Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Memulai Hidup Baru


__ADS_3

Happy reading


"Selamat tinggal Indonesia, aku akan melupakan semua yang menyakitkan dan menyenangkan di negara ini. Tentang keluarga, asmara, atau kebebasan yang selama ini aku dapatkan," batin Lidia menatap ke arah luar dari jendela pesawat itu.


Luke dan Lidia kini sudah berada di pesawat pribadi Luke, setelah menyuruh seorang kurir mengantarkan Paket ke rumah Gibran. Luke dan Lidia langsung berangkat ke bandara.


"Baby, mikirin apa?"


"Mikirin kesalahan aku selama disini," jawabnya dengan senyum manisnya menatap sang kekasih yang sedang duduk di sampingnya.


"Jangan dipikirkan nanti malah jadi penyakit, ayo ke kamar. Aku capek bergadang tadi malam, maklumlah tulang tua," ajak Luke menggenggam tangan sang kekasih.


"Emang kamu udah tua."


"Tua tua gini juga masih bisa membuat kamu mende sah semalaman," ucap Luke menggandeng tangan sang kekasih masuk ke dalam kamar.


Memang benar, mereka tak cukup tidur tadi malam. Padahal mau berpergian jauh tapi tetap saja bergadang karena tak ingin melewatkan kenikmatan dunia.


****


16 jam lebih Luke dan Lidia di dalam pesawat, akhirnya mereka sampai di bandara London City. Lidia yang masih terlelap itu tak sadar jika ia sedang digendong dari pesawat. Ya mungkin kelelahan karena mereka hanya satu kali transit dari Indonesia ke London.


Luke membawa sang kekasih masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan sebelumnya. Kemudian mobil itu bergerak meninggalkan bandara.


"Permisi tuan, kita langsung ke mansion atau ke apartemen?"


"Mansion saja."


Mobil itu membelah jalan raya menuju rumah besar milik Luke yang ada di London. Yah memang selama ini luka tak pernah mengajak Lidia ke mansion miliknya. Jika Lidya ke London pasti luka akan mengajak Lidia untuk tinggal di apartemen.


Di dalam perjalanan rute senantiasa mengelus rambut sang kekasih dalam pikirnya berharap video menghilangkan sakit hatinya terhadap Indonesia terutama pada keluarganya yang jelas-jelas membuang Lidia saat usia remaja.


Bagaimana Luke tahu akan hal itu? Laki-laki itu sudah mencari tahu latar belakang Lidia sebelumnya. Bahkan dari hal-hal terkecil sampai rahasia besar sekali Luke mengetahuinya.


"Semoga kehidupan kita berawal baik disini," ucap Luke mengecup kening sang kekasih.


Pak sopir yang melihat majikannya begitu lembut kepada seorang wanita itu hanya bisa tersenyum senang. Di usianya yang sudah menginjak 38 tahun, Luke tak pernah dikabarkan dekat dengan wanita manapun. Walaupun sebenarnya banyak wanita yang antri untuk bisa bersama seorang pengusaha kaya ini.


Tak berapa lama sampailah mereka di sebuah rumah berlantai 5 yang itu adalah rumah pribadi atau mansion milik Luke. Memang di kawasan itu adalah kawasan elit jadi tak banyak perumahan yang ada disana hingga udarapun masih sangat segar di daerah itu.


Sopir itu membuka pintu mobil hingga mempermudah luke jika menggendong Lidia dari mobil.


"Eughh."


Perlahan mata indah Lidya berbuka saat Luke menggendong tubuhnya keluar dari mobil.


"Kita dimana?" tanya Lidia dengan suara khas orang bangun tidur.


Lidia berusaha melepaskan dirinya yang digendong oleh Luke, tapi laki-laki itu malah mengeratkan gendongannya agar Lidia tidak jatuh.


"Udah biar aku gendong sampai kamar. Kamu pasti capek," jawab Luke dangan lembut.


