
Happy reading
Sedangkan di sebuah mobil, seorang laki laki menghembuskan nafasnya dengan pelan. Sudah sering kali ia mendapatkan laporan tentang Lidia di negara itu.
"Pulang ke Indo."
"Tapi Tuan Luke, hari ini masih ada meeting dengan desainer Giva," ucap sang asisten dengan sopan.
"Batalkan, urusanku lebih penting saat ini," ucap Luke dengan tegas.
Sang asisten pun menuruti apa yang diinginkan oleh tuannya. Baginya titah sang bos adakah perintah.
Sang asistenpun mulai mengapa hari pilot yang mereka bawa ke negara ini.
"Penerbangan akan dilakukan 2 jam setelah ini Tuan dan mendarat di bandara Indonesia sekitar pukul 2 sampai 3 waktu Indonesia barat," ucap Asisten Luke dengan sopan.
"Hmm."
Luke Alexander itulah nama laki-laki yang ada di mobil dan orang yang tak lain adalah sugar Daddy dari Lidia. Berusia 38 tahun dengan perawakan tinggi dengan kulit eksotis membuatnya tampak gagah di usianya yang sudah tua eh tidak tua tapi matang.
"Ingatkan aku untuk menghukumnya," batin Luke menatap foto foto yang dikirimkan oleh anak buahnya. Dimana foto itu adalah foto kurang pantas yang memperlihatkan Lidia sedang melayani para pria.
Ting
+62....
Tenang saja tuan, mereka hanya kissing. Tidak sampai 👉👈
"Memang nakal," gumamnya meletakkan ponselnya begitu saja di kursi mobil itu.
Sebenarnya ia sering bertanya tanya apa kurangnya dia selama ini. Ia rasa tidak ada, banyak wanita yang mengejarnya tapi yang ia inginkan hanya Lidia terlepas dari semua masalah buruknya.
Mobil itu terlalu menuju landasan helikopter tanpa membawa barang-barang milik Luke. Laki-laki berdarah Indonesia London itu hanya membawa dompet dan ponsel saja karena semua sudah disiapkan oleh sang asisten.
Sampainya di sana Luke langsung masuk ke dalam helikopter, laki laki itu tak sabar ingin menemui sang sugar baby yang pasti saat ini sangat sedih dan juga marah karena ia sudah sangat hapal dengan sifatnya.
****
Meninggalkan Luke yang sedang berada di dalam helikopter. Kini Gibran malah asih bermain dengan buah kembarnya sang pacar.
"Jangan dimainin, kamu mau aku geplak lagi ya!!!"
Wajah Arum sudah memerah karena malu makan apa yang dilakukan oleh sang pacar. Setelah puas peluk-pelukan tadi Gibran dengan jahil melepas satu persatu kancing baju seragam Arum. Hingga saat ini seragam itu sudah jatuh kelantai bahkan bra milik sang pacar itu sudah terlepas.
Karena Gibran yang nakal, Arum berulang kali menggeplak punggung Gibran dengan keras.
__ADS_1
"Jangan masih sakit," ucap Gibran yang tak mau punggungnya jadi sasaran kemarahan Arum.
"Makanya jangan nakal," ucapnya dengan kesalnya.
"Aku gemes deh sama mereka, kenapa ya laki laki gak punya uang gede gini?" tanya Gibran dengan randomnya mulai meremat salah satu buah itu.
"Kan kamu punya lontong yang gede, emang belum cukup?" tanya Arum dengan menahan tawanya. Bisa bisanya mereka membahas hal seperti ini.
"Emang kamu udah lihat lontongku gede atau kecil?" tanya Gibran menggoda sang pacar.
"Gak tahu, kan belum kamu kasih tahu," jawabnya dengan tawa yang mulai keluar.
"Huss area dewasa sayang, kamu jangan mulai ya nanti dapat peringatan."
Hahaha
Keduanya tertawa dengan renyahnya, tak ada lagi Gibran yang murung seperti tadi. Yang ada hanya Gibran yang me*um seperti biasanya.
