
Happy reading
Setelah selesai makan mereka berdua memutuskan untuk langsung pulang. Karena setelah ini Gibran juga harus kembali ke kantor sedangkan Arum harus ke rumah sakit membawakan baju-baju untuk mama dan Papanya.
"Sayang aku tunggu kamu ganti baju ya, sekalian nanti aku anterin kamu ke rumah sakit," ucap Gibran pada Arum.
Laki-laki itu tentu tak tega membiarkan sang kekasih pergi sendiri ke rumah sakit dengan taksi. Lagi pula menunggu sang kekasih ganti baju juga tak lama.
"Memang kamu gak sibuk?" Arum tak ingin dirinya menghambat sang kekasih untuk bekerja.
Gibran yang mendapat pertanyaan itu langsung menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak sibuk sama sekali. Padahal kenyataannya di kantor ada banyak berkas yang harus ia pelajari.
Mobil yang mereka kendarai melaju dengan kecepatan penuh menuju perumahan elit keluarga Arum. Jika kalian bertanya ke mana Kak Cika dan Kak Naufal mereka sudah kembali ke luar negeri Karena urusan mereka disini sudah selesai.
Walau dengan berat hati kemarin mereka berpamitan pada Papa mereka yang masih berbaring di rumah sakit. Mama dan Papa juga tidak menghentikan kepergian sang putra karena kedua anaknya itu memiliki tanggung jawab di negeri orang sana.
Heh dapat berapa lama sampailah mereka di rumah Arum. Keduanya langsung turun dari mobil dan berjalan menuju rumah itu.
Percepatan saat dia masuk ke dalam rumah ada Bibi yang sedang menenteng tas yang entah isinya apa.
"Bi, mau kemana?"
"Ke rumah sakit Non. Nyonya minta saya buat anterin baju bajunya. Karena tak mau membuat non Arum harus bolak-balik ke rumah sakit," jawab bibi dengan jujur.
Di dalam tas itu memang hanya berisi beberapa pakaian milik mama dan Papanya.
"Emm ya sudah kalau gitu tungguin Arum bentar ya biar kita sama-sama ke rumah sakit, diantar Gibran soalnya. Biar bibi gak buang uang juga," ucap Arum pada sang bibi.
Pipi yang mendengar itu sontak langsung menganggukkan kepalanya kemudian meletakkan tas itu di atas meja.
Harun berlari menuju kamarnya meninggalkan Gibran dan Bibi di sana, bibi langsung mengambilkan air untuk Gibran karena tak enak jika ada tamu tidak diberi minum.
***
Dengan cepat Arum berlari menuju kamar mandi dan memakai pakaiannya di sana. Gadis itu hanya memakai pakaian santai hingga ia lebih cepat selesai.
Jangan lupa Gadis itu mencuci wajahnya hingga bersih dan memakai krim siang miliknya.
Setelah beberapa saat akhirnya Arum selesai memakai pakaian dan sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit.
Saat keluar dari kamar aku melihat Gibran yang sedang duduk di sofa seraya menikmati minuman yang ada di depannya.
"Sayang ayo."
__ADS_1
"Tunggu ya Sayang, biar habis dulu minumnya."
"Oke."
Berapa kali seruputan akhirnya minuman yang ada di gelas itu habis. Gibran Arum dan Bibi berjalan menuju mobil Gibran yang terparkir di depan rumah.
Mereka masuk ke dalam mobil itu dan Gibran menjalankan mobilnya keluar dari area perumahan elit itu menuju rumah sakit.
"Non Arum udah sehat bener kan? Tadi Nyonya telepon kalau Non Arum belum sehat betul suruh istirahat gitu," ucap Bibi mengatakan apa yang diucapkan oleh nyonya tadi ketika menelpon dirinya.
"Arum udah sembuh kok bi. Arum udah sehat seperti semula, lagian Arum tuh cuma doror darah bukan sakit yang parah banget," jawab Arum dengan senyum manisnya pada sang bibi.
"Syukurlah kalau begitu."
Berapa menit kemudian akhirnya mobil usus sampai di parkiran rumah sakit tempat di mana Papa sandi dirawat. Bibi turun dari mobil sedangkan Gibran dan Arum masih berada di dalam mobil. Gibran langsung pamit pada mereka untuk kembali ke kantor.
Sebenarnya ini susah tidak bisa menemani kekasihnya kemanapun seperti biasanya. Tapi sekarang ada tanggung jawab yang harus diamben selama Papanya tidak ada di rumah.
"Aku langsung ke kantor ya sayang. Nanti kalau mau pulang langsung telepon aja ya," ucap Gibran mengelus rambut sang kekasih dengan lembut kemudian mengecupnya.
"Iya kamu hati-hati di jalan. Nanti kalau aku mau pulang pasti aku kabarin kamu, Kalau kamu sibuk kamu nggak perlu jemput aku," jawab Arum membalas kecupan Gibran di pipi.
"Selamat bekerja Sayang."
"Iya makasih sayangnya aku."