Pintu rumah itu dibuka oleh beberapa pelayan yang ada di rumah itu. Lidia melihat sekeliling rumah itu dengan decakan kagum. Bagaimana tidak kagum rumah besar dengan nuansa Eropa yang sangat kental membuat Lidia seperti di negeri dongeng dengan rumah bagus seperti ini.


"Ini rumah siapa?" tanya Lidia pada Luke.


"Rumah kita sayan," jawabnya dengan senyum manisnya.


"Bukannya apartemen itu? Rumah ini besar banget loh," ucap Lidia menatap langit langit rumah yang sangat indah itu. Betah rasanya Lidia jika disini terus.


"Apartemen itu udah aku kasih sama kamu. Dan ini adalah rumah kita, rumah yang aku bangun selama disini," jawab Luke menatap gemas Lidia yang sedang mengamati rumah itu.


"Wow gak nyangka kamu punya rumah sebesar ini. Tahu gini dari dulu aku sama kamu yank. Gak perlu aku buat anak orang depresi," ucap Lidia yang tak malu mengakui jika dia pernah membuat orang depresi karena menginginkan hartanya.


"Sekarang kamu sudah tahu aku seperti ini. Masih mau cari yang lain hmm?" tanya Luke sampai di lift dan menekan angka 4 dimana disana adalah lantai kamarnya.

__ADS_1


"Nggak tahu nanti, sepertinya nggak karena aku udah terlanjur mencintai laki laki tua ini," jawab Lidia mengecup rahang Luke dengan pelan.


"Dasar kamu ya."


Mungkin setelah ini, luka akan giat berolahraga dan makan makanan yang sehat agar ia tak termakan usia. Usianya yang hampir berkepala 4 itu membuat ia harus bagus bagus menata pola makannya.


Ting


Sampailah mereka di lantai 4, luka kembali menggendong tubuh Lidia. Kali ini laki-laki itu menggendong Lidia ala koala, karena Lidia menginginkan hal itu.


"Sayang, kita satu kamar kan?" tanya Lidia pada Luke.


"Heem, kita satu kamar. Tapi kalau kamu mau di kamar lain sebelum kita menikah, kita bisa aja pisah kamar," jawab Luke dengan lembut.


Sontak saja Lidya menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak menginginkan jika mereka pisah kamar.


Sesampainya mereka di kamar Luke langsung membaringkan sang kekasih di atas kasur. Diikuti dengan luka yang berbaring di samping Lidia.


"Mau tidur lagi?" tanya Luke dan dijawab gelengan oleh Lidia.


Akhirnya mereka memutuskan untuk berbincang-bincang di dalam kamar itu. Terlebih Lidia yang banyak mempertanyakan hal-hal yang selama ini belum ia ketahui dari luke. Lidya hanya tahu jika Luke adalah seorang yatim piatu, yang sudah tidak memiliki orang tua. Selebihnya ia tak terlalu tahu tentang hidup Luke padahal laki laki itu sudah bersamanya berberapa tahun.


"Besok akan ada orang yang datang ke rumah buat fitting baju pengantin buat kita."


"Memangnya kita kapan nikah?" tanya Lidia dengan bingung.


Di Indonesia kemarin mereka tidak ada membahas kapan pernikahan akan digelar. Luke hanya mengatakan jika mereka akan menikah di London.


"5 hari lagi baby. Kita akan menjadi pasangan yang paling bahagia nanti."


"5 hari lagi."


Semoga keputusan yang diambil oleh Lidia tentang hufup bersama Luke tidak salah. Karena ia sudah nyaman dengan Luke. Semoga tuhan meridhoi hubungan mereka walaupun terpaut jarak usia 18 tahun.


***


Lidia bahkan tak mengharapkan kehadiran kedua orang tuanya karena memang kehadirannya di dunia ini tak pernah dianggap oleh orang tuanya.


Kini keduanya sudah berada di altar pernikahan mereka, keduanya mengucapkan janji pernikahan yang membuat mereka sah menjadi suami istri.