Mereka sudah sepakat bolos saja untuk hari ini, mungkin nanti resikonya adalah mereka akan disidang oleh orang tua masing masing karena guru dan dosen mereka juga kenal dengan orang tua mereka.
"Gimana ya keadaan Lidia setelah kamu permalukan tadi? Pasti sedih banget."
Gibran yang mendengar hal itu langsung menatap Arum yang sedang menatap langit langit kamar mereka itu.
"Bukan gitu sayang, tapi kan aku sebagai sesama wanita pasti sangat sedih kalau aib aku di umbar sama orang. Gimana kalau orang tuanya malu dengan aib ini," ucap Arum kini mulai menatap mata Gibran.
"Aku gak akan kayak gini kalau dia gak mancing duluan. Lagian semua orang juga tahu bagaimana aku, salah dia yang seenaknya ganggu hubungan kita."
"Hmmm."
"Apa kamu marah kalau aku buat dia seperti itu?" tanya Gibran. Arum tersenyum kemudian menggeleng.
"Aku gak marah tapi aku gimana ya ngomongnya. Emm seharusnya kamu gak harus mempermalukan dia di hadapan banyak orang."
"Biar kapok aja, dan supaya cewek cewek yang mau deketin aku mikir dua kali."
"Dasar, emang kamu gak mau ngalah. Ya sudah kalau mau apa apa kamu bilang dulu sama aku ya."
"Gak janji."
Gibran memang sangat keras kepala, begitupun dirinya. Entah bagaimana mereka nanti jika bersatu, tapi herannya sekeras kepala mereka tetap saja mereka saling mencintai dan rela mengalah demi pasangan.
"Yank."
"Hmmm."
__ADS_1
"Aku isep boleh ya?"
"Ha."
Arum bingung, apa yang mau di hisap. Kemudian ia menatap ke arah dadanya yang sudah memerah karena dimainkan oleh Gibran.
"Gak ada isinya sayang, lagian aku masih kecil masa kamu mau nge**eng?" tanya Arumenarik selimut yang melorot itu.
"Wong aku pengen, kamu gak tahu sih godaan terberat laki laki itu ya cewek. Apalagi kalau aku lihat yang kayak gini tapi cuma milik kamu, aku pingin rasain. Boleh ya," pinta Gibran dengan wajah melas.
"Tapi.."
"Sstt aku gak akan kelewat batas kalau aku sampai kelewat batas kamu boleh tampar aku sepuas kamu."
Gibran meletakkan telunjuknya di bibir Arum hingga membuat Arum hanya diam dan membiarkan apa yang dilakukan oleh Gibran.
"Ahh."
Entahlah suara itu kenapa muncul dari bibir manis Arum. Arum masih polos ya tolong, Gibran jangan nodai otak polos dan suci Arum.
"Sayang suara kamu buat aku pingin aja."
"Aku gak tahu, sudah ya. Jangan diterusin," ucap Arum menahan dada Gibran.
"Gak bisa aku masih mau sama kembar."
"Tapi geli, sayang. Aku gak tahan buat gak keluarin suara aku," ucapnya dengan kesal. Entahlah kenapa ia mudah sekali kesal dan emosinya sulit untuk terkontrol mungkin ia akan kedatangan bulan jika begini.
"No."
"Ash terserah aku mau tidur aja."
Arum langsung membalikkan tubuhnya kemudian menarik selimut sampai batas leher. Membelakangi Gibran yang sedang menatap punggung Arum dengan sendu.
Hilang sudah kesempatan ia untuk bermain dengan kembar. Jika begini ia akan sudah untuk membalikkan tubuh Arum.
"Gak apa apa masih ada nanti buat aku main lagi sama kembar," gumamnya kemudian memeluk Arum dari belakang. Tentu saja adegan tangan yang meremat sesuatu disana.
"Tangannya nakal, aku potong ya.''
"Jangan kejam kejam sama calon suami."
Arum tak memperdulikannya kemudian menahan tangan Gibran agar tak nakal kemudian ia menutup matanya dan tidur.
Bersambung
__ADS_1