
Happy reading
Seminggu kemudian, pengumuman hasil ujian masih akan dikatakan berberapa Minggu lagi dan mereka semua sudah resmi libur sekolah. Ralat hanya SMA saja sedangkan yang masih kuliah meminta izin pada dosen mereka.
Kringgg
Arum yang masih bergulung denagn selimut tebalnya itu langsung meraih ponselnya yang ada di sampingnya.
"Hmm."
"Halo sayang, kamu lagi dimana kok belum ada di tempat kita janjian?" tanya Gibran yang langsung memberikan pertanyaan pada Arum.
"Hmm."
Maklum saja jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, dan ini hari libur pasti Arum masih tidur. Dan nyawanya masih entah dimana mungkin di perempatan Mekah.
"Sayang kamu masih tidur ya?"
"Hmm."
Arum meletakkan ponsel itu di samping pipinya dan ia kembali terlelap. Wajar saja Arum masih tidur jam segini karena tadi malam gadis itu maraton drama sampai jam setengah 4 pagi ini.
Entahlah Arum mungkin lupa jika hari ini mereka harus pergi ke Bali bersama teman teman dan pacarnya.
Jangan salahkan Arum karena yang merekomendasikan drama itu adalah Yanti. Di penggila drama yang akhirnya membuat Arum bergadang sampai pagi.
"Sayang, cepat bangun dan bersiap. Kita kan mau ke Bali hari ini. Kita semua sudah siap di tempat yang jua janjikan loh. Cuma kamu yang belum," ucap Gibran yang membuat Arum sedikit terkejut tapi ia malah santai saja seolah apa yang dilakukan ini bukan hal penting.
"Masih jam 6, kan kita ke bandara jam 7. Aku masih ngantuk banget," ucap Arum dengan sangat lirih hingga membuat Gibran di seberang itu hanya bisa menghela nafasnya panjang. Untungnya ia hari ini bawa sopir dari rumah.
"Aku ke sana."
Tutt
Panggilan telepon itu langsung mati begitu saja, Arum pun tak ambil pusing. Baginya tak penting cepat cepat sampai di bandara. Karena pada akhirnya harus nunggu. Mending mepet waktu dan langsung berangkat.
Sedangkan di sisi lain, Gibran menatap teman temannya dengan tatapan bersalah.
"Sorry gaes, Arum masih tidur. Kalian duluan aja ke bandara, biar gue yang samperin dia. Nanti kita langsung ketemuan di bandara aja ya."
Keysha dan yang lainnya menganggukkan kepalanya.
"Salah gue juga kasih rekomendasi drama bagus tadi malam sama dia," gumam Yanti yang membuat Vito langsung menggelengkan kepalanya.
"Kamu kan tahu sifat Arum, yank. Dia kalau udah nemu drama yang bagus pasti lupa segalanya. Kamu malah aneh aneh aja, tahu kita mau ke Bali."
__ADS_1
"Ya kan, aku lupa. Dia tanya ya aku jawab dong. Udah untung aku gak rekomendasikan yang kemarin itu," jawab Yanti membela diri. Gadis yang saat ini memakai baju berwarna baby blue itu tamoak tak mau disalahkan.
"Udah udah kenapa jadi ribut sih? Udah Gib, lu samperin Arum dulu. Kita nunggu di bandara ya," ucap Keysha dan dianggukkan oleh Gibran.
Kemudian mereka masuk ke dalam mobil masing masing menuju bandara. Sedangkan Gibran kini masuk kembali ke dalam mobilnya dan menyuruh Pak sopir untuk menjalankan mobilnya itu menuju rumah Arum.
Setalah berberapa menit berlalu akhirnya mobil itu sampai di depan rumah Arum. Laki laki itu langsung mengetuk pintu rumah dan masuk ke dalam rumah.
Untungnya tak ada yang mengomel kala ia sedikit tak sopan. Rumah itu tampak sangat sepi, entah kemana para penghuni rumahnya. Tapi Gibran tak ambil pusing, laki laki itu langsung berlari menuju kamar Arum.
Sampainya di kamar sang pacar, Gibran mengetuk pintu kamar itu kemudian ia masuk. Untungnya kamar itu tak di kunci oleh Arum.
Dan yah, pemandangan ini yang membuat Giban tak bisa marah. Wajah polos tanpa dosa itu tampak jelas di mata Gibran kala melihat tidur sang pacar yang sangat anteng.
Gibran berjalan menuju ranjang itu seraya menggelengkan kepalanya. Kemudian ia duduk di ranjang itu dan membangunkan sang pacar dengan lembut.
