Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Peluk Cium


__ADS_3

Happy reading


"Aku bisa buktikan sama kakak kalau Arum bakal baik baik aja sama aku. Lagipula saat ini aku media sosial Arum udah aku sadap, jadi aku tahu siapa yang macam macam sama Arum," ucap Gibran dengan sungguh sungguh.


"Aku percaya, karena kita juga sudah kenal dari kecil. Aku tahu rahasiamu begitupun sebaliknya," ucap Naufal menepuk pundak Gibran.


"Hmm."


Mereka berbincang seraya menunggu para wanita mereka keluar dari ruang makan. Rencananya hari ini Naufal dan Cika akan datang ke rumah orang tua kita yang tak lain adalah mertua Naufal.


Rasanya tak adil jika datang ke rumah keluarga Naufal tapi tidak datang ke rumah keluarga Cika. Lagi pula hubungan mereka juga baik-baik saja jadi tak ada alasan untuk tidak mengunjungi rumah keluarga Cika.


Tak lama Cika dan Arum keluar dari ruang makan menuju arah mereka. Kedua gadis beda usia itu tampak tertawa dan bercanda bahkan sesekali Arum tampak mengelus perut Cika yang kini menjadi candunya untuk mengelus.


"Kenapa sih kok kayaknya seneng banget?" tanya Naufal menghampiri sang istri.


"Ini Arum godain aku terus, makanya aku tertawa," jawab Cika menatap adik iparnya.


"Aku gak godain Kakak kok cuma bilang faktanya aja. Kalau Kak Naufal ini memang sangat kaku, aku heran gimana kalian bisa memiliki anak?" tanya Arum dengan polos polos ******.


Cika yang mendengar itu sontak langsung tertawa. Memang tidak ada yang salah dari ucapan adik iparnya itu, suaminya ini memang sangat kaku jika menyangkut soal perempuan.


Dulu awal-awal mereka bersama juga Naufal sangat kaku dan cuek. Bahkan sering jika yang mulai dulu agar suaminya itu lebih peka.


Dan semua itu tak sia-sia pernikahan yang awalnya perjodohan dari orang tua mereka kini pernikahan itu membuat cinta di hati keduanya tumbuh dan saat ini mereka akan memiliki buah hati. Sifat Naufal juga sudah tak seperti dulu, laki laki itu lebih romantis dan juga sangat memperhatikan dirinya.


"Masih kecil bilangnya kayak gitu," ucap Naufal menyentil kening sang adik.


"Heh aku udah 18 tahun ya kak. Mau bikin baby juga udah bisa, sekata kata aja bilang aku masih kecil," jawab Arum.


Hal itu membuat Naufal dan Cika membulatkan matanya, bagaimana adiknya dulu yang polos kini berubah menjadi semes*m ini. Sedangkan Gibran yang bibirnya berkedut itu tak mampu menahan senyum manisnya. Memang benar mereka sudah bisa membuat baby.


"Gibran jangan ajarin adik gue yang aneh aneh," ucap Naufal pada Gibran.


"Enggak kak. Orang dia belajar sendiri dari buku," jawab Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


Memang benar di dalam pelajaran biologi ada materi tentang siklus menstruasi dan siklus kehamilan, bagaimana caranya agar hamil? Begitu? Padahal belum diajarkan tapi Arum yang memang iseng itu membaca hingga selesai dan ia sudah paham.


"Ya sudah kalau gitu, kenapa masih disini. Sana berangkat nanti telat lagi, kakak gak mau ya sampai kakak dengar kamu bolos lagi," ucap Naufal pada adiknya ini.


"Iya."

__ADS_1


Gibran dan Arum berpamitan kepada kakak dan kakak iparnya tak lupa Arum juga mencium perut sang kakak ipar.


"Onty berangkat dulu ya nanti kita main lagi," bisiknya kemudian mengecup perut itu.


"Iya onty."


Kemudian keduanya keluar menuju mobil Gibran yang sudah terparkir di depan rumah itu. Arum yang melihat mobil itu sontak langsung menatap Gibran, terakhir kali Gibran menjemputnya dengan mobil adalah saat di mana Gibran juga jalan dengan wanita lain.


Gibran yang mengerti tatapan dari sang kekasih itu langsung menggenggam tangan Arum dan tersenyum.


"Aku sengaja bawa mobil karena ingin peluk kamu sayang. Katanya tadi malam kamu pengen dipeluk dan dicium sama aku. Nanti kalau aku bawa motor kan gak bisa cium cium," jawab Gibran yang tak ingin sang kekasih salah paham kenapa ia membawa mobil.


Arum yang mendengar itu menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum. Ia akan mencoba untuk kembali percaya pada Gibran.


