Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Siuman


__ADS_3

Happy reading


Setelah berberapa saat kini mereka sudah berada di ruang rawat Papa Sandi, Mama Anin dan Papa Abi pamit pada mereka karena harus tetap ke rumah Nenek alias orang tua dari Mama Anin.


Dan kini hanya tersisa Mama Tiya, Gibran, Kak Naufal , kak Cika dan Arum di rumah sakit.


"Mama makan dulu yuk, Gibran tadi udah bawa makanan buat kita semua. Kak Naufal, kak Cika juga ayo makan dulu udah waktunya makan siang," ajak Gibran pada mereka.


Di saat-saat seperti ini harus ada yang mensupport mereka agar tidak larut-larut dalam kesedihan. Apalagi ia sudah dianggap keluarga oleh keluarga


Arum. Gibran tak ingin orang-orang yang ia sayangi sampai jatuh sakit karena kesedihannya melihat Papa sandi yang belum juga membuka matanya.


Apalagi saat melihat Kak Naufal yang terduduk lemas di sofa memeluk Kak Cika dengan erat. Laki-laki yang memiliki watak tegas dan keras kepala itu sejatinya sangat lembut kepada orang-orang yang dia sayangi, walau setegar apapun Kak Naufal di luarnya dia tetap sedih melihat pahlawannya terbaring di ranjang rumah sakit itu.


"Mama belum lapar, nak. Kamu makan aja dulu," ucap Mama Tiya pada Gibran.


"Mah ini sudah waktunya makan siang, nanti kalau mama sakit siapa yang jaga Papa di rumah sakit? Memangnya Mama nggak kasihan sama papa nanti kalau Papa siuman dan lihat mama seperti ini?" tanya Gibran yang akhirnya membuat Mama Tiya mengangguk dan menerima makanan dari Gibran.


Begitupun dengan Kak Naufal yang menerima suapan dari sang istri yang sedari tadi membujuknya untuk makan. Cika memang tipe istri yang sangat perhatian pada keluarga suaminya jadi tak heran kenapa Kak Naufal sampai cinta mati pada wanita ini.


"Gitu dong dari tadi, nanti kalau Kamu ikut ikutan sakit gimana dengan aku dan anak kita. Kamu sedih gini juga gak ada artinya buat kesembuhan Papa, kita harus banyak berdoa biar papa cepat sembuh dan kumpul lagi sama kita," ucap Kak Cika menyuapkan makanan itu pada Naufal.


"Iya."


"Jangan iya iya aja, kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab di keluarga kamu setelah papa. Jadi kamu tak boleh sedih gini, kamu harus memberikan energi positif buat Mama dan Adik kamu kalau Papa lagi sakit."


Naufal yang mendengar hal itu mengganggu dengan senyum tipisnya. Benar apa kata istrinya ini kesedihan sebesar apapun yang ia keluarkan tak akan bisa membuat ayahnya semata-mata langsung sembuh begitu saja.


Tak jauh dari Naufal dan Cika disana, Gibran dan Arum juga memakan makanan itu dengan malas.


"Sayang, makan yang bener. Jangan gini, nanti kamu malah lama pulihnya," tegur Gibran pada sang kekasih yang hanya makan sedikit kemudian menatap papanya yang terbaring disana.


Arum kemudian menatap Gibran dengan tatapan sendunya, entah kenapa sejak iya mendonorkan darahnya tadi ia gampang sekali terbawa suasana yang akhirnya membuat ia menangis begitu saja.


"Maaf ya sayang."


Gibran menganggukkan kepalanya kemudian mengambil alih makanan yang ada di tangan Arum. Laki-laki itu sengaja memberikan gadisnya makanan yang membuat pulih Arum dengan cepat.


Gibran tadi sempat lama di luar karena membeli sushi full dengan daging salmon segar dan juga bubur kacang hijau. Tak lupa susu yang makin membuat Arum eneg nanti. Tapi Gibran melakukan hal itu semata-mata untuk membuat Arum cepat pulih.


"Sini aku suapin, aku gak mau kamu ikut ikutan sakit ya sayang. Kamu lihat mama, kamu gak mau kan Mama juga ikut sakit karena melihat kamu dan Papa sakit?" tanya Gibran yang mendapatkan respon gelengan kepala dari Arum.


Gibran dengan teleten menyuapkannya sushi itu pada Arum. Untungnya Arum cepat memakannya hingga membuat Gibran menarik sudut bibirnya.


