Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Bulan Madu Versi Pacaran


__ADS_3

Happy reading


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, para cewe juga sudah bangun dan keluar dari kamar.


"Arum dimana ya? Dari tadi kok gak nampak sih?" tanya Yanti yang sedari tadi mencari Arum. Padahal mereka 1 kamar tapi malah hilang tu anak kan repot.


Sejak bangun tadi Yanti sudah tak mendapati sang sahabat di sampingnya.


"Mungkin dia lagi jalan jalan keluar. Kita tunggu aja dia datang," jawab Kak Keysha duduk di samping Yanti.


"Iya juga sih."


Tak lama Vito turun dari kamar begitupun dengan Reno yang baru selesai mandi. Bumil yang melihat suaminya itu langsung bangun dari duduknya dan memeluk tubuh Reno.


"Kakak sejak hamil jadi manja," ucap Yanti menatap Kakak dan kakak iparnya.


"Bukan keinginan kakak dek, ini maunya anak kakak. Dulu kakak gak pernah manja kayak gini sama kakak ipar kamu, tapi sejak hamil kakak jadi manja gini," jawab Keysha yang membuat Reno tersenyum.


"Sini sini aku gendong sampai ruang makan ya," ucap Reno menggendong tubuh sang istri.


"Tapi Gibran sama Arum kemana? Kok gak ada?" tanya Reno menatap sekeliling tak mendapati kedua manusia itu.


"Gak tahu tadi kak Gibran keluar sejak siang tadi, katanya mau cari angin," jawab Vito yang satu kamar dengan Gibran.


"Mungkin mereka jalan jalan, ya sudah ayo kita makan aja dulu. Terus kita ke pantai lihat sunset," ajak Keysha seraya mengalungkan tangannya di leher Reno.


Mereka berempat mulai berjalan menuju ruang makan dan disana sudah ada Bibi dan Pak Yaman menunggu mereka semua.


"Aduhh neng cantik manja tenan sama suaminya," goda bibi pada Keysha yang sudah duduk di kursi itu.


Keysha yang digoda itu malu di buatnya, kalau di rumah ia tak apa karena hanya Mama, papa dan Yanti yang lihat tapi sekarang ia lupa jika bibi dan Pak Yaman juga ada disana.


"Maklum Bu, anak saya lagi pingin manja sama saya," jawab Reno mewakili sang istri yang malu.


"Oalah neng cantik lagi hamil ya. Ya Allah bakal punya cucu kita pak," ucao Bibi pada Pak Yaman yang hanya mengangguk.


Tak heran kenapa mereka bilang begitu, karena Bi Surti sudah menganggap Reno sebagai anaknya sendiri. Karena sejak kecil mereka juga sudah dekat hingga orang tua Reno menyuruh bibi dan Pak Yaman untuk menjaga vila mereka. Tentu dengan gaji bukan hanya jaga saja. Bahkan anak bi Surti dan Pak Yaman juga di sekolahkan sampai lulus sarjana oleh keluarga Reno.


Bahkan saat anak Bi Surti dulu ingin membawa orang tuanya ke kota bersama suaminya. Dengan jelas mereka menolak karena ingin menunggu Vila ini sampai mereka tua nanti. Anggap saja ini sebagai balas Budi pada keluarga Reno.


"Doain sehat sampai lahiran ya, Bi, Pak."


"Iya neng, pasti. Bapak sama Ibu doakan yang terbaik buat kalian. Semoga ibu dan bayinya sehat selalu," jawab Bapak dengan tulus.


"Aamiin."


"Ayo makan dulu, kalian pasti lapar kan. Inintadi yang masak non Arum sama Den Gibran, saya cuma bantu dikit. Saya sudah rasa, enak banget masakannya Non Arum," ucap Bibi pada mereka semua.


"Gibran masak?" tanya mereka dengan serempak. Bukan tanpa alasan mereka kaget karena Gibran paling anti dengan yang namanya panci dan alat masak lainnya.


"Iya, tadi Non Arum maksa den Gibran buat ikut bantuin. Apalagi kita ada banyak orang disini," jawab bibi dan dianggukan mereka.


Pikiran mereka pasti Gibran hanya merecoki Arum masak tadi.


