
Happy reading
Mereka semua langsung menatap ke arah Arum yang ada di depan pintu. Tak terkecuali laki laki dan perempuan yang duduk di sofa itu.
Senyum mereka tertarik saat melihat adik kecil mereka sudah pulang. Naufal Ardinata, kakak kandung dari Arum yang sedang menyelesaikan studynya di luar negeri itu kini berada di rumah.
"Kakak."
Arum berlari ke arah sang kakak kemudian memeluk erat tubuh sang kakak yang sangat tinggi. Naufal pun tampak membalas pelukan dari sang adik yang sangat ia sayangi itu.
"Hiks hiks kakak kapan pulang?" tanya Arum dengan isak tangis yang tak bisa ia bendung.
"Cup cup kenapa nangis sih hmm? Bukannya seneng kakak sama kakak iparnya pulang malah nangis."
Naufal melonggarkan pelukannya kemudian menghapus air mata Arum. Naufal menatap adik yang dulu ia tinggalkan kini sudah tambah besar.
"Kakak sampai disini jam 3 sore tadi," jawab Naufal dengan senyum manisnya kemudian mengecup kening sang adik.
"Ehemm, adek gak kangen kakak?" tanya Cika dengan tangan yang sedang memegang perutnya yang sedikit buncit.
Arum melepaskan pelukannya dari sang kakak kemudian memeluk kakak iparnya dengan sayang.
"Kakak apa kabar? Sehat kan? Keponakan aku juga baik baik aja kan?" tanya Arum pada sang kakak ipar.
"Alhamdulillah sehat sayang. Kata Mama kamu habis sakit, sekarang udah sembuh kan?" tanya Cika dengan senyumnya. Walaupun tak bisa dipungkiri jika Cika juga khawatir jika adiknya kenapa napa.
"Arum gak apa apa, udah sembuh juga. Lagian kejadiannya udah lama," jawab Arum kemudian menuntun sang kakak ipar untuk duduk lagi. Tak baik bumil kelamaan duduk katanya.
"Kok baru pulang dek? Mampir ke mana dulu?" tanya Naufal yang sudah duduk disamping Arum. Hingga kini posisinya Arum berada di tengah tengah Naufal dan Cika.
"Ke kampus Gibran dulu, lihat orang ora g main basket. Keren banget tahu kak, apalagi Gibran," jawab Arum dengan senyum menceritakan kejadian tadi di kampus.
Naufal dan Cika yang mendengar itu hanya tertawa, tapi tak bisa dipungkiri jika Naufal sedikit tak suka jika Gibran mengajak sang adik ngeluyur tanpa pamit.
"Udah izin sama Papa kok, Kak," ucap Mama Tiya yang baru kembali dari dapur yang tahu sang putra itu sedikit kepikiran dengan Arum, dengan membawakan mangga muda yang sudah diberi taburan cabe bubuk. Mama Tiya meletakannya di atas meja.
"Nih, dimakan ya sayang. Biar gak ngeces anaknya," ucap Mama Tiya pada sang menantu.
"Iya makasih ya ma. Maaf Cika.jadi ngerepotin," ucap Cika dengan tak enak.
__ADS_1
"Kayak sama siapa aja sih? Lagian Mama seneng kamu sedikit libatin Mama di kehamilan kamu yang pertama ini," ucap Mama Tiya kembali ke tempat duduknya tadi.
Mereka tersenyum begitupun dengan Naufal, yah mereka rela izin pada dari kampus karena Cika merengek ingin pulang dan makan mangga muda di rumah. Tentu saja keinginan bumil itu harus dituruti, untung saja kandungan Cika kuat.
"Kenapa pulang gak ngasih tahu? Papa udah tahu kalau kalian pulang?" tanya Arum pada kedua kakaknya.
"Belum, lagian Kakak pulang karena kakak ipar kamu ngidam mau mangga muda dari sini," jawab Naufal dan dianggukkan oleh mereka. Arum mengelus lembut perut sang kakak ipar.
"Mau berapa Minggu di indo? Aku mau sering sering main sama kakak. Nanti kalau udah balik ke luar negeri aku sendiri lagi gak ada teman main," ucap Arum menatap Cika.
"Mungkin 2 Minggu, lagian di kampus juga tinggal ngajuin skripsi doang. Aku bisa kerjain dari sini," jawab Naufal yang membuat Arum senang. Setidaknya ada setengah bulan ia bisa bersama Kakak dan kakak iparnya.