Melihat harum yang lahap memakan makanan itu, laki-laki itu mengelus rambut Arum dengan lembut. Arum diperlakukan seperti itu tersenyum di bibir pucatnya.


"Kamu harus banyak banyak minum susu deh yank, berpikir positif saja kalau papa pasti sembuh pasti," ucap Gibran yang kini makin membuat senyum diwajah Arum melebar.


"Makasih ya buat semuanya."


"Iya sayang, lagian aku seneng kamu bisa senyum gini lagi. Ayo makan lagi, biar kamu cepat sehat."


Arum bersyukur memiliki Gibran yang sangat perhatian dan tulus kepadanya dan keluarganya walau pernah hampir berpisah tapi Gibran berhasil membuktikan bahwa laki-laki itu pantas berada di tengah-tengah keluarganya.


Arum berharap Gibran tidak berubah dan terus bersikap seperti ini kepadanya.


Perlahan pikiran Arum mulai terisi dengan pikiran-pikiran positif yang mengatakan jika Papanya pasti sembuh dan seperti sedia kala. Sebenarnya dia juga sedih melihat ibunya yang sepertinya sangat terpukul dengan keadaan papa seperti ini.


****


Sedangkan disisi lain, Papa Abi dan Mama Anin kini berhenti di sebuah mall untuk membelikan beberapa hadiah untuk keluarga mereka nanti.


Rencananya setelah dari rumah kedua orang tua Mama Anin yang ada di Jakarta pusat, mereka akan pergi ke Bogor ke tempat kedua orang tua Papa Abi.


Untungnya papa dan mama sudah memberi pesan pada Gibran untuk menjaga Arum dan keluarganya selama mereka berada di rumah kedua orang tua Papa dan Mama Gibran.


Tentu saja keluarga mereka tidak akan melupakan orang tua mereka yang masih ada di dunia ini. Gibran adalah cucu mereka, anak tunggal dari pasangan Mama Anin dan Papa Abi, tentu saja keluarga besar harus hadir saat pernikahan anak mereka nanti.


"Ma, papa tunggu di mobil aja ya. Gak ngerti Papa soal belanja belanja gitu," ujar Papa Abi yang enggan keluar dari mobil.


Bukan tanpa sebab memang karena Mama Anin jika belanja itu seperti lupa daratan. Luama poll, dan berakhir ia yang menjadi babu buat membawa belanjaannya.


"Papa kok gitu, kan ini juga buat keluarga kita," protes Mama Anin yang tak ingin belanja sendiri. Karena pastinya akan sangat banyak belanjaan mereka nanti.

__ADS_1


"Papa gampang capek, Ma. Apalagi belanjanya pasti lama," ucap Papa Abi dengan cemberut.


Mama Anin yang mendengar itu hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan pelan.


"Papa masih mau jatah gak sih sebenarnya? Mama juga mau beli gaun malam nih buat papa. Oke kalau Papa gak mau Mama gak jadi beli."


Mama Anin sebenarnya tak ingin berbicara seperti itu tapi mau gimana lagi cuma ini agar suaminya mau keluar dari mobil dan menemaninya belanja.


Papa yang mendengar itu langsung mencegah sang istri untuk turun dari mobil. Ya memang berberapa malam ini istrinya jarang memakai gaun malam saat akan tidur dan Papa Abi menginginkan sang istri memakai Guan malam saat bersamanya.


"Iya ma. Papa temani kok, tapi nanti malam jatah tetap ada ya. Jangan sampai kayak kemarin Mama tidur dulu," ucap Papa dengan santainya mencuri kecupan di bibir sang istri.


"Dasar orang tua. Kalau diancem gitu baru aja nurut," gumam Mama Anin menatap suaminya yang mendadak semangat. Alamat malam ini ia harus lembur melayani suaminya.


Keduanya turun dari mobil itu dan masuk ke dalam mall, mereka berdua belanja baju dan juga sepatu tak lupa membeli makanan dan berberapa hadiah untuk keluarga mereka.


"Pah, kita ke Bogor besok kan. Kamu udah pesan sama asisten kamu buat handle perusahaan kan?" tanya Mama Anin seraya memilih baju baju malam disana.


"Udah mah, dan Gibran juga akan ikut bantu Leo buat ke perusahaan. Dia sudah bisa kok kalau yang ringan ringan, itung itung belajar buat jadi penerus perusahaan."


"Yang mana?" tanya Mama Anin memperlihatkan berberapa gaun malam yang ada di tangannya.


