Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Lidia Sakit


__ADS_3

Happy reading


Pukul 2 WIB, Luke sudah mendarat di Indonesia. Laki laki berusia 38 tahun itu tanpa istirahat laki laki itu langsung masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan sebelumnya menuju apartemen.


Tak sampai setengah jam akhirnya mobil itu sampai di parkiran gedung apartemen itu. Langkah kaki yang cepat membuat sang asisten susah untuk mengimbangi langkah kaki sang atasan.


Setelah sampai di depan pintu unit apartemen milik Lidia. Laki laki itu memasukkan Sandi apartemen dan masuk ke dalam apartemen itu.


"Letakkan barang barang ku di meja," titah Luke menujuk sebuah meja kecil.


Sang asisten itu mengangguk dan meletakkan tas kerja sang bos di atas meja kemudian ia pamit pada Luke.


Luke berjalan menuju sofa yang terdapat Lidia yang meringkuk di atas sofa itu. Laki laki itu duduk di sofa itu seraya mengelus rambut Lidia yang sangat halus.


"Eughh."


Luke mengecek suhu tubuh Lidia yang sedang tertidur itu.


"Demam," gumamnya mulai mengangkat tubuh Lidia menuju kamar kemudian menelepon dokter pribadi keluarganya.


Seraya menunggu dokter datang, luka melepaskan jas yang melekat di tubuhnya kemudian berjalan menuju dapur dan mengambil baskom yang berisi air hangat dan juga kain.


Jika sudah seperti ini luka akan cosplay menjadi seorang ayah yang baik untuk putrinya.


Luka kembali ke kamar dan melihat Lidia yang sedang menangis. Entah apa yang diimpikan oleh gadis itu tapi hal itu cukup membuat hatinya sakit.


Luka mulai mengompres kening Lidya yang sangat panas. Dengan telaten laki-laki itu mengusap rambut yang menghalangi pandangan gadis itu.


Tak lama bel di apartemen itu berbunyi, sebelum meninggalkan Lidia laki-laki itu terlebih dahulu mengecup kening Lidia kemudian menempelkan kembali kain itu.


"Siapa yang sakit, Tuan?" tanya Dokter Sindi pada Luke.


"Lidia."


Dokter Cindy sudah tak heran lagi kenapa tuannya itu sangat mengkhawatirkan keadaan Lidia. Bisa dikatakan dokter Cindy adalah seorang saksi atas hidup Lidia dan juga cinta Luke pada wanita itu.


Mereka berdua berjalan menuju kamar yang ditempati oleh Lidia.

__ADS_1


Sampainya di kamar, dokter Sindi langsung memeriksa kondisi Lidia yang sangat pucat dan juga panas.


"Demamnya sangat tinggi, walau Tuan sudah mengompresnya. Apalagi sepertinya Nona Lidia kekurangan cairan dan juga perutnya kosong, apa beliau belum makan dari siang?" tanya Dokter itu dengan raut yang tak bisa dibaca tapi dominan ke khawatir.


"Aku gak tahu," jawabnya dengan jujur.


"Sebaiknya Nona Lidia dirujuk ke rumah sakit, Tuan. Saya khawatir dengan kondisi tubuhnya saat ini yang sangat lemah," ucap Dokter Sindi dan dianggukkan oleh Luke.


Akhirnya di malam itu Luke dan dokter Sindi merujuk Lidia ke rumah sakit yang lebih lengkap alat dan fasilitasnya. Lidia memiliki riwayat sakit maag yang sudah akut jadi jika sampai terulang lagi hal seperti kemarin. Mungkin nyawa yang menjadi taruhannya.


Dengan mobil yang dikendarai oleh dokter Sindi, Luke yang berada di belakang memangku tubuh Lidia. Berulang kali Luke mengecup kening Lidia, laki-laki itu takut untuk kehilangan kesekian kalinya. Iya sebatang kara di dunia ini orang tua kerabat ya sudah tak memiliki itu. Luka berdiri di atas kakinya sendiri sejak remaja sampai ia menjadi orang sukses seperti sekarang.


Selama ini Luke membiarkan apa yang dilakukan oleh gadisnya itu, bahkan Luke juga tahu jika Lidia sudah membuat orang itu depresi hingga akan gila. Berakhir Luke yang menanggung semua kerugian laki laki itu hingga usaha laki laki itu kembali bangkit. Dan semua itu tanpa diketahui oleh Lidia.