Mereka terus berbincang hingga tak terasa jam sudah menunjukkan 6 sore. Saking asiknya berbincang bincang jadi ia sampai lupa jika ia belum mandi.
Dengan cepat Arum langsung berlari menuju kamarnya dan mandi setelah itu baru makan. Ha? Makan? Bukankah Arum baru saja makan di kantin tadi? Itu bukan makan tapi ngemil bagi Arum, karena makan itu pakai nasi.
"Mama juga ke kamar dulu ya, mau siapin air buat Papa. Mungkin sebentar lagi Papa pulang," pamit mama Tiya membiarkan anak dan menantunya disana.
"Iya mah."
Kini hanya tersisa Naufal dan Cika yang masih memakan mangga muda itu sedikit sedikit.
"Arum udah gede ya walau sifatnya masih kekanak-kanakan," ucap Naufal yang kini sedang menyandarkan kepalanya di pundak sang istri dengan tangan yang mengelus perut Cika.
"Heem."
"Papa mau mangganya? Enak loh," tawar Cika pada sang suami.
"Enak banget ya?" tanya Naufal yang sepertinya sedikit tergoda dengan mangga yang ada bubuk cabe itu.
"Enak, ayo aaa..."
Naufal mengunyah mangga itu, perpaduan rasa asam, manis dari gula, dan pedas dari bubuk cabe itu menyatu di mulut. Pantas saja sang istri sangat menyukainya.
"Suapin lagi."
"Iya iya Papa manja."
"Biarin."
__ADS_1
Pasangan suami istri itu tampak tak lelah walau perjalanan jauh. Mungkin karena energi anak mereka jadi nular. Dari arah luar ada suara mobil itu pasti Papa mereka.
"Sayang itu papa pulang jangan gini," bisik Cika pada suaminya yang asik bermanja itu.
"Biarin aja sayang, wong kita udah halal," jawab Naufal terkesan tak peduli.
Dari arah belakang, Papa Sandi terkejut melihat anak dan menantunya ada di sofa ruang tamu itu.
"Naufal... Cika."
Keduanya langsung menoleh ke sumber suara. Naufal dan Cika tersenyum melihat Papa sandi yang berjalan menuju arah mereka.
Mereka berdua bergantian memeluk sang papa dengan senyum manis padahal mereka tak lama perginya. Sekitar 8 Minggu yang lalu mereka juga pulang, dan kali ini pulang untuk memenuhi ngidam sang istri.
"Kapan kalian pulang?" tanya Papa Sandi pada Naufal kemudian menatap Cika yang perutnya sudah mulai terlihat.
"Tadi sore pah, jam 3. Maaf gak ngabarin, nih menantu papa pingin bikin kejutan buat kalian sekaligus juga mau menuju ngidamnya," jawab Naufal pada sang papa.
"Ngidam apa sampai harus pulang ke Indonesia?" tanya Papa Sandi yang tak habis pikir.
"Tuh."
Naufal menujuk piring yang berisi mangga muda plus bubuk cabe di atasnya buatan Mama Tiya.
"Ada ada aja, kenapa gak istirahat. Naufal ajak istri kamu ke kamar, kalian gak capek emangnya?" tanya Papa Sandi yang dijawab gelengan oleh keduanya.
"Ya sudah terserah kalian, papa mau ke kamar dulu ya. Gerah banget mau mandi," ucap papa menyempatkan untuk mengelus perut sang menantu. Tak terasa ia akan menjadi kakek dalam berberapa bulan lagi.
"Iya Pah."
Papa sandi meninggalkan keduanya menuju kamar, sampai di kamar ia sudah melihat sang istri yang sedang berganti pakaian. Mungkin istrinya itu baru mandi.
"Mama kalau mau ganti baju itu ditutup pintunya, kalau ada yang lewat kamar kita gimana?" tanya Papa Sandi dengan lembut, mana bisa ia berkata kasar pada sang istri.
"Lupa Pah. Buruan mandi habis itu makan malam, tadi Mama sama bibi udah masak," ucap Mama mencium punggung tangan sang suami.
"Iya. Tapi tunggu papa, kita turun bareng," ucap Papa kemudian mengecup kening dan bibir Mama Tiya.
"Heem."
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan dua orang itu mereka akan turun bersama dan melakukan makan malam bersama anak-anaknya.
Bersambung