Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
MTS 57


__ADS_3

Happy reading


Terhitung sudah 5 hari Papa Sandi belum diperbolehkan pulang dari rumah sakit begitupun dengan Mama Anin dan Papa Abi yang masih berada di Bogor karena orang tua Gibran itu sedang menghabiskan waktu santai mereka disama.


Sedangkan Arum dan Gibran kini juga sudah menjalani aktivitasnya seperti biasa. Arum juga sudah sehat seperti semula karena Gibran yang selalu memberinya makan makanan yang bergizi dan baik untuk tubuhnya.


Dua hari setelah papa Sandi siuman Gibran juga ikut mengurus perusahaan milik Papanya. Hingga membuat laki-laki itu akhir-akhir ini sangat sibuk pagi sampai siang ia harus kuliah sedangkan pulang kuliah ia harus langsung ke kantor hingga malam hari.


Waktunya bersama sang kekasih juga semakin sedikit, tapi Gibran mengusahakan untuk tetap menjemput Arum di rumahnya maupun di rumah sakit.


Seperti saat ini laki-laki itu sedang mengendarai mobilnya menuju sekolahan Arum. Gibran ingin mengajak makan siang sama kekasih sekaligus mengantarkan kekasihnya ke rumah sakit.


Sesampainya di sekolahan Gibran melihat harum sudah menunggunya di pos satpam seraya membawa permen lolipop di tangannya.


Arum yang melihat keberadaan mobil sang kekasih itu pamit pada Pak satpam yang sedang berjaga dan berjalan menuju mobil Gibran.


"Maaf ya sayang udah buat kamu nunggu lama," ucap Gibran mengecup kening sang kekasih.


Harum tampak tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, Gadis itu berusaha untuk memahami keadaan sang kekasih saat ini. Arum tahu Gibran pasti sangat lelah dengan kegiatannya beberapa hari ini. Tapi apa yang bisa ia buat agar sang kekasih tidak lelah selain memberinya semangat dan perhatian pada sang kekasih.


"Iya gak apa apa. Tumben kamu bisa keluar? Jarak kantor dan jarak sekolahan ini jauh loh yank. Emang gak papa?" tanya Arum pada Gibran.


"Gak apa apa, mana bisa aku menahan rindu dengan kamu. Mungkin ini sebagai pembelajaran buat aku ketika nanti sudah menikah sama kamu," jawab Gibran menggenggam tangan Arum yang sangat berbeda dengan tangannya yang kekar.


"Semangat ya calon suami aku, calon istrimu akan mendoakan yang terbaik buat kamu," ucap Arum dengan senyum manisnya kemudian memberikan satu kecupan manis di pipinya.


Sontak saja Gibran yang mendengar kata-kata manis dari sang kekasih itu langsung tersenyum hingga wajah yang semula putih bersih ini sedikit memerah karena malu. Arum memang jarang sekali menggombal seperti padi apalagi berkata-kata manis seperti ini. Jadi wajar saja jika sekarang Gibran sedikit malu dengan guyonan sang kekasih.


"Ciee yang tersipu," ledek Arum menusuk nusuk pipi Gibran dengan telunjuknya hingga membuat laki-laki itu semakin memerah dibuatnya.


"Udah jangan godain aku lagi," cegah Gibran yang tak mau larut larut dalam keblussingan.


"Hahaha sayangnya aku bisa malu juga, Aku pikir kamu cuma bisa buat aku malu tapi ternyata kamu juga bisa malu ya," ujar Arum dengan tawa yang membuat matanya sedikit menyipit.


Gibran yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, tentu saja ia bisa malu karena ia juga manusia biasa.

__ADS_1


"Kita mau makan dimana nih?" tanya Gibran mengalihkan pembicaraan agar Arum tidak lagi menggodanya hingga ia malu berkali-kali.


"Emm enaknya makan dimana?" Bukannya menjawab aromalah bertanya balik pada Gibran.


"Wong aku tanya kamu kok malah tanya balik sih sayang," gemas Gibran ingin mencubit pipi sang kekasih.


"Hahaha ya habisnya aku bingung mau makan dimana, kalau makan mie ayam sama bakso terus bosen sayang," jawabnya dengan ekspresi imutnya.


Gibran yang mendengar itu lantas langsung berpikir di mana tempat yang cocok untuk mereka makan siang hari ini.


"Ohh aku tahu yank, kamu pasti suka," ucap Gibran yang langsung menjalankan mobil itu menuju tempat makan yang ada kota itu.


