Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Akhirnya Tidur


__ADS_3

Happy reading


Setelah memakan omlet tadi Reno dan Keysha sudah kembali ke kamar mereka, kini hanya tinggal Vito dan Yanti serta Gibran dan Arum yang ada disana.


Kedua laki laki sedang join main game sedangkan para cewek asik dengan game masak masak yang baru saja diunduh.


"Pinter banget gue hias kue," ucap Yanti dengan bangga memperlihatkan kue yang ia desain di hp itu.


"Halah itu gak nyata, kalau lu mau gue bisa ajarin lu buat kue beneran," ucap Arum dengan santainya seraya melayani pembelinya di hp. Tenang cuma game, Arum gak jualan apa apa didunia novel.


"Serius, aku mau. Kebetulan bulan depan itu anniversary mama sama papa. Aku mau buat kue kecil kecilan buat mereka. Gak apa apa lah rasanya campur aduk yang penting masih bisa dimakan walau dikit," ucap Yanti dan dianggukkan oleh Arum.


Sedangkan kedua laki laki yang sedang duduk di lantai itu sedang mengumpat habis habisan karena teman mereka habis dibantai oleh musuh.


"Ja**k."


"C*k."


"Heh," kedua gadis itu menetap pacar mereka.


"Ucapannya kasar banget sih, cuma game loh itu," ucap Arum menghampiri pacarnya yang sedang mode kesal.


"Kalah yank. Gak mau main lagi gue," ucap Gibran meleparkan ponselnya di sofa itu dan memeluk perut pacarnya.


"Hahhaha cuma gara gara kalah main game kamu jadi gini?" tanya Arum pada Gibran yang menyembunyikan wajahnya di perutnya.


"Masalahnya bukan cuma kalah sayang, tapi kita juga taruhan. Siapapun yang kalah harus transfer uang masing masing 10 juta ke rekening mereka. 5 orang tuh udah 50 juta," jawab Gibran dengan suara yang terdengar pelan karena wajahnya tertutup dengan perut Arum.


"Taruhanan macam apa itu?" tanya Arum yang bingung. Mana ada taruhan macam itu, kemudian ia menatap Vito yang juga sedang mode kesal. Bahkan Vito langsung meninju sofa empuk itu yang otomatis kental karenanya.


"Ada."


"Ya sudah sih, ikhlasin aja. Itung itung amal, semoga diganti yang lebih banyak," ucap Arum dengan bijak gak itu membuat Vito tak terima. Pasalnya uang 50 juta itu uang sakunya selama 2 bulan. Masa iya harus puasa selama dua bulan tidak ngerokok dan sebaginya.


"Sabar ya sayang, nanti jajan kamu aku yang tanggung oke. Kamu tenang aja, janji harus tetap ditepati loh gak boleh ingkar, dosa," timpal Yanti menggenggam tangan kekasih yang tampak sangat marah.


"Iya sih, tapi masih kesal loh. Kita udah capek capek buat menangin game tadi tapi ternyata ada beban di tim kita," ucap Vito menatap Yanti dengan melas.


"Gak apa apa, ikhlas oke."


"Hmm."


Kalau Tya gak ikhlas banget, uang 100 ribu aja banyak apalagi 50 juta. Bisa buat dp mobil ituπŸ˜‚πŸ˜‚ Tapi sekali lagi ini cuma novel.


Yanti menatap ke arah Arum yang sedang mengelus lembut rambut Gibran itu dengan sofa yang sudah beralih fungsi menjadi tempat tidur.


"Kalian mau tidur disini?" tanya Yanti yang membuat Arum mengangguk.


"Gibran yang minta, lagian gak mungkin gue biarin cowok gue main pedang sama cowok lu," jawab Arum yang dijawab gelak tawa oleh mereka.


Vito menatap Yanti.


"Gimana? Ikut tidur disini atau gimana?" tanya Vito pada Yanti.


"Boleh sih, di kamar juga gue sendiri. Lu juga gitu kan, kak Gibran aja ada disini," ucap Yanti dan dianggukkan oleh mereka.


Akhirnya Yanti dan Vito memutuskan untuk ikut tidur di ruang tamu tentu dengan sofa yang berbeda. Karena 1 sofa hanya muat untuk dua orang saja.

__ADS_1


"Mau kemana kalian? Katanya tidur sini?" tanya Arum menatap Yanti dan Vito yang beranjak dari sofa.


"Ambil selimut sama earphone," jawab Vito dan dianggukkan oleh mereka.


"Yanto, sekalian ya selimut buat gue. Dingin nih."


"Iye iye, tunggu gue ke kamar dulu. Yuk yank, anterin gak berani sendiri," ajak Yanti. Walaupun lampu masih menyala tapi tetap aja ini adalah vila besar yang membuat Yanti takut dan was was.


"Iya."


Keduanya berjalan beriringan menuju kamar dan mengambil selimut serta earphone.


Sedangkan Arum masih senantiasa mengelus lembut rambut Gibran yang sepertinya laki laki itu belum ikhlas duitnya hilang begitu saja.


"Hapus aja apknya, biar kamu tenang gak main game itu lagi," ucap Arum pada Gibran.


"Tapi aku udah lama main disana."


"Terus kamu ada ide buat taruhan itu dari siapa?"


"Bukan aku yank, tapi teman online aku. Ya aku iya iya aja, dan hasilnya aku kalah," jawab Gibran denagn sendu.


"Makanya jangan taruhan, apapun itu taruhannya. Itu gak baik, sekarang udah gak usah sedih lagi hmm, sini aku peluk biar kamu gak sedih lagi gara gara kehilangan uang 50 juta," ucap Arum memeluk tubuh Gibran dengan lembut.


