Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Membeli Oleh Oleh


__ADS_3

Happy reading


Arum dan Gibran terbangun pada pukul tujuh kurang berapa menit, Vito dan Yanti juga sudah turun berapa menit yang lalu dan melihat pasangan itu yang masih tertidur.


"Enak banget tidurnya, sampai jam segini belum bangun. Padahal biasanya lu yang paling rajin bangun pagi, habis ngapain nih kalian tadi malam?" tanya Yanti pada Arum yang masih berada di atas sofa itu.


Apalagi Gibran yang masih memejamkan matanya, sepertinya laki-laki itu masih ingin terlelap dalam tidurnya. Bahkan Gibran memeluk perut Arum dengan posesif hingga membuat mereka tertawa melihatnya.


Sedangkan Arum yang masih belum 100% sadar itu hanya bisa mengganggu kan kepalanya dengan mata yang masih sayup-sayup terbuka.


"Apaan sih rame rame?" tanya Arum dengan suara serak khas bagun tidur.


"Lah sejak tadi kita ngomong gak dia dengerin cuma manggung-manggu aja karena belum bangun," ucap Vito yang dianggukkan oleh Yanti.


Berarti mereka berbicara tadi tidak ada gunanya karena Arum belum bangun sepenuhnya.


"BANGUN WOY, UDAH BERAPA JAM LU TIDUR DISINI HAH?"


Suara toa Yanti mulai membuat kesadaran Arum 100% kembali. Bahkan Gibran yang sedang terlelap dengan nyaman itu langsung terduduk dengan kaget.


"Siapa tadi yang teriak?" tanya Gibran pada Arum.


Laki laki itu langsung membuka matanya walau rasanya masih sangat ngantuk. Kedua orang ini tak sadar jika ada 4 pasang mata yang menatap mereka.


"Gak tahu. Ayo mandi aku udah gerah," ucap Arum langsung bangun dan mengajak Gibran untuk mandi.


Yanti dan Vito yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya dan menahan kedua anak manusia itu.


"Mandilah di kamar mandi kalian masing-masing jangan mandi bersama, sini gua anterin kalau gak tahu kamar mandinya," ucap Yanti menggandeng tangan Arum terlalu menuju kamar mereka.


Lagi telepon dengan Vito yang membawa Gibran menuju kamar mereka. Mereka takut jika dibiarkan bersama kedua orang ini akan melakukan hal yang tidak tidak.


***


Setelah beberapa saat akhirnya mereka kembali turun dengan pakaian yang sudah berganti.


Arum yang maju langsung menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Yanti.


Masih teringat betapa konyolnya tadi dirinya yang mengajak Gibran mandi bersama. Mereka semua yang melihat Arum malu-malu itu hanya tersenyum geli.


"Udah daripada kalian malu malu begitu, mending sarapan. Kita mau cari oleh oleh dulu, nanti jam 1 kita pulang," ucap Reno pada mereka.


Mereka semua menganggukkan kepalanya membiarkan Arum dan Gibran untuk memakan sarapan mereka terlebih dahulu, sedangkan mereka berempat langsung meluncur menuju pusat oleh-oleh di Bali.


"Yah kinintunggak kita berdua saja, yuk makan."


"Kamu malu ya yank?" tanya Gibran menggoda Arum.


"Enggak juga sih, tapi ya entahlah."


Arum tak ingin terang-terangan menunjukkan rasa malunya pada Gibran. Karena nanti pasti Gibran akan menggodanya terus-terusan.


Mereka berdua berjalan menuju ruang makan dan mengambil makanan yang ada di sana. Entah ada di mana keberadaan bibi dan Pak Yaman, yang pasti mereka saat ini lapar dan ingin sarapan. Setelah itu nanti mereka akan ke pusat perbelanjaan dan membeli oleh-oleh untuk orang rumah.


"Wah ada udang crispy," ucap Arum mengambil piring dan mengambil nasi yang ada di rice cooker itu.


Gibran yang melihat itu hanya tersenyum tipis kemudian ia menarik tangan sang pacar untuk duduk di pangkuannya.


"Aku kangen pangku kamu kayak gini," ujar Gibran mengambil piring yang tadi sudah diisi nasi oleh Arum.

__ADS_1


"Halahh gombal banget."


"Enggak gombal yank," ucapnya dan dianggukkan oleh Arum.


Ia tak mau berdebat dengan Gibran dipagi pagi seperti ini. Karena bisa saja ini baru ujung panjang dan tak ada habisnya.


Gibran memasukkan udang crispy itu ke piring Arum lebih banyak dari porsi Arum biasanya. Arum yang melihat itu hanya diam dan menikmati apa yang dilakukan oleh Gibran.


"Biar aku suapi hmm."


"Boleh."


Akhirnya mereka makan di satu piring yang sama dengan Gibran yang menyuapi Arum dengan telaten.


Setalah berberapa saat akhirnya mereka sudah menyelesaikan sarapan mereka. Walau jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih, tapi keduanya tak ingin buru-buru untuk berbelanja saat ini karena mereka sudah tahu tempat mana yang akan mereka tuju nanti.


"Yank anggur itu, aku gak sampai," ucap Arum yang masih berada di atas pangkuan Gibran.


Gibran mengambil kedua anggur yang ada di sampingnya itu dan mulai menyiapkannya ke mulut Arum.


Setelah selesai memakan buah sebagai penutup sarapan mereka, Arum dan Gibran berjalan menuju kamar mereka dan mengambil dompet dan hp.


Setelah keduanya keluar dari kamar mereka langsung menuju pusat oleh-oleh di daerah Bali itu.


