
Happy reading
Sedangkan kedua orang tua Arum kini masih berada di ruang keluarga. Dengan posisi Mama Tiya yang bersandar di pundak suami.
"Mama kenapa hmm? Kayaknya seneng banget?"
"Nanti aja aku kasih tahu."
"Kenapa gak sekarang aja?" tanya Papa Sandi mengelus lembut rambut sang istri.
"Ya nggak apa apa sih. Nanti aja tunggu di kamar," jawab Mama dengan senyum.
Dalam hati Mama Tiya sedikit takut jika mengatakan ia hamil. Karena yang suaminya tahu dirinya selalu memakai KB. Kok bisa hamil, mungkin itu yang nanti akan ditanyakan oleh Papa Sandi.
"Kamar? Ya udah yuk kita ke kamar," ajak Papa tanpa beban langsung menggendong tubuh Mama Tiya ala pengantin baru.
Mama Tiya yang sedikit terkejut itu langsung mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
"Papa ihh kenapa gak bilang-bilang kalau mau gendong sih? Kalau mama jatuh gimana?" Protes mama Tia pada sang suami yang tampak hanya tersenyum.
"Kalau jatuh palingan juga jatuh ke pelukan aku, Mama gak perlu takut hmm. Mama gak akan jatuh selama ada Papa," balas Papa mengecup bibir sang istri.
Muhammadiyah yang mendengar gombalan dari sang suami itu hanya tersenyum kemudian membiarkan suaminya menggendongnya sampai kamar.
Sampainya di kamar papa langsung membaringkan tubuh Mama Tiya di ranjang. Kemudian laki laki itu melepas kaos yang dipakai.
Sudah menjadi kebiasaan Papa sandi jika malam pasti akan melepas pakaian atasnya ketika ingin tidur.
"Apa kabar yang membuat kamu senang?" tanya Papa menatap sang istri yang ada disana.
Mama Tiya langsung bangun dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kemudian memberikannya pada sang suami.
"Ini apa? Daftar belanja bulanan?" tanya Papa Sandi sebelum membuka map itu.
"Bukan Papa."
Mama Tiya menarik tangan Papa Sandi untuk duduk di sampingnya. Dengan pelan Papa sandi membuka map itu seraya menatap sang istri yang tengah tersenyum kepadanya.
Sreekkk
Kertas itu ditarik dari dalam map oleh Papa Sandi dan dibaca tulisan itu. Papa Sandi seolah tak percaya melihat tulisan yang mengatakan positif hamil besarta dengan hasil USG yang menampilkan sebuah titik kecil di tengah sama.
__ADS_1
"Ma, ini beneran?" tanya Papa Sandi yang begitu syok melihat kabar gembira ini. Saking terkejutnya, Papa Sandi sampai tak bisa berkata-kata lagi.
Mama Tiya yang mendengar itu langsung menganggukkan kepalanya kemudian meraih tangan suaminya dan meletakkannya di atas perut ratanya.
"Iya ini kabar baiknya," jawab Mama Tiya yang membuat mata Papa Sandi berkaca kaca.
Di usianya yang sudah tak lagi muda, kabar ini tentu saja membahagiakan untuk Papa Sandi. Di saat ia sudah ingin memiliki cucu tapi ternyata Allah begitu baik dengannya hingga memberikan rezekinya lewat anak yang di kandung sang istri.
Dipeluknya tubuh wanita yang sudah menemaninya 20 tahun lebih itu dengan erat kemudian air matanya jatuh mmbegutu saja kala sekarang istrinya kembali mengandung.
Sebelumnya Papa sandi tak pernah berpikir akan mendapatkan anak untuk ketiga kalinya. Pikiran laki-laki itu anak mereka hanya dua dan mereka akan memiliki cucu sebentar lagi.
"Terima kasih."
"Ini rezeki aku juga gak bisa nolak," jawab Mama Tiya mengelus punggung suaminya yang bergetar karena tangis.
"Cup cup sudah jangan nangis ya pah, nanti baby yang ada di dalam perut ikut nangis kalau Papa nangis kayak gini."
"Ini tangis bahagia sayang. Mas tak menyangka akan punya anak lagi yang mungkin nanti seumuran dengan anak Naufal, cucu kita," jawab Papa Sandi menghapus air matanya sendiri kemudian mengecup kening sang istri dengan lembut dan sedikit lama.
Mama Tiya tersenyum dengan lembut kemudian memeluk tubuh sang suami. Reaksi suaminya sudah ia tebak sebelumnya tapi tak akan pernah tahu jika sampai menangis seperti ini.
"Emm Mama lupa kalau bulan lalu itu jadwalnya Mama suntik KB, Pah. Dan saat itu Papa juga sering keluarin di dalam. Ya jadilah," jawab Mama yang masih memeluk tubuh Papa sandi.
