
Happy reading!
Bagaimana tak menangis jika posisi Gibran kini seperti ingin menye****nya. Arum jelas takut lah, apalagi tatapan Gibran sangat menyeramkan.
"Kamu mau ngapain sih, jangan gini aku jadi takut," ucap Arum menahan dada Gibran agar tidak semakin mendekat.
Gibran yang melihat tatapan takut dari sang kekasih itu tersenyum kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Arum.
Ia tertawa melihat ekspresi Arum yang sepertinya sangat ketakutan dengan apa yang akan ia perbuat. Sedangkan Arum menatap sang kekasih dengan tatapan bingung.
"Kamu kenapa sih?" tanya Arum menatap Angkara yang berada di di sampingnya.
"Takut banget sih sayang, emang aku mau ngapain sih hmm? Jangan jangan pikiran kamu udah jelek ya sama aku?" tanya Gibran disela tawanya.
Arum yang mendengar itu langsung sadar dengan pejalan yang dilakukan oleh Gibran. Gadis itu tiba tiba kesal kemudian bangun dari baringannya kemudian beralih duduk di atas perut Gibran.
Rasanya tak terima ia dipermainkan seperti ini, ia sudah ketakutan tapi malam dipermainkan.
Gibran yang melihat kekasihnya duduk di atas perutnya itu mendadak kaget. Posisi seperti ini tak aman untuk dirinya dan jantungnya yang sudah berdebar kencang.
Apalagi saat ini harum hanya memakai rok sekolah yang cukup pendek hingga memperlihatkan pahanya yang mulus.
"Kamu udah berani nakutin aku kayak tadi hah?" tanya Arum dengan suara yang dibuat selimut mungkin. Tapi malah terdengar menyeramkan bagi Gibran yang ada di bawah tubuh Arum.
Gibran menelan ludahnya kala sang pacar mulai menggerayangi tubuh atasnya. Jakunnya naik turun hingga membuat yang bawah jadi was-was.
Sedangkan Arum kelihatannya tidak takut sama sekali Gadis itu hanya ingin memberi pelajaran pada Gibran karena sudah berani membohonginya hingga ia ingin menangis tadi.
"Uhh dada kamu keras ya sayang," ucap Arum dengan suara menggoda.
"Yank yank.... Jangan gini aku takut lepas kendali," ucap Gibran yang kini mulai takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Arum.
Entah mendapat keberanian dari mana Arum hingga berbuat seperti ini kepada Gibran. Gadis ini tempatnya tidak takut sama sekali tentang bahaya yang sedang mengintainya.
"Hmm, aku cuma main aja kok. Lagian kan ini punya aku, kamu sendiri yang bilang gitu," ucap Arum dengan suara manja.
Wajah Arum didekatkan ke wajah Gibran hingga hembusan nafas mereka saling bersahutan. Arum tersenyum tipis kemudian melepaskan kaos yang dipakai oleh Gibran.
Niat hati ingin menggoda Arum kini malah Gibran mendapatkan serangan balik dari kekasihnya ini.
"Kamu udah buat air mata aku jatuh tadi. Jadi kamu juga harus mendapatkan hal yang sama," ucap Arum melemparkan kaos yang dipakai Gibran hingga membuat laki laki itu kaget.
Dalam batin Gibran memohon agar siapapun datang ke kamar mereka dan menghentikan perbuatan Arum yang ingin membalas perbuatannya tadi.
"Sayang, aku minta maaf aku gak ada maksud buat kamu nangis. Lagipula itu hanya hukuman kecil sayang," ucap Gibran yang tak mau sang kekasih sampai berbuat yang tidak tidak.
"Itu sama sekali gak lucu!!"
Arum melepaskan dasi yang masih ada di lehernya kemudian mengikat kedua tangan Gibran dengan dasi itu.
"Anggap aja ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah buat aku nangis tadi," ucap Arum yang masih berada di atas tubuh Gibran seraya menali pita kedua tangan Gibran.
