Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Deal Kita Healing


__ADS_3

Happy reading


Kini Arum CS dan Gibran CS sudah berada di kafe yang mereka janjikan. Sudah tak ada Sania yang bersama Arum karena ancaman dari pak tua yang mempekaos Sania sudah di pecat oleh pihak sekolah.


Tentu saja semua itu ada campur tangannya dengan Gibran dan keluarganya. Tapi tidak mencantumkan siapa gadis yang sudah diperkaos Pak Tua yang notabene adalah tukang kebun. Biarlah hal itu menjadi rahasia sekolah dan Gibran.


"Udah berapa bulan kak? Lama juga kita ketemu ya," tanya Arum pada Keysha yang duduk berada di sampingnya.


"Jalan 3 bulan, dek," jawab Keysha jangan senyum manisnya.


Mereka ngobrol di sana seraya menunggu pesanan mereka sampai. Di meja mereka hanya para perempuan yang heboh entahlah membahas apa sedangkan laki-laki hanya terdiam mengamati pasangan mereka yang asik sendiri hingga mengabaikan keberadaan laki-laki itu.


"Nanti kita jalan jalan ya kalau udah dibali, kakak mau datengin banyak destinasi wisata yang ada di sana," ajak Keysha dengan semangat.


Ya tadi di sekolahan Yanti sudah mengatakan keinginan kakaknya jika Keysha ngidam ingin ke bali bersama mereka. Arum merasa tak ada salahnya mereka ikut berlibur Karena setelah ujian otak mereka pasti juga sedikit perlu refreshing agar tidak gundul kepala ini.


"Aku juga gak sabar pengen main air, apalagi lihat kerang ang lucu lucu itu bentuknya," ujar Arum tak kalah semangat. Padahal mereka belum meminta izin pada orang tua jika ingin ikut liburan ke Bali.


"Gue mau lihat bule bule berjemur say, pasti kekar kekar gitu kan badannya."


Itu yang mendengar ucapan yang di ingin melihat laki-laki agar itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Apaan lihat bule, kita gak akan lihat bule bule. Orang yang mau liburan itu di bumil, lihat aja nanti kita pasti jadi babu mereka," ucap Vito dengan nada cemburu.


Reno dan Gibran yang mendengar ucapan Vito itu hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Laki-laki jika sudah pusing ya begini jadinya padahal hubungan antara Vito dan Yanti belum ada seumur jagung tapi bucinnya laki laki itu hampir mengalahkan mereka.


"Biarin yang penting dapat liburan gratis dan lihat bule-bule ganteng," jawab Yanti menatap Vito dengan santainya. Seperti tak memiliki rasa bersalah Yanti hanya tersenyum tipis melihat Vito yang kesal.


"Oke kalau itu mau kamu, jangan salahkan aku jika nanti aku juga kepincut sama cewek-cewek yang cuma pakai bikini. Apalagi yang dadanya gede," ujar Vito menatap Yanti dengan aura permusuhan.


Sepertinya hubungan kedua teman mereka ini identik dengan pertengkaran dan keromantisan. Pasti dalam satu hari ada aja yang mereka ributkan, entah itu masalah sepele ataupun masalah besar.


Tatapan mereka terputus segala pelayan mengantarkan makanan mereka yang lumayan banyak karena Keysha lagi banyak-banyaknya makan. Sejak hamil memang sifat dan kelakuan Keysha banyak berubah, di mana dulu Keysha sangat memperhatikan berat badannya kini malah tak mau memikir berat badan karena kehamilannya. Lagi pula Reno tak mengizinkan Keysha untuk diet karena laki laki itu ingin anak dan istrinya tetap sehat.


Lagi pula Keysha tetap cantik walau berat badannya tambah. Laki-laki itu malah senang jika na**u makan istrinya bertambah seperti ini. Tapi tetap mempertahankan 4 sehat 5 sempurna.


"Buset dah, makanannya banyak banget," gumam Arum yang masih dapat di dengar oleh Yanti dan Keysha.


"Ini sebagian besar pesanan kakak. Jadi jangan kaget ya kalau kakak makannya banyak," ucap Keysha yang sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan dari Arum.


"Iya kak, maklumlah Kakak kan lagi hamil. Banyak makan makanan yang bergizi biar sehat sama adik bayinya," ucap Arum yang sebenarnya tak kaget juga karena kakak iparnya juga sedang hamil dan sangat mood swing sekali.


Arum tak ingin Keysha sampai bad mood gara-gara omongannya tadi. Apalagi perempuan itu sedang hamil sekarang mereka menjaga suasana hati bumil.


