Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Membuat Malu


__ADS_3

Happy reading


Setelah perkenalan Alex dan Gibran tadi, mereka berpisah di parkiran itu. Tamarin berlalu menuju kelasnya, Alex yang kembali ke mobil dan akan ke kantor sedangkan Gibran masih berada di parkiran.


Malas rasanya untuk ke kelas apalagi melihat muka wanita yang membuat hubungannya dengan harum berantakan. Untuk sekarang hubungannya sudah membaik seperti semula walaupun Arum kerap sekali menuduhnya berselingkuh.


Tapi Gibran menerima semua itu, Gibran tahu Arum belum 100% percaya dengan dirinya.


Tak lama datanglah Keysha dan Reno, sahabat yang paling baik bagi Gibran. Keysha dan Reno adalah sepasang suami istri, mereka di jodohkan saat masih SMA dan setelah lulus SMA mereka dinikahkan. Untungnya Reno dan Keysha juga sudah kenal dan tahu sifat masing masing.


"Tumben disini? Nunggu siapa lu?" tanya Reno seraya menepuk pundak Gibran.


"Gak nunggu siapa siapa, males aja ketemu temen kalian itu," jawab Gibran dengan cueknya.


Keysha yang mendengar itu tak terima, pasalnya ia tak pernah menganggap Lidia sebagai sahabat mereka.


"Ck, kan dari awal gue udah bilang feeling gue tentang perempuan ular itu udah nggak enak. Kalian aja yang mau maunya di ajak temenan sama dia, dan sekarang lu nyalahin kita dan bilang dia teman kita. Sorry ya, Lidia itu teman kalian."


Gibran dan Reno yang mendengar itu tak bisa mengelak karena memang mereka yang menyambut baik kehadiran Lidia.


Bahkan Reno sempat didiami Keysha selama satu minggu lamanya. Yah Keisha memang bisa menentukan orang itu baik atau tidak hanya dari tatapan matanya.


Dulu saat ia bilang Lidia bukan orang baik Gibran dan Reno tak menganggap itu. Mereka melihat Lidia adalah orang yang baik karena sering mentraktir mereka dan juga memberi tahu tugas-tugas mereka.


"Maafin istri gue ya, Gib. Dia lagi hamil maklum aja kalau emosinya masih labil," ucap Reno dengan pelan tapi hal itu masih bisa didengar oleh Keysha.


Gibran yang mendengar sahabatnya hamil itu langsung menatap perut Keysha yang masih rata. Kemudian menatap Reno dengan tak percaya.


"Wah selamat ya kalian, mau jadi orang tua aja. Gue doain semoga ibu dan bayi sehat sampai lahiran. Lu juga harus jadi ayah yang siaga buat Keysha," ucap Gibran pada Reno seraya memberi doa.


"Aamiin."


"Makasih doanya. Btw gue denger lu sama Arum juga udah baikan, semoga hubungan kalian langgeng. Gak ada yang berniat buat hancurin lagi."


"Iya."


Tak heran bagaimana Keysha bisa tahu soal hubungan Gibran dan Arum karena Yanti adalah adik Reno yang tak lain adalah adik ipar Keysha.


Setelah berberapa saat mereka di parkiran akhirnya ketiganya berjalan menuju kelas masing masing. Keysha dan Reno juga tidak satu fakultas, Keysha di fakultas pendidikan sedangkan Gibran dan Reno ada di fakultas bisnis.


"Gue antar istri gue ke kelasnya dulu ya, Gib. Lu duluan aja ke kelas," ucap Reno menggandengkan tangan sang istri meninggalkan Gibran yang ada di lobi.

__ADS_1


"Hmm."


Reno dan Keysha berlalu menuju fakultas pendidikan yang hanya berjarak berberapa meter saja dari fakultas bisnis.


"Sayang aku mau bolos," ucap Keysha yang membuat Reno langsung berhenti.


"Loh yank, kan tadi kamu yang maksa aku buat masuk. Kok sekarang kamu mau bolos?" tanya Reno dengan frustasi.


"Kan ini maunya anak kamu," ucapnya dengan mata berkaca kaca mungkin tak lama lagi akan menangis.


Reno yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya kasar, menghadapi mood ibu hamil memang sangat menguji kesabaran.


"Terus sekarang kamu mau kemana hmm? Anak papa mau kemana sayang?" tanya Reno dengan lembut mulai mengelus perut rata sang istri.


"Mau ke zoo."


"Zoo? Mau lihat apa disana? Yakin kamu mau bolos tapi?" tanya Reno yang tak yakin. Karena sang istri ini sangat tidak mau jika bolos, dia pernah bilang begini "gimana ceritanya seorang guru, bolos."


"Sekali kali, aku gak mau ikut pelajarannya pak Bandi. Aku mau lihat monyet," rengeknya dengan menggemaskan.


"Ya sudah ayo," ajaknya menggandeng tangan sang istri menuju mobilnya.


Yah sejak mereka tahu jika Keysha hamil, kedua orang tua mereka menyuruh Reno untuk membawa mobil demi keamanan bersama.


****


Sedangkan Gibran yang sudah sampai di kelas itu langsung membaca pesan dari Reno yang mengatakan Keysha ingin bolos.


