
Happy reading
Mereka terlebih dahulu membeli tiket masuk pada orang yang berjaga disana.
Setelah mendapat tiket masuk mereka semua berjalan masuk ke dalam wisata air terjun itu. Dengan formasi Arum dan Gibran di depan sedangkan Yanti dan Vito di belakang.
"Masih jauh gak sih, neng dari tadi kita jalan gak nyampe nyampe," tanya Yanti yang sepertinya tak pernah jalan jauh. Padahal mereka berjalan masih sekitar 5 menitan.
"Sabar elah, baru juga berapa menit kita jalan. Udah ngeluh aja," jawab Arum menoleh ke belakang dimana Vito dan Yanti jalan.
"Lu kan tahu gue gak pernah jalan kaki dengan daerah nanjak gini. Capek tahu," ujar Yanti yang membuat Vito tanpa aba aba langsung berjalan mendahului Yanti dan berjongkok di depan gadisnya itu.
"Daripada kamu ngomel aja di jalan, sini aku gendong."
Yanti yang mendengar itu langsung menatap ke sekeliling mereka. Ada berberapa orang yang memperhatikan mereka dengan tatapan tak terbaca.
"Bangun ih malu tahu dilihatin orang," ucap Yanti menarik tangan Vito agar bangun tapi laki laki itu tetap berjongkok di depan Yanti.
"Udah naik aja, daripada lu ngomel terus. Pengeng kuping gue," ucap Arum menggandeng tangan Gibran. Seraya menatap pasangan yang ada di belakang mereka.
"Kamu mau juga digendong?" tanya Gibran pada sang pacar.
"Gak mau, udah deket juga. Berapa menit jika udah sampai, suaranya air terjun sudah terdengar tuh," jawab Arum dan dibalas anggukan kepala oleh Gibran.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju air terjun dengan Yanti yang berada di gendongan Vito.
Dan setelah berberapa saat akhirnya mereka sampai di lokasi air terjun. Mereka bisa melihat air terjun itu tampak indah di depan mereka.
Yanti merasakan air yang mengalir dibawahnya itu. Kemudian ia kembali menarik tangannya.
"Dingin," gumam Yanti yang membuat mereka terdiam sebentar.
"Gas lah, gue mau mandi air. Tuh anak anak aja berani main air masa kita kalah sih," ucap Arum melepas jaket yang ia pakai tadi.
"Iya, gue juga udah lama gak main di air terjun gini, yuk yank," ajak Gibran yang sudah melepas kaos yang ia pakai.
Bergelar ucapan Gibran, langsung menggelengkan kepalanya. Ia masih teringat akan pesan Reno tadi sebelum mereka berangkat.
"Hehh gak boleh dua duaan mandi di air terjun ini, pamali kata kak Reno tadi. Lebih baik kita patuhi larangan yang ada di sini," ujar Yanti melarang Gibran yang ingin mengajak Arum untuk turun dan bermain di bawah air terjun itu.
Arum yang mendengar itu mengaggukkan kepalanya. Ia juga pasti teringat apa yang dikatakan oleh Reno tadi, tentu saja sebagai warga pendatang mereka harus mematuhi segala larangan yang ada di sana.
"Iya sayang, nanti kalau kita udah puas berendam. Kita duduk duduk di bantu buat lihatin anak anak itu main," timpal Arum mengelus pipi Gibran.
"Oke."
__ADS_1
Setelah itu Arum dan Yanti langsung turun dan berjalan di dalam air menuju air terjun yang lebih deras airnya. Mereka menikmati sensasi dingin dari air itu hingga membuat keduanya betah berlama-lama di dalam air.
"Sumpah seger banget," ucap Yanti merendam tubuhnya hingga hanya terlihat kepalanya saja.
"Iya, kalau gini caranya gue juga mau kali tiap hari kesini," ucap Arum berjalan menuju jatuhnya air hingga ia bisa leluasa melihatnya.
"Awas Rum, jangan dekat dekat sama air terjunnya bahaya," peringat Yanti dan dianggukkan oleh Arum.
Memang kedalaman di dekat air terjun lebih dalam daripada di luar air terjun dan Arum bisa merasakan hal itu. Tapi iya tak takut sekalipun karena ini adalah hal baru dalam dirinya hingga membuat ia sangat semangat.
"Yanti sini deh disini agak anget daripada yang disana," ucap Arum memanggil sahabatnya.
Kedua sahabat itu berendam dan bermain disana, mulai menjulurkan tangannya ke air itu kemudian menyiratkan air itu ke wajah mereka masing masing.
Vito dan Gibran yang memutuskan untuk berada di pinggir air terjun itu melihat dan mengamati pacar mereka yang sudah bermain air.
"Ternyata buat cewek kita seneng itu gampang ya kak," ucap Vito dengan senyum tampannya mampu membuat para ciwi yang ada disana terpesona dengan senyuman dan wajah tampan Vito dan Gibran.
"Yah, tak melulu soal uang. Walau yang juga butuh buat mereka tapi kebahagiaan batin mereka juga harus kita perhatikan," jawab Gibran dengan santainya.
