pesawat, wa wajar aja gue jujur kayak gini," ucapnya tanpa dosa menatap Yanti.


"Maksudnya Arum kamu berbuat lebih apa, Yan?" tanya Keysha pada Yanti. Kakak perempuan mana yang mau adiknya berbuat hal yang tidak tidak sebelum menikah.


"Gak ada kak. Jangan percaya sama Arum, lagian kakak tahu sendiri gimana gaya pacaran aku sama Vito. Normal kok, cuma pegangan tangan sama cium pipi doang," Tentu saja hal ini bohong. Pasalnya Yanti dan Vito juga sudah sering ciuman.


"Benar begitu Vit?"


"Iya kak, yah nanti kalau khilaf bisa deh bibibi gue nyosor," jawab Vito dengan santainya. Laki laki itu cukup tersenyum mendengar pacarnya bicara bohong kepada kakaknya.


Keysha yang mendengar itu hanya mengangguk kemudian menatap makanan yang dibawa pelayan ke mejanya.


Matanya berbinar melihat banyak olahan seafood disana yang ia pesan tadi.


Karena makanan juga sudah sampai mereka semua memutuskan untuk lekas memakan makanan mereka dan segera ke villa.


"Sayang mau disuapi aja, kamu kayak gak semangat gitu mau makan," tawar Gibran dengan lembut mengelus punggung tangan Arum yang masih digenggam oleh Arum.


"Males makan, tapi laper," jawabnya dengan lirih.


Alhasil Gibran mengambil alih makanan yang ada di depan Arum dan menyuapi gadisnya dengan makanan yang tadi ia pesan. Watak Arum kalau lagi ngantuk pasti males mau ngapa ngapain.


"Makan yang banyak, aku gak mau papa dan mama mikir yang enggak enggak kalau kamu kurusan disini," ucap Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


Mereka semua menikmati makanan mereka hingga habis, tersisa piring piring dan cangkang kerang saja di sana.


"Alhamdulillah."


"Mau beli apa dulu atau langsung ke vila?" tanya Reno pada mereka semua.


"Emm beli cemilan dulu yuk, buat makan di jalan kan bisa nanti," ajak Yanti yang sangat suka dengan jajan yang berbau micin.


"Ayo aku juga mau lihat jajanan apa aja disini," jawab Arum pada mereka.


Akhirnya mengikuti sang perempuan, para laki laki hanya ngekir di belakang mengikuti cewek mereka belanja di supermarket terdekat.


"Nanti malam kita bakar bakar yuk, biar makin asik kita disini."


"Ayo aja kak."


Akhirnya mereka berbagi tugas untuk mencari bahan untuk membuat bakar bakar nanti malam. Bumbu dan juga cemilan yang banyak tak lupa mereka ambil.


"Kita kayak nemenin istri belanja bulanan kalau gini," ucap Vito yang tak sadar jika Reno memang menemani sang istri berbelanja.


"Gue emang ada istri, gak kayak lu berdua."


"Si paling udah punya istri."


Setelah berberapa saat akhirnya para perempuan sampai di kasih dengan banyak belanjaan. Setalah membayar akhirnya mereka memesan taksi menuju vila.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2