"Bucin bucin," gumamnya kemudian ia tertawa sendiri pada kenyataannya ia juga sangat bucin dengan pacarnya sendiri yaitu Arum.


Tanpa Gibran sadar Lidia sudah duduk di samping Gibran dengan santainya.


"Gibran bengong kenapa?" tanya Lidia dengan senyum menyentuh punggung tangan Gibran.


Gibran yang terkejut itu langsung memindahkan tangannya kemudian menatap tajam Lidia yang duduk di bangku Reno.


"Ngapain lu disini? Belum puas lu hancurin hubungan gue sama Arum?" tanya Gibran dengan suara keras.


Kini pandangan para mahasiswa mengarah pada mereka. Lidia yang mendapat bentakan dari Gibran itu mulai akting.


"Kenapa sih kamu selalu nyalahin aku? Aku gak salah tentang hubungan kamu sama pacar kamu," ucap Lidia dengan melas bahkan raut wajahnya sudah ia ia buat sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Bit*h. Gara gara lu yang selalu nahan gue saat itu, gue jadi melalaikan tanggung jawab gue. Jangan pikir gue gak tahu kalau selama ini lu selalu mengirimkan pesan ancaman pada Arum kan? Gue diam bukan karena gue gak tahu semua perilaku busuk lu," ucap Gibran dengan suara lantang.


Gibran berdiri dari duduknya kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan memberikannya pada Lidia selebihnya ia menyebar di depan kelas itu hingga membuat mahasiswi lain dapat mengambil dan melihatnya.


"Setelah hari dimana gue sama Arum bertengkar, gue selalu menyadap ponselnya dan yang gue dapatkan adalah nomor lu sebagai peneror. Lu ngirim foto yang jelas jelas itu editan, dan lu lakuin itu setiap hari bahkan hubungan gue yang awalnya baik baik aja terancam kandas lagi gara gara pesan sialan itu."


"Gue tahu akal busuk lu, yang ngajak Tamarin buat kerja sama untuk membuat hubungan gue dan Arum kembali berantakan. Untungnya Tamarin orang yang baik. Sedangkan lu, hanya dibutakan oleh kekayaan seorang lelaki. Gue tahu pacar lu yang ada di luar negeri itu udah bangkrut kan gara gara setiap hari lu porotin," ucap Gibran dengan sangat lantang hingga bisik bisik dari mahasiswa itu terdengar sangat membuat Lidia malu.


Ya, Lidia malu setengah mati saat melihat foto s*urnya dengan berberapa pria sedang berhubungan badan. Bahkan ada yang memperlihatkan alat kel****n mereka.


"Ini bukan gue, gue gak mungkin kayak gini. Ini semua editan kan?" tanya Lidia dengan tangis yang sudah turun.


"Cih dasar murahan lu, ngomongnya aja kayak nyonya besar padahal aslinya nyonya clup."


"Murahan banget sih, lihat deh ada yang sama 3 pria sekaligus tahu."


"Kayaknya dia menikmati banget ya sama itunya laki laki itu."


"Lidia gue juga mau dong, tapi kasih diskon ya atau enggak buat kita kita gratis aja. Gue yakin kita kita pasti bisa muasin lu."


"Iyuhh gak ada harga dirinya."


"Dasar ja***g, dibayar berapa sampai mau maunya kayak gitu."


"Kalau tahu orang tuanya pasti marah banget."


Tangis Lidia bercampur malu dan marah berlari begitu saja meninggalkan kelas itu dengan cepat.


Sedangkan Gibran apakah ia merasa bersalah, oh tentu saja tidak. Dulu ia bersikap baik dengan Lidia karena menganggap Lidia adalah sahabatnya. Tapi setelah ia tahu lebih dalam ternyata dia adalah ular.


Banyak mahasiswi dan mahasiswa disana juga satu lulusan dengan Gibran saat SMA. Laki laki yang kerap disebut sebagai SMA Gemilang dan juga bad boy itu banyak menyetak prestasi banyak juga masuk BK karena tawuran dan juga salah satu siswa paling ditakuti di SMA dulu.


Sejak pacaran dengan Arum saja sifatnya itu sedikit hilang walau masih sering terlibat hal hal yang negatif. Pengaruh Arum pada Gibran memang sebesar itu.


Siapapun yang berusaha menganggu dirinya dan orang terdekatnya maka Gibran tak segan segan untuk membuat orang itu malu semalu malunya.


Apakah gibran tidak takut jika orang tua orang itu akan marah? Kenapa harus takut, dirinya punya kekuasaan sama seperti ayahnya. Selagi mereka belum bangkrut maka sifat pendendam Gibran juga tak akan hilang begitu saja.


Gibran tak peduli jika nanti Lidia akan dikeluarkan dari kampus, karena itu pantas untuk di dapatkan wanita murahan.


Walau ini adalah kampus elit tapi mereka tak bisa serta merta menerima mahasiswa yang berkelakuan buruk. Kecuali Gibran karena anak itu adalah anak dari seorang Abimana, pemilik kampus ini.

__ADS_1


Gibran yang sudah tidak mood untuk mengikuti pembelajaran itu langsung menarik tasnya dan keluar dari kelas.


Bersambung


__ADS_2