"Firasat aku kok jadi gak enak sih, lagian kenapa Arum bisa senakal ini sekarang. Apa tadi ia habis kejedot?" batin Gibran yang kini tak bisa leluasa bergerak karena tangannya di tali oleh Arum.
__ADS_1
"Shhh biar aku hitung ada berapa kotak di perut kamu ini," ucap Arum seraya membuka dua kancing baju seragamnya hingga memperlihatkan bra berwarna hitam itu.
"1.... 2... 3... 4.... Emmm masih 4 kotak akan aku bantu nanti jadi enam kotak," ucap Arum mengelus perut Gibran.
Arum terus berada di atas Gibran seraya menghitug perut sang kekasih hingga membuat Arum sedikit memundurkan tubuhnya.
"Sshh sayang jangan disitu, kamu boleh hukum aku apa aja tapi jangan bangunkan pusakaku," ucap Gibran yang membuat Arum seketika ngeblank.
Walaupun dia masih kelas 2 SMA tapi Arum tidaklah sepolos anak yang dibayangkan oleh orang tuanya. Gadis itu bahkan pernah melihat film 1821 bersama Gibran berberapa bulan lalu. Walaupun Arum hanya melihat sekilas saja tapi itu membuat ia malu. Untungnya saat itu Gibran bisa menahan dirinya agar tidak kelewat batas.
"Aku gak peduli, kamu tahu aku kan."
Ucap Arum setelah sadar dari apa yang terjadi saat ini tapi ia tak peduli. Rasa kesalnya pada Gibran belum hilang sepenuhnya, apalagi mengingat ekspresi laki-laki itu yang tampak menyeramkan di matanya.
Tentu saja Gibran mengetahui tentang Arum yang jika menghukum orang tidak nanggung-nanggung.
"Gimana rasanya dipermainkan seperti saat ini hah?" tanya Arum seraya menggoyangkan pinggulnya pelan.
"Sshhh jangan sayang atau kamu akan kena hukuman yang sebenarnya."
"Gak takut, wong tangan kamu aja aku tali seperti ini."
Tanpa aba-aba Arum turun dari tubuh Gibran yang membuat laki laki itu sejenak bisa bernafas lega karena Arum tidak lagi menggodanya seperti tadi.
Tapi hal itu tak berlangsung lama karena Arum turun hanya untuk mengambil kemoceng yang tergantung di kamar itu dan kembali naik ke atas kasur dan duduk di atas tubuh Gibran.
"Aku akan pakai ini untuk menghukum kamu sayang. Pasti rasanya sangat nikmat hmmm."
****
Tanpa mereka berdua sadari dibalik pintu kamar Arum ada berberapa pasang telinga yang mendengarkan apa yang terjadi di dalam kamar itu.
"Hahaha sayang ampun aku mohon jangan lakukan lagi.."
"Gak kamu harus mendapatkan hukuman kamu."
"Sekarang giliran ini."
"Ohhh sayang cukup..."
"Hahaha puas aku."
Tatapan mata mereka seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Gibran dan Arum di dalam kamar itu.
"Pah," ucap Mama Tiya menatap suaminya yang menahan amarah di dalam dirinya.
"Telepon Anin dan Abi sekarang, suruh mereka kesini," ucap Papa Sandi dengan mata yang memancarkan kemarahan dengan apa yang dilakukan oleh Arum dan Gibran.
"Bi, mana kunci cadangan kamar Arum?" tanya Papa Sandi yang langsung di carikan oleh Bibi.
Mama Tiya menelepon Mama Anin. Sedangkan bibi mencari kunci cadangan yang memang ada di kamarnya karena ia yang harus membersihkan setiap sudut kamar setiap hari.
Tak lama bibi kembali membawa kunci kamar Arum, laki laki paruh baya itu langsung membuka pintu kamar itu dengan tergesa gesa.
__ADS_1
Ia akan marah jika Gibran berbuat yang tidak-tidak dengan Arum. Gadis kecilnya kini telah ternodai jika sampai hal yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
Ceklek
"Astaghfirullah," ucap ketiganya saat melihat dengan spontan melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu.