Arum hanya anteng duduk dan membiarkan sang kekasih membawanya ke tempat yang di inginkan sang pacar. Karena selagi ia bisa kenyang ya Its oke aja gitu.


Hingga sampailah mobil itu di sebuah restoran nuansa alami dengan bunga bunga cantik di sekeliling restoran itu. Dalam sekejap Arum terkesima dengan nuansa alam di restoran itu. Memang tadi ia melihat jalannya sedikit asing untuk jaringan yang notabene adalah anak kota.


Gibran yang melihat sang kekasih terbengong itu langsung menjitak kening Arum dengan pelan hingga membuyarkan lamunan Arum yang sedang mengagumi restoran yang ada di depannya.


"Ayo masuk, katanya lapar," ajak Gibran yang sudah mengapa sabuk pengamannya begitupun dengan Arum.


"Hais kamu ini ngomong apa sih sayang, wong aku pertama ke sini diajak mama dan papa dulu, udah lama banget," jawab Gibran yang hanya di jawab oh oleh Arum.


Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju restoran itu dengan posisi bersebelahan. Keduanya mulai mencari tempat untuk mereka duduk, Arum mengajak sang kekasih untuk duduk di tempat yang pojok dan belum ditempati oleh orang lain.


"Kamu kemeja dulu biar aku yang pesan makanannya," ucap Gibran pada Arum.


Gadis itu menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju meja yang tadi ia tunjuk. Kursi yang masih terbuat dari bambu.


Kenapa iya tak dari dulu tahu restoran ini, kenapa mungkin ia terlalu sering makan di pinggir jalan. Entahlah tapi Arum gak rugi diajak makan di restoran ini oleh Gibran.


Saya menunggu Gibran datang Arum mengambil ponselnya yang ada di saku seragamnya dan mulai menekan aplikasi Instagram.


Dengan santai gadis itu mengabadikan keadaan di restoran itu dan mengunggahnya di story Ig.


Tak lama menunggu akhirnya Gibran datang membawa dua gelas minum yang ada di tangannya. Gibran memberikan minuman itu pada arung kemudian duduk di samping sang kekasih.

__ADS_1


"Kamu pesan apa?" tanya Arum pada Gibran.


"Ayam bakar spesial sama sate kambing, dan dessertnya aku pilih puding kelapa yang katanya rekomend disini," jawab Gibran mengambil ponsel yang ada di atas meja itu.


Arum yang mendengar itu menganggukkan kepalanya kemudian meminum minuman yang ada di depannya.


"Yank mau minum kamu ya," pinta Arum.


"Iya sayang, kalau kamu mau yang lain aku bisa pesan lagi," jawab Gibran pada Arum.


"Enggak aku cuma mau punya kamu."


Gibran menganggukkan kepalanya kemudian mengelus rambut sang kekasih, laki-laki tidak keberatan jika harus meminum sisa sang kekasih. Tak ada salahnya juga dan tak dosa walau ia makan atau minum dari bekas bibir pacarnya ini.


Tanaman menunggu akhirnya makanan yang Gibran pesan sampai, Arum yang melihat betapa menggodanya makanan yang ada di depannya itu kemudian langsung mengambil satu tusuk sate yang ada di sana.


"Ini sate apa?" tanya Arum mencium aroma sate itu.


"Kambing sayang, tapi gak bau kambing kan?"


"Iya gak bau, malah enak baunya. Biasanya aku makan sate kambing itu baunya masih tercium banget walau sudah dibakar," jawab Arum memakannta sedikit.


"Enak."


Mereka mulai memakan makanannya masing-masing, sesekali dan menyuapi sang kekasih dengan ayam bakar dengan nasi. Gibran tak ingin Arum sampai kelaparan jika hanya memakan sate yang ada di depannya itu saja.


"Kapan kapan kita kesini lagi ya? Aku suka suasananya," ucap Arum dengan senyum manisnya.


"Iya sayang."


"Tapi aku lebih suka dipinggir jalan sih, bisa bantu orang juga."


Gibran tak menyalahkan pemikiran sang kekasih yang ingin berbagi dengan orang-orang di jalan. Ia malah senang jika harus menggunakan uang yang diberikannya untuk hal-hal yang berguna, walau kadang iya sedikit memaksa sang kekasih untuk membelanjakan uang itu untuk kebutuhannya sendiri.


"Iya sayang."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2