Suara riuh tepuk tangan dan jepretan para fotografer itu membuat suasana semakin meriah. Siapa sih yang tidak mengenal Luke di London. Salah satu pengusaha sukses yang meniti karirnya dari nol hingga perusahaannya sebesar sekarang.


"Semoga pernikahan kita langgeng sampai tua hmmm, aku mencintaimu sayang," bisiknya dengan lembut kemudian mengecup bibir sang istri dengan lembut.


"I love you too my husband," jawabnya sebelum ia menikmati sapuan lembut bibir Luke.


Banyak wanita patah hati atas pernikahan pujaan hati mereka, banyak rekan bisnis Luke yang kecewa karena tak bisa menikahkan putri mereka dengan laki laki mapan ini.


Tapi tak sedikit yang ingin mengetahui siapa wanita yang berhasil membuat laki laki sedingin Luke ini takluk. Tapi Luke sudah menutup akses identitas Lidia yang sempat jelek di internet, kini yang banyak orang tahu adalah Lidia adalah istri dari pengusaha sukses bernama Luke.


Lidia menatap sang suami yang makin tampan memakai tukexo berwarna putih senada dengan gaun yang saat ini ia pakai. Ternyata selama ini ia salah menutup mata hingga tak melihat ketulusan laki laki yang kini menjadi suaminya ini. Ia terlalu berna*su mengikuti apa yang ia inginkan tanpa tahu jika itu sangat berbahaya.


Keduanya memulai hidup barunya di London dengan tenang. Tanpa bayang bayang bersalah pada siapapun lagi karena Lidia juga sudah meminta maaf pada mantan pacarnya yang sempat depresi itu dan syukurnya di maafkan karena perusahaan yangs empat bangkrut itu kini beroperasi dengan lancar bahkan bertambah besar berkat bantuan Luke.


Kabar pernikahan Luke dan Lidia juga sudah sampai di Indonesia lebih tepatnya teman teman di universitas Gibran. Mereka mengirim screenshotan pernikahan mewah Lidia dan Luke, hingga sampai terdengar di telinga Arum.


"Cantik banget, Kak Lidia ya Allah."


Arum mengagumi ciptaan Tuhan yang satu itu, melihat Lidia yang sangat cantik dengan gaun berwarna putih itu. Ia baru saja mendapat kiriman foto dari Gibran tentang Lidia yang menikah dengan pengusaha sukses itu.


Arum bisa melihat binar kebahagiaan Lidia walau lewat ponsel saja. Lidia berdoa agar hubungan pernikahan Lidia dan suaminya langgeng sampai tua nanti.


Karena Arum belum mengucapkan terima kasih kepada Lidia atas kado yang diberikan oleh gadis itu akhirnya Arum yang sedang berada di kantin sekolah itu mencari akun Instagram milik Lidia.


"Emm mungkin masih sibuk karena habis nikah, tapi gak apa apa kan aku ucapin terima kasih dan selamat buat dia," ucap Arum yang akhirnya mendapatkan akun Instagram milik Lidia.

__ADS_1


Perbedaan waktu Indonesia dan London adalah 7 jam, dan di Indonesia sudah pukul 8. Jika kalian berpikir Arum bolos, jawaban adalah tidak karena hari ini waktunya jam olahraga dan beruntungnya guru olahraga tidak hadir jadi mereka menikmati jam kosong mereka di kantin.


...@Lidialex...


...Im Lidia. Instagram ...


...Lihat Profil...