"Astaga kok bisa sampai lupa sih hmm? Bukan apa apa sayang, mas bahagia kamu bisa hamil lagi tapi usia kita juga udah gak muda, gimana kalau resikonya besar buat kamu dan baby?" tanya Papa dengan lembut.
"Tadi aku udah konsultasi sama dokter kandungan dan boleh aja aku hamil apalagi aku belum sampai 45 ke atas. Tadi aku juga udah beli obat anti mual dan vitamin buat baby supaya sehat. Kamu tenang aja ya, insyaallah aku gak akan kenapa napa. Selagi ada kamu dan anak anak yang jaga aku," jawab Mama Tiya.
Papa Sandi menganggukan kepalanya kemudian mengejut kening sang istri dengan penuh kasih sayang. Tangannya kini terulur untuk mengelus perut rata Mama Tiya.
"Halo sayang, kamu sehat sehat aja kan di dalam sana. Papa senang kamu bisa hadir di perut Mama kamu, kakak kakak kamu pasti juga senang dengan hadirnya kamu nanti. Pesan papa kamu harus baik baik di dalam sana, jangan rewel dan jangan buat mama sakit hmm. Papa sayang kamu nak," bisiknya yang mampu membuat Mama Tiya tersenyum dan meneteskan air matanya.
Papa sandi membuka sedikit piyama yang dipakai oleh sang istri dan mengecup perut rata itu dengan lembut.
Cups
Mama Tia yang melihat itu hanya bisa mengelus lembut rambut sang suami denagn lembut.
"Terima kasih Mama. Kamu sukses membuat air mataku jatuh," ucap Papa Sandi mencubit hidung Mama Tiya dengan lembut.
"Terima kasih kembali. Aku pikir kamu akan marah kalau tahu aku hamil, walau pada akhirnya kamu juga akan menerima. Tapi ternyata kamu malah senang banget kayaknya," ucap Mama Tiya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku marah, yah walau aku sedikit takut karena usia kita yang tak lagi muda. Tapi aku sungguh bahagia mendengar kabar ini, sungguh."
Papa sandi mulai naik ke atas kasur dan memeluk Garut sang istri dengan lembut. Laki laki itu tampaknya tak mau melepaskan dekapannya di perut rata Mama Tiya.
"Gak sabar nunggu gede, pasti lebih gemoy daripada kamu hamil Arum," ujar Papa Sandi menatap perut rata itu.
"Semoga aja, aku akan jaga kandungan aku sebaik mungkin. Aku tak akan ceroboh seperti dulu," jawab Mama Tiya dengan sungguh sungguh.
Mereka masih teringat di saat Mama Tiya hamil Arum dulu. Jika membayangkan kembali bagimana susahnya mereka dulu. Bahkan nyawa Arum hampir saja hilang saat masih di dalam perut.
Saat kehamilan keduanya dulu mama Tiya memang sangat bandel dan ceroboh. Durian, dan nanas adalah buah kesukaannya saat hamil dulu, dengan diam diam Mama Tiya membeli buah durian dan memakannya saat tak ada siapa siapa. Hingga berakhirlah Mama Tiya di rumah sakit karena pendarahan. Untungnya Arum saat itu kuat walau masih berada di dalam perut.
"Jadikan kejadian dulu sebagai pelajaran buat kehamilan kamu yang sekarang, jangan makan makanan yang buat kamu dan baby sakit. Untungnya dulu Arum kuat di dalam perut kamu," ujar Papa dan dianggukkan oleh Mama Tiya.
"Iya Mama janji gak akan ceroboh lagi dan gak akan bandel lagi," ucap Mama Tiya dan dianggukkan oleh Papa Sandi.
Akhirnya mereka berdua menarik selimut itu dan Mama Tiya membiarkan sang suami untuk melakukan apa yang dilakukan di perutnya.
"Mas."
"Hmm."
"Gak ngantuk kamu mainin perut aku doang?" tanya Mama Tiya setelah berberapa menit suaminya hanya memeluk, mengecup, dan mencium perutnya saja. Matanya masih jreng terbukaz padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Belum ngantuk, Ma."
"Tapi aku ngantuk."
"Ya sudah kamu tidur aja duluan aja nggak apa apa. Aku masih mau main sama baby," jawabnya mengecup perut Mama Tiya.
Mama Tiya membiarkan suaminya bermain dengan baby walaupun hanya dengan elusan saja.
"Mama tidur dulu ya,Pa," ucap Mama seraya menutup kepala suami yang berada disamping perutnya itu.
"Iya."
Apa sandi yang melihat istrinya sudah menutup matanya itu tersenyum kemudian memeluk perut rata itu dan ikut memejamkan matanya. Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan untuk papa sandi.
Ia berharap Noval juga menerima kehamilan mamanya dan menerima adiknya yang pasti akan seumuran dengan anak Naufal.
Bersambung
__ADS_1