"Ngomong ngomong Gibran sama Arum, mereka kemana ya Bi?" tanya Reno pada kedua paruh baya itu.


"Tadi keluar, pamitnya mau ke pantai jam 3 sore tadi," jawab Bibi pada mereka.


"Loh mereka kok ninggalin kita? Mereka gak asik ih," cemberut Keysha dengan sedih.

__ADS_1


"Sayang, kita kan belum makan nanti kalau kenapa kapan di pantai gimana?" tanya Reno yang membuat keysha langsung menatap suaminya dan mengangguk. Tapi tetap saja ia kesal dengan dua orang itu yang pergi tanpa pamit pada mereka.


Tak tahukah Keysha jika tadi Arum sudah mengirim pesan pada mereka semua jika ia dan Gibran ke pantai dulu. Atau memang mereka belum membuka hp sama sekali.


"Iya juga."


Akhirnya mereka makan dengan tenang, masakan yang terhidang di atas meja itu memiliki rasa yang khas dan enak di lidah mereka. Bahkan Keysha yang tadi kesal dengan Arum dan Gibran kini menghilangkan rasa itu saat merasakan masakan yang dimasak oleh Arum.


Keysha akui masakan Arum memang enak, dibandingkan masakan tentu masih kalah jauh. Apalagi ia hanya bisa masak yang mudah mudah saja. Seperti goreng telur dan masak air.


***


Sedangkan disisi lain, Arum dan Gibran sedang menikmati panasnya matahari seraya menunggu sunset di pantai itu. Mereka bergabung di atas pasir putih itu dengan kacamata hitam yang bertengger di mata mereka.


Tak lupa sunscreen yang tadi mereka baw untuk melindungi kulit mereka.


"Kira kira mereka udah bangun belum ya yank?" tanya Arum pada sang pacar yang sedang memeluk perutnya itu.


"Kalau menurut aku mereka sudah bangun dan lagi cari kita sih," jawab Gibran.


Bahkan mereka berdua sudah tak memiliki urat malu lagi karena berpelukan di atas pasir seperti ini. Untungnya pakaian mereka masih tergolong sopan, tidak seperti bule bule disini.


"Hahaha lagian tidurnya lama banget, dari jam 9 sampai jam 1 tadi belum bangun. Gitu ngatain aku tukang tidur," ujar Arum dengan tawanya yang membuat Gibran terpesona dengan tawa sang kekasih.


Memang senyum dan tawa Arum adalah candu baginya. Sejak pertama bertemu sampai saat ini.


"Kamu memang tukang tidur sayang. Tadi di dalam pesawat aja kamu tidur 1 jam. Dan sampai vila kamu juga kamu tidur lagi."


Arum yang mendengar itu lantas tertawa karena apa yang dikatakan oleh Gibran itu benar.


"Mau gimana lagi, aku ngantuk banget. Galau tadi malam aku langsung tidur paling juga nggak akan tidur lagi di pesawat. Aku gak secapek itu cuma naik pesawat ke Bali aja," jawab Arum menoleh kearah Gibran dan mengecup pipi pacarnya dengan senyum.


"Oh jadi yang kiri juga kiri karena nggak dicium?" tanya Arum menggoda sang kekasih.


"Iya."


"Enggak mau, nanti kamu malah ngelunjak lagi. Di kasih hati minta jantung," ujar Arum bangun dari baringannya.


Gibran yang tak terima dengan ucapan sang kekasih itu ikut bangun dan memeluk tubuh Arum dengan erat. Tak lupa laki-laki itu melabuhkan kecupan di kening, kedua pipi, hidung, dan bibir Arum.


Cups


Arum membulatkan matanya kalau merasakan bibir sang kekasih menempel di bibirnya. Kecupan yang tadinya singkat kini semakin menuntut hingga membuat Arum kehabisan nafasnya.


"Hahh hahhh hampir aja mati."


"Eh ngomong apa sih hmm. Cuma dicium aja gak bikin kamu mati. Maaf ya, janji bakal lebih lembut lagi," ucap Gibran menghapus sudut bibir Arum yang basah.


Arum melepas kacamata hitamnya kemudian menatap Gibran yang tampan di bawah terik matahari itu. Wajah kekasihnya itu lebih tampan dari aktor yang pernah ia tonton di drama.


