
Happy reading
Setelah selesai makan siang mereka, Gibran memutuskan untuk mengajak sang kekasih pulang ke rumahnya. Mumpung udah deket sama rumah kenapa gak sekalian mampir.
"Katanya ada ujian tapi kok udah ada disini aja?" tanya Arum saat teman teman mereka sudah pulang sedangkan di meja mereka tadi tinggal Vito, Yanti, Arum dan Gibran saja.
"Emang ini udah jam berapa sih hmm. Jam setengah 3 lebih, aku udah selesai jam setengah 2 siang tadi."
"Katanya sore," protes Arum menatap Gibran yang masih meminum minumannya itu.
"Maaf ya sayang, yang penting kan aku udah pulang. Tadi tetap ujian kok, katanya emang sore tapi kenyataannya jam 1 siang tadi dosennya udah masuk kelas," jawab Gibran yang kini mulai merasa bersalah.
"Sangat tidak konsisten," ucap Anti dan Vito secara bersamaan.
Arum yang sudah selesai itu mengajak sang pacar untuk pulang. Tapi dengan Arum yang mengendarai motor metic itu sendiri sedangkan Gibran membawa mobil.
Yanti dan Vito juga ikut pulang ke rumah Vito. Yanti tampaknya belum mau pulang kalau belum magrib.
***
Sampainya di depan rumah bertingkat itu, Arum memarkirkan motornya di halaman rumah Gibran.
Gibran yang berada di depannya itu langsung membuka mobilnya dan menghampiri Arum yang masih berada di atas motor itu.
"Ayo masuk."
"Mama ada gak?" tanya Arum pada Gibran.
"Mungkin ada, tapi gak tahu. Kan aku baru pulang, mana tahu ada siapa di rumah," jawab Gibran dengan jujur.
Arum menganggukkan kepalanya kemudian netranya tertuju pada sebuah mobil berwarna putih yang ia yakini itu milik tamu sang pacar.
"Eh ini kayaknya bukan mobil kamu kan?"
"Bukan yank. Aku mana punya mobil kayak gini," jawab Gibran menatap mobil yang sangat asing di matanya.
Apa mamanya membeli mobil baru? Atau memang itu punya orang yang bertamu ke rumahnya.
"Daripada penasaran ayo masuk aja," ajak Gibran menarik tangan Arum.
Arum mengikuti kemanapun Gibran membawanya. Ia sedikit malu dengan pakaiannya saat ini.
"Gue kek gembel banget kalau gini," gumam Arum yang dapat di dengar oleh Gibran.
"Baju kamu juga ada yang di kamar aku. Lagian mau mirip gembel atau pengemis kamu tetap canti di mata aku, cup," jawab Gibran kemudian mengecup kening sang kekasih.
"Halahh modus, kalau aku jadi gembel beneran kamu pasti cari cewek lain kan. Dari muka muka kamu aja udah ketebak sih."
__ADS_1
Kayaknya Arum lupa kalau selama ini, dirinya selalu mendapatkan uang dari Gibran. Entah itu untuk beli skincare, parfum, atau apapun itu. Apa itu tandanya kalau bukan cinta.
"Aku mencintai kamu itu tanpa alasan ya sayangku. Kalau aku cuma cinta sama wajah kamu itu bukan cinta tapi obsesi, tapi selama ini apakah aku mencintai wajahmu saja hmm? Bahkan aku pernah melihat kamu jerawat parah, apakah aku meninggalkan kamu? Enggak kan? Jadi intinya mau kamu jadi apapun itu gak akan mempengaruhi cintaku padamu," ungkap Gibran yang membuat Arum tersipu dibuatnya.
Arum sendiri kini juga bingung, ia mencintai Gibran dari segi apanya. Bahkan selama 2 tahun ini Arum sudah mengetahui baik dan jeleknya Gibran.
"Iya udah ih jangan ditatap gitu, aku jadi malu," ucap Arum menutup mata Gibran dengan telapak tangannya.