"Mau nen," gumamnya ang membuat Arum membulatkan matanya.


"Ih jangan sekarang, ada Yanti sama Vito. Malu lah kamu nih," ujar Arum dan dianggukkan oleh Gibran.


Tak lama Yanti dan Reno turun membawa dua selimut dan juga earphone milik Vito.


Arum mulai menata bantal untuk Arum dan Gibran kemudian memposisikan dirinya di sebelah kanan sedangkan Gibran dikiri.


Selimut tebal itu sudah menutupi tubuh mereka. Tenyata apa yang Gibran inginkan harus terpenuhi saat ini juga, terlihat sekali Gibran berusaha membuka baju Arum.


"Sst sayang jangan nakal," bisik Arum yang tak diindahkan oleh Gibran.


Akhirnya Arum pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh Gibran. Untungnya posisi Gibran tak bisa dilihat oleh Yanti dan Vito yang sibuk menonton film di ponsel itu dengan posisi bersandar di sofa itu.


Ctak


"Pelan oke."


Dan yah, Gibran mendapatkan apa yang diinginkannya. Laki laki itu tanpa ragu mulai bermain dengan si kembar hingga membuat Arum ingin tertawa karena geli yang ia rasakan tapi ia tahan.


Tangannya kini beralih untuk mengelus rambut Gibran yang halus walaupun hari ini laki laki itu belum keramas.


Arum dan Gibran menutup tubuh mereka dengan selimut hanya terlihat rambut keduanya saja disana hingga Yanti dan Vito tak banyak berpikir negatif tentang apa yang dilakukan kedua temannya itu.


Sedangkan disisi lain, Vito dan Yanti sedang menonton film Filipina yang menceritakan tentang guru piano dan anak kuliah.


Tubuh mereka sudah tertutup dengan selimut tebal berwarna abu abu itu, dengan earphone di telinga mereka membuat keduanya tampak berbagi suara di ponsel itu.


Memang Vito sangat suka dengan film film romantis hingga membuat Yanti ikut ikutan suka dengan apa yang disukai oleh Vito.


"Sayang tegang ih."


"Diam," sentak Yanti yang tak mau Arum dan Gibran mendengar apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Harusnya kita langsung tidur yank gak perlu nonton film segala. Malah gak bisa tidur ini nanti," ucap Vito seakan menyalahkan Yanti karena mereka menonton film itu.


"Kamu nyalahin aku? Orang kamu yang ajak aku nonton. Ya aku mau aja, lagian aku belum ngantuk," jawab Yanti menatap ponsel itu.


"Tapi udah tegang," bisik Vito yang membuat Yanti diam saja.


"Bantuin."


"Gak mau," jawabnya yang dibalas kecupan singkat di bibir Yanti.


"Nakal."


"Biarin."


"Males ih, ayo tidur aja. Siapa tahu mimpi ketemu bule yang ganteng ganteng nanti," ajak Yanti mencabut earphone dari telinga mereka dan mematikan film itu kemudian meletakkannya di atas meja kemudian merek mengambil bantal dan mulai berbaring.


"Arum sama Kak Gibran udah tidur yank?" tanya Yanti pada Vito.


"Gak tahu."


"Biarin aja, aku juga mau coba tidur siapa tahu mimpi bule bule cantik yang bisa jadi kenyataan kan," jawab Vito menarik Yanti ke dalam pelukannya.


"Awas aja kalau sampai kamu mimpiin bule bule cantik," ancam Yanti dan dianggukkan oleh Vito. Karena kelihatannya ancaman Yanti tak akan main main.


"Kamu juga gitu."


"Aku kan cewek, cewek selalu benar."


"Ya sudah terserah kamu, semoga kamu dalam mimpi aku dan aku dalam mimpi kamu biar adil. Gak usah bule bulean," jawab Vito dan dianggukkan oleh Yanti.


Mereka berdua mulai memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Sedangkan Arum masih tetap terjaga karena Gibran tak mau melepaskan di kembar.


Setelah berberapa saat akhirnya Gibran selesai dengan si kembar. Laki-laki itu mengembalikan apa yang tadi ia lepas ke tempat semula.


"Udah good mood?" tanya Arum dan dianggukkan oleh Gibran.


"Hahhah emang dasarnya kamu itu manja," ucap Arum mencubit hidung Gibran.


Gibran hanya tertawa kemudian mengangguk dan mengelus lembut pipi sang kekasih yang selalu bisa menenangkan dirinya yang sedih seperti ini.


"Maaf sudah buang buang uang," ucap Gibran dan dianggukkan oleh Arum. Gadis itu yang mendengar permintaan maaf pacarnya itu hanya mengulas senyum manisnya.


"Iya, tapi jangan habiskan uang kamu buat taruhan yang gak jelas gitu ya. Kalau mau nge game ya ngegame aja gak usah pake acara taruhan segala," ucap Arum denagn lembut. Rasanya mau marah juga sudah tak berguna karena janji tetap janji.


Gibran menarik tubuh Arum dalam pelukannya, lengannya dijadikan sebagai bantal Arum agar gadisnya itu lebih nyaman. Selimut tebal itujuga sudah menutup tubuh mereka hingga batas leher.


Cups


Gibran mengecup lembut kening Arum yang membuat gadis itu memejamkan matanya. Ciuman itu sangat hangat di kening Arum hingga membuat gadis itu menyalurkannya dengan pelukan di tubuh Gibran.


"Tidur hmm."


"Hmm."


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, ternyata mereka sudah sangat lama berada di sana. Bercengkrama dengan santai bahkan mungkin Reno dan Keysha sudah sampai alam mimpi berberapa jam yang lalu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2