"Kita naik apa yank?" tanya Arum pada Gibran.


Karena ia mengingat motor sudah dibawa oleh Vito dan Reno, sedangkan motor disini hanya ada 2.


"Taksi aja mau? Atau pakai sepeda yang ada di belakang?" tanya Gibran pada Arum.


"Emm sepeda aja boleh," jawab Arum pada Gibran.


"Iya."


Seraya menunggu Gibran datang membawa sepeda untuk mereka, Arum mulai memakai sepatunya dan menunggu Gibran di depan.


Tak lama kemudian Gibran datang dengan sepeda hitam yang tadi ia ambil dari belakang. Arum yang melihat itu bingung ingin naik lewat mana.


"Aku naiknya di mana?" tanya Arum pada Gibran.


"Sini depanku, kamu kamu bisa peluk aku dengan erat," jawab Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


Akhirnya Arum mulai naik ke sepeda itu dan duduk di depan walaupun tak terlalu nyaman tapi Arum suka berada di sana.


Karena Arum serasa berada di dalam dekapan Gibran.


"Siap sayang?"


"Siap banget."


Gibran yang mendengar nada antusias dari Arum itu gemas sendiri di buatnya. Gibran langsung mencubit pipi itu dengan sangat lembut hingga tak terasa sakit di Arum.


"Gas kita berangkat," ujarnya mulai menjalankan sepeda itu meninggalkan area villa menuju pusat perbelanjaan.


Di dalam perjalanan, Arum menatap wajah Gibran yang sangat tampan itu. Mereka tak perlu malu kalau bertemu orang orang karena kerena mereka tampan dan cantik. Kalau jelek mereka malu lah mungkin.


Cups


Gibran langsung mengecup bibir Arum saat tahu gadisnya itu memandangnya. Dengan senyum manisnya laki laki kembali mengayuh sepeda itu.

__ADS_1


"Ish ish gak malu kamu dilihat orang orang?" tanya Arum pada Gibran.


"Ngapain malu? Wong kita masih pakai baju gak tela***ng. Lagian ini Bali sayang bukan Jawa."


"Emang bedanya apa Bali sama Jawa?"


"Gak tahu juga."


Arum yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas. Memang ya Gibran itu arghh gak tahu lah, buat kesel tapi juga ngangenin.


Hingga sampailah mereka di pusat perbelanjaan pertama yang kemarin sudah mereka survei.


Arum dan Gibran langsung turun dan masuk ke pusat oleh oleh khas Bali itu. Pusat perbelanjaan pakaian yang ada disana, dan kemarin dilihat pakaiannya juga bagus bagus.


"Kita beliin untuk orang rumah juga ya, orang tua kamu, orang tua aku juga. Kalau perlu yang kerja di rumah juga kita belikan," ucap Arum menggandeng tangan Gibran dengan lembut.


"Emang kita bulan madu hmm? Mau belikan orang sekampung?" tanya Gibran pada Arum.


"Ya enggak sih, tapikan kita jarang jarang ke Bali."


"Tapi gimana kalau nanti kita bulan madu, kamu gak mau kesini lagi?" tanya Gibran.


"Gak sh males, aku mau ke Raja Ampat dan tempat tempat lain lain di Indonesia. Karena wisata yang bagus buat honeymoon gak hanya Bali," jawab Arum dengan senyum.


"Oke nanti aku coba wujudkan ya."


"Siap."


Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam toko itu. Dan mencari pakaian yang ada disana.


Arum memilih baju baju yang sekiranya bagus dan cocok untuk mereka beli. Sedangkan Gibran hanya mengikuti sang pacar yang berjalan kesana kesini hingga membuat ia hanya tersenyum saja melihat betapa antusiasnya Arum saat ini.


Setelah berberapa saat akhirnya mereka berdua selesai membeli berberapa pakaian. Setalahnya mereka menuju pusat aksesoris, tentu untuk membeli tas dan aksesoris lainnya yang bagus bagus dan khas dari Bali.


"Yank, kamu mau beli apa disini?" tanya Gibran menatap sang pacar.


"Yang bagus bagus di beli."


Setelah menjawab itu Arum langsung berlari menuju tempat tas dan mulai bertanya tanya tentang tas tas anyam itu.


Dan yah setalah 1 jam lebih berlalu, akhirnya mereka keluar dari tempat itu. Untungnya tadi Gibran membawa tas ransel, dan hal itu sangat berguna saat ini.


"Sekarang kemana?"


"Oleh oleh makanan," jawab Arum dengan senyum manisnya.


Yah terakhir adalah kuliner, atau makanan yang akan mereka bawa pulang ke jakarta.


Dengan senyum manisnya Arum kembaku duduk di depan sepeda itu sedangkan Gibran langsung mengayuh sepeda itu menuju pusat oleh oleh makanan.


Sekarang jam sudah menunjukkan setengah 11 siang, entah dimana sekarang teman teman mereka tapi yang jelas Arum dan Gibran sudah mendapat apa yang mereka inginkan.


Berberapa saat kemudian mereka sampai di toko oleh oleh makanan khas kota Bali. Arum mengambil berberapa makanan dan memasukkannya ke dalam keranjang.


Gibran juga senantiasa mengikuti sang pacar yang ada di depannya. Walaupun banyak tatapan memuja pada mereka berdua, bahkan terang terangan ada yang ingin mengajak kenalan Arum dan Gibran.


Tapi keduanya seakan tak peduli dengan hal itu mereka tetap pada tujuan mereka membeli oleh oleh.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2