"Sayang ayo bangun, udah jam setengah 7. Kamu gak mau di tinggal ke Bali kan?" tanya Gibran menepuk pipi sang pacar dangan lembut.
"Ngantuk."
Mata Arum seakan di lem karena tak mau di buka apalagi suaranya yang hampur hilang seperti ini, alhasil Gibran harus memakai caranya sendiri untuk membangunkan Arum.
Cups
"Emmhh."
Ciuman itu terlepas, kemudian Gibran mengangkat kepala Arum dan meletakkannya di dadanya.
"Kamu kok udah disini?"
"Sayang lihat sudah jam berapa?"
Gibran menunjuk jam dinding yang ada di kamar itu dan betapa terkejutnya Arum melihat jam di sana. Merasa masih tak percaya Arum membuka ponselnya dan benar saja jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Aishh."
Arum langsung meloncat dari kasur menuju kamar mandi, sangat tidak sopan padahal tadi masih berada di pelukan Gibran.
"Astaga anak itu, untung sayang jadi gak il feel walaupun begitu," gumam Gibran mulai menyiapkan baju yang akan di pakai oleh Arum nanti.
Akhirnya mendapat stel baju yang cocok untuk Arum, Gibran membawanya ke atas kasur.
"Sayang aku ke bawah dulu, kamu cepet ya. Jangan lama, atau kamu aku tinggal!!"
"Iya sayang, aku masih cuci muka."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu kemudian Gibran membawa koper mini milik Arum dan membawanya ke bawah. Untung kemarin mereka sudah pakking terlebih dahulu, hingga tak harus tergesa gesa pakking.
Setelah sampai di halaman rumah Arum, laki laki itu langsung meletakkan koper itu di bagasi mobil dan menunggu sang pacar disana.
Tak sampai 5 menit, Arum sudah keluar dari rumah. Gibran yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, entah sudah keberapa kali ia menggeleng melihat kelakuan Arum yang sangat di luar nurul.
"Emang the power of kepepet ya gini," gumam Arum membukakan pintu mobil untuk Arum.
"Makasih sayang. Cups."
Gibran mendapatkan asupan pagi ini dengan kecupan di pipi oleh Arum yang membuat ia tak sia sia datang kesini. Walaupun ia sering mengecup dan mencium Arum tapi rasanya beda kalau Arum sendiri yang menciumnya.
Gibran kemudian masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil itu.
"Jalan pak. Ke bandara jangan pake lama," ucap Gibran pada pak supir.
Mobil itu langsung berjalan meninggalkan area rumah itu dan melaju dengan kecepatan penuh menuju bandara. Sedangkan Arum kini sudah mulai mengoleskan cream wajah dengan santainya. Padahal mobil itu sedikit bergoyang, tapi kalau cewek ya gitu. Dimanapun pasti bisa make up.
Setalah selesai memakai cream wajah, Arum mengambil pelembab bibir dan mengoleskannya ke permukaan bibirnya agar tak kering. Karena pada dasarnya Arum jarang memakai lipstik jadi ia tak perlu takut untuk meleber kemana mana tu lipstik.
"Selesai."
Arum memasukan pelembab bibirnya ke dalam tasnya dan menatap Gibran yang kini sedang menatap ponselnya.
"Makasih sudah mau jemput, hihihi kamu pasti kesel kan nunggu aku," ucap Arum meraih tangan Gibran menggenggamnya. Memang perbandingan antara tangan Gibran dan tangannya sangat jauh. Tapi Arum suka menggenggam tangan besar itu.
"Aku gak kesel sayang, cuma yah greget aja sama kamu yang gak bangun bangun. Untung aja aku ke rumah kamu, kalau enggak mungkin udah aku tinggal ke Bali hari ini."
Gibran meletakkan ponselnya di sakunya kemudian meletakkan kepala Arum ke dadanya. Membiarkan Arum untuk memejamkan matanya walau hanya berberapa menit saja sampai bandara.
"Aku ngantuk habis ngedracin semalaman, aku baru tidur jam setengah 4 tadi."
"Harusnya aku telepon terus sih kamu tadi malam biar gak ngaret gini."
Yah memang semalam Gibran sempat menelepon dirinya tadi di jam 10 malam sudah dimatikan karena mereka harus tidur tapi nyatanya Arum tak bisa tidur dan meminta rekomendasi drama yang bagus pada Yanti.
"Maaf."
"Iya."
Gibran tak masalah, memang kesabarannya sangat banyak hingga membuat ia terbiasa dengan sang pacar.
Tangan kanan Gibran mengelus lembut rambut Arum sedangkan tangan kirinya di genggam oleh Arum dan dimainkannya.
Bersambung
__ADS_1