Gibran yang mendengar itu hanya tersenyum kemudian meraih tangan Arum yang ada di matanya kemudian mengecup telapak tangan Arum.
"Ayo masuk," ajaknya.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah itu dengan tangannya yang saling bergandengan. Tak lupa juga senyum manis yang ditunjukkan oleh Gibran saat gadis disampingnya itu mencoba untuk menyamakan langkah kaki mereka.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat kedekatan mereka dengan rasa cemburu.
"Gibran."
Suara itu membuat langkah Arum dan Gibran terhenti, pasalnya itu bukan suara Mama Anin.
Tiba tiba seseorang memeluk Gibran dengan sangat kencang tak menghiraukan Arum yang masih berada di samping Gibran itu.
Dengan sekuat tenaga Gibran langsung mendorong wanita itu hingga membuat wanita itu terdorong ke belakang.
"Siapa ya?" tanya Gibran yang menatap wanita itu dengan tatapan lain. Ia merasa wanita di depannya ini adalah wanita murah yang memeluk orang tanpa tahu.
"Aku Claudia, masa sih kamu lupa sih? Aku teman kamu pas SMP. Udah lama ya kita gak ketemu, dan kamu sekarang makin ganteng aja," jawab Claudia yang tak lain adalah teman lama Gibran.
Arum menatap bagiamana ekspresi Gibran yang tahu jika wanita di depannya adalah teman lamanya. Apakah Gibran akan Wellcome atau malah di luar dugaannya.
"Oh."
Claudia yang tadinya tersenyum seketika langsung menghilangkan senyumnya. Sedangkan Arum hanya bisa menahan senyumnya saat melihat ekspresi dan reaksi dari Gibran yang tampak biasa saja.
"Kamu ingat kan Gibran? Aku sering loh main kesini saat kita masih sahabatan. Bahkan kamu juga pernah ngatain cinta kan sama aku?"
Entah apa maksud dari wanita ini, tapi hal itu cukup mengusik perasaan Arum. Apalagi melihat penampilan perempuan yang ada di depannya ini. Sangat modis dan seksoy seperti model majalah dewasa.
"Gue lupa, setahu gue pas SMP gue cuma punya 1 temen deh, dan itupun laki laki. Oh mungkin yang lu maksud itu cewek yang selalu ngintilin gue sama Kiano saat SMP itu? Gue lupa sih namanya tapi yang pasti dia bukan temen gue!!"
Jawaban dari Gibran membuat wanita itu menatap mereka dengan sendu. Sepertinya Claudia ini tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Gibran.
"Kamu kok ngomong gitu, padahal dulu kamu pernah nyatain cinta loh sama aku. Bahkan Mama dan Papa kamu juga tahu kalau kita sahabatan," ucap Claudia dengan suara sendu.
"Gue gak pernah punya sahabat cewek, sejak gue SD sampai gue SMA mungkin kalau ada ya itu Keysha. Bukan elu," jawab Gibran menunjuk Claudia.
"Dan apa kata lu? Gue pernah nembak elu? Hahah gak kebalik ya, lu yang udah jatuhin harga diri lu buat nembak gue di hadapan semua orang saat itu. Dan yah gue gak terima itu, karena gue gak suka sama lu."
__ADS_1
"Jangan lu pikir dengan memutar balikkan fakta, lu bisa buat pacar gue il feel saat gue. Sorry dia sudah tahu semua yang ada di kehidupan gue."
Gibran menatap Arum yang masih menatapnya bingung. Untungnya di rumah itu tidak ada Mama dan Papa, jadi Gibran bisa bebas membuat wanita ini malu di sini.
"Cih, apa sih bagusnya cewek ini? Cantikan juga gue kemana mana. Modisan juga gue, dia kayaknya anak orang miskin deh, iyuhh pakai sandal jepit lagi, gak banget," batin Claudia menatap Arum dari atas sampai bawah.
Wajah Claudia yang tadinya memerah padam karena malu kini mulai sendu. Mungkin gadis itu akan akting lagi di depan laki laki itu.