"Semua bagus tapi pilih yang sedikit sopan, jangan yang bolong bolong gitu. Kita bukan anak muda lagi," ucap Papa Abi dan dianggukkan oleh Mama Anin.


Semakin kesini papa memang suka yang baju dinas yang tipis dan tidak terlalu ketat tapi masih bisa memperlihatkan tubuh indah sang istri.


Setelah selesai membeli gaun itu, sengaja Mama Anin menyuruh para pegawai itu untuk menyendiri kan gaun gaun malam pilihannya.


"Jadi gak sabar buat nanti malam," ucap Papa seraya memeluk pinggang sang istri dengan posesif membiarkan para karyawan yang membawakan belanjaan mereka ke dalam mobil.


"Dasar gak malu. Gak mau makan dulu?" tanya Mama Anin pada Papa Abi.


"Nanti aja sampai sana baru makan. Nanti sampainya malah kesorean kalau makan dulu."


"Gak laper emang?"


"Laper sih tapi pengennya makan Mama."


"Terlalu matang bukan tua."


"Sama saja."


Tak heran kenapa Papa Abi bilang seperti itu, karena Mama Anin jika sudah masuk restoran akan banyak yang dibeli dan pasti akan ke toilet dan itu sangat memperlambat sampainya mereka ke rumah orang tua Mama Anin.


Sesampainya mereka di mobil mereka memberikan uang tips kepada orang-orang yang membawakan belanjaan mereka. Papa memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam bagasi mobilnya sedangkan Mama Ani meletakkan paper bag yang berisi gaun malam itu di samping tas mahal miliknya.


Setelah semua barang masuk ke dalam mobil, Papa Abi membelikan sang istri makanan yang ada di samping mall itu untuk mengganjal perut.


Setelah mendapat makanan itu, Papa Abi masuk kedalam mobil dan memberikan makanan itu pada sang istri.


"Tahu aja mau makanan gini. Enak kayaknya," ucap Mama Anin membuka tutup makanan itu.


"Papa gak maulah Mama kelaparan cuma gara gara mau ke rumah orang tua kamu. Selagi belum sampai rumah kan kamu bisa makan ini buat ganjal perut aja," ucap Papa Abi dengan senyum manisnya mengelus rambut sang istri yang sengaja diurai.


Tak ada satu ubanpun yang ada di sana karena Mama Anin juga baru berusia 41 tahun beda dengan Papa Abi yang sudah berusia 45 tahun dan memiliki sedikit uban yang tak terlihat di mata orang lain tapi tidak dengan Mama Anin yang tiap hari memegang rambut sang suami.


Mobil itu berjalan menuju rumah orang tua Mama Anin dengan kecepatan sedang. Tak mungkin Papa Abi menjalankan mobilnya dengan cepat jika istrinya saja sedang makan.


Tak sampai 1 jam perjalanan akhirnya mereka berdua sampai sebuah rumah minimalis yang memiliki lantai 2 dengan nuansa Jawa keraton yang khas di antara rumah rumah yang lain memang rumah ini yang sangat mencolok.


Ternyata nenek dan kakek sudah menunggu disana. Dengan kakek yang sedang membawa burung Murbah di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mengelus punggung tangan sang istri yang keriput.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Tak kira kalian gak jadi datang, padahal katanya berangkat udah dari jam 7 tadi kok sampai disini jam 2 siang, kalian kemana to?" tanya nenek memeluk anak dan menantunya.


Nenek adalah orang asli Yogyakarta jadi jawanya masih kental walau sudah lama tak tinggal di Jawa. Rumah ini juga mengusung tema Jawa banget, karena kakek memang tipe cowok bucin yang selalu mengabulkan apa yang menjadi keinginan sang istri.


Mama Anin sendiri memiliki 1 adik yang sudah menikah dengan orang Surabaya, dan menetap disana. Hingga di rumah ini hanya ditinggali Nenek dan Kakek berserta banyak pelayan dan tukang kebun yang ada disana karena keinginan Mama Anin.


"Tadi di jalan ada kejadian, Bu. Calon besan kalian terkena musibah, jadi kita ke rumah sakit dulu," jawab Papa Abi pada mertuanya dengan sopan.

__ADS_1


"Inalillahi wa innailaihi raji'un. Calon besan kenapa?"


"Heh ndak baik ngomong di luar, ayo masuk dan cerita di dalam."


"Iya Yah."