"Ganteng banget kalau gini," ucap Arum mengelus lembut rahang Gibran yang membuat laki laki itu memegang.


Arum yang melihat jakun kekasihnya naik turun itu langsung mengelusnya dengan jari lentiknya.


Glek


"So se**i boy," bisiknya tepat di telinga Gibran kemudian ia melabuhkan satu kecupan di leher menggoda itu.


"Sayang kamu."

__ADS_1


Seolah tak terjadi apa-apa, Arum langsung menjauhkan tubuhnya dari Gibran dan bangun dari duduknya.


"Yank panas ih, ayo minum es kepala," ajak Arum pada Gibran. Walaupun ia masih sedikit malu dengan apa yang dilakukannya, tapi ia tak mau memperlihatkannya.


Apalagi saat ini wajah merahnya sudah tertutupi sejak tadi karena terpapar sinar matahari.


Tapi percayalah wajah tampan dan jakun Gibran sangat menggoda Arum saat ini. Iya tak mau terus-terusan berada di sini dan khilaf melakukan hal yang membuat ia malu kedepannya.


"Hahhaha dasar putri malu," ledek Gibran bangkit dan merangkul tubuh Arum berjalan menuju sebuah warung dipinggir pantai itu.


"Kita udah kayak irangmlagi honeymoon aja deh yank."


"Anggap saja kita bulan madu versi pacaran," jawab Gibran yang membuat keduanya tertawa di buatnya.


Mana ada bulan madu versi pacaran yang ada mereka nanti malah digrebek oleh orang orang karena berbuat mes**.


"Es kelapa 2," ucap Gibran pada pemilik warung itu.


"Siap."


Seraya menunggu pesanan es kelapa mereka sampai, harum dan Gibran berjalan menuju kursi yang terbuat dari kayu. Mereka berdua duduk saling berhadapan seraya menatap pemandangan laut yang sangat indah.


"Aku jadi takut deh yank."


Mendengar ucapan Arum sontak Gibran langsung menatap ke arah kekasihnya dengan tatapan bingung.


"Takut kenapa?"


"Takut mata kamu tercemar sama bule bule cantik yang cuma pakai bikini doang," ucap Arum yang membuat Gibran tertawa.


Laki-laki itu tak sampai terpikir ke sana walaupun di pantai itu banyak bule-bule yang hanya memakai bikini dan pakaian kurang bahan. Laki laki itu murni ingin melihat pemandangan alam yang indah saja tak lebih.


"Kalau begitu aku juga lebih takut yank. Lihat kamu menatap bule bule yang cuma pakai kolor itu. Apalagi wajahnya yang putih, badannya kekar dan memiliki enam kotak di sana."


"Hehhh jangan ngomong gitu nanti aku malah mikir yang enggak enggak."


Mendengar ucapan Arum, Gibran langsung berganti tempat duduk ke samping Arum.


"Daripada mikirin bule bule itu mending aku mikirin kamu dan si kembar, asal kamu tahu yank. Aku udah candu banget sama si kembar, pingin aku uyel uyel tapi takut kamu marah. Aku gak akan pernah nafsu melihat mereka yang memamerkan tubuh mereka itu."


Wajah Arum yang tadinya sudah kembali seperti semula kini kembali merah karena malu dengan ucapan sang kekasih.


"Mikirnya jelek ih."


"Kan kamu yang mulai. Emang kamu gak pernah mikir aku yang cuma pakai kolor doang hmm."


Setelah mengatakan hal itu Arum jadi teringat kejadian beberapa hari lalu di mana harum tanpa sengaja melihat Gibran yang hanya memakai handuk berwarna putih sebatas pusar itu.


"Jadi ingat hari itu," ujar Arum menatap Gibran dengan senyum malu.


"Dasar piktor."


"Ishhh."


Tak lama menunggu akhirnya pesanan es kelapa mereka sampai. Keduanya menikmati es kelapa itu dengan tenang, tangan keduanya juga saling bergandengan agar tak hilang diculik bule.


"Seger.


Memang panas-panas enaknya makan es kelapa dengan menikmati pemandangan pantai yang memanjakan mata mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2