Tapi sebelum mulut Claudia terbuka, Gubran sudah terlebih dahulu membuka mulutnya untuk mengusir Claudia dari rumahnya.
"Mending sekarang lu keluar dari rumah gue. Lagian siapa juga yang sudah suruh lu masuk sih. Nambah kuman aja deh, gue masih belum bisa maafin lu yang udah dengan tega buat Kiano bunuh diri ya bit*h. Gue muak lihat muka lu," tegas Gibran mengusir Claudia dari hadapannya.
Arum yang mendengar kata kasar dari mulut sang kekasih itu menggelengkan kepalanya.
"Jangan bilang gitu gak baik."
"Dan mbak cantik, silahkan pulang aja ya. Pacar saya gak mau ketemu sama kamu."
"Gue sahabat Gibran asal lu tahu, gue gak akan keluar dari rumah ini sampai orang tua Gibran pulang dan yang pasti lu yang bakal diusir, secara lu cuma anak miskin yang kebetulan aja bisa pacaran sama Gibran yang kaya raya," jawab Claudia yang kini mulai menunjukkan taringnya.
Gibran yang mendengar pacarnya dihina itu tak terima. Hanya karena pakaian pacarnya yang sederhana Claudia mengatakan jika Arum miskin. Asalkan kau dia tahu kekayaan keluarga Claudia tidak ada apa-apanya dibanding kekayaan keluarga Arum.
Saat Gibran ingin menjawab ucapan Claudia yang merendahkan sang kekasih itu tiba-tiba Arum terlebih dahulu menjawabnya.
"Saya memang miskin mbak, tapi saya nggak pernah datang ke rumah laki-laki yang bukan siapa-siapa saya. Lagian kalau saya miskin itu ada urusannya sama mbak, wong Gibran sama orang tuanya fine-fine aja dengan saya yang miskin begini. Yang penting gak mura han," jawab Arum yang membuat Claudia tak terima dikatakan murahan.
"Kau!!"
Saat kau dia ingin menyerang tangan Gibran terlebih dahulu menyekel tangan Claudia dan menghempaskannya begitu saja.
"Kamu sadar gah sih Gib, kalau cewek ini cuma manfaatin kamu aja. Dia itu miskin pasti ingin menguras harta kamu aja, aku berkata seperti ini untuk menyadarkan kamu kau cewek kayak dia itu gak bener," ucap Claudia menatap kedua orang itu dengan tatapan lain.
"Kalaupun pacar gue cuma mau morotin gue aja gue nggak peduli. Gue cinta sama dia itu tulus, walaupun dia cuma manfaatin gue aja. Lagian mau dia porotin gue atau enggak itu urusan dia sama gue, ada hal perlu mencampuri urusan hidup gue?" tanya Gibran dengan tajam. Sepertinya kesabaran Gibran yang ditunjukkan tadi benar-benar habis semakin lama Claudia seperti tak tahu diri dia sedang berhadapan dengan siapa.
"Mau pergi dengan baik-baik atau gue panggilkan security?"
Claudia yang terang-terangan diusir itu merasa tak terima tapi mau gimana lagi ini adalah rumah Gibran bukan rumahnya.
"Oke untuk saat ini gue kalah, tapi lihat aja apanyang akan gue lakukan setelahnya. Gibran adalah milik gue selamanya," ucap Claudia dalam hati.
Akhirnya dengan sangat terpaksa kalau dia keluar dari rumah itu dengan kaki yang dihentah-hentakkan. Gibran dan Arum yang melihat itu hanya menghilangkan kepalanya.
"Kok ada cewek kayak gitu," gumam Arum.
"Kamu gak percaya gitu aja kan tentang apa yang dikatakan perempuan itu?" tanya Gibran yang sebenarnya takut jika Arum akan mempercayai ucapan Claudia tadi.
Harum yang ditanya itu kemudian mengangkat bahunya. Pertanda ia tak tahu.
__ADS_1
Bersambung