"Sebenarnya apa kurangnya aku untukmu, Baby. Kenapa aku selalu saja hilang di mata kamu," batin Luke dengan sedih.


Laki-laki itu tulus mencintai Lidia sejak pertama kali Luke membawa Lidia ke rumahnya yang saat itu masih berusia 16 tahun.


Dokter Sindi yang melihat tuannya itu hanya bisa menghela nafasnya. Semoga Nona mudanya ini bisa melihat ketulusan dari Tuannya. Sungguh Luke adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya, ia berjanji untuk selalu setia membantu Luke dalam keadaan apapun.


***


Dan di sinilah dia sekarang, di depan ruangan tempat Lidia mendapatkan tindakan.


Luke merasa gagal menjaga Lidia, andai saja ia bisa cepat sampai ke negara ini tentu saja Lidya tidak akan mengalami hal seperti ini.


Pandangan laki-laki itu kosong ke depan menatap orang yang jalan berlalu lalang di depannya. Pikirannya kini diisi oleh Lidia, Lidia, dan Lidia. Bagaimana jika wanitanya itu sampai sakit dan tak bisa diobati.


Ceklek


"Tuan, nona sudah sadar," ucap Dokter Sindi dengan senyum.


Luka yang mendengar itu langsung masuk ke dalam ruangan itu. Para suster dan dokter yang ada di sana juga sudah keluar hanya menyisakan Luke dan dokter Sindi serta Lidia.


"Baby."


"Dad.."

__ADS_1


Suara lirih dari Lidia membuat hati Luke berdetak kencang, sakit rasanya mendengar suara yang biasanya memanggilnya dengan manja itu.


"Yah, Daddy disini. Kenapa kamu bisa sampai seperti ini hmm?" tanya Luke dengan lembut. Laki laki mengelus lembut pipi merah Lidia.


"Aku gak apa apa."


"Nona sebaiknya makan bubur dulu. Baru setelah itu Nona minum obat ya," ucap Dokter Sindi.


Lidia menggeleng, sungguh ia sudah tak nafsu memakan makanan rumah sakit itu. Lidia masih berpikir bagaimana bisa Luke berada di depannya saat ini bukannya laki-laki itu masih di London.


"Biar aku saja, keluarlah," ucap Luke mengambil alih bubur yang masih hangat itu.


"Kenapa Daddy bisa ada disini?" tanya Lidia dengan pelan. Tenaganya hilang untuk saat ini, tak mungkin ia bisa menggoda laki laki tampan yang ada di depannya ini.


"Sudah jangan banyak bicara, ayo makan dulu. Kamu tak bisa terus terusan sakit seperti ini, Baby. Kamu harus sembuh oke."


Laki-laki air mata Lidia kembali turun mendengar kalimat yang sangat membuat hatinya menghangat itu. Lidia tahu jika laki laki yang ada di depannya ini sangat mencintai dirinya.


Tapi kenapa ia seolah sangat sulit untuk mencintai laki laki baik ini. Apa ia terlalu terobsesi dengan laki laki lain?


Akhirnya dengan sedikit paksaan dari Luke, Lidia mau memakan bubur itu walau hanya sedikit. Tatapannya masih saja mengarah pada Luke yang sangat telaten menyuapinya.


"Jangan nangis, aku gak mau kamu nangis seperti ini lagi," ucapnya menghapus air mata Lidia.


"Makasih," ucapnya dan hanya dibalas senyuman oleh Luke.


Belum habis bubur itu, Lidia sudah menolak suapan dari Luke. Rasanya perutnya sudah sangat kenyang memakan bubur itu.


Kemudian Luke mengambilkan obat yang di letakkan Dokter Sindi tadi dan memberikannya pada Lidia.


"Peluk," lirihnya sebelum Lidia terlelap.


Akhirnya dengan senyum, Luke naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Lidia yang sangat langsing. Laki laki ini berharap saat bangun nanti Lidia sudah ceria seperti biasanya.


"Cukup tidur yang nyenyak, jangan bermimpi," bisiknya mengelus punggung Lidia dengan lembut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2