Halo kak Lidia. Ini aku Arum, kak. Emm sebelumnya Arum mau ngucapin makasih buat kadonya. Arum suka, padahal Arum belum nikah tapi udah di kasih kado aja😊. Oh ya kak selamat ya buat pernikahannya, semoga langgeng sampai kakek nenek dan sampai maut memisahkan. Kakak cantik banget pake gaun pernikahan, apalagi Arum lihat kakak bahagia banget. Maaf ya kalau selama ini Arum sudah banyak berprasangka buruk sama Kakak. Sekali lagi selamat buat pernikahan kakak dan terima kasih buat kadonya🙏🙏


Send


Arum tulus mengetik pesan untuk Lidia di Instagram itu, gadis itu tak mau dianggap wanita tak tahu terima kasih karena sudah diberi kado malah tak memberi selamat untuk Lidia yang menikah.


Sejujurnya Arum belum begitu percaya jika Lidia sudah menikah. Tapi melihat banyak postingan dan kabar di berita tentang pernikahan itu membuat ia percaya jika dia sudah menikah dengan laki-laki yang ada di foto itu.


"Nih sih Yanto mana sih, jangan bilang lagi pacaran dia sama Vito."


"Ditungguin juga."


Ya sebenarnya tadi Yanti pamit pada Arum untuk memesan bakso mercon hingga membuat Arum memutuskan untuk duduk saja seraya bermain hp.


Arum menatap ke arah stan bakso yang ada disana, dan yah cukup ramai tapi ia tak mendapati Yanti di antara para pemburu bakso itu. Arum terus meneliti dimana gerangan si Yanto. Padahal tadi Vito tak ikut ke kantin.


Kemudian ia memicingkan matanya menatap sisi pojok kantin, sepertinya ia kenal dengan bando biru disana.


"Oh mau mojok rupanya," gumam Arum bangkit dari duduknya dan menuju ke pojokan kantin itu. Sampainya disana benar saja ia melihat Vito dan Yanti berada di pojokan dengan baksodi tangan mereka.


"Ehemm, bagus ya kalian. Ditungguin juga kenapa mojok disini hah? Gak liat banget gue lagi laper. Tahu gini gue pesen sendiri tadi," ucap Arum menatap dua sahabatnya yang kini sudah bucin dimana mana.


"Gerah, Rum. Makanya kita cari kipas angin, ya kan yank."


"Hooh gerah banget."


Arum tahu mereka ngeles saja, mana ada gerah. Wong mereka aja gak ke lapangan tadi, tapi memang benar di pojokan itu ada kipas angin.


"Dasar pasangan bucin."


"Biarin, kayak lu enggak aja," ucap Yanti dengan santainya menyuapkan bakso itu ke mulut Vito.


Arum menggelengkan kepalanya, tapi benar juga apa yang dikatakan oleh Yanti. Ia memang bucin kali dengan Gibran begitupun dengan pacarnya itu. Bahkan Gibran sering nangis karena dirinya.


Akhirnya Arum memutuskan untuk memesan bakso sendiri, sebelum masuk ke kelas kan. Jadi ia bisa memakan bakso dulu sampai kenyang, nanti pas istirahat ia tak akan ke kantin.


Saat asik makan bakso, tiba tiba ponselnya berdering di sampingnya.


Drtttt


GibranLv is calling


"Napa telpon pula, tahu gue lagi makan gak sih."


Tak menunggu lama, Arum mengangkat panggilan telepon itu. Suara Gibran langsung membuat Arum terdiam.


"Halo yank, aku lagi di jalan ke sekolah kamu. Kita harus ke rumah sakit sekarang," ucap Gibran tanpa nga nge ngo lagi.


"Siapa yang sakit?" tanya Arum yang mulai merasakan hal yang tak enak.


"Nanti aku bilang, sekarang kamu ambil tas kamu dan izin sama guru."


"Bilang dulu siapa yang sakit."


"Aku gak bisa bicara sekarang. Kita harus cepat ke rumah sakit," ucap Gibran yang membuat Arum mau tak mau langsung pergi dari kantin tak lupa meninggalkan uang 1 lembar berwarna hijau disana.


Sebenarnya ia bingung kenapa Gibran menyuruhnya cepat izin dan datang ke rumah sakit. Apa ada keluarganya yang sakit atau apa? Kenapa ia jadi takut seperti ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2