Drrtttt
Saat di perjalanan ponsel mahal Gibran berdering sehingga mau tak mau Gibran harus mengangkat panggilan telepon itu.
"Papa? Tumben telepon?" tanya Gibran dalam hati menatap ponselnya itu.
Tak menunggu lama Gibran langsung mengangkat panggilan telepon itu dan terdengarlah suara sang Ibu dari seberang sana.
"Halo sayang kamu ada dimana?" tanya Mama.
"Lagi di jalan habis nganterin Arum ke rumah sakit. Kenapa?" tanya Gibran pada sang ibu.
"Ohh kamu mau ke kantor nak?"
"Iya mah. Tumben Mama telepon pakai ponsel Papa?"
"Oh ya Mama mau bilang kalau malam ini mama sama papa mau pulang ke Jakarta. Urusan kita di sini sudah selesai jadi tak ada alasan lagi untuk tetap berada di sini," jawab Mama Anin pada sang putra.
__ADS_1
"Oalah syukurlah kalau kalian pulang malam ini soalnya Gibran lama-lama Kak betah dengan keadaan seperti ini. Capek Mah, Pah. Baru pulang kuliah langsung kerja."
"Halah biasanya kamu juga gak males gini. Pasti kamu kesel kan gak bisa mesra-mesraan sama Arum?" goda Mama Anin yang membuat kita melakukan kepalanya walau tak diketahui oleh Mama Anin.
Memang benar apa yang diucapkan oleh ibunya itu ia tidak bisa berjauhan dari Arum karena sudah terbiasa bersama dengan gadis itu setiap hari. Hari-hari belakangan ini dia merasa sangat berat sekali menjalani harinya, mungkin terdengar lebih untuk kalian tapi itulah kenyataannya.
Setelah keluar dari lamunannya Gibran mendengar suara bisik-bisik dari ponselnya pasti itu suara ayah dan ibunya.
"Huhh udah tua juga masih aja sama."
"Dah ya ma. Gibran mau cepet balik ke kantor jangan lupa nanti malam pulang beneran. Jangan cuma janji doang, Papa juga sebagai pemimpin perusahaan kok liburan terus."
"Hahaha iya nak. Kamu semangat kerjanya," ucap Mama dan dianggukkan oleh Gibran.
Setelah panggilan telepon itu terputus fokus pada jalan rayanya agar cepat sampai di kantor dan menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Memang laki-laki itu hanya pegawai biasa saat ini hanya membantu bantu saja tanpa ikut meeting atau segala macam, maka dari itu ia hanya memakai baju biasa tak memakai pakaian formal.
***
Sedangkan di sisi lain Mama Amin dan Papa Abi ini masih berada di kamar yang dulu adalah kamar Papa Abi.
"Gimana?"
"Gibran mengubah kantor, mas lepasin gih malu sama orang rumah. Masa sejak pagi gak keluar dari rumah," ucap Mama Anin pada Papa Abi yang masih memeluknya dari belakang.
Memang sedari pagi mereka belum keluar dari kamar karena Papa Abi yang mengurung Mama Anin di dalam kamar. Bahkan untuk sarapan dan makan siang mereka menyuruh pelayan untuk membawakan makanan ke kamar mereka.
Entahlah kenapa akhir-akhir ini apa arti sering berlaku manis padanya dan tak membiarkan dirinya untuk keluar dari rumah. Memang tingkat ke possesifan sang suami kini mendadak meningkat sejak anak-anak bertemu dengan mantannya kemarin yang kebetulan ada di Bogor.
Laki-laki mana yang tidak cemburu kalah melihat sang istri masih akrab dengan laki-laki ini tapi ini adalah mantan walaupun itu sudah lama dan mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing.
"Papa kenapa sih?"
"Mau *****."
"Dasar papa, gak malu apa hmm. Masih cemburu soal kemarin?" tanya Mama Anin yang sebenarnya sedikit lucu dengan alasan sang suami seperti ini.
"Hmm."
Tangan laki-laki itu mulai membuka kancing baju yang dipakai oleh sang istri. Sedangkan nama Anin yang mendengar respon dari sang suami hanya bisa menjalankan kepalanya kemudian mengelus lembut surai sang suami.
"Papa, Mama sama dia itu sama teman biasa. Kita nggak ada hubungan lebih, lagian kita sudah mempunyai keluarga masing-masing bahkan sebentar lagi kita akan punya mantu dan juga yang cucu yang lucu-lucu. Lagian kisah mama dan dia itu udah lama banget nggak mungkinlah mama jadi pelakor, padahal mama punya Papa yang segalanya lebih baik daripada dia."
"Kita gak boleh memotong silaturahmi dengan orang yang jadi masa lalu kita kan. Udah ya jangan cemburu lagi cinta mama cuma buat papa," ucapnya dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Papa api yang menggambar hari itu tersenyum kemudian dengan melakukan apa yang ia inginkan. Kelamaan itu membiarkan apa yang dilakukan oleh suaminya itu selagi tak membuat dirinya kesakitan.
Bersambung