Bagaimana tidak mengucap istighfar saya niat posisi Arum dan Gibran yang sangat tidak sen***oh seperti itu.
"Apa yang kalian lakukan hah?" bentak Papa Sandi melihat putrinya berada di atas tubuh Gibran.
Dan ternyata ia sudah bersu'udzon pada Gibran, laki-laki itu tak berbuat yang tidak tidak pada anaknya tapi malah putrinya yang berbuat tidak baik kepada Gibran.
Papa sandi marah melihat hal itu sejak kapan putrinya berubah menjadi nakal seperti ini. Apakah selama ini ia sudah salah mendidik sang putri hingga membuat anaknya ini jadi nakal.
Gibran yang melihat kedatangan kedua orang tua Arum itu mendadak lega tapi juga ada rasa takut di hati laki-laki itu. Lega karena ia tidak perlu lagi menjerit kegelian karena Arum, tapi takut karena sekarang dipergoki oleh Papa dan Mama serta pembantu Arum di sana.
Arum yang kaget itu langsung membuang kemoceng itu dan turun dari atas tubuh Gibran tak lupa membenarkan baju seragamnya yang hampir saja terlepas.
Sedangkan Gibran yang tak bisa berdiri karena tangannya masih terikat dengan dasi sekolah milik Arum.
Papa dan Mama masuk ke dalam kamar itu kemudian melepas ikatan pada tangan Gibran. Sedangkan Papa Sandi langsung menatap sang putri yang sedang menunduk.
"Apa yang kalian lakukan ha? Apa yang membuat kamu menaiki tubuh Gibran sayang?" tanya Papa Sandi tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Arum.
"Dan Kenapa juga kamu mengikat tangan Gibran dengan dasi kamu? Kamu ingin menganiaya Gibran?" tanya Mama Tiya menatap dasi yang ada di tangannya.
"Arum kesel sama Gibran, dia dulu yang mulai ingin menghukum Arum hingga membuat arum menangis," jawab Arum dengan jujur.
Sontak saja Gibran yang mendengar itu membulatkan matanya tak percaya menatap Arum, Kenapa gadisnya ini harus jujur sih kan kalau gini ya ikut terseret dalam kesalahan ini.
"Maksudnya gimana?"
Akhirnya Arum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tak ada yang ia tutupi dan tidak ada pula yang melenceng dari apa yang sebenarnya terjadi. Memang gadis itu sangat jujur jika berhadapan dengan kedua orang tuanya tapi beda lagi jika dengan teman-temannya dan Gibran.
Mama dan Papa yang mendengarkan cerita Arum itu langsung menatap Gibran meminta jawaban dari cerita Arum. Apakah semua itu benar atau salah.
"Apa itu benar nak Gibran?" tanya Papa Sandi dan dianggukkan oleh Gibran.
"Tapi Gibran melakukan itu juga untuk membuat Arum jera karena tadi siang dia berbohong pada Gibran. Gibran melihat Arum mengendarai motor sport milik temannya, papa juga tahu kenapa Gibran melarang hal itu," ucap Gibran yang membuat Papa menatap Arum.
"Apa!! Jadi kamu tadi mengendarai motor gede lagi sayang?" tanya Mama Tiya menatap sang putri dari atas sampai bawah.
Rasa cemas itu masih membekas di ingatan Mama Tiya kala mengingat bagaimana dulu Arum berjuang melawan sakit yang diderita karena jatuh dari motor. Hampir saja dulu iya kehilangan putri satu-satunya yang ia punya karena kejadian itu.
"Iya mah. Tapi cuma satu kali ini kok gak lagi," jawab Arum dengan jujur.
Huhh
"Mama sudah menelepon orang tua Gibran dan mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Sekarang kalian berdua keluar dari gambar ini ke ruang tamu, tunggu mama dan papa Gibran sampai di sini," tegas papa.
Bapak sandi tak membenarkan apa yang dilakukan oleh kedua anaknya ini. Ia akan membicarakan hal ini pada Papa Abi dan juga mama Anin selaku orang tua Gibran.
Bersambung
__ADS_1