"Gak sabar mau makan."


"Mari makan."


Karena makanan juga sudah sampai mereka makan bersama di cafe itu tentu dengan ditraktir oleh pasangan suami istri itu. Walaupun mereka kekurangan uang untuk membeli makanan di sana, tapi mereka juga menghargai niat baik Keysha dan Reno untuk mentraktir mereka.


Apalagi mereka jalan jarang-jarang kumpul seperti ini. Pakai uang yang mereka keluarkan juga tak akan membuat keluarga Reno dan Keysha mendadak bangkrut.


Reno tampak menyiapkan makanan yang akan dimakan oleh sang istri. Arum dan Yanti memperhatikan hal itu, dan melihat piring yang berisi makanan sehat.


Arum sedikit mengagumi kemesraan mereka dan kepedulian Reno kepada Keiysha. Walaupun usia mereka masih cukup muda tapi keduanya bisa mengimbangi zaman sekarang yang sudah modern walaupun Keysha sering berada di rumah.


Tak jauh berbeda dengan Arum dan Yanti, fito dan Gibran juga mengamati kedua sahabat mereka. Walaupun sudah menjadi kebiasaan dan Gibran sering melihat kemesraan kedua sahabatnya tapi tetap saja hal itu cukup membuatnya iri.


Mereka berdoa semoga rumah tangga mereka juga seperti rumah tangga Reno dan Keisha yang sering ada pertengkaran dan selalu harmonis.


Tanpa sengaja pandangan Gibran terarah pada harum yang melihat pasangan itu. Tangannya langsung mengambil ponsel yang ada di sakit jaketnya dan mematikan pesan pada sang kekasih.


Ting

__ADS_1


GibranLv


Pengen ya🤭


Untuk mendapat pesan dari Gibran, Arum langsung menatap kekasihnya yang sedang tersenyum seraya memegang ponsel mahal itu.


Anda


Pengen☺️ Tapi kamu gak peka😭


GibranLv


Jadi mau diperhatiin juga, memangnya selama ini aku kurang perhatian kamu hmmm?


Anda


Enggak kurang sih. Hehehe makasih sayang, maaf kalau aku memperhatikan orang lain padahal ada kamu.


GibranLv


Gak apa apa sayang. Lagipula tadi aku juga gak sengaja lihat mereka. Udah jangan bahas itu lagi, kita berdoa saja semoga hubungan kita bisa langgen tak ada yang menanggu.


Entahlah padahal mereka berada di tempat yang sama tapi malah mengirim chat seperti ini. Untungnya tak ada yang menyadari ketika Arum dan Gibran senyum-senyum sendiri karena mereka semua fokus pada makanan mereka.


"Nih udang buat kamu."


Gibran memberikan udang yang sudah ya kupas pada Arum, ampun menerimanya dengan senang hati karena dia memang suka udang.


Kipernya melihat senyum dari kekasihnya itu tanpa sadar ikut tersenyum seraya memakan makanannya dengan lahap.


Setelah makanan yang berada di atas meja itu habis putus dimakan mereka berenang, kini tinggal mereka mendiskusikan tentang diri mereka ke Bali.


"Jadi kapan kita ke Bali Kak?" tanya Yanti dengan semangat.


"Emm enaknya kapan, biar Reno bisa beli tiketnya buat kita," ujar Keysha menatap sang suami.


"Terus kamu gimana Vit?"


"Aman kok orang tua aku mah santai-santai aja walau aku di rumah," jawab Vito dengan jujur.


"Biar urusan izin aku yang bilang sama mama papa, lagian ini kesempatan untuk kita jalan-jalan bareng yank, kamu tenang aja oke," ucap Gibran dengan senyum manisnya.


"Oke aku serahin sama kamu."


"Oke jadi gimana kalau minggu depan aja, mumpung kalian juga udah libur kan. Kalau masalah kampus aman lah kita bisa ikut ujian susulan," ucap Reno pada mereka.


"Oke aku setuju."


"Jadi deal ya kita healing Minggu depan?" tanya Keysha pada mereka.


"Deal."


"Arum gimana?"


"Aku belum bisa jawab Kak, Tapi nanti kalau mama papa udah kasihin aku bakal telepon kalian," jawab Arum dan dianggukkan oleh mereka.


Keysha dan Reno juga tak bisa memaksa jika Arum tidak bisa ikut dengan mereka yang otomatis Gibran juga tak bisa ikut.