Gibran berjalan menuju pintu mobil itu dan membukanya untuk Arum. Yang mendapat perhatian dari Gibran itu tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil dan mengucapkan terima kasih.


Setelah menutup pintu mobil Gibran memutari mobil itu dan masuk ke bagian kemudi. Setelah salat Gibran memakai sabuk pengaman dan menjalankan mobil itu meninggalkan area rumah Arum.


"Sayang kayaknya kuta harus cepat nikah deh biar punya baby sendiri," ucap Gibran yang mendapat tatapan tak enak dari Arum.


"Gak aku masih kecil."


"Sembarangan kalau ngomong. Sekolah dulu yang bener, setelah itu kerja baru deh nikah. Kamu jangan macam-macam ya yank, aku gak mau hamil duluan kalau kita udah nikah," ucap Arum menatap Gibran yang mengangguk kepalanya.


Mana mungkin ia merusak wanita yang selama ini jaga. Nanti yang ada ia malah mendapat kebencian dari banyak keluarga, karena Arum adalah kesayangan tiga keluarga sekaligus.


"Emang kamu gak mau buat anak sama aku?" tanya Gibran yang membuat Arum langsung menghembuskan nafasnya kasar.


"Mau."


Deg


"Tapi nanti pas udah nikah. Aku menjaga kesucianku ini juga untuk suamiku, cukup bibirku aja yang udah gak suci. Emang kamu mau pas malam pertama pernikahan kamu dapat bekas? Aku ingin kamu yang mengambil kesucianku pertama kali setalah menikah bukan sebelum menikah."


"Aku mohon kamu jangan salah paham dan juga mengira aku gak sayang sama kamu karena tak memberikan apa yang kamu inginkan. Aku tahu sekarang banyak anak anak muda yang menyerahkan harga dirinya untuk pacarnya, dan berakhir mereka hamil. Para kaum wanita juga yang rugi."


Gibran yang mendengar itu langsung mengangguk dan mengelus punggung tangan sang kekasih. Gibran tak salah mempertahankan gadis cantik yang ada disampingnya ini. Bahkan jika disuruh mengorbankan nyawanya juga ia sanggup, asalkan jangan sampai ia mati aja. Nanti kalau Gibran mati yang nikahin Arum siapa dong.


"Cups."


"Iya sayang, aku janji akan jaga kamu. Lagipula mana mungkin aku ngecewin banyak keluarga hanya karena kepuasan sesaat hmm?"

__ADS_1


Sampainya di lampu merah, Gibran melepaskan sabuk pengamannya kemudian menarik tangan sang pacar.


Cups


Gibran mencium bibir sang kekasih dengan lembut, tangannya menahan tengkuk leher harum hingga membuat ciuman itu semakin dalam. Arum yang larut dalam ciuman itu hanya bisa membalas sedikit hingga akhirnya lampu berubah menjadi hijau.


Suara klakson dari mobil dan motor di belakang Gibran membuat ciuman mereka terlepas. Gibran yang melihat itu tersenyum kemudian menjalankan kembali mobilnya menuju sekolah Arum.


"Ciumnya udah sekarang tinggal peluknya doang kan nanti sampai sekolahan atau enggak sampai lampu merah lagi," ucap Gibran pada Arum yang membuat gadis itu malu dibuatnya.


"Dasar."


Tanpa menunggu waktu lama Arum memeluk tubuh Gibran dari samping hingga membuat laki laki itu sedikit kaget tapi juga senang.


"Gak perlu di sekolah, sekarang aja kita udah pelukan eh aku yang meluk," jawab Arum dengan senyum manisnya.


Akhirnya keinginan peluk cium itu sudah terlaksana, Gibran sesekali mengecup kening Arum seraya ia mengendarai mobilnya.


Tak terasa mobil itu sampai di depan gerbang sekolah dengan selamat, Arum yang enggan melepaskan pelukannya dari Gibran itu malah mengalungkan tangannya ke leher laki laki itu.


"Nanti jemput aku ya."


"Iya sayang."


"Jangan telat kayak kemaren lagi."


"Iya sayang."


"Jangan masukin cewek lain ke mobil ini ya."


"Iya sayang."


"Janji," Arum menyodorkan jari kelingkingnya pada Gibran dan dibalas tautan jari kelingking dari Gibran.


"Janji sayangnya aku. Maaf ya sudah membuat kamu meragukan aku, aku sadar aku salah sama kamu."


"Hmmm."


Setelah itu Arum keluar dari mobil itu dan berjalan masuk ke sekolahnya. Setelah memastikan Arum masuk Gibran melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah menuju kampusnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2