Vito membenarkan apa yang dikatakan oleh Gibran, pacar mereka tidak matre. Tidak seperti wanita-wanita kebanyakan yang mendekati mereka karena kekayaannya mereka punya.
Karena asik mengamati kedua gadis mereka itu membuat keduanya tak sadar jika ada dua wanita yang berpakaian kurang bahan menghampiri mereka dan ikut masuk ke dalam air.
"Halo tampan, bolehh kenalan gak?" tanya salah satu dari mereka mendekatkan dada mereka pada Gibran.
"Ih ganteng banget sih, berdua doang. Kita temani ya," ucap satu wanita lagi mendekatkan tubuhnya pada Vito.
Kedua laki laki itu langsung menepis tubuh para wanita itu hingga membuat para wanita itu sedikit terkejut dan juga kesal.
"Ih kenapa sih, daripada berdua aja kita temani ya."
"Sorry ya mbak, kita tuh lagi sama pacar kita. Tuh yang lagi mandi jadi jangan dekat dekat deh, alergi saya sama tubuh mbak itu," ucap Vito dengan pedas tapi yang itu tidak membuat ketua wanita ini jera untuk menggoda laki laki tampan ini.
Jarang jarang mereka melihat laki-laki tampan di sini karena biasanya yang datang adalah bapak bapak dan ibu-ibu.
"Alah jangan bohong deh ganteng, mereka aja gak nengok kesini. Udah ayo kita temani aja," ucap wanita dengan baju merah itu memegang dada Vito.
Plak
"Kurang ajar," umpat Vito menampar tangan nakal wanita itu.
Sedangkan Gibran sudah naik ke atas batu meninggalkan mereka bertiga yang masih ada di dalam air. Tapi tak lama lah wanita berbaju biru ikut naik dan duduk di sampingnya.
"Siapa sih, jangan cari cewek murahan deh."
__ADS_1
"Kita bukan cewek murahan, kita cantik loh. Masih muda lagi, kuat banget kalau mau diajak main. Biasanya aja orang bayar 10 juta sampai 20 juta permalam. Kalau buat kamu aku kasih gratis deh," bisik wanita itu dengan centil.
***
Sedangkan di sisi lain, Arum dan Yanti siap melihat pacar mereka diganggu oleh dua ulat bulu itu langsung keluar dari tempat itu menuju tempat pacar pacar mereka.
Amarah Yanti langsung meledak dikala ada wanita yang mencoba untuk memegang bagian tubuh Vito. Tak rela, sungguh Yanti tak rela.
Tubuh Vito adalah miliknya tidak boleh seorang memegang atau menggoda laki-laki yang sudah menjadi miliknya.
Sedangkan Arum yang melihat pacarnya terdiam saat wanita itu mendekatinya mulai takut kemudian Arum menarik tangan Gibran hingga membuat laki laki itu sadar.
"Yank."
"Jangan tergoda sama setan," ucap Arum dengan cemberut.
Jujur saja harum cemburu melihat pacarnya digoda oleh wanita berbaju biru itu. Apalagi wanita yang ada di depannya ini sangat cantik dan juga bertubuh bagus di bagian-bagian tertentu juga sangat menonjol.
"Enak aja lu bocah ngatain gue setan," marah wanita itu ingin menampar wajah Arum. Tapi dengan cepat Gibran langsung menghentikan tangan wanita itu.
Ya itulah yang namanya wanita selalu menggunakan tangan sebagai alat tempur mereka. Entah itu menampar ataupun menjambak.
"Pergi!!" teriak Gibran yang tak ingin menambah masalah di sini. Apalagi para wisatawan juga sudah menatap ke arah mereka.
"Tapi.."
"Pergi aku bilang!!"
Akhirnya kedua wanita itu pergi begitu saja meninggalkan mereka yang masih terdiam karena takut dengan teriakan Gibran yang sepertinya tak main main kesalnya.
Laki laki itu memang tak akan marah jika dirinya tak diusik dan kedua wanita itu cukup mengganggunya. Sekaligus Gibran juga takut Arum akan salah paham dengan kedekatan wanita wanita tadi.
Aura yang dikeluarkan oleh Gibran tidak main-main untuk mereka berdua. Arum pun yang berada di samping Gibran itu langsung memegang tangan Gibran.
Sudah lama Gibran tidak marah seperti ini, bahkan akhir akhir ini sifat Gibran tidak seperti dulu yang gampang emosian dan juga tak suka berbincang dengan orang lain selain yang dikenalnya.
"Sudah ya jangan marah marah lagi. Aku takut kamu marah."
Gibran yang mendengar ucapan Arum itu langsung menormalkan ekspresi wajahnya dan menangguk. Walau rasa kesal masih mendominasi dalam dirinya.
"Maaf."
"Hmm."
Setelah beberapa saat mereka kembali seperti semula, mereka menganggap kejadian tadi tidak ada dan tujuan mereka adalah liburan.
__ADS_1
Akhirnya Arum dan Yanti mulai berganti pakaian mereka yang sudah basah ke kamar mandi yang memang disediakan disana. Walaupun air terjun itu berada di tengah hutan yang jalannya hanya bisa dilewati oleh satu kendaraan bermotor.
Bersambung