Setelah makan mereka selesai dan juga ngobrolnya sudah selesai mereka hal ini memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Gibran mengantarkan sang kekasih ke rumahnya. Motor sport milik Gibran melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Arum. Sedangkan gadis itu tampak memeluk perut sang kekasih dan meletakkan pipinya di pundak Gibran.


Tanpa Arum sadari motor itu berhenti di sebuah taman yang membuat Arum langsung menatap Gibran dengan bingung. Bukannya mereka akan pulang? Kok malah menggok.

__ADS_1


"Turun yank."


"Heem."


Arum turun dari motor itu diikuti oleh Gibran kemudian mereka berjalan menuju kursi kayu yang ada di taman itu.


"Kamu kenapa sih? Aku perhatiin dari tadi kamu kurang terus kenapa?" tanya Gibran mengelus lembut punggung tangan sang pacar.


"Gak tahu, pengen sedih aja mungkin mau PMS. Kan udah tanggalnya aku PMS," jawab Arum.


Emang Arum jika mau PMS suka uring-uringan gak jelas kadang nangis kadang sedih. Tapi semuanya hanya berberapa saat.


"Mau mampir ke supermarket beli obat buat kamu?" tanya Gibran pada Arum.


"Gak usah, stok obatnya masih banyak kok di rumah," jawab Arum meletakkan kepalanya di dada Gibran.


Arum ingin sekali bermanja dengan Gibran sebelum pulang ke rumah. Pikiran yang melihat tingkah manja sang kekasih itu hanya tersenyum kemudian mengelus rambut lembut Arum.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari taman itu. Suasana hati harum juga sudah membaik karena pelukan Gibran tadi. Sungguh Gibran adalah mood booster terbaik untuk Arum begitun sebaliknya.


Brummm


Beberapa menit kemudian sampailah mereka di depan rumah Arum. Sepertinya kedua orang tua Arum pulang.


"Kayaknya Papa kamu belum pulang, aku tungguin aja ya?"


"Iya."


Arum dan Gibran masuk ke dalam rumah dan melihat Mama Tiya sedang berada di sofa menonton televisi.


Tapi ada yang beda dengan Mama Tiya, wanita itu tampak memegang perutnya seraya mengelusnya lembut.


"Ma."


"Eh sayang, kamu udah pulang?" tanya Mama Tiya pada anak dan calon menantunya.


"Mama kenapa elus elus perut? Mama hamil?" tanya Arum pada sang ibu.


"Gimana pendapat kamu kalau benar Mama hamil?" tanya Mama Tiya yang malah kemberi pertanyaan balik pada Arum.


"Emmm, ya gak gimana gimana sih. Kan anak itu anugrah buat keluarga kita. Tapi masalahnya adalah usia mama sudah tak muda untuk mengandung, apa tidak apa apa?" tanya Arum menatap perut Mamanya.


Sumpah demi apapun, Arum malah senang jika ia mempunyai adik. Tapi mengingat usia Mama yang sudah menginjak kepala 4 membuat Arum takut.


"Alhamdulillah jika kamu tak mempermasalahkan jika Mama hamil lagi. Dan benar sayang, Mama memang hamil. Baru aja tadi pagi Mama cek pakai respeck."


"Papa udah tahu, Ma?" tanya Arum yang sudah duduk di samping Mama dia seraya menulis perut rata sang ibu.


"Belum, rencananya mau buat kejutan pas dia pulang nanti. Lah emangnya Papa belum pulang?" tanya Arum. Biasanya ayahnya pulang dulu ke rumah saat makan siang.


"Dia lagi meeting sayang."


"Oalah."


Mereka duduk di sana menemani Mama Tiya menonton televisi, kemudian Gibran mengutarakan niatnya tadi meminta izin untuk mengajak Arum ke Bali bersama teman temannya.


"Sama siapa aja sayang?"


"Sama kak Reno, Kak Keysha, Kak Gibran, Yanti, sama Vito. Janji kok kita gak ngapa ngapain di Bali cuma nemenin Kak Keysha yang lagi hamil doang jalan jalan," ucap Arum dan dianggukkan oleh Mama Tiya.


"Mama pribadi sih, oke oke aja. Asal kalian bisa jaga diri baik baik, tapi kalian juga harus tetap izin sama Papa Sandi."


"Siap ma."

__ADS_1


Akhirnya mereka sudah mengantongi izin Mama Tiya untuk ke Bali. Kini tinggal Papa Sandi saja yang belum.


Bersambung


__ADS_2