Mereka berempat masuk ke dalam rumah itu dan duduk di kursi kayu itu. Kemudian mereka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kenapa mereka bisa sampai telat sampai kesini.


"Ya Allah semoga cepat sembuh. Terus calon cucu mantuku gimana Bi? Nin?" tanya ibu pada anak anaknya.


"Tadi pas tak tinggal masih lemes akibat donor darah," jawab Mama Anin meminum air di depannya.


"Ya Allah kenapa kalian Ndak bilang sih? Kan Ibu dan Ayah bisa langsung ke sana jenguk calon besan."


"Keadaanya masih belum stabil Yah. Nanti kalau mau ke sana, nanti Abi kabarin."


Mereka menganggukkan kepalanya kemudian mengajak sang anak anak ke meja makan.


"Tadi ibu sudah masak makanan yang enak enak buat kalian, pasti kalian belum makan kan?"


Akhirnya kini mereka berempat menuju ruang makan. Makanan khas Jawa tersedia di meja makan, asapnya juga masih mengepul disana membuat Anin berpikir apakah baru saja disajikan?


***


"Aa...i..r."


Mama Tiya yang baru saja terlelap itu tiba tiba terbangun karenaemdenagr suara le.nguhan dari seseorang yang ada didepannya.


"Papa sudah bangun?" tanya Mama Tiya dengan mata berkaca kaca.


"Aa...Ir."


Dengan sigap Mama Tiya mengambilkan air minum yang ada di samping ranjang itu dan meminumkannya pada Papa Sandi.


"Alhamdulillah papa sudah sadar? Tiya panggil dokter dulu ya, Pa."


Saat ingin memencet tombol yang ada disana Papa Sandi menghentikan Mama Tiya.


"Aku tak apa," ucap Papa Sandi dengan suara lirihnya mencoba tersenyum.


Runtuh sudah pertahanan Mama Tiya melihat sang suami yang sudah bisa tersenyum itu. Ia berulang kali mengucapkan syukur karena suaminya sudah membuka matanya. Lihatlah laki laki yang kepalanya masih diperban itu mencoba untuk tersenyum di sela keadaannya.


"Mas gak amnesia kan? Mas Sandi masih ingat sama Tiya kan? Gak lupa sama anak anak kan mas?" tanya Mama Tiya pada Papa Sandi.


"Aku gak apa apa, maaf sudah membuat kamu dan anak anak khawatir," jawab Papa Sandi pada Mama Tiya.


"Papa gak boleh kayak gini lagi, Mama gak mau kehilangan Papa. Papa kan janji sama Mama bakal baik baik aja," ucap Mama Tiya dengan air mata yang mengucur ke pipinya.


"Sstt jangan nangis, kasihan anak anak yang lagi tidur."


Mama Tiya langsung menatap ke arah sofa dimana ada Cika, Naufal, Arum dan Gibran sudah terlelap di sana. Bahkan posisi mereka bikin geleng geleng kepala, Kak Cika yang hamil itu malah memberikan pahanya sebagai bantalan sang suami sedangkan Arum berada di pangkuan Gibran karena tadi Gibran takut Arum jatuh jika tidur sendiri.


Mama Tiya tersenyum dengan lembut kemudian menganggukkan kepalanya.


Kemudian keduanya kini saling berbincang dengan hangat, Mama Tiya yang tadinya sedih kini sudah mulai bisa tersenyum dengan senyum manisnya. Bahkan kini Mama Tiya dan Papa Sandi kininsudah bisa bercanda.


"Gimana ceritanya papa bisa kecelakaan?" tanya Mama Tiya seraya memijat tangan suaminya yang tidak tertancap jarum infus.


Akhirnya Papa Sandi menceritakan bagaimana tadi ia bisa menjadi korban kecelakaan. Bahkan ia sudah sekuat tenaga untuk melindungi dirinya tapi sayangnya kepalanya yang menjadi korban.


"Untungnya wajah tampan suamimu ini tidak kenapa napa,"canda Papa Sandi yang membuat Mama Tiya tertawa akan sifat narsis suaminya.


"Iya iya, wajah papa tetap tampan."


"Mama gak mau tidur lagi?"


"Nanti aja nunggu kamu tidur."


"Mau tidur bareng?" tawar Papa Sandi yang dijawab gelengan oleh Mama Tiya.


Melihat banyak selang yang ada di tubuh sang suami membuat Mama Tiya was was jika nanti ada yang tersenggol